Mengetahui Dita yang merupakan adik kelasnya sendiri, yang telah menukar sampel miliknya, Daffin meminta kepada dokter Priyono untuk mempertemukan dirinya dan Dita agar gadis itu bersedia melakukan klarifikasi kepada keluarga besarnya, terutama mantan istrinya Giska yang telah menjadi korban dari fitnah ini.
"Maaf Dokter, aku ingin gadis itu di adili, aku akan menuntutnya secara hukum dan memintanya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya karena dia, rumah tangga ku jadi kacau." Ucap Daffin.
Daffin menceritakan keadaan rumah tangganya kepada dua dokter ini usai mengetahui keadaan dirinya yang divonis mandul oleh dokter Irwan sebagai dokter yang menangani kasus kesehatan kesuburannya.
"Baik Tuan Daffin, mengingat permasalahan ini sangat serius, kami akan melakukan proses hukum sesuai dengan prosedur yang berlaku dan atas permintaan anda kami juga siap mendukung anda dan kami siap jadi saksi agar permasalahan ini tidak berlarut-larut." Ucap dokter Priyono meyakinkan Daffin atas keseriusan mereka menangani kasus Daffin.
Daffin membuat kesepakatan dengan pihak rumah sakit untuk mengatasi kemelut rumah tangganya. Ia pun pamit pulang kepada kedua dokter yang di hadapannya ini untuk kembali ke mansionnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu dokter, saya mau istirahat karena dari kemarin saya baru pulang dari solo dan langsung mengunjungi tiga rumah sakit sekaligus hanya untuk melakukan tes ulang kesuburan saya dan berakhir di rumah sakit ini. Saya harus mempersiapkan diri untuk menghadapi keluarga besar saya besok malam bersama kalian dan perawat Dita." Ucap Daffin.
"Silahkan Tuan Daffin, hati-hati dijalan," ucap dokter Priyono.
Daffin pulang ke mansionnya dengan perasaan abu-abu. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Ia merasa lega karena sudah mengetahui bahwa dirinya baik-baik saja.
Namun ia juga merasa sesak karena mendatangi keluarga Giska dan mantan istrinya itu, harus butuh keberanian ekstra lebih karena dirinya yang sangat bersalah dalam hal ini.
Kondisi Giska yang hamil tua dan dalam keadaan depresi berat itu yang membuatnya bingung harus melakukan dengan cara apa.
"Ya Allah, ampuni hambaMu yang bodoh ini. Maafkan aku sayang!
Ya Allah, anakku mungkin kamu tidak akan memaafkan ayahmu, sayang, karena ayahmu ini sangat bodoh, bertahun-tahun mengharapkan kehadiranmu, tapi setelah kamu datang ayah malah mengingkari kehadiranmu dan sampai kamu mau hadir ke dunia ini, ayah tidak mempedulikanmu ketika ibumu sakit keras. Maafkan ayah sayang." Tangisnya, pecah ketika sudah berada di kamarnya.
Keesokan paginya, Daffin di hubungi oleh pihak berwajib atas kasus yang menimpanya yang berkaitan dengan perawat Dita. Daffin mendatangi sel tahanan yang berada di polres untuk menemui perawat Dita.
Setibanya di kantor polisi, Daffin mengunjungi Dita yang sudah berganti baju tahanan yang berwarna oranye dengan tangan di borgol menggunakan tali tis.
Melihat kedatangan Daffin, Dita merasa sangat malu atas perbuatannya yang telah menghancurkan masa depan lelaki yang pernah ia cintai ini bahkan sampai saat ini, ia masih sangat mencintai Daffin.
Dengan wajah tenang dan datar, Daffin menyapa Dita.
"Apa kabarmu Dita!" Sapa Daffin dengan tangan bersedekap di dadanya, menatap tajam wajah Dita yang tertunduk malu dan takut ketika bertemu dengan dirinya.
"Apakah enak berada di sini, sekarang, hmm?" Tanya Daffin dingin pada gadis yang pernah tergila-gila padanya ini.
Apa tujuanmu melakukan hal yang sangat keji itu Dita, hah!" Daffin mulai membentak gadis biadab ini.
Dita tersentak dengan menahan tangisnya karena perbuatannya sudah ketahuan oleh Daffin.
