revisi -
#
Disisi lain, Rea semalaman harus bergelut dengan jadwal operasi yang sangat padat, apalagi karena terdapat kecelakaan tadi sehingga Rea yang awalnya harus izin pun gagal.
"Udah selesai operasinya?" tanya Qilla.
"Ini aja barusan selesai, gue udah gak sabar rasanya pengen tidur," ucap Rea, lalu merebahkan tubuhnya di dinginnya lantai yang ada di depan ruang operasi.
"Heh! bangun jangan tidur di sini," ucap Qilla.
"Capek banget gue sumpah," ucap Rea dan duduk menyenderkan tubuhnya pada tembok.
"Berapa lama lo operasinya?" tanya Qilla.
"Gue operasi sebenarnya beberapa jam doang gak sampe full gitu, tapi gue harus ganti ke pasien lain. jadi banyak pasiennya dan itu bener-bener buat gue kewalahan," ucap Rea.
"Lo mau gue ambilin makanan gak pasti lo belum makan kan?" tanya Qilla.
"Tapi, gue masih belum laper nanti deh," ucap Rea.
"Besok lo libur ya?" tanya Qilla.
"He'em," jawab Rea dengan menutup matanya.
"Mending lo pulang sana, ini udah malem loh," ucap Qilla.
"Gue udah izin tadi kalau ada pasien darurat, lagian pasien juga perlu pemeriksaan lanjutan kan," ucap Rea.
"Kamu pulang aja biar saya yang akan melakukan pemeriksaan pada pasien nanti setelah dia bangun," ucap Dokter Gabby.
"Tidak perlu Dok, takutnya nanti justru merepotkan Dokter Gabby," ucap Rea.
"Tidak masalah lagi pula ini juga jadwal saya kok, kamu pulang saja besok juga kamu libur," ucap Dokter Gabby.
Mau tidak mau akhirnya Rea pun melaksanakan apa yang dikatakan dokter Gabby tadi. Setelah selesai mengganti pakaiannya Rea pun pulang dengan mengendarai mobilnya untuk pulang. Sesampai di rumah Rea melihat lampu rumah yang masih menyala itu artinya keluarganya belum tidur.
Rea memberanikan diri untuk membuka pintu rumah tersebut dan baru saja Rea membuka pintu tatapan semua orang yang berada di ruang tamu pun teralihkan padanya.
"Oh! kamu udah pulang Rea! Rea sini deh ini tadi hantaran dari calon suami kamu!" ucap Bunda Nara, dengan semangat 45.
"Rea capek Bun, Rea istirahat di kamar aja deh ya. Buat hantarannya Bunda aja yang buka atau besok kalau Rea gak capek Rea buka," ucap Rea.
"Huh, padahal Bunda udah daritadi nungguin kamu buat bisa buka bareng, tapi kamu capek. Yaudah deh kamu ke kamar aja istirahat, besok aja buka hantarannya, kalau gitu Bunda juga mau tidur soalnya mulai ngantuk," ucap Bunda Nara dan pergi dari ruang tamu.
"Kamu istirahat jangan tidur malem-malem," ucap ayah Argi dan diangguki Rea.
Ayah Argi pun pergi dari ruang tamu dan mengikuti Bunda Nara yang masuk ke dalam kamar. Di ruang tamu hanya ada Rea dan juga Gia.
"Padahal Bunda daritadi nungguin Kakak loh biar bisa buka hantarannya, bahkan Bunda daritadi semangat banget. Udah lebih dari 3 jam mungkin Bunda nunggu, tapi Kakak kayak gak suka gitu, lain kali kalau Kakak gak suka tolonglah jangan tunjukkin ke Bunda. Kasihan Bunda takutnya nanti malah sedih. Lagian Bunda pasti pengen yang terbaik buat Kak Rea kok, kalau aja Gia udah gede pasti Gia mau kok gantiin Kak Rea," ucap Gia, lalu pergi dari ruang tamu dan masuk ke dalam kamarnya.
Rea yang mendengar perkataan Gia benar-benar merasa hatinya dicubit, benar kata Gia, harusnya Rea tidak menolak tadi dan tidak berkata seperti tadi pada Bunda Nara. Rea berjalan menuju tangga, tapi langkahnya terhenti dan menatap beberapa hantaran dari calon suaminya yang bahkan Rea tidak tahu bagaimana rupanya. Rea menatap lekat hantaran tersebut, dapat Rea lihat sebuah high heels yang sangat cantik berwarna putih.
