revisi -
#
Pagi harinya Rea sudah bangun dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit, "Loh! Bunda udah ada di rumah aja, Rea kira Bunda di rumah sakit nemenin Kaif," ucap Rea.
"Kaif cuma biang keringat kok dan gak perlu sampai di rawat sih sebenarnya, tapi kan kamu tahu sendirilah gimana Kakak kamu itu kalau panik. Jadi, Kaif sekarang masih di rawat di rumah sakit, Bunda pulang karena khawatir ke kamu sama Gia," ucap Bunda Nara.
"Bunda gak perlu khawatir ke Rea sama Gia, kita bisa kok jaga rumah dan kalau urusan makanan kita juga bisa pesen kan," ucap Rea.
"Ya, tetep aja Bunda khawatir tahu," ucap Bunda Nara.
"Padahal Rea udah gede loh, Bun. Tapi, masih aja di khawatirin," ucap Rea.
"Bagi Bunda kamu itu masih kecil yang harus Bunda khawatirin," ucap Bunda Nara.
"Udah sekarang kamu makan, kamu ada jadwal kan sekarang," lanjut Bunda Nara dan diangguki Rea.
"Gia belum bangun, Bu?" tanya Rea.
"Enak aja, Gia udah bangun ya Kak. Malahan Gia udah cantik kayak gini," ucap Gia.
"Ya, kan Kakak kira kamu masih molor jam segini, tapi kok tumben kamu udah bangun?" tanya Rea.
"Soalnya nanti Rea ada ulangan bahasa Indonesia kak," ucap Rea.
"Oh, yang katamu gurunya judes banget ya terus dia juga disiplin," ucap Rea.
"Iya, Kak. Padahal nih ya Kak jam pelajarannya itu jam kedua, tapi ibunya malah minta dimajuin jadi jam pertama kan ngeselin," ucap Gia.
"Loh! kenapa dia malah minta dimajuin jam pertama?" tanya Rea.
"Gak tahu juga Kak," ucap Gia.
"Udah makan jangan gosip terus," ucap Bunda Nara.
Akhirnya mereka pun memakan makanan yang Bunda Nara bikin. Beberapa saat kemudian, mereka selesai sarapan dan bersiap untuk pergi.
"Bunda mau sama Rea atau gimana ke rumah sakitnya?" tanya Rea.
"Bunda nanti aja soalnya nanti Ayah pulang kok," ucap Bunda Nara dan diangguki Rea.
"Kalau gitu Rea pamit ya Bun," ucap Rea.
"Ini ya nanti kamu kasih ke Kakak kamu," ucap Bunda Nara dan memberikan bekal yang sudah ia persiapkan.
"Oke, Bun," ucap Rea.
Rea pun masuk ke dalam mobil dan di dalam mobil tersebut sudah ada Gia yang tenang membaca buku pelajarannya.
"Wah! Kak Gia kok gugup ya takut gak bisa jawab nanti," ucap Gia.
"Emangnya kamu ulangannya lisan atau tulis kok sampe gugup kayak gitu?" tanya Rea.
"Lisan Kak, makanya Gia gugup. Kalau ulangan tulis Gia masih bisa berkhayal jawabannya, tapi kalau lisan, Gia pasrah kak," ucap Gia.
"Ck, kamu mah lebay. Makanya belajar biar gak gugup," ucap Rea.
"Kak Rea nih harusnya semangatin Gia, lagipula nih ya Kak, Gia itu udah belajar dengan sungguh-sungguh, tapi emang kapasitas otaknya Gia aja yang cuma bisa nampung beberapa materi," ucap Gia.
Rea hanya menggelengkan kepalanya karena jawaban dari adiknya itu. Beberapa saat kemudian, mobil yang Rea kendarai sudah sampai di depan sekolah Gia.
"Udah sana keluar," ucap Rea.
"Kak Rea ngusir Gia," ucap Gia, dengan sok sedih.
"Ck, cepet keluar Kakak masih ada praktek soalnya ini, kalau mau drama jangan hari ini," ucap Rea.
"Iya iya, dadah Kak Rea. Hati-hati ya," ucap Gia, setelah keluar dari mobil tersebut.
Setelah Gia masuk ke dalam sekolah, Rea pun mengendarai mobilnya menuju rumah sakit dan sesampainya di rumah sakit tempat yang pertama Rea tuju adalah kamar inap Kaif.
"Loh! kamu kenapa di sini Re? bukannya kamu ada praktek?" tanya Kak Inez.
"Rea cuma mau ngasih ini. Ini tadi dari Bunda," ucap Rea.
