revisi -
#
Disisi lain Alan saat ini sudah berada di perbatasan, "Kapten," panggil Raka.
"Bagaimana situasi sekarang?" tanya Alan.
"Sepertinya situasi saat ini benar-benar tidak terkendali, Albert tidak ingin mengalah. Dia terus menyerang daerah pemasok," ucap Alvin.
"Jangan kirim Tim ke sana," ucap Alan.
"Tapi, kapten kalau kita tidak kirim Tim ke sana bukannya daerah itu akan semakin rusak," ucap Raka.
"Kita bicarakan mengenai hal ini pada mereka, sebenarnya apa mau mereka," ucap Alan.
"Albert tidak dapat dihubungi sepertinya Albert tidak ingin membahas hal ini," ucap Alvin.
"Apa Albert melakukannya karena perjanjian yang ditandangani perdana menteri?" tanya Ryan.
"Bisa jadi," ucap Alvin.
"Aku sudah menduganya, kalau begitu Ryan tanyakan ke komandan mengenai aturan perjalanan dan sekarang kita lakukan penyerangan di wilayah gangguan," ucap Alan.
"Kapten bukankah di wilayah itu sangat berbahaya," ucap Alvin.
"Kita harus ambil resiko agar Albert berhenti dan mau membahas hal ini dengan kita," ucap Alan.
Akhirnya mereka pun mulai melakukan penyerangan dan benar saja beberapa setelah penyerangan terjadi tim Albert datang, "Apa maksudmu mengganggu daerah gangguan? kau tahu bukan di sana masih banyak ranjau dan jika ranjau meledak maka negaraku akan terkena imbasnya," tanya Albert.
"Syukurlah kau cepat datang kalau tidak kupastikan negaramu akan hancur," ucap Alan.
"Kau dan negaramu sama saja," ucap Albert dan Alan hanya mengeluarkan smirknya.
"Apa mau mu sebenarnya? kenapa kau menyerang daerah pemasok?" tanya Alan.
"Tanyakan pada perdana menteri mu itu, apa gunanya menandatangani perjanjian bodoh itu," ucap Albert.
"Yang jelas perjanjian itu berguna untuk warga negaraku," ucap Alan.
"Tapi, dengan perjanjian itu negaraku tidak bisa melakukan perdagangan lagi ke wilayah barat," ucap Albert.
"Memang itu tujuannya, sangat tidak adil jika negara kalian melakukan perdagangan ke daerah barat, tapi tidak membayar biaya perjalanan yang ada hanya karena kita ini tetangga bukan," ucap Alan.
"Kau membuat negaraku semakin kesulitan dalam masalah perdagangan maka aku akan membuat negaramu kesulitan masalah pertahanan," ucap Albert, dengan tegas.
"Santai kawan, bukankah negaramu masih bisa melewati jalur selatan untuk melakukan perdagangan di wilayah barat," ucap Alan.
"Kau bodoh atau bagaimana jika di daerah selatan terdapat mafia tanah yang akan menagih setiap orang yang lewat di sana," ucap Albert.
"Ya, kalau begitu itu masalahmu dan negaramu," ucap Alan.
"Karena tidak ada solusi untuk ini maka timku akan kembali menyerang daerah mu," ucap Albert.
"Silahkan," ucap Alan.
Alan pun pergi dan menuju markas, "Bagaimana? apa komandan memperbolehkannya?" tanya Alan, pada Ryan.
"Komandan mengatakan itu hal yang sulit untuk meminta perdana menteri mengubah jumlah barang untuk di bawa dalam perjalanan," ucap Ryan dan diangguki Alan.
"Semua penduduk sudah diungsikan?" tanya Alan.
"Ya, mereka semua sudah berada di tempat yang aman," ucap Raka.
"Bagaimana kerusakan di daerah pemasok?" tanya Alan.
"Ternyata penyerangan yang dilakukan Albert dan timnya tidak terlalu parah hanya beberapa saja ladang yang hangus dan untungnya ladang itu kosong," ucap Alvin.
"Bagaimana wilayah gangguan? apa mereka menaruh beberapa tentaranya di sana?" tanya Alan.
"Iya, mereka menaruh beberapa tentara di sana," ucap Raka.
"Gara, gunakan senjata rakitan mu dan luncurkan tepat di lapangan mereka," ucap Alan.
"Kapten ingin membakar lapangan mereka?" tanya Gara.
"Mereka membuat daerah pemasok hangus itu artinya salah satu tanah mereka harus hangus juga kan," ucap Alan.
Alan pun melancarkan aksinya dan benar saja terlihat dari markas jika lapangan negara tetangga sudah terbakar dan tercium bau hangus sampai markas mereka, "Kenapa kapten tidak langsung melakukan penyerangan fisik saja?" tanya Gara.
"Kalau kita mau berperang bukan penyerangan fisik yang menjadi tumpuan bukan, kita bisa menyerang lahannya dulu supaya kita bisa masuk ke dalam," ucap Alan.