Rea sangat suka menggunakan high heels, bahkan Rea memiliki koleksi high heels bisa dibilang Rea termasuk koleksi high heels, Rea kebanyakan mengoleksi jenis high heels yang Cone heels, Stiletto, dan Ankle strap heels. Tapi, Rea masih memiliki jenis lainnya hanya saja lebih sedikit daripada model high heels tadi, bagi Rea menggunakan high heels membuatnya lebih percaya diri.
Rea terus menatap high heels tersebut, 'Cantik banget high heels-nya,' ucap Rea, dalam hati.
"Astaga, Rea kok lo masih di sini sih," gumam Rea, lalu masuk ke dalam kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya.
.
Siang harinya Rea baru bangun karena ia benar-benar kelelahan, sebenarnya tadi pagi Bunda Nara membangunkan Rea untuk sholat dan setelah sholat Rea kembali tidur. Barulah jam 11 siang Rea benar-benar bangun dan mandi setelah itu keluar kamar karena Rea merasakan bayi-bayi kecilnya yang ada di dalam perutnya mendemo di dalam sana.
Saat keluar dari kamar dan menuju meja makan, Rea melihat Kak Inez sedang bersama Kaif.
"Selamat pagi, dokter Rea yang cantik," ucap Kak Inez, dengan menirukan suara anak kecil dan tak lupa Kak Inez juga melambaikan tangan Kaif pada Rea.
"Iiih, Kak Inez mah malah ngeledekin Rea," ucap Rea.
"Hehehehe, abisnya kamu sih ini udah jam berapa baru bangun. Perawan itu gak boleh bangun siang nanti jodohnya kabur loh," ucap Kak Inez.
"Mau kabur gimana orang Rea gak punya pasangan juga," ucap Rea.
"Masa gak punya sih bukannya kamu udah dilamar ya," goda Kak Inez.
"Kak Inez mah ngeselin," ucap Rea.
"Hehehehe."
"Tunggu! bukannya Kak Inez harusnya masih di rumah sakit ya, emangnya Kaif udah sembuh Kak?" tanya Rea.
"Kaif udah mulai baikan kok dan kemarin sore Kaif boleh pulang, kata dokter Kaif gapapa dan gak perlu khawatir kok," ucap Kak Inez dan diangguki Rea.
"Rea, kamu tahu gak kemarin calon kamu ganteng banget astaga Kakak aja sampe gak kedip loh ngelihatnya," ucap Kak Inez.
"Kak Inez mah lebay, kalau sampe Kak Ray tahu bisa-bisa Kak Inez gak bisa jalan besok pagi, hahahahaha" ucap Rea dan tertawa mendengar perkataannya sendiri.
"Ada apa ini ketawanya Rea sampe kedengaran di kamar bunda?" tanya Bunda Nara, yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Ini Kak Inez ngelawak Bun, hahahahaha," ucap Rea, yang masih belum bisa berhenti tertawa.
"Kamu nih Bunda kirain ada apa, oh iya ayo buka hantaran dari calon suami kamu. Kemarin kan belum dibuka," ucap Bunda Nara dan diangguki Rea.
Rea kembali teringat perkataan Gia kemarin malam, "Gia mana, Bun?" tanya Rea.
"Gia ada kerja kelompok," ucap Bunda Nara dan Rea hanya ber-o-ria.
Rea, Kak Inez, Kaif dan Bunda Nara berada di ruang tamu dengan hantaran dari calon suami Rea, "Ini banyak banget Bun," ucap Rea.
"Gak tahu juga kenapa sebanyak ini," ucap Bunda Nara.
Mereka pun membuka satu persatu hantaran tersebut, "Bunda ini kenapa semuanya bermerek gini, astaga! mimpi apa Rea semalam," ucap Rea.
"Dasar Dira gak pernah berubah selalu aja barang-barang kualitas terbaik yang diberi," ucap Bunda Nara.
"Kok Rea jadi gak enak gini ya nerima barang kayak gini," ucap Rea.
"Ini barang dari calon suami kamu, jadi kamu harus nerimanya," ucap Kak Inez.
.
.
.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 258 Episodes
Comments
Jumadin Adin
nama orangnya kok di puter2
2022-04-22
0
🅶🆄🅲🅲🅸♌ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠
kira² ada merk GUCCI ga 🤭🤭🤭
2022-04-21
0
Rachel Sakura Pricilia
uda
2022-04-17
0