revisi -
#
Saat ini Rea sudah bersiap untuk kembali ke rumah sakit setelah libur beberapa hari karena pernikahannya, awalnya Rea ingin kembali bekerja sehari setelah pernikahannya. Tapi, hal itu tidak terjadi karena Bunda Nara yang melarangnya bahkan Bunda Nara juga menghubungi Mama Dira untuk melarang Rea.
"Kamu udah kerja aja," ucap Kak Ray.
"Iya, Kak. Bosen Rea di rumah terus gak ngapa-ngapain," ucap Rea.
"Kamu makan dulu jangan sampe kamu yang sakit," ucap Bunda Nara dan diangguki Rea.
Setelah sarapan Rea memutuskan segera berangkat ke rumah sakit sebelum telat. Selama perjalan Rea uring-uringan karena jalanan yang begitu macet, "Ini kenapa macet banget sih biasa juga jarang banget macet di jam segini?" tanya Rea, pada dirinya sendiri.
Setelah 15 menit terjebak macet akhirnya Rea pun dapat bernapas lega karena ia sudah sampai di rumah sakit, ia segera memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam rumah sakit.
"Dokter Rea," panggil Fafi.
"Kenapa Fi?" tanya Rea.
"Tadi dokter Rea di cariin sama dokter Gabby," ucap Fafi.
"Mampus, kalau gitu sekarang dokter Gabby dimana kamu tahu?" tanya Rea.
"Kalau gak salah dokter Gabby sekarang ada jadwal operasi," ucap Fafi.
"Huh, yaudah nanti kalau dokter Gabby selesai operasi baru aku bicara deh," ucap Rea.
"Apa dokter langsung buka praktek sekarang?" tanya Fafi.
"30 menit lagi ya, aku mau bahas sesuatu dulu sama dokter Andi," ucap Rea.
"Baik, dokter," ucap Fafi.
"Oh iya, Bima udah masuk atau dia masih izin?" tanya Rea.
"Bima sudah masuk dok, sekarang dia sedang membantu dokter Qilla karena Laras izin," ucap Fafi.
"Kenapa di rumah sakit ini banyak banget yang izin sih?" tanya Rea, pada dirinya sendiri dengan suara pelan. Namun, sayang Fafi mendengarnya.
"Salah satunya dokter Rea," ucap Fafi.
"Hah! ah iya salah satunya saya, saya pergi dulu nanti 30 menit lagi saya ke ruang praktek," ucap Rea dan diangguki Fafi.
Rea pun masuk ke ruang kerjanya dan setelah itu ia keluar dan menuju ruang kerja dokter Andi, setelah mengetuk pintu dan mendapatkan izin untuk masuk, Rea segera masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Ada apa, dokter Rea?" tanya dokter Andi, yang hanya meliriknya sekilas lalu kembali fokus pada berkasnya.
"Ini saya ingin memberikan jadwal operasi yang akan dokter Andi lakukan karena sekarang dokter Andi yang menggantikan saya atas pasien bernama Andriani," ucap Rea.
"Saya akan membatalkannya sehingga kamu akan kembali menjadi dokter pribadi untuk Andriani bagaimana menurut anda, dokter Rea?" tanya dokter Andi.
"Maaf dokter, bukannya saya menolak atau bagaimana. Tapi, jika penggantian pasien hanya boleh dilakukan oleh pasien itu sendiri bukan, dan dokter Andi pun tahu sendiri bagaimana sikap pasien jika dengan saya, sebab itu saya tidak bisa kembali menjadi dokter pribadi pasien. Bahkan dokter Gabby pun mengatakan jika saya tidak bisa menjadi dokter pribadi dari pasien karena dikhawatirkan hal yang buruk akan terjadi," ucap Rea.
"Kalau begitu kita berikan dia rujukan ke rumah sakit lain saja," ucap dokter Andi, dengan santainya yang membuat Rea terkejut.
"Tapi, itu tidak bisa dokter karena tidak ada hal yang mendesak sehingga pasien harus di rujuk ke rumah sakit atau dokter lain," ucap Rea.
"Ada, karena tidak ada yang ingin menjadi dokter pribadinya di rumah sakit ini, gampang bukan," ucap dokter Andi.
"Tapi, dokter .....," ucapan Rea terhenti lantaran dokter Andi menyelanya.
"Kamu bicarakan secara langsung dengan direktur Bagas, saya yakin pasti direktur akan menyetujuinya," ucap dokter Andi.
"Kenapa tidak dokter Andi saja yang mengatakannya ke direktur karena anda kan dokter pribadi pasien," ucap Rea.
"Saya rasa seluruh rumah sakit tahu bukan jika saat ini saya dan direktur sedang memiliki masalah pribadi, jadi dokter Rea saja yang bicara dengan direktur. Tapi, jangan hari ini karena direktur sedang di luar kota, dokter Rea bisa bicara hari Rabu, kalau begitu jika tidak ada yang dibicarakan lagi dokter Rea boleh pergi," ucap dokter Andi.
