revisi -
#
"Itu kan temen kamu bukan kamu, kamu itu masih kecil gak usah pacar-pacaran, kamu harus tahu masa remaja kamu itu buat kamu belajar bukan buat pacaran, kalau kamu mau seneng-seneng Ayah sama Bunda gak pernah ngelarang kok, tapi Ayah sama Bunda cuma minta jangan pacaran karena saat kamu sudah pacaran maka tanpa kamu sadari hal itu merusak mental kamu secara tidak langsung," ucap Bunda Nara.
"Kok bisa?" tanya Gia.
"Pacaran bisa buat kamu lupa akan tujuan hidup kamu karena apa, karena kamu udah punya orang yang harus kamu pikirkan, karena hal itu semua tujuan kamu belajar akan sia-sia. Lalu orang yang harusnya kamu pikirkan justru akan kamu lupakan secara perlahan, apalagi kalau kamu menyukai pacar kamu secara berlebihan, itu sangat tidak baik, kamu bisa saja suatu saat nanti melakukan apapun agar terus bersamanya bahkan kamu bisa melakukan hal gila yang tidak pernah kamu lakukan sebelumnya. Memang tidak semuanya, tapi untuk mengantisipasinya tidak ada masalah bukan, karena Ayah, Bunda dan kamu sekalipun tidak tahu bagaimana selanjutnya," ucap Bunda Nara.
"Jadi, Bunda takut Gia bakal terjerumus ke hal-hal yang buruk?" tanya Gia dan diangguki Bunda Nara.
"Meskipun Bunda tahu kalau Gia gak akan kayak gitu, tapi Bunda ingin mengantisipasinya. Bunda ngelarang kamu ini itu bukan karena Bunda ingin ngekang kamu dan gak ngasih kamu kebebasan atau yang lainnya. Tapi, Bunda ingin menjaga kamu, kamu adalah anak Bunda. Kalau Bunda gak sayang sama kamu udah Bunda biarin kamu pergi malem-malem, tapi Bunda gak gitu. Sayangnya Bunda itu dengan menjaga anak-anak Bunda," ucap Bunda Nara.
"Kenapa nangis?" tanya Kak Ray, pada Rea yang berada di sampingnya.
"Loh! kok kamu nangis Rea," ucap Ayah Argi.
"Bunda sih kata-katanya sedih kan Rea jadi nangis kayak gini," ucap Rea.
"Udah gak usah nangis lagi, cengeng banget sih adiknya Kakak yang satu ini," ucap Kak Ray dan memeluk Rea.
"Harusnya itu Gia yang nangis loh Kak," ucap Gia.
"Ya, biarin sih namanya juga sedih," ucap Rea.
Saat sedang mengobrol tiba-tiba saja terdengar suara tangisan bayi yang membuat semua orang yang ada di sana terkejut.
"Inez ke kamar dulu ya Bun, pasti Kaif kebangun deh," pamit Kak Inez.
"Padahal masih jam setengah 10 kok tumben Kaif udah kebangun ya, biasanya dia bangun jam 2-an," ucap Kak Ray.
"Namanya juga bayi Ray," ucap Bunda Nara.
Kaif Zane Bratadikara atau biasa dipanggil Kaif adalah putra dari Kak Ray dan juga Kak Inez yang usianya baru menginjak 5 bulan.
"Kalau gitu Ray coba ke kamar ya Bun," ucap Kak Ray dan diangguki Bunda Nara.
Baru saja Kak Ray berdiri tiba-tiba Kak Inez datang ke ruang tamu dan membawa Kaif, "Bunda ini Kaif kok ada bintik-bintik kayak gini ya," ucap Kak Inez, dengan suara yang terlihat jelas tengah khawatir dengan keadaan putranya itu.
Bunda pun melihat cucunya dan terkejut melihat bintik-bintik di sekitar leher Kaif, "Ini kenapa cucu Nenek hem," ucap Bunda Nara dengan membuka baju Kaif.
Kak Ray sendiri sudah berada di sebelah putranya itu, "Bunda, kita bawa Kaif ke rumah sakit aja yuk, Ray takut Kaif kenapa-napa," ucap Ray.
"Kan di sini udah ada Bu Dokter, jadi kenapa harus ke rumah sakit," ucap Gia.
"Kakak itu dokter bedah Gia, mana tahu Kakak masalah bayi," ucap Rea.
"Hehehe, yaudah Kak ayo kita ke rumah sakit," ucap Gia.
"Kamu gak usah ikut, kamu di rumah aja," ucap Bunda Nara.