"Berikan alasanmu padaku atau kamu ingin dihukum lama atas perbuatanmu padaku dan juga keluargaku." Ucap Daffin dengan mengancam perawat Dita.
Dita menggigit bibir bawahnya sambil menangis sesenggukan. Bukan hukuman yang ia takutkan tapi rasa malunya pada pria tampan pujaannya ini, yang selama ini ia impikan.
"Jawab!" Daffin membentak Dita lagi seraya menggebrak meja yang ada di hadapannya.
"Aku jatuh cinta padamu, aku ingin merusak rumah tanggamu, aku ingin kamu menceraikan istrimu yang liar itu dan aku ingin wanita terakhir yang kamu datangi disaat wanita lain akan menolakmu, jika mereka mengetahui kalau kamu mandul." Dita akhirnya berkata sejujurnya apa yang menjadi tujuannya dalam menukar sampel milik Daffin dengan sampel pasien lain.
"Otakmu sangat licik, rupanya tujuh tahun kamu menghabiskan waktumu di pondok pesantren tidak membuat akhlakmu menjadi mulia, tapi malah hancur karena sikap egoismu dan kedengkianmu pada wanita lain, hingga kamu tega menghancurkan siapa saja yang menghalangi niatmu untuk mengambilku darimu. Kamu tidak mencintaiku Dita, kamu hanya terobsesi padaku saja." Ujar Daffin sengit.
"Maafkan aku mas Daffin, aku sangat mencintaimu hingga aku tidak berani untuk jatuh cinta pada lelaki manapun, aku masih berharap kamu datang melamarku suatu saat nanti." Ujar Dita dengan perasaan yang hancur berantakan.
"Aku tidak ingin lagi mendengar alasanmu, yang aku butuhkan saat ini adalah kamu harus mendatangi keluargaku untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu kepada keluarga besarku." Daffin menegaskan lagi permintaannya kepada Dita.
"Tidak mas Daffin, aku tidak sanggup, aku mohon jangan mempermalukan diriku lagi di depan keluargamu, bukankah kamu sendiri sudah cukup mendengar pengakuanku? mengapa aku harus mengakui lagi pada keluarga besarmu terutama istrimu? tolong jaga harga diriku juga sebagai wanita mas Daffin." Dita mengiba pada Daffin dengan wajah memelas.
"Aku tidak peduli dengan harga dirimu karena kamu sendiri yang merendahkan harga dirimu. Aku mau kamu mempertanggungjawabkan semua pada keluarga besarku, permisi!" Daffin meninggalkan ruang introgasi tersebut.
Daffin menghubungi keluarganya terutama Abah yang bisa ia andalkan untuk menjadi jembatan antara dirinya dan keluarga Tuan Ruslin untuk membahas kesalahpahaman ini secepatnya.
Walaupun hanya melalui telepon, Abahnya mengerti atas kesulitan putranya saat ini. Ia menyanggupi permintaan putranya dan berjanji untuk terbang ke Jakarta bersama keluarganya untuk mengunjungi Giska yang saat ini juga dalam keadaan sakit parah.
Dua hari kemudian, keluarga Daffin sudah berada di mansion Daffin. Pria tampan ini mengungkapkan semua permasalahannya pada keluarganya. Ummi Alya yang mendengar itu semua, sangat menyayangkan perbuatan Dita mantan santri mereka kepada putranya. Hanya karena cinta tak terbalas seorang wanita mampu merendahkan dirinya untuk menghancurkan rumah tangga kaumnya sendiri.
"Ya Allah, ummi tidak menyangka gadis secantik dan secerdas Dita mampu melakukan hal yang memalukan seperti itu." Ucap ummi Aliya yang sangat sedih dengan kejadian yang menimpa rumah tangga putranya.
"Kita lupakan dulu perbuatan Dita pada putra kita Ummi, kita harus memikirkan bagaimana cara menyampaikan hal yang berat ini pada keluarga Tuan Ruslin. Apakah mereka mau memaafkan perbuatan putra kita yang terlalu terburu-buru mengambil keputusan tanpa melakukan cara-cara yang santun.
Kalau sudah seperti ini, Abah mau bicara apa pada tuan Ruslin mengingat putrinya Giska yang merasa sangat terpukul dengan perbuatan putra kita yang urakan ini. Pendidikan tinggi tapi perlakuannya tidak lebih dari seorang preman." Umpat Kyai Azzam kepada putranya Daffin.
