revisi -
#
"Hei, dengerin Kakak. Suami kamu itu pergi karena ada alasan dan alasan itu memang penting, bayangkan kalau suami kamu tidak pergi bisa jadi ribuan nyawa akan melayang," ucap Kak Inez.
"Tapi, kenapa harus Rea yang merasakan sakitnya Kak?" tanya Rea.
"Hush, kamu gak boleh ngomong kayak gitu, gimanapun itu udah tanggungjawab suami kamu dan kamu harusnya mendoakan suami kamu semoga dia selamat dan bisa jemput kamu," ucap Kak Inez dan diangguki Rea.
"Udah ya, jangan nangis lagi. Nanti Mamanya suami kamu mau ajak jalan-jalan sama kamu, kamu mau?" tanya Kak Inez dan diangguki Rea.
"Yaudah, kalau gitu kamu siap-siap ya," ucap Kak Inez.
Sore harinya Rea sudah siap dan turun ke bawah, "Sayang, kamu udah siap?" tanya Mama Dira.
"Iya, Ma," ucap Rea.
"Yaudah, ayo kita jalan-jalan ke taman deket sini," ajak Mama Dira.
Rea tidak hanya berdua dengan Mama Dira, tapi Rea bersama dengan Dea adik dari suaminya, "Kak Rea cantik deh, cocok sama Kak Alan yang juga ganteng," ucap Dea.
"Bisa aja kamu," ucap Rea.
Mereka bertiga pun mengelilingi taman dan setelah puas mereka duduk santai di kursi yang ada di taman tersebut, "Ma, Dea mau ke pasir itu ya?" tanya Dea.
"Iya, sayang hati-hati ya," ucap Mama Dira dan diangguki Dea.
Dea pun pergi meninggalkan Mama Dira dan Rea, Mereka berdua hanya duduk di kursi tersebut dan mengawasi Dea.
"Kamu lihat ada yang berbeda gak dari Dea?" tanya Mama Dira.
"Maksud Mama?" tanya Rea.
"Kamu lihat Dea baik-baik sayang, dia berbeda gak sama anak lain seusianya?" tanya Mama Dira.
"Rea rasa gak ada yang berbeda dari Dea, dia sama kayak anak lainnya," ucap Rea.
"Dea seumuran dengan adik kamu bukan?" tanya Mama Dira.
"Iya, mereka seumuran. Mereka sama-sama jelas dua SMP," ucap Rea.
"Tapi, mereka beda," ucap Mama Dira.
"Maksud Mama?" tanya Rea.
"Dea itu istimewa dia tidak seperti anak-anak seumurannya," ucap Mama Dira.
Rea sontak menoleh pada Mama Dira, "Maksud Mama?" tanya Rea.
Rea benar-benar tidak paham dengan ucapan dari Mama Dira yang terlalu bertele-tele menurut Rea.
"Dea mengidap bipolar disorder," ucap Mama Dira, yang sontak membuat Rea terkejut pasalnya selama ini Rea tidak melihat gejala penyakit yang diderita Dea.
"Kamu pasti kaget ya dengernya," ucap Mama Dira.
"Tapi, Dea gak kelihatan seperti pengidap bipolar," ucap Rea.
"Memang akhir-akhir ini Dea mulai membaik, tapi Dea bisa saja kambuh sewaktu-waktu jika suasana hatinya berubah, sebab itu Mama kadang takut untuk membiarkan Dea sendirian keluar," ucap Mama Dira.
"Kalau Rea boleh tahu sejak kapan Mama tahu kalian Dea mengidap bipolar?" tanya Rea.
"Waktu kelas 4 SD, Mama kaget saat kumpul bersama keluarga tiba-tiba Dea membentak neneknya dan mengatakan jika neneknya suka mengatur mengenai hidupnya, dia marah bahkan Dea melemparkan barang-barang yang ada di dalam kamarnya keluar. Dea marah sampai dua hari, Mama rasa ada yang gak beres makanya Mama putuskan untuk bawa Dea ke dokter dan benar saja dokter mengatakan jika Dea mengalami gejala bipolar disorder, setelah tahu itu Mama juga membawa Dea ke psikiater berharap Dea bisa sembuh ya walaupun Dea tidak dapat sembuh setidaknya Dea mulai bisa mengontrol emosinya," ucap Mama Dira.
"Maafin Rea karena udah ngingetin Mama dan buat Mama jadi sedih," ucap Rea.
"Gapapa sayang, kamu sekarang juga bagian dari keluarga Dhananjaya dan kamu harus tahu semua yang terjadi pada keluarga Dhananjaya, banyak orang yang mengatakan jika keluarga Dhananjaya termasuk keluarga yang sempurna, tapi mereka tidak pernah tahu perjuangan keluarga Dhananjaya dalam menghadapi emosi Dea," ucap Mama Dira.
