revisi -
#
"Maksud Papa dari militer?" tanya Alan dan diangguki Papa Aldi.
"Mama juga lebih suka dokter, biar kayak di novel-novel sama film-film gitu kalau tentara itu jodohnya dokter," ucap Alan.
"Nanti Alan cariin pasangan Dokter," ucap Alan.
"Besok kamu harus kenalin calon kamu ke Papa," ucap Papa Aldi.
"Pa! mana bisa kalau besok," ucap Alan.
"Bisa, besok Papa kenalin sama calon kamu terus kalau menurut Papa cocok kamu bisa nikah sama dia Minggu depan. Pokoknya Papa pengen dalam bulan ini kamu udah nikah," ucap Papa Aldi.
"Pa, kalau besok buat ngenalin ke Papa itu susah banget loh, Alan aja belum cari pasangannya," ucap Alan.
"Ya, itu urusan kamu. Kan Papa dari dulu selalu bilang kamu buat cari pacar, tapi kamu malah gak nyari-nyari sampe sekarang," ucap Papa Aldi.
"Udahlah, Lan. Mendingan kamu terima aja calon dari Papa, lagian nih ya kalau kamu nyari sekarang terus besok kamu kenalin ke Papa juga sama aja kayak calon dari Papa. Malah lebih terjamin calon dari Papa daripada calon yang mau kamu kenalin," ucap Mama Dira.
Entah pikiran darimana. Namun, Alan justru membenarkan perkataan Mama Dira, lagipula Alan juga belum mendapatkan calon jika harus dikenalkan ke Papa.
"Huh, yaudah iya Alan terima perjodohannya," ucap Alan.
"Beneran?" tanya Papa Aldi dan diangguki Alan.
"Kamu gak perlu khawatir keluarga calon kamu itu adalah sahabat Papa, jadi Papa tahu seluk beluk keluarganya. Kamu ingat yang beberapa hari yang lalu waktu di nikahannya Haris dan ketemu temennya Papa?" tanya Papa Aldi.
"Maksud Papa Om Argi?" tanya Alan.
"Iya, dia nanti akan jadi mertua kamu," ucap Papa Aldi.
"Jadi Alan bakal dijodohin sama anaknya Om Argi yang masih kecil itu?" tanya Alan.
"Maksud kamu Gia. Ya, gaklah mana mau Argi jodohin Gia ke kamu lagian nih ya Gia aja masih SMP kelas dua sama kayak adik kamu," ucap Mama Dira.
"Terus Alan dijodohin sama siapa kalau bukan sama dia?" tanya Alan.
"Kamu bakal dijodohin sama Rea, anak kedua Argi," ucap Papa Aldi.
"Alan gak tahu orangnya," ucap Alan.
"Kamu emang gak tahu, soalnya Rea waktu itu gak bisa dateng, dia itu dokter makanya sibuk," ucap Mama Aurel.
"Kalau gitu kamu istirahat biar besok bisa ke rumahnya buat ngelamar Rea," ucap Papa Aldi.
"Ini Papa beneran jodohin Alan?" tanya Alan, uang masih tidak percaya jika orangtuanya menjodohkannya.
"Iyalah, memangnya perkataan Papa tadi masih kurang jelas ya," ucap Papa Aldi.
"Yaudah, kalau gitu Alan ke kamar dulu," ucap Alan.
Di dalam kamar Alan hanya menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong, ia memang di usia dan mental yang siap untuk menikah. Tapi, Alan rasa untuk perjodohan itu lucu saja bagi Alan.
"Gue gak tahu kayak gimana calon gue nantinya, tapi gue berharap rumah tangga gue gak ada masalah apapun," gumam Alan.
"Ck, apaan sih lo, Lan. Belum juga ketemu udah mikirin rumah tangga aja," lanjutnya.
.
Pagi harinya keluarga Dhananjaya di sibukkan dengan keperluan untuk melamar Rea nanti malam, lebih tepatnya hanya Mama Dira, Dea dan juga Tante Clara saja yang sibuk. Sedangkan, Alan dan Papa Aldi mah santai bahkan mereka sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"Lan," panggil Papa Aldi.
"Kenapa, Pa?" tanya Alan.
"Kapan kamu mau gantiin Papa di perusahaan?" tanya Papa Aldi.
"Aldi terima perjodohan ini harusnya Papa udah seneng loh, eh malah tanya perusahaan. Papa kan tahu apa jawabannya Alan," ucap Alan.
"Kamu itu bakal nikah, apa kamu mau ninggalin istri kamu terus-menerus?" tanya Papa Aldi.
"Ini itu udah resiko yang harus dia tanggung karena mau menerima perjodohan ini bukan," ucap Alan.