"Ada apa ummi?" Tanya Mariam dan Asia yang baru pulang dari pesantren.
"Ini mengenai mas kalian Daffin sayang. Dia telah melakukan kesalahan secara tidak langsung pada Giska." Ucap Ummi Aliya.
"Mariam tidak mengerti dengan perkataan ummi barusan." Ucap Mariam pada ibunya.
Ummi Alya menceritakan semuanya kepada kedua putrinya tentang apa yang dialami oleh Abang mereka Daffin yang menjadi korbannya Dita.
"Ya Allah, Dita itukan teman sekelas Mariam ummi. Memang sih dulu itu, Dita itu sangat cinta sama mas Daffin.
Karena sifat Dita yang terlalu agresi, mas Daffin tidak suka padanya ummi." Ujar Mariam.
"Agresif gimana maksudnya, nak?"
"Begini ummi, dulu jalannya Mariam masih di SMA satu kelas dengan Dita. Gadis itu menitipkan suratnya kepada Mariam untuk mas Daffin.
Keduanya bertemu di salah pojokan kelas. Mas Daffin saat itu memang suka juga sama Dita.
Tapi, Dita kurang sabar menghadapi mas Daffin yang sangat pemalu saat itu. Ia tiba-tiba mencium bibir mas Daffin membuat mas Daffin tersentak. Di saat itulah mengapa mas Daffin langsung menolak Dita.
Berjalannya waktu, mas Daffin di terima beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di Madinah. Setelah mengetahui mas Daffin berangkat ke luar negeri, Dita meminta maaf kepada mas Daffin atas sikapnya yang terlalu agresif. Mungkin dengan cara itu, ia ingin mendapatkan kembali empati mas Daffin, tapi mas Daffin sudah terlanjur ill feel dengan dirinya." Mariam menceritakan tentang masalalu Dita yang pernah tergila-gila dengan abangnya Daffin.
"Astaga jadi Dita itu berharap cinta lama bersemi kembali setelah bertemu dengan mas Daffin ya Mariam?" Tanya Asia pada adiknya Mariam.
"Seperti itulah mbak Asia, tapi dia begitu tega melakukan hal yang memalukan untuk mendapatkan mas Daffin dari mbak Giska.
Yah mas Daffin salah juga sih dalam hal ini karena dia langsung percaya begitu saja pada hasil laporan medis tentang kesuburannya hanya pada satu rumah sakit saja dan tidak ingin mencobanya pada rumah sakit lain." Ujar Mariam.
"Kesalahan mas Daffin itu banyak. Sudah pulangin mbak Giska ke rumah orangtuanya, ditambah lagi mas Daffin menceraikan mbak Giska tepat di saat usia kehamilannya memasuki tujuh bulan. Wanita mana yang sanggup menahan penderitaannya yang bertubi-tubi seperti itu.
Harus menerima penghinaan dengan tuduhan zina ditambah lagi meragukan kandungannya yang bukan anaknya, aku kalau jadi mbak Giska, nggak sanggup juga menerima perlakuan semena-mena mas Daffin." Ucap Asia kesal.
"Dari tadi kalian hanya membully masnya tapi tidak mencari solusi untuk memperbaiki kesalahannya." Ucap ummi Aliya kepada dua putrinya.
"Ummi, membayanginya saja untuk meminta maaf kepada mbak Giska dengan setumpuk kesalahan yang dilakukan mas Daffin kepada mbak Giska, kami tidak berani. Apa lagi sel harus memikirkan nasib putra ummi yang bodoh itu, Asia rasa mas Daffin pantas mendapatkan balasan dari mbak Giska untuk menghukum suami jahat seperti mas Daffin." ucap Mariam kesal.
"Astaga, putri umi ini malah menyerang balik masnya. Sejelek apapun Daffin, dua tetap putra ummi dan masnya kalian jadi tolong perlakukan mas kalian dengan baik, jangan malah ikut membencinya. Kasihanilah dia karena saat ini, ia butuh solusi bukan hujatan." Ujar ummi Alya yang marah dengan kedua putrinya yang tidak berhenti mencela perbuatan putranya Daffin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments