revisi -
#
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh keluarga Dhananjaya dan keluarga Bratadikara bagaimana tidak karena hari ini adalah hari pernikahan Alan dan juga Rea, "Sayang, akhirnya ya anak cantik Bunda bakal diambil orang," ucap Bunda Nara.
"Bunda," panggil Rea, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Eh, jangan nangis dong, ini tuh hari bahagia kamu. Harusnya kamu senyum bukan nangis," ucap Bunda Nara.
"Rea sayang banget sama Bunda," ucap Rea.
"Bunda juga sayang banget sama Rea, Rea nanti harus nurut sama suaminya Rea ya jangan suka ngelawan suami," ucap Bunda Nara.
"Iya Bunda," ucap Rea.
"Kalau gitu kamu di sini dulu ya, nanti kalau calon suami kamu udah selesai Bunda jemput kamu," ucap Bunda Nara dan diangguki Rea.
Setelah Bunda Nara keluar Rea pun menghela napas dan kembali menatap cermin, "Ini beneran gue kan, gue gak nyangka sebentar lagi gue bakal jadi seorang istri, semoga gue bisa pertahanin hubungan gue," gumam Rea.
Sedangkan, diluar kamar Rea, Alan sudah berada di depan penghulu dan siap mengucap ijab kabul.
"Jangan takut Lan, semangat," ucap Kak Ray dan Alan hanya tersenyum menanggapinya.
"Ganteng ya calon mantu Bunda," ucap Bunda Nara.
"Iya dong, anakku gituloh," ucap Mama Dira.
"Seandainya aja Gia udah gede pasti Gia mau gantiin Kak Rea," ucap Gia.
"Hush, ngawur kalaupun kamu udah gede Bunda gak bakal biarin kamu sama Alan karena Bunda bakal cariin kamu jodoh yang dari luar negeri biar bisa memperbaiki keturunan kamu," ucap Bunda Nara.
"Memangnya Gia jelek apa sampe harus memperbaiki keturunan segala," ucap Gia.
"Enggak sih, tapi Bunda pengen aja gitu dapet menantu dari luar negeri," ucap Bunda Nara.
"Baik, sekarang kita mulai ijabnya," ucap penghulu dan diangguki semua orang yang ada di sana.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Danial Arsalan Dhananjaya bin Aldi Dhananjaya dengan anak kandung saya yang bernama Edrea Aleta Bratadikara binti Argi Bratadikara dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar sembilan juta sembilan ratus ribu rupiah dan, tunai,"
"Saya terima nikah dan kawinnya Edrea Aleta Bratadikara binti Argi Bratadikara dengan maskawinnya yang tersebut, tunai,"
"Bagaimana saksi sah?"
"Sah."
Semua orang yang berada di sana terharu karena suara lantang Alan saat mengucapkan ijab kabul, "Mama kok nangis," ucap Dea.
"Mama cuma terharu karena sekarang Kakak kamu udah punya pendamping artinya sekarang Kakak kamu punya tanggungjawab yang lebih besar selain Mama, Papa sama kamu," ucap Mama Dira.
Disisi lain Rea yang mendengar suara lantang Alan pun ikut terharu, ia tidak tahu bagaimana rupa dari suaminya itu. Tapi, Rea bergetar mendengar suara suaminya saat mengucapkan ijab kabul.
"Gue udah jadi istri orang," gumam Rea.
Entahlah Rea pun bingung ia harus bahagia tau sedih atas pernikahannya ini, tapi sedih pun juga percuma karena semuanya sudah terjadi.
Di ruang tamu mereka semua tersenyum saya melihat Alan yang sudah dapat tersenyum lega, "Ini pengantin perempuannya bisa di panggil," ucap penghulu dan diangguki Bunda Nara.
Baru saja Bunda Nara berdiri tiba-tiba Kak Inez menahannya, "Biar Inez aja Bun," ucap Kak Inez dan diangguki Bunda Nara.
Beberapa saat setelah Kak Inez masuk ke dalam kamar Rea tiba-tiba seorang pria masuk ke dalam ruang tamu dengan tergesa-gesa dan membuat semua orang yang ada di sana terkejut, "Kapten," panggil pria tersebut pada Alan.
"Ada apa ke sini?" tanya Alan.
"Kapten, saat ini perbatasan timur mengalami penyerangan dari negara tetangga," ucap pria tersebut.
"Suruh Alvin untuk memimpin aku akan ke sana setelah urusanku selesai," ucap Alan.