Rea pun keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan kesal, "Kenapa tuh muka?" tanya Nina, saat berpapasan dengan Rea.
"Tau ah males gue sama dokter Andi," ucap Rea.
"Kenapa emangnya dokter Andi? dia patah hati ya?" tanya Nina.
"Masa nih ya gue yang di suruh bicara sama direktur soal pasien dia, padahal dokter Andi itu dokter pribadinya loh," bisik Rea.
"Kenapa emangnya dokter Andi gak mau ketemu ya sama direktur?" tanah Nina.
"Tau tuh, mungkin sekarang dokter Andi lagi nangis kali di ruangannya," ucap Rea.
Mereka berdua tertawa karena kasihan dengan nasib dokter Andi, "Kasihan banget sama dokter Andi padahal seluruh rumah sakit tahu kalau dokter Andi deket sama dokter Shinta eh taunya malah dokter Shinta mau nikah sama direktur," ucap Nina.
"Tapi, emangnya itu berita udah bener ya?" tanya Rea.
"Gue juga gak tahu sih soalnya kan direktur lagi ke luar kota, jadi gak bisa ditanyain, terus kalau dokter Shinta juga gak masuk soalnya katanya baru pulang dari liburan," ucap Nina.
"Tunggu, kan dokter Shinta liburan sama dokter Ari, tapi kok malah nikah sama direktur sumpah gue gak paham sama kisah cintanya dokter Shinta," ucap Rea.
"Sama gue juga," ucap Nina.
"Tumben kalian manggilnya pake embel-embel dokter biasanya aja langsung manggil namanya," ucap Qilla, yang baru saja datang.
"Ya sekali-kali gitu La, biar kelihatan akur gitu," ucap Nina.
"Gimana sama cuti kalian, senang bukan gak kerja," ucap Qilla.
"Gue gak cuti ya gue itu ke luar kota kerja bukan liburan yang cuti itu nih si Rea," ucap Nina.
"Udah ah jangan bahas itu, masalah cuti udah selesai sekarang kita bahas masalah rumah sakit," ucap Rea.
"Emang ada masalah apa sama rumah sakit?" tanya Nina.
"Gak tahu, makanya kita bahas," ucap Rea.
Baru saja Qilla akan merespon tiba-tiba ponsel Rea berdering dan Rea pun mengangkat sambungan telepon tersebut yang ternyata dari Fafi.
"Dokter Rea," panggil Fafi.
"Kenapa, Fi?" tanya Rea.
"Di ruang praktek Ibu Andriani memaksa ingin bertemu dengan dokter Rea," ucap Fafi.
"Ok, kalau gitu saya ke sana sebentar lagi," ucap Rea, lalu memutuskan sambungan telepon tersebut.
"Ada apa?" tanya Nina.
"Gue ada urusan mendadak, kalau gitu gue duluan ya," ucap Rea dan berlari menuju ruang prakteknya.
"Baru aja mau di interogasi udah pergi aja tuh anak, yaudah kita balik ke ruangan yuk. Lo kan udah ganti shift kan," ucap Qilla.
Disisi lain Rea yang sudah berada di depan ruang prakteknya pun segera membuka pintu tersebut dan melihat Andriani yang menatap tajam kearahnya, "Ada apa ya Bu Andriani ke sini?" tanya Rea, yang mencoba menahan emosinya.
"Mana dokter pribadi saya? saya sudah tidak mau ya anda yang jadi dokter pribadi saya, apa anda tidak memenuhi keinginan saya untuk mengganti dokter pribadi?" tanya Andriani.
"Maaf sebelumnya ya Bu Andriani, saya sudah mendapatkan dokter pribadi untuk Ibu. Tapi, sayang seribu sayang dokter tersebut tiba-tiba menolak padahal dia sudah menandatangani kontraknya dan kalau Bu Andriani ingin protes harusnya Ibu protes dengan dokter baru Ibu dan bukan pada saya, karena saya sudah tidak ada lagi hubungan kerjasama apapun dengan Bu Andriani," ucap Rea.
"Tapi, tetap saja harusnya anda yang menjelaskan semuanya pada dokter pribadi saya," ucap Andriani.
"Saya sudah mencobanya dan dia tetap menolak, begini saja dua hari lagi Bu Andriani kemari dan kita bahas lagi, karena bagaimanapun saya juga butuh saran dari direktur untuk memutuskan," ucap Rea dan untungnya hal itu disetujui oleh Andriani.
.
.
.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 258 Episodes
Comments
🅶🆄🅲🅲🅸♌ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠
ikutin aturan RS...kl ga suka cari RS lain aja...
2022-04-21
1
Bundanya aaul
ceritanya bagus, tetap semangat ya Thor💪💪
2022-04-15
2