11. PART 11

Tiba saatnya, Giska dan Daffin kembali ke ibukota setelah seminggu mereka berada di kampung halamannya Daffin.

Giska yang sudah banyak mempelajari apa saja yang menjadi kesukaan dan ketidaksukaan suaminya entah itu makanan, minuman dan hal lainnya yang menjadi kebiasaan Daffin yang diketahui oleh ibu mertuanya dan juga kedua adik iparnya.

Seminggu dirumah mertuanya, Giska juga belajar ilmu Fiqih lebih serius dari cara berwudhu dengan baik dan benar hingga fiqih tentang wanita, ia mempelajari semuanya.

Ummi Alya juga mengajarkan cara menyemai benih tanaman dan merawatnya karena Giska ingin belajar bertanam. Tidak lupa ummi memberinya pohon tomat dan cabe yang baru setinggi 20 cm. Giska sangat senang dibekali tanaman juga, selain oleh-oleh khas kota Solo.

"Ingat pesan Abah Daffin, seorang istri itu jika kau terlalu keras maka dia akan hancur namun jika terlalu lunak dia akan bengkok, ku rasa kamu lebih paham tentang Islam dalam memperlakukan wanita dari pada Abah, tapi kamu baru mau mengaplikasikan ilmu itu dalam rumah tanggamu, jadi mempelajarinya lebih mudah daripada mengamalkannya akan lebih sulit, nak." Ucap Abah Azzam dengan kalimat yang sangat bijak kepada putranya Daffin.

"Insya Allah Abah, Daffin akan berusaha menjaga rumah tangga Daffin, sesuai dengan ajaran Rosulullah," ucap Daffin lalu memeluk Abahnya.

"Giska, jika ingin tanyakan banyak hal, tidak usah sungkan menelepon Ummi." Ucap ummi Alya sambil tersenyum kepada menantunya ini, yang sangat pintar mengambil hatinya.

Keduanya saling melambaikan tangan saat mobil yang membawa mereka menuju bandara kota Solo.

"Mbak Giska sangat baik ya ummi, ia memberikan aku ini." Ucap Asia sambil menunjukkan liontin emas yang dipakainya saat ini.

"Aku juga ummi," ucap Mariam memperlihatkan cincin emas dijari manisnya.

Ummi Alya juga mendapatkan gelang emas dari menantunya namun ia tidak memamerkan kepada kedua putrinya. Ummi Alya merasa sangat kehilangan setelah bersama dengan menantunya itu walaupun hanya satu Minggu Giska menginap dirumahnya.

Kehadiran Giska memiliki warna sendiri dalam keluarganya. Nyonya Alya memang memiliki kedua anak perempuan, namun tetap saja dihati Ummi Aliya, Giska terlalu hebat dalam mendapatkan empatinya sebagai ibu mertuanya.

Ummi Alya menyiapkan pisang goreng kesukaan suaminya dan menemani suaminya mengobrol tentang menantu mereka yang baru saja kembali lagi ke Jakarta.

"Ternyata Giska adalah gadis yang sangat baik dan ramah, tidak seperti pertama kali kita bertemu dengannya Abah. Ia belajar segala sesuatunya dengan cepat, menanyakan apa saja yang berkaitan dengan Daffin. Kita tidak salah pilih menjadikan dirinya sebagai menantu kita Abah." Ucap Ummi Aliya yang saat ini sudah menitikkan air matanya.

"Tuan Ruslin itu sangat cerdas dan disiplin, walaupun Giska tumbuh menjadi gadis yang sulit diatur, namun putrinya itu tidak pernah membuatnya kecewa karena prestasi sekolah Giska sangat baik." Abah mengenang lagi bagaimana ayah Giska mengeluhkan tentang putrinya dan memaksa dirinya untuk menjodohkan anak-anak mereka.

"Mungkin Giska hanya mencari perhatian orangtuanya karena ibunya juga sibuk di luar rumah." Timpal Ummi Alya.

"Yah, kita doakan saja ummi semoga rumah tangga mereka SAMAWA, hanya itu saja harapan semua orangtua pada anak-anaknya yang sudah berumah tangga." Ujar Kyai Azzam lalu mengambil buku yang akan dibacanya.

