revisi -
#
"Ehm, itu tadi gue habis lihat pasien sama keluarganya dan tiba-tiba gue jadi sedih aja gitu," elak Nina dan untungnya Qilla percaya.
"Kenapa tuh muka?" tanya Qilla pada Rea.
"Males banget gue sumpah, gue gak mau ya jadi relawan," ucap Rea.
"Ya, jangan protes ke gue, lo protes ke direktur Bagas sana," ucap Qilla.
"Gue malah lebih males buat ketemu sama tuh orang," ucap Rea.
"Kenapa lo tumben banget ketus gitu, pembicaraan lo sama direktur Bagas tadi gak berjalan dengan lancar ya kok gak enak gitu muka lo?" tanya Qilla.
'Gue bahkan belum bicarain hal itu ke direktur Bagas,' ucap Rea dalam hati.
"Terus kapan berangkatnya?" tanya Nina, yang mengalihkan pertanyaan dari Qilla.
"Besok pagi jam 8," ucap Qilla.
"Hah! kok cepet banget," ucap Rea.
"Sebenarnya gak cepet sih, tapi kan emang kalian berdua baru di masukin daftar hari ini jadi kayak cepet gitu padahal mah gak cepet," ucap Qilla.
"Ck, gue bahkan belum siap-siap," ucap Nina.
Rea menatap ke arah Nina, "Lo mau ikut?" tanya Rea.
"Ya, mau gimana lagi udah di daftarin juga," ucap Nina.
"Iya, lagian nama kalian juga udah dikasih ke koordinator relawan dan mungkin sekarang udah di pegang kapten yang ada di sana," ucap Qilla.
"Kapten?" tanya Nina.
"Iya, jadi di sana itu ternyata juga masuk area tentara gitu, jadi kalau kita ke sana pasti bakal banyak cowok tampan yang menyegarkan mata," ucap Qilla.
"Oke, gue mau ke sana," ucap Nina.
"Ck, lo mah kalau masalah cowok aja langsung gas ngeng," ucap Rea.
"Iya dong, kasihan nih gue yang jomblo seumur hidup," ucap Nina.
"Kasihannya," ejek Qilla.
"Biarin sih, itu artinya gue itu anak baik," ucap Nina.
"Anak baik katanya gak percaya gue," ucap Qilla.
"Biarin aja sih, kenapa sewot banget lo daritadi," ucap Nina.
"Re, kalau lo mau bicara sama direktur Bagas mendingan sekarang aja deh, soalnya gue denger katanya habis istirahat direktur Bagas bakal keluar gak tahu kemana," ucap Qilla.
"Oke," ucap Rea dan keluar dari ruangan tersebut lalu berjalan menuju ruangan direktur Bagas.
Rea sudah memutuskan ia akan membicarakan hal ini baik-baik pada direktur Bagas karena bagaimanapun Rea tidak ingin menjadi relawan karena bagi Rea menjadi relawan memerlukan mental yang lebih kuat daripada para korban dan itu Rea tidak bisa. Rea mudah terbawa emosi dan Rea takutnya tidak bisa menyemangati mereka dan Rea justru membuat mereka patah semangat.
Sesampainya di depan ruangan direktur Bagas Rea mengetuk pintu tersebut dan setelah mendapat jawaban dari direktur Bagas untuk masuk barulah Rea masuk ke dalam.
"Direktur," panggil Rea.
Direktur Bagas yang awalnya fokus pada pekerjaan pun mengalihkan pandangannya pada Rea, "Oh ada dokter Rea ternyata? ada apa dokter Rea? apa ada yang bisa saya bantu?" tanya direktur Bagas.
"Begini direktur saya ingin menanyakan mengenai daftar relawan, saya kan tidak pernah berminat untuk mendaftarkan diri, tapi kenapa direktur dengan kekuasaan yang direktur miliki justru memasukkan nama saya dan juga nama dokter Nina dalam daftar?" tanya Rea.
"Ya, karena saya ingin. Saya dengar dokter Rea dan juga dokter Nina belum pernah mendaftar sebagai relawan dimanapun kan, jadi karena saya ini orangnya baik hati makanya saya daftarkan kalau berdua," ucap direktur Bagas.
"Tapi, saya tidak berminat dan bukankah yang menjadi relawan itu artinya saya ikut secara sukarela dan bukan karena paksaan kalau begini bukankah sama saja dengan saya ikut karena paksaan," ucap Rea.
"Oh, begitulah kalau begitu mulai sekarang peraturan tersebut akan saya ganti menjadi setiap dokter wajib untuk ikut serta menjadi relawan dimanapun setidaknya satu kali, bagaimana?" tanya direktur Bagas.
"Bukankah itu artinya direktur Bagas sewenang-wenang," ucap Rea.
"Huh, baiklah apa yang dokter Rea inginkan?" tanya direktur Bagas.
