revisi -
#
Pagi harinya Rea sudah memantapkan diri untuk membicarakan hal yang kemarin ia bahas bersama dokter Andi mengenai pasien yang bernama Andriani karena Rea tidak mau diteror terus oleh Andriani.
"Mau kemana lo, Re?" tanya Qilla.
"Gue mau ke direktur mau bahas soal pasiennya dokter Andi," ucap Rea.
"Loh emangnya direktur udah pulang?" tanya Qilla.
"Tumben lo gak tahu beritanya, gue aja tahu dari Fafi soalnya dia bilang kalau direktur udah pulang kemarin malam dan hari ini direktur udah masuk buat rapat sama petinggi VIP," ucap Rea.
"Bukannya besok ya direktur pulangnya kok malah kemarin sih?" tanya Qilla.
"Mana gue tahu, udah deh gue mau ketemu sama direktur. Gue udah gak betah sama pasiennya dokter Andi," ucap Rea.
"Kasihan banget sih," ucap Qilla.
"Oh iya, Nina mana?" tanya Rea.
"Gak tahu tadi katanya mau meriksa sama pasiennya, tapi sampe sekarang belum balik," ucap Qilla.
"Lo mau kemana?" tanya Rea.
"Gue mau ke dokter Gabby soalnya yang relawan dokter buat bencana di perbatasan ditambah dan udah ada 12 orang yang dipilih dari rumah sakit ini," ucap Qilla dan diangguki Rea.
"Gak ada nama gue kan?" tanya Rea.
"Tenang aja nama lo gak ada kok, kan lo minta buat gak dimasukin," ucap Qilla.
"Thanks, yaudah deh gue mau ke direktur sebelum direkturnya ngilang," ucap Rea.
"Semangat Rea," ucap Qilla dan diacungi jempol oleh Rea.
Rea menggunakan lift menuju lantai direktur yaitu lantai 7, sesampainya di sana Rea tidak melihat sekretaris direktur di meja resepsionis, "Siska gak ada, kok tumben banget," gumam Rea.
Rea berjalan menuju ruangan direktur. Namun, baru beberapa langkah tiba-tiba ia mendengar suara perempuan meminta tolong, "Suara siapa kok kayak minta tolong gitu, apa jangan-jangan suara hantu ya, hiii serem deh lantai ini," gumam Rea.
Rea terus berjalan hingga ia sampai di depan pintu ruangan direktur, Rea dapat melihat jika pintu ruangan direktur sedikit terbuka. Sebelum masuk Rea terlebih dahulu mengintip ruangan tersebut dan betapa terkejutnya saat ia melihat tindakan direktur di dalam ruangannya.
Dengan keberanian tinggi Rea masuk ke dalam ruangan tersebut dan menendang direktur Bagas, "S*alan, anda apakan sahabat saya!" teriak Rea dan memeluk Nina yang saat ini menangis.
"Beraninya kau menendangku!" bentak direktur Bagas.
Rea menatap tajam ke arah direktur Bagas dan menampar direktur Bagas, "Beraninya anda melecehkan sahabat saya!" bentak Rea.
"Re," panggil lirih Nina.
Rea menoleh ke arah Nina dan sebelum menghampiri Nina, Rea kembali menendang direktur Bagas tepat di masa depannya dan hal itu membuat direktur Bagas teriak kesakitan, "AAAAA," teriak direktur Bagas.
Setelah puas melihat direktur Bagas yang kesakitan, Rea pun menghampiri Nina dan membantunya untuk berdiri. Jujur saja Rea tidak tega melihat Nina yang menangis histeris di pelukannya.
Rea pun membawa Nina keluar dari ruangan tersebut dan menuju ruangannya, beberapa saat kemudian mereka berdua pun sampai di ruangan mereka, Rea terus memeluk Nina untuk menguatkan Nina.
Kurang lebih selama setengah jam Nina memeluk Rea dan menangis di dalam pelukan tersebut, akhirnya Nina pun melepaskan pelukannya dan menatap Rea. Rea sendiri sangat sedih melihat mata bengkak Nina, bahkan Nina belum sepenuhnya berhenti menangis karena Nina masih mengeluarkan air matanya meskipun tidak sebanyak tadi.
"Lo tenang ya ada gue kok," ucap Rea.
"Hiks ... hiks, gue udah kotor Re, gue takut direktur ngelakuin hal itu," lirih Nina.
"Hei, lo gak usah takut ada gue, gue bakal ada buat lo oke," ucap Rea dan kembali memeluk Nina.
Akhirnya Nina mulai tenang dan ia pun berhenti menangis, "Udah tenang? mau cerita atau mungkin lo butuh waktu sendiri?" tanya Rea.