"Ck, terserah kamulah yang penting kamu jangan pernah bikin sedih Rea apalagi kamu sampe nyakitin Rea," ucap Papa Aldi.
"Iya, Pa," ucap Alan.
Mereka menyiapkan semuanya sampai benar-benar selesai. Semua seserahan sangat indah dan cantik karena ketiga orang itu. Dapat Alan lihat mereka semua sangat semangat untuk acara nanti malam, bahkan Dea sendiri sejak tadi senyum-senyum sendiri.
"Kenapa senyum-senyum sendiri gitu?" tanya Alan.
"Hehehehe, Dea seneng banget karena sebentar lagi Kak Alan punya istri dan Dea juga bakal punya Kakak lagi," ucap Dea.
"Ayo! kalian siap-siap buat ke rumahnya keluarga Bratadikara," ucap Mama Dira.
"Iya, Ma," ucap Alan dan Dea.
Setelah beberapa saat kemudian, keluarga Dhananjaya pun menuju kediaman Bratadikara, "Oh iya, kata keluarga Bratadikara nanti Rea gak bisa datang soalnya ada pasien darurat gitu," ucap Mama Dira.
"Gimana Alan bisa ngelamar dia kalau yang dilamar aja gak datang," ucap Alan.
"Bisa, kalau itu mah gampang," ucap Mama Dira.
Percuma saja Alan mencari banyak alasan kalau ujung-ujungnya ada saja cara orangtuanya ini untuk membawa Alan ke rumah calon istrinya itu.
Beberapa saat kemudian, keluarga Dhananjaya sampai di halaman kediamannya keluarga Bratadikara, rumahnya tidak terlalu megah dibandingkan dengan rumah keluarga. Namun, terlihat asri dari luar.
Mereka pun di persilahkan masuk ke dalam rumah tersebut, baru saja Alan masuk ia sudah disuguhi sebuah foto keluarga yang cukup besar. Di foto tersebut terdapat lima orang dimana terdapat Om Argi, Tante Nara, Kak Ray, Gia dan satu perempuan yang Alan tidak tahu bahkan tidak kenal. Namun, Alan yakin jika perempuan itulah yang akan dijodohkan dengannya.
"Oh, yang perempuan di pinggir itu Rea ya, Nara?" tanya Mama Dira, seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan Alan.
"Ah iya itu Rea, maaf ya dia gak bisa datang karena ada pasien darurat tadi, padahal mah dia udah siap-siap pulang loh," ucap Bunda Nara.
"Iya, gapapa kok," ucap Mama Dira.
"Yaudah, kalau gitu kita langsung ke acara intinya saja," ucap Papa Aldi.
Mereka pun mulai membahas mengenai pernikahan Alan dan Rea. Alan yang tidak tahu menahu mengenai perlengkapan yang dibutuhkan untuk menikah pun hanya mengiyakan apa saja yang dikatakan oleh keluarganya ataupun keluarga calonnya itu.
Pernikahan diputuskan akan dilakukan 5 hari lagi, gila bukan. Itulah yang Alan pikirkan, bahkan Alan tadi sempat protes karena baginya 5 hari adalah waktu yang terlalu singkat untuk saling mengenal. Namun, percuma juga Alan protes karena tidak ada yang mendengarkannya.
(Author sengaja tidak menggunakan aturan yang ada dalam cerita ini, jadi kalau tidak sesuai itu wajar karena ini hanya cerita novel yang sepenuhnya imajinasi author)
Setelah acara lamaran keluarga Dhananjaya pun pulang, "Akhirnya Mama bakal punya menantu, nanti kalau Mama udah punya menantu pokoknya Mama harus ajak Rea ke arisan bareng Mama," ucap Mama Dira.
"Mama seneng banget bakal punya menantu," ucap Papa Aldi.
"Iya dong, Pa. Papa tahukan kalau temen-temen Mama itu udah punya menantu semuanya padahal anak mereka itu masih muda bahkan ada yang masih usianya 17 tahun terus juga ada yang udah mau punya cucu, kan Mama iri soalnya anak Mama yang usianya 26 tahun masih jomblo belum ada pasangan," ucap Mama Dira.
Emang dasarnya Alan laki-laki yang irit bicara dan muka datar, ia tidak merespon sama sekali sindiran Mama Dira padahal dia merasa kalau yang di bicarakan Mama Dira adalah dirinya.
.
.
.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 258 Episodes
Comments
Agares Zaleski
bjir 💀
2024-05-26
1
Mariksa
nama tokoh2 wanitanya membingungkan , Rea, Dea, gia, Dira,.
2024-02-27
0
Jumpa Sari
Lima Bulan lagi kali thooor..... agk msk akal dikit dong thooor
2022-07-02
0