"Loh! kok Gia di rumah sih, Gia juga mau ikut ke rumah sakit," ucap Gia.
"Tapi, kamu besok harus sekolah, nanti kalau kamu ikut ke rumah sakit yang ada kamu malah bolos sekolah besok," ucap Bunda Nara.
"Tapi, Gia takut kalau di rumah sendirian," ucap Gia.
"Sama Kakak, Kakak gak ikut ke rumah sakit," ucap Rea.
Mau tidak mau Gia pun harus berada di rumah bersama dengan Rea. Sedangkan Ayah Argi dan Bunda Nara ikut mengantarkan Kaif ke rumah sakit.
"Bosen deh, Kak kita nonton film yuk," ajak Gia.
"Film apa?" tanya Rea.
"Hem film apa ya enaknya ... gimana kalau kita nonton film Annabelle?" tanya Gia.
Rea yang awalnya santai memakan cemilannya pun lantas menoleh dan menatap tajam ke arah Gia, "Gak mau ya, Kakak gak mau kalau nonton film Annabelle," ucap Rea.
"Kenapa Kak? padahal filmnya seru loh bahkan nih ya Gia udah beberapa kali nonton film itu," tanya Gia.
"Kamu kan tahu kalau Kakak itu orangnya pengecut, bisa-bisa Kakak gak berani ke kamar mandi kalau nonton film kayak gitu," ucap Rea.
"Kakak mah pengecut, terus nonton film apa dong?" tanya Gia.
"Terserah deh, tapi jangan yang serem-serem yang ada hantunya gitu," ucap Rea.
"Apa ya ... hemmmm gimana kalau The Meg?" tanya Gia.
"Film yang lain bisa gak sih, kayak film Disney gitu," ucap Rea.
"Kenapa emangnya kalau The Meg? Kak Rea takut ya?" tanya Gia.
"Udah tahu pake nanya lagi," ucap Rea.
"Tapi, itu filmnya gak ada hantunya loh Kak," ucap Gia.
"Ya, tetep aja di itu nakutin bagi Kakak," ucap Rea.
"Apanya yang harus ditakutin sih Kak?" tanya Gia.
"Lautnya itu loh Gia, kamu gak takut apa. Kakak aja takut loh, Kakak kayak gak bisa napas," ucap Rea.
"Kakak kok tahu filmnya padahal Kakak takut?" tanya Gia.
"Kan di sosial media banyak spoiler nya," ucap Rea dan diangguki Gia.
"Terus nonton film apa ini kalau mau nonton film ini takut, itu takut?" tanya Gia.
"Udah gak usah nonton film lebih baik kita tidur, lihat tuh jam udah malem. Besok kamu sekolah, awas aja kalau gak bisa bangun pagi gara-gara nonton," ucap Rea.
"Iya iya, gagal sudah nontonnya, yaudah kalau gitu Gia ke kamar ya Kak," ucap Gia.
"Iya, cepetan tidur jangan update status terus, beranda Kakak penuh sama postingan kamu yang gak jelas," ucap Rea.
"Kak Rea nih kayak gak tahu anak muda aja," ucap Gia.
"Anak muda sih anak muda, tapi ya jangan terlalu gitu loh kalau di sosial media itu. Cukup sewajarnya aja gak usah alay-alay banget," ucap Rea.
"Ish, Kak Rea cerewet banget, orang Bunda aja gak protes kok. Udah ah Gia mau ke kamar udah ngantuk soalnya," ucap Gia.
Setelah Gia masuk ke dalam kamarnya, Rea pun juga masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat karena besok ia masih ada jadwal praktek.
'Huh, capeknya. Gue bisa gak ya mempertahankan rumah tangga gue kalau emang nantinya gue nikah sama calon yang Ayah sama Bunda pilihin, gue pengen banget nolak. Tapi, tadi gue lihat Bunda seneng banget waktu gue terima perjodohannya, semoga keputusan gue udah bener. Bener kata Kak Inez, kalaupun nanti calon gue gak suka sama gue. Itu artinya gue yang harus mempertahankan hubungan gue,' ucap Rea dalam hati.
.
.
.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 258 Episodes
Comments
Dyana Arsi
meskipun dokter bedah pasti Taulah dikit dikit tentang anak ,udh gtu dokter ko takut fi horor Thor
2022-05-02
1
Elsina Heatubun
Rea kan dokter...walaupun dokter bedah..masa sih..gga bisa bedakan biang keringat
2022-04-25
0
Dina Marliana
masih nyimak kk
2022-04-24
0