"Tapi, Kapten. Komandan memerintahkan saya untuk datang bersama kapten ke perbatasan sekarang," ucap pria tersebut.
"Nak, pergilah," ucap Ayah Argi.
"Tapi, Yah ...," Belum sempat Alan menyelesaikan ucapannya Ayah Argi terlebih dahulu menyelanya.
"Pergilah, urusan negara lebih penting," ucap Ayah Argi.
Namun, sebelum Alan pergi, ia terlebih dahulu menandatangani beberapa berkas pernikahannya.
"Kalau begitu Alan pergi dulu," pamit Alan dan berlari keluar rumah bersama dengan pria yang tadi menjemputnya yaitu Kino, salah satu prajuritnya.
Disisi lain Rea yang sudah dijemput Kak Inez pun merasa jantungnya berdegup kencang, "Jangan gugup ya," ucap Kak Inez dan Rea hanya tersenyum.
Baru saja Rea sampai di ruang tamu ia dapat melihat dua orang pria berlari keluar dari rumah dan Rea dapat pastikan jika salah satu dari pria tersebut adalah suaminya karena pria tersebut memakai pakaian dengan motif baju yang sama.
Semua orang yang baru menyadari jika Rea sudah berada di ruang tamu, "Sayang, kamu udah datang," ucap Mama Dira.
Rea hanya tersenyum kearah Mama Dira dan menatap sekitarnya karena tidak melihat pria yang seharusnya duduk di depannya Ayahnya, "Sayang, suami kamu pergi karena ada urusan penting dan tidak bisa ditunda," ucap Ayah Argi.
Rea kembali hanya tersenyum tanpa menjawab apapun. Menyedihkan, itulah yang dapat Rea rasakan, di hari pernikahan yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan bagi para perempuan justru Rea tidak merasakannya.
Bahkan sejak awal pernikahannya pun ada karena perjodohan dari orangtuanya dan sekarang ia ditinggal pergi oleh suaminya sendiri saat selesai ijab kabul.
Rea mulai duduk di depan Ayahnya dan menandatangani berkas-berkas pernikahannya, saat ini Rea benar-benar malas dan ia sampai tidak melihat bagaimana foto suaminya di buku nikah.
'Udahlah kapan-kapan aja gue lihat foto suami gue, sekarang rasanya gue pengen cepet ke kamar terus nangis aja,' ucap Rea dalam hati.
Saat ini di kediaman Bratadikara hanya ada keluarga Bratadikara dan keluarga Dhananjaya. Sedangkan, untuk para kerabat lainnya sudah pulang. Pernikahan memang hanya dihadiri oleh kerabat terdekat saja dan tidak mengundang terllau banyak orang.
"Sayang, kamu nanti tinggal di rumah suami kamu atau tinggal di sini?" tanya Mama Dira.
"Rea sebenarnya gak masalah sih Ma, mau tinggal dimana aja. Tapi, mungkin untuk saat ini Rea tinggal di sini dulu sampai suami Rea jemput Rea," ucap Rea.
"Alan sayang, nama suami kamu Alan," ucap Mama Dira.
"Iya, Alan," ucap Rea dan tersenyum untuk menutupi kesedihannya.
"Maafin anak Mama ya sayang," ucap Mama Dira dan diangguki Rea.
"Kamu harus maklumin semuanya Re, karena suami kamu memang harus pergi kalau tidak kita bakal dalam masalah," ucap Ayah Argi.
"Iya, Yah. Rea ngerti kok," ucap Rea.
Sore harinya Rea hanya berdiam diri di dalam kamarnya, "Gini banget dah nasib gue, ditinggal pergi," gumam Rea dan menertawakan dirinya sendiri hingga ia pun tidak bisa menahan tangisannya lagi.
Rea menangis dalam diam, ia tidak ingin orang yang ada di luar kamarnya mendengar tangisannya. Rea segera menghapus air matanya saat pintu kamarnya terbuka.
"Kenapa nangis hm?" tanya Kak Inez dan memeluk Rea.
"Hiks ... hiks, Rea menyedihkan ya Kak, di hari pernikahan yang harusnya Rea sekarang tersenyum karena bisa bersama suami Rea, tapi Rea justru nangis karena ditinggal pergi," ucap Rea.
.
.
.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 258 Episodes
Comments
Tri Utari Agustina
Kasih rea ditinggal suami bertugas
2022-05-11
0
Nurmila Karyadi
gak gitu jg kaleeee
2022-05-01
1
Eva Agustina
ngga masuk akal..🤔
2022-04-26
1