Sebenarnya tidak ada yang mengerti maksud dari Alan, tapi mereka semua mengiyakan saja perkataan Alan daripada mendengarkan amarah Alan.
"Kapten, Albert dan timnya tetap menyerang daerah pemasok dan sebentar lagi 35 persen daerah pemasok akan hangus," ucap Ryan.
"Padamkan apinya dan kita akan kembali menyerang lapangan," ucap Alan.
"Baik, kapten," ucap Ryan.
Setelah beberapa jam akhirnya akan berhenti setelah Albert dan timnya berhenti melakukan penyerangan karena wilayah Albert yang rusak parah.
"Kapten baik-baik saja?" tanya Kino, yang melihat Alan menutup matanya.
"Ya, aku baik-baik saja," ucap Alan.
Tapi, ia teringat akan suatu hal dan akhirnya Alan pun membuka matanya dan menatap Kino. Kino sendiri yang ditatap pun menjadi gugup pasalnya tatapan Alan cukup mengerikan.
"Kau jangan beritahu pada siapapun soal tadi," ucap Alan.
"Untuk masalah itu kapten tidak perlu khawatir, saya akan merahasiakannya," ucap Kino.
"Bagus," ucap Alan dan kembali menutup matanya.
Malam harinya Alan dan beberapa tentara lainnya dapat beristirahat karena tadi Albert dan Alan sudah sepakat akan melakukan gencatan senjata dalam beberapa hari. Alan tentunya tetap memperjuangkan rencananya hal itu agar Albert tidak menyerang kembali.
"Kalian tahu, kalau para relawan dokter akan datang," ucap Raka.
"Relawan dokter?" tanya Alan.
"Astaga, saya lupa kalau kapten Alan kan tidak ada saat komandan dan koordinator dari relawan dokter ada di sini," ucap Raka.
"Apa maksudmu?" tanya Alan.
"Jadi, komandan beberapa hari yang lalu datang bersama dengan koordinator dari relawan dokter yang akan ke sini dalam beberapa hari lagi dan mengatakan jika rumah sakit Daiva General Hospital akan mengirim beberapa dokternya menjadi relawan di sini setelah ditemukan beberapa penyakit yang tidak bisa tim tentara tangani," ucap Raka dan diangguki Alan.
"Berapa dokter yang datang?" tanya Alan.
"Menurut koordinator dokter waktu itu yang datang cuma 3 orang," ucap Raka.
"Kalau begitu kau urus masalah itu," ucap Alan.
"Sepertinya tidak bisa karena komandan memerintahkan kapten untuk mengurusnya," ucap Raka.
"Hem, kalau begitu kita harus cepat melakukan kesepakatan dengan Albert supaya dia tidak menyerang saat para dokter ke sini," ucap Alan dan diangguki semua orang yang ada di sana.
Alan dan para prajurit lainnya terus berjaga agar mereka tidak lengah, "Sepertinya Albert tidak akan menyerang lagi," ucap Raka.
"Jangan mudah tertipu, siapa tahu ini salah satu cara licik dia," ucap Alvin.
"Cara licik?" tanya Raka.
"Iya, bisa jadi hanya mengecoh kita karena kita menganggap kalau dia sudah tidak menyerang lagi," ucap Alvin dan diangguki Raka.
Mereka berjaga hingga waktu pagi datang, tidak semua dari mereka berjaga tentunya ada pembagian jadwal.
"Kapten, komandan mengabari jika saat ini perdana menteri sedang menimbang untuk mengubah aturan kuota barang," ucap Ryan.
"Bagus, kalau begitu usulkan juga untuk mendiskusikannya dengan negara sebelah agar tidak terjadi seperti ini lagi," ucap Alan dan diangguki Ryan.
Ryan merupakan prajurit di tim Alan dan dia juga termasuk prajurit yang paling setia dan loyal pada Alan, sebab itu Alan sering mempercayakan tugas militer padanya. Di dalam timnya hanya Alvin dan Ryan lah yang merupakan sahabat dari Alan. Namun, meskipun begitu saat mereka berada di lingkungan militer maka mereka dapat memposisikan dirinya sebagai prajurit dan bukan sebagai sahabat.
.
.
.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 258 Episodes
Comments
Rossa Simangusong
kalo udah dokter dikirim jadi relawan dan ada kaptennya dsna pasti ceritanya dikit2 ngga jauh dari drama Korea dots. semoga aja ngga ya,biar ngga bosan bacanya,udah seringkali baca novel yg niru drama Korea dots.
2023-09-05
0
Dyana Arsi
mulai menarik
2022-05-03
0
Liesdiana Malindu
ini nikahnya nikah apa sih??
kayak nikah main2 gitu,,gak ada nikah kantor, terus prosesi pedang pora. Jangan2 nikah sirih ya? apa gak dapat sangsi di kesatuan nya nanti tuh?
2022-04-30
4