"Jadi, sebenarnya tadi gue setelah periksa pasien gue tiba-tiba direktur Bagas datang dan bilang ada sesuatu hal yang penting buat dibicarain, ya gue denger percayanya gue ikut sama direktur Bagas. Tapi, gue mulai curiga saat tiba-tiba direktur Bagas nyuruh Siska pergi dan jangan ganggu dia, barulah gue paham saat berada di ruangannya direktur Bagas, ternyata hiks ... hiks ... gu - gue dilecehin sama direktur Bagas, Re gue takut hiks ... hiks," ucap Nina.
"Gue gak tahu harus kaya gimana Nin, tapi gue cuma bilang kalau ada gue yang siap buat temen curhat lo, kalau lo ada apa-apa jangan sungkan-sungkan buat cerita dan buat tindakan yang dilakukan direktur Bagas ini menurut gue dia udah keterlaluan. Dia harus dilaporin ke komite kedisiplinan," ucap Rea.
"Re, biarin aja ya, gue gak mau semua ini jadi masalah buat gue ataupun buat lo, lo tahukan gimana kekuasaan direktur Bagas. Gue yakin pasti sekarang direktur Bagas gak terima dan ngerencanain hal buruk buat lo atau buat gue," ucap Nina.
"Gak bisa gitu dong, direktur Bagas itu tetep salah. Apapun jabatannya kalau salah ya salah dan harus dikasih pelajaran dan dihukum, gue bakal tetep laporin direktur Bagas ke komite kedisiplinan biar tau rasa tuh orang," ucap Rea.
"Tapi, nanti kita yang bakal kena imbasnya Re," ucap Nina.
"Gak peduli gue, dia pikir dia siapa bisa ngelakuin seenaknya aja mentang-mentang dia punya jabatan tinggi," ucap Rea.
"Beneran Re, gak usah. Gue gak mau cari masalah lah biarin aja dulu nanti kalau gue gak nyaman barulah gue bakal laporin semuanya," ucap Nina.
"Huh, beneran ya?" tanya Rea.
"Iya, beneran," ucap Nina.
"Tapi, lo gak diapa-apain sampai bisa hamil kan?" tanya Rea.
"Awsh," rintih Rea karena Nina memukul kepala Rea dengan pulpen yang ada di atas meja.
"Sakit tau," ucap Rea, yang tidak terima.
"Ya, lo sih. Gue gak diapa-apain kok, tadi direktur Bagas cuma cium pipi doang dan gak sampe ke yang lainnya dan itu juga karena lo dateng," ucap Nina.
"Syukurlah, gue gak bakal maafin gue kalau lo kenapa-napa," ucap Rea.
"Gue kok ngerasa ada sesuatu yang bakal terjadi sama kita ya, Re," ucap Nina.
"Maksudnya?" tanya Rea.
"Entahlah, tapi gue ngerasa sesuatu yang buruk bakal terjadi sama kita berdua. Apa itu karena direktur Bagas ya," ucap Nina.
"Gak usah dipikirin, Nin. Lo gak usah khawatir, gak bakal terjadi apa-apa sama kita berdua, lo percaya sama gue," ucap Rea dan diangguki Nina.
"Gawat! gawat! gawat!" teriak Qilla dari luar dan tiba-tiba membuka pintu ruangan tersebut dengan secara kasar.
"Kenapa sih, La? santai aja napa gak usah ngegas gitu," tanya Rea.
"Rea! Nina! Gawat!" terima Qilla.
"Gawat kenapa?" tanya Qilla.
"Nama kalian berdua ada dalam daftar relawan dokter!" teriak Qilla.
"APA!" terima Rea dan Nina.
"Kok bisa sih kan gue udah bilang gak mau ikut relawan?" tanya Rea.
"Gue gak tahu, jadi tadi gue sama dokter Gabby ngasih daftar nama relawan dokter ke direktur Bagas terus tiba-tiba dokter Bagas nambahin nama lo berdua katanya buat pelatihan biar kalian tahu rasanya jadi dokter relawan," ucap Qilla.
"Kok gitu, kan yang jadi relawan itu yang mau aja. Gue kan gak mau," ucap Rea, yang tidak terima karena direktur Bagas memasukkan namanya sesuka hatinya.
"Mana gue tahu, tapi kok direktur Bagas tahu ya kalau kalian berdua itu gak pernah mau jadi relawan dokter," ucap Qilla dan mendapat tatapan tajam dari Rea dan Nina.
"Biasa aja dong tuh mata," ucap Qilla.
"Tunggu! mata lo kok bengkak gitu, lo habis nangis ya?" tanya Qilla.
.
.
.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 258 Episodes
Comments
Lilik Budiarti
gak banget deh cerita yg ruwet
2022-04-25
0
🅶🆄🅲🅲🅸♌ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠
ketemu suami nanti rea disana
2022-04-21
1
Yepi Yanarti
jd ingat dokter kang mo yun, dan kapten yoo shi jin drakor penomenal sepanjang masa 🤭🤭🤭
2022-04-17
3