"Makasih ya," ucap Kak Inez dan diangguki Rea.
"Yaudah, Rea pergi dulu ya," ucap Rea.
"Iya, kamu juga pasti buru-buru kan," ucap Kak Inez.
Rea pun keluar dari kamar inap tersebut dan menuju ruangannya, "Dokter Rea kemana aja? Fafi kirain Dokter Rea gak masuk hari ini," tanya Fafi.
"Tadi aku masih ada beberapa hal yang harus diurus soalnya, oh iya Bima masih belum bisa masuk?" tanya Rea.
"Belum Dok, Bima izin sekarang dia yang sakit," ucap Fafi.
"Yaudah, kalau gitu kita berdua aja yang buka jadwal prakteknya," ucap Rea dan diangguki Fafi.
Rea saat ini berada di ruang prakteknya dan menangani beberapa pasiennya. Rea salah satu Dokter yang cukup terkenal di rumah sakit karena sikap ramahnya dan juga kecantikannya. Banyak pasien Rea terutama para ibu-ibu yang sering menjodohkan anak mereka dengan Rea, Rea tak mempermasalahkan hal tersebut selama apa yang mereka lakukan itu tidak mengganggu pekerjaannya. Karena hal itu juga beberapa dokter dan perawat tidak menyukainya.
Saat jam istirahat Rea pun kembali ke ruangannya, Rea satu ruangan dengan kedua sahabatnya yaitu Qilla dan Nina karena mereka sama-sama dokter bedah di rumah sakit tersebut.
Baru saja Rea masuk ke dalam ruangan tersebut, namun teriak Nina sudah menyambut Rea, "Astaga! Nin, kalau teriak itu jangan di sini, inget ini rumah sakit kalau mau teriak-teriak itu di hutan sana," ucap Rea.
"Hehehehe, maaplah, ini gue baru aja dapet balesan dari dokter Farhan," ucap Nina.
"Balesan apa?" tanya Qilla.
"Kalian inget gak yang gue bilang kalau gue ngirim proposal ke Dokter Farhan buat pendaftaran," ucap Nina.
"Pendaftaran apa?" tanya Rea.
"Oh! yang lo mau ikut penelitiannya Prof. Adi ya?" tanya Qilla.
"Yup! betul sekali," ucap Nina.
"Kok gue gak tahu," ucap Rea.
"Lo kok bisa gak tahu ya, lo ikut kan waktu ke cafe Dandelion?" tanya Nina.
"Ikutlah," ucap Rea.
"Lo emang ikut, tapi lo kan pulang duluan soalnya hujan dan tante Nara ngehubungin lo terus," ucap Qilla.
"Oh iya, gue inget gue pulang duluan ya. Makanya gue gak tahu cerita lo yang ini," ucap Rea.
"Terus kenapa dokter Farhan yang ngasih kabar ke lo?" tanya Qilla.
"Kan dokter Farhan itu masuk ke timnya Prof. Adi," ucap Nina, yang diangguki Rea dan Qilla.
"Terus apa kata dokter Farhan?" tanya Rea.
"Katanya gue bisa wawancara besok ke ruangannya Prof. Adi," ucap Nina.
"Wah! keren banget lo bisa masuk ke ruangannya Prof. Adi, orang yang paling berpengaruh di rumah sakit, bahkan banyak orang penting yang kenal dengan Prof. Adi, bukan hanya itu sih, tapi semua orang juga tahu kalau ruangannya Prof. Adi itu salah satu ruangan yang hanya orang tertentu yang bisa masuk ke sana dan lo masuk ke dalam daftar itu," ucap Qilla.
"Semoga gue lolos dan gue bisa masuk ke dalam daftar tim penelitiannya Prof. Adi," ucap Nina.
"Amin, gue bantu doa," ucap Rea.
"Makan yuk, laper nih gue," ucap Nina.
"Lo gak mau ke dokter Farhan gitu buat bahas masalah wawancara?" tanya Qilla.
"Dokter Farhan ada operasi sampai jam 5 sore nanti makanya besok baru gue boleh tanya-tanya ke dia," ucap Nina.
.
.
.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 258 Episodes
Comments
mizuki
Pertahankn alur ceritanya ya thor, jgn melenceng kaya drama sinetron yg udh kepanjangan
2022-04-27
2
Seftiyanah MSD
suka ceritanya
2022-04-22
0
Bundanya aaul
lanjutnya ya Thor, semoga dapat merevisi typo", karena ceritanya bagus
2022-04-13
0