"Saya ingin direktur Bagas menarik kembali nama saya dalam daftar relawan dokter," ucap Rea.
"Oh, kalau itu tidak bisa," ucap direktur Bagas.
"Tapi, saya tidak ingin menjadi relawan direktur," ucap Rea.
"Saya tidak peduli, tapi ada syaratnya jika kamu ingin saya menarik kembali nama kamu dari daftar itu," ucap direktur Bagas.
"Apa syaratnya direktur?" tanya Rea.
"Puaskan nafsu saya," ucap direktur Bagas.
Rea yang mendengarnya pun lantas terkejut dan menjauhkan tubuhnya dari direktur Bagas, "Saya tidak mau dan tidak akan pernah," ucap Rea.
"Ya, karena kamu tidak mau ya sudah berarti kamu tetap menjadi relawan," ucap direktur Bagas.
"Apa tidak ada syarat lain direktur?" tanya Rea.
"Tidak ada karena dokter Rea yang sudah mengganggu saya dengan dokter Nina tadi, jadi sebagai gantinya dokter Rea yang menggantikan dokter Nina dan saya pastikan nama dokter Rea tidak akan ada dalam daftar bagaimana?" tanya direktur Bagas.
"Lebih baik saya menjadi relawan daripada saya harus memberikan tubuh saya pada direktur," ucap Rea.
"Ya itu pilihan dokter kalau begitu," ucap direktur Bagas.
Rea benar-benar emosi dan melemparkan berkas yang ia bawa pada wajah direktur Bagas, "Ini nama pasien dokter Andi yang ingin di rujuk ke rumah sakit lain, direktur silahkan baca dan jika ada apa-apa direktur silahkan bicarakan pada dokter Andi," ucap Rea.
Rea berdiri dan sebelum pergi Rea terlebih dahulu menatap tajam ke arah direktur Bagas yang tengah menatapnya dengan mengedipkan matanya, "Kalau direktur ingin seseorang memuaskan nafsu direktur, direktur bisa dengan kekasih direktur atau kalau tidak, direktur bisa pesan wanita yang bekerja untuk memuaskan kaum direktur," ucap Rea, lalu pergi dari ruangan direktur Bagas.
Tanpa Rea sadari direktur Bagas marah karena ucapan Rea tadi, "Awas kamu Rea, saya akan balas dendam dengan kamu. Lihat saja besok kamu akan menderita," gumam direktur Bagas dengan mengeluarkan smirknya.
Rea berjalan meninggalkan ruangan direktur dengan kesal menuju ruangannya, "Gimana, Re?" tanya Nina.
Rea menggelengkan kepalanya dan menaruh kepalanya di meja dengan kedua tangannya, "Udahlah, Re. Gapapa sekali-kali biar pernah lo jadi relawan," ucap Qilla.
"Tapi, gue gak bisa jadi relawan lo kan tahu gue," ucap Rea.
"Ya, terus mau gimana lagi dong, besok loh berangkatnya," ucap Qilla.
"Apa gue telat aja kali ya, jadi besok gue gak berangkat," ucap Rea.
"Gila! gak ya. Re, ini masalahnya banyak orang yang bantuan kita sebagai dokter, lo gak boleh egois. Lo harus mikirin orang lain juga," ucap Qilla.
"Huh, iya gue ikut," ucap Rea.
"Nah gitu dong," ucap Qilla.
"Besok berangkatnya jam berapa, La?" tanya Nina.
"Besok jam 6 pagi udah berangkat," ucap Qilla dan diangguki Rea dan Nina.
"Awas lo kalian jangan sampe telat kalau telat kalian yang bakal gue marahin," ucap Qilla.
"Iya iya, besok kabarin gue ya," ucap Rea.
"Siap, tapi lo gapapa pergi sama orangtua lo?" tanya Nina.
"Astaga, iya gue lupa belum izin. Gampang lah kalau itu, gue juga bisa izin nanti pas gue pulang," ucap Rea.
Malam harinya Rea sudah pulang ke rumahnya dan melihat keluarganya yang berada di ruang tamu dan mengobrol, Rea memutuskan untuk membersihkan tubuhnya sebelum meminta izin pada orangtuanya.
Setelah membersihkan tubuhnya Rea pun memutuskan untuk keluar dan duduk di ruang tamu bersama yang lainnya.
.
.
.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 258 Episodes
Comments
alin juwita
agak sedikit aneh ceritanya..setahu sy pernikahan militer pasti udah terdaftar jd pasti udah ketahuan d lingkungan akan ko ni g da yg tau pdhl kan tmn nya sempet jmpt saat akad ..alannya pun msh pake baju akad...terus rea kan dokter tp kyk krg prinsip dokter nya y...kyk bkn dokter gt lebih kyk anak kuliahan...
2022-05-17
1
Adik Setyowati
mirip drama dots gak sih...??
2022-05-14
1
Tri Utari Agustina
Rea akan ketemu dengan suami
2022-05-11
0