"Mama itu orangtua terhebat, Rea yakin pasti suatu saat ini semua pengorbanan Mama terbayarkan," ucap Rea.
"Mama sama Kakak kenapa pelukan?" tanya Dea.
"Loh kamu udah selesai mainnya?" tanya Rea.
"Iya Kak udah," ucap Dea.
"Yaudah sekarang kamu mau kemana lagi?" tanya Mama Dira.
"Kita pulang aja ya, Ma. Dea ngantuk pengen tidur," ucap Dea.
"Yaudah, ayo. Lagian sekarang udah mau jam 5 juga," ajak Mama Dira.
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga pun sampai di kediaman Bratadikara, "Kalian udah pulang gimana jalan-jalannya?" tanya bunda Nara.
"Seru bunda! soalnya tadi Dea main di taman," ucap Dea, dengan semangat.
"Syukurlah kalau kamu senang, yaudah sekarang kita makan gimana soalnya udah waktunya makan," ucap Bunda Nara.
"Rea bersih-bersih dulu ya, Ma," ucap Rea.
"Iya, tapi setelah itu kamu ke bawah ya buat makan," ucap Bunda Dira dan diangguki Rea.
Rea pun masuk ke dalam kamarnya dan setelah bersih-bersih Rea pun berjalan untuk keluar kamarnya. Namun, baru saja Rea ingin keluar dari kamarnya tiba-tiba ponselnya berdering.
"Kenapa nih Qilla nelpon tumben banget?" tanya Rea pada dirinya sendiri.
"Halo ke apa La?" tanya Rea.
"Gawat!" pekik Qilla.
Rea yang mendengar suara melengking dari Qilla pun segera menjauhkan telinganya dari ponselnya karena ia tidak ingin telinganya bermasalah, "Bisa gak sih kalau ngomong gak usah teriak kayak gitu, sakit nih telinga gue," ucap Rea kesal.
"Hehehehe, maaplah keceplosan tadi," ucap Qilla.
"Kenapa nelpon?" tanya Rea.
"Aelah to the point banget neng," ucap Qilla.
"Ck, cepetan soalnya gue masih ada urusan nih," ucap Rea.
"Okok, jadi gue mau ngasih berita heboh," ucap Qilla.
"Berita apa?" tanya Rea.
"Direktur Bagas bakal nikah sama Shinta," ucap Qilla.
"Hah! kok bisa? bukannya selama ini Shinta itu katanya deket sama dokter Andi atau dokter Ari ya?" tanya Rea.
"Mana gue tahu, tapi gue tadi dapat kabar langsung dari dokter Gabby. Lo tahu sendirilah dokter Gabby itu dokter VIP, jadi pasti gak bakal salah beritanya," ucap Qilla.
"Agak aneh sih ya kalau dokter Bagas tiba-tiba nikah sama dokter Shinta soalnya mereka kayak gak pernah tegur sapa gitu eh tiba-tiba malah nikah," ucap Rea.
"Namanya juga takdir, bahkan orang yang gak saling kenal pun bisa nikah Re, dijodohin misalnya. Gak ada yang mustahil di dunia ini Re," ucap Qilla.
Ucapan Qilla membuat Rea merasa tersindir, 'Ini Qilla gak lagi nyindir gue kan,' ucap Rea dalam hati.
"Lo cuma nelpon gue buat ngasih tahu kabar ini?" tanya Rea.
"Gaklah, ada satu lagi," ucap Qilla.
"Apa?" tanya Rea.
"Kapan lo masuk, gue sendirian nih kerjanya gak seru banget sumpah mana si Aqil itu ngedeketin gue terus," ucap Qilla.
"Udah sih La, terima aja sih Aqil. Kasihan tahu dia selalu ngejar lo," ucap Rea.
"Ogah ya, gue maunya itu nikah sama pilot atau dokter, tapi dokternya yang gak Aqil juga. Gue gak mau sama dia ya ogah banget pokoknya," ucap Qilla.
Saat sedang mengobrol tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan memperlihatkan Bunda Nara yang menatap tajam ke arah Rea, "Di suruh cepet ke bawah eh malah teleponan. Gara-gara kamu ya semua orang jadi laper tahu gak," ucap Bunda Nara.
"Hehehehe, iya Bun. Rea ke bawah sekarang," ucap Rea.
"Udah dulu ya La, Bunda marah nih gara-gara gue gak ke bawah," ucap Rea, lalu memutuskan sambungan telepon tersebut.
.
.
.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 258 Episodes
Comments
Jumadin Adin
msh banyak teka teki
2022-04-22
2
Ami batam
Krn penasaran dg sinopsis ny di atas jd q lanjutkan membaca Thor, rupa ny cerita ny menarik setelh q baca cari awal😄👍
2022-03-15
5