Matahari pagi makin merambah menuju terik. Giska mengerjapkan matanya ketika matahari sudah mulai meninggi meninggalkan embun pagi dengan hawanya yang sejuk.
Uaaah!"
Giska menguap berkali-kali, merentangkan tubuhnya lalu berjalan menuju kamar mandi. Ia melirik jam di ponselnya ternyata sudah jam 11 siang.
"Astaga sebentar lagi aku harus cek out dan pulang ke mansion." Giska buru-buru membersihkan tubuhnya.
"Ting tong!"
"Ah siapa lagi yang datang?" Giska mengeringkan rambutnya dengan handuk dan mengintip tamu yang datang ke kamarnya.
"Ck, dia?" si suami br*ngsek itu. Mau apa dia kemari." Giska membuka pintu kamarnya melihat Daffin sudah berdiri di hadapannya.
"Ayo kita pulang!" Daffin menyerobot masuk tanpa ijin dari Giska.
"Pulang aja kamu sendiri! aku bisa naik taksi atau minta sopir pribadiku yang menjemputku di hotel." Giska melemparkan handuknya di sofa dan mulai berdandan.
"Astaghfirullah, dasar bocah!" Mengapa tingkahnya seperti dia masih singel aja." Gumam Daffin membatin.
"Kenapa kamu masih di sini, sana pulang ke rumahmu dan aku pulang ke rumah ayahku." Giska menyeret kopernya keluar.
"Giska!" Dengar kita sudah menikah, tempatmu adalah bersamaku. Sekarang ikut aku!" Daffin merebut koper istrinya dan menarik pergelangan tangan Giska.
Sebenarnya Giska suka diperlakukan seperti itu sama Daffin, hanya saja gadis ini masih menunjukkan keangkuhannya pada suaminya.
"Aku nggak mau naik mobil kamu yang murahan." Giska menghentikan langkahnya di lobby hotel.
Tidak lama kemudian mobil milik Daffin berhenti di depan lobby. Salah satu petugas hotel tersebut menyerahkan kunci mobil ke Daffin.
"Terimakasih pak, ini untuk anda!" Daffin memberikan uang 50 ribu sebagai tip untuk petugas hotel yang telah mengambil mobilnya dari basemen.
Giska langsung melotot, mobil mewah warna merah milik Daffin adalah mobil keluaran baru yang penjualannya masih terbatas.
"Sebenarnya ini orang kaya atau kere sih, jangan-jangan ini mobil dapat pinjam." Giska menaruh curiga pada suaminya.
"Ayo sayang, masuklah!" Daffin membuka pintu mobil untuk istrinya. Giska masuk dengan perasaan bangga.
"Kita langsung pulang ya!" Pinta Daffin yang sudah mulai lunak depan istrinya.
Mobil mewah itu melaju dengan kecepatan rata-rata, membelah jalanan ibukota menuju mansion milik Daffin. Giska masih menyangka jika suaminya ini berasal dari kalangan bawah yang ingin menikahinya karena kekayaan orangtuanya.
Mobil mewah SUV merah keluaran terbaru, lalu sampai depan sebuah rumah besar nan mewah di kompleks perumahan elit yang terletak di kawasan kota Satelit.
Sekali lihat pun semua orang yang tahu kalau para penghuni kawasan perumahan di sini bukanlah orang-orang biasa.
Dengan harga setiap unitnya 20 miliar paling murah, para penghuni kawasan elit ini pastinya adalah orang-orang super kaya yang memiliki kedudukan tinggi di dalam masyarakat. Entah pejabat tinggi, konglomerat, ataupun para penemu yang memiliki aset royalti dengan kekayaan dipijit tanpa batas di dalam rekening mereka.
Tak lama gerbang besar dari logam yang dihiasi dengan berbagai ornamen Neo klasik pun terbuka secara otomatis.
Mobil itu lalu meluncur masuk dengan mulus ke dalam halaman parkir di depan rumah mewah tersebut.
Setelah Daffin memarkirkan mobilnya dengan rapi di antara mobil-mobil mewah lainnya, ia pun turun dan tidak lupa membukakan pintu untuk istrinya.
"Astaga! ternyata orang ini kaya juga, tapi kenapa dia malah memilih hotel dan kamar murahan untuk bulan madu kami semalam? apa maksudnya ia melakukan itu padaku?" Giska melirik wajah suaminya dengan sangat jengkel.
"Assalamualaikum!" Sapa kepala pelayan bibi Ima.
"Waalaikumuslam bibi Ima, ini istriku Giska. Jangan melayani perintahnya kecuali aku yang memintanya, biarkan ia melakukan segala sesuatunya sendiri, kamu mengerti," ucap Daffin sambil menarik tangan istrinya menuju kamar mereka.
"Kau!" Kamu mau jadikan aku sama seperti para pelayanmu itu?" Tanya Giska yang sangat syok mendengar penuturan suaminya pada pelayan bibi Ima.
"Mereka sudah memiliki tugas mereka masing-masing dan tugas kamu melayani diriku dan dirimu sendiri!" Titah Daffin dengan wajah datarnya.
"Tidak bisa, aku tidak mau, aku tidak akan melayanimu dan jangan harap aku akan melakukan tugasku sebagai istrimu." Giska tetap pada pendiriannya.
"Aku tidak peduli, mengerti!" Daffin melucuti pakaiannya di depan Giska membuat gadis itu seketika memalingkan wajahnya dengan perasaan gemetar.
"Sial, apakah dia sedang menggodaku? tapi tubuhnya bagus juga, dia cowok aku banget. Aaakkh kenapa jadi ribet begini sih? harusnya kami sudah saling tabrakan sekarang di atas kasur." Gumamnya membatin.
"Kamu tidur di kasur dan aku tidur di sofa," ucap Daffin lalu menghempaskan tubuhnya di sofa karena semalaman dia nggak bisa tidur memikirkan istrinya yang tidak bisa ia sentuh.
Daffin yang ingin menghukum istrinya itu agar merubah tabiat buruknya. Ia ingin istrinya tidak lagi bersikap angkuh pada siapapun. Daffin melakukan semua itu atas permintaan ayah mertuanya tapi tidak untuk hubungan suami-istri karena itu bukan ranah mertuanya.
🌷🌷🌷🌷🌷
Daffin adalah seorang CEO muda yang memiliki perusahaan di bidang pertanian dan peternakan, yang sudah mengekspor hasilnya ke berbagai negara yaitu Asia dan Eropa. Bukan hanya itu ia juga memiliki pertambangan batubara dan timah di wilayah Kalimantan yang bekerjasama dengan tiga sahabatnya.
Usaha itu dirintisnya sejak masih SMA dulu, ketika kuliah di luar negeri ia mempercayakan semuanya pada paman-pamannya hingga ia kembali lagi ke Indonesia dan melanjutkan sendiri bisnisnya.
Giska yang merasa lapar belum makan sama sekali, turun kebawah dapur untuk memasak mie instan karena ia hanya bisa memasak itu.
"Non, apakah mau makan sama nasi?" Tanya kepala pelayan Ima yang melihat nona mudanya hanya makan mie instan pakai telur saja.
"Aku tidak tahu memasak nasi BI," ucap Giska sambil menahan tangisnya.
"Nasinya ada non, bibi ambilkan ya."
"Tidak usah bibi, nanti Tuanmu