Ummi Alya ke taman belakang, melihat lagi tanamannya. Ia duduk di sofa yang biasa diduduki Giska menatap tanamannya berjam-jam.

"Giska sayang, ummi jadi kangen sama kamu." Ucap ummi Aliya seraya menyeka air matanya yang sudah meluncur dari kelopak matanya.

Bukan saja keluarga Kyai Azzam yang kehilangan Giska, namun para santri dan santriwati juga kehilangan sosok gadis cantik yang selalu ceria itu.

Giska selalu membuat kue yang banyak untuk membagikan kepada para santri, kalau capek dia akan memesan makanan untuk anak-anak itu.

"Enak ya kalau ada mbak Giska, dia selalu memberi kita makanan enak setiap hari, sekarang kita tidak mungkin mendapatkannya lagi." Ucap salah satu santri yang lebih dekat dengan Giska.

"Siapa bilang kalian tidak dapat lagi makanan, tuh mbak Giska tetap mengirim kalian makanan." Ucap Mariam kepada santriwati itu.

Semuanya berlari dan mengantri menunggu giliran untuk mendapatkan makanan yang di kirim Giska kepada mereka.

Rupanya Giska sudah mendatangi beberapa kedai makanan yang ada di kota solo, yang dekat dengan pesantren milik Kyai Azzam. Agar mengirim makanan untuk santrinya secara bergilir setiap harinya. Giska yang akan mentransfer setiap minggunya untuk pembayaran itu. Ia sudah bekerja sama dengan kedua adik iparnya untuk mengurus makanan cemilan selain makanan utama yang biasa di makan anak-anak santri.

Semua yang dilakukan Giska tanpa sepengetahuan suaminya. Giska melakukan itu karena dia merasakan kesepian yang sama dirasakan oleh anak-anak itu, yang harus hidup berjauhan dengan orangtua mereka karena harus menempuh pendidikan agama dan tidak semua anak mampu bertahan dilingkungan pesantren. Itulah sebabnya ia selalu menyempatkan waktunya untuk menghibur anak-anak itu kala dirinya sudah tidak ada lagi kerjaan di rumah mertuanya.

"Kalian tidak akan kekurangan makanan karena mbak Giska sudah memesan makanan setiap hari untuk kalian." Ucap Asia ketika anak-anak itu sedang menyantap mie ayam.

"Hore...!" Teriak mereka sambil memukul meja makan di ruang makan tersebut.

"Bagi siapa saja yang bisa menghafal satu juz Alquran dalam satu minggu akan mendapatkan hadiah dari mbak Giska." Ujar Mariam.

"Mbak Mariam, mbak Giska itu sangat kaya ya?" Tanya Rena yang sudah menyelesaikan makanannya.

"Begitulah sayang." Ucap Mariam lalu mengusap kepala Rena.

"Semoga berkah ya Allah," ucap Rena mendoakan kebaikan untuk Giska.

"Aaamiin, terimakasih ya sayang." Ucap Mariam pada Rena.

🌷🌷🌷🌷

"Sayang, apakah kamu senang berada di kampungku?" Tanya Daffin saat mereka sudah tiba kembali di mansion.

"Aku malah sangat sebentar berada di sana. Suasana lingkungan yang ramah, semua orang yang saling bertemu di jalanan kampung, saling menyapa. Bahkan aku yang mereka belum kenal disapa dengan ramah, itu yang membuatku merasa beda saja berada di sana." Ucap Giska sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur.

"Tapi aku yang rugi sayang, karena selama kamu di sana, kamu lebih sibuk dengan ummi, kedua adikku dan para santri itu." Daffin merasa dicuekin Giska selama berada di kampungnya.

"Tapi aku kan tetap tidur dengan mas Daffin dan melakukan tugasku sebagai istri dan itu tidak merugikan mas Daffin." Timpal Giska.

"Tapi sayang, kita jadi tidak punya waktu untuk jalan-jalan disana. Kamu selalu meminta kedua adikku menemanimu jalan-jalan ke kota Solo." Ujar Daffin.

"Kan bisa jalan-jalan disini sayang. Lagi pula, aku baru bertemu dengan mereka, menjalin keakraban dengan keluargamu dan juga para santri itu.

Sedangkan dengan mas Daffin bakal ketemu tiap hari, tolong jangan ngambek sayang! sekarang kita sudah disini, berarti waktuku hanya untukmu saja. Nah, sekarang tidak perlu cemburu lagi, hmm!" Giska memeluk tubuh suaminya yang sudah tidur disisinya.

"Jauh dalam hatiku, aku bangga padamu Giska, kamu sangat dermawan, ramah pada semua orang dan pintar menempatkan dirimu pada siapa saja yang kamu temui. Giska, aku tidak percaya bahwa kamu selalu berbuat onar di sekolah, ketika kamu masih menggunakan seragam SMA." Ucap Daffin membatin seraya membelai rambut panjang istrinya.

"Mas Daffin, ada yang menganggu pikiranku selama berada di kota Solo." Ujar Giska sambil mengernyitkan dahinya.

"Apa itu sayang?"

"Aku baru tahu dan bahkan sangat takjub ketika hari kedua dan seterusnya selama berada di kampung, aku baru mendengar suara indah yang menyayat hati ketika aku mendengarkan seseorang yang mengumandangkan adzan subuh.

Dan suara itu langsung menembus ke dalam jiwaku. Dan setiap kali sesudah melakukan sholat tahajud, aku sudah berada bersama para santriwati untuk menunggu orang itu azan subuh." Ucap Giska membuat Daffin tersipu malu.

"Benarkah?" Apakah kamu jatuh cinta padanya sayang?" Tanya Daffin yang makin merapatkan tubuhnya pada istrinya.

"Sangat mencintainya bahkan lebih mencintainya saat ini." Ucap Giska.

Daffin memagut bibir istrinya dengan lembut mengawali sesi percintaan panas mereka setelah pulang dari kampung.

Keesokan paginya selepas subuh, Giska meminta dua pelayan yang laki-laki untuk membantunya mencangkul tanah.

Ia ingin belajar menanam tanaman yang sudah ia dapatkan benihnya dari ibu mertuanya.

"Neng, kita bantuin menyemai benih sayurannya ya." Ucap Mang Kardi dengan dua orang pelayan lainnya.

"Tidak usah mang. Lakukan tugas kalian. Saya bisa sendiri." Ucap Giska yang tidak ingin dibantu oleh siapapun.

Ia mulai menyemai benih sayuran, yaitu bayam, sawi, kangkung, wortel, kentang, cabe dan tomat.

Di pinggir pagar ia tancapkan stek batang bunga mawar warna merah dan putih dengan posisi selang seling.

Puas menyemai benih yang ditanamnya barusan ia kembali menyiram tanamannya.

Sedangkan di setiap pot di semai benih buah jeruk selada air dan masih banyak lagi yang ingin ia tanam.

Suaminya menghampirinya dan ingin membantu istrinya.

"Mas Daffin ngapain ke sini?" Tanya Giska.

"Aku mau bantu kamu sayang." Ucap Daffin.

"Kata ummi, aku sendiri yang harus menanam sendiri tanamanku dan tidak boleh menyuruh orang lain yang melakukannya." Giska menolak bantuan suaminya.

"Kalau kamu kelelahan, aku yang akan rugi sayang." Ucap Daffin yang sudah repot menyemai benih yang sisa di setiap bungkus yang belum di semai istrinya.

"Mas Daffin ngomong apa sih. Pikirannya ko ke kasur terus ya, emang nggak ada lagi hal e lain yang kamu bahas." Gerutu Giska.

"Makanya mengapa orang menikah, supaya bisa bercocok tanam terus, supaya benihnya cepat tumbuh sayang dan rumah kita akan segera ramai." Daffin makin gencar menggoda istrinya.

"Mas Daffin mau buka sekolah taman kanak-kanak?" Sindir Giska.

"Kalau anaknya dari kamu semua, aku siap sayang, buka sekolah taman kanak-kanak khusus untuk anak-anak kita dan kamu adalah ibu gurunya." Daffin meledek istrinya.

Giska mengarahkan selang air ke tubuh suaminya, membuat Daffin gelagapan disemprot air oleh Giska.

"Awas aku tangkap kamu ya, sudah buat aku basah pagi-pagi begini." Ucap Daffin.

"Mas Daffin kan belum mandi, jadi biar Giska yang mandiin sekalian." Ucap Giska sambil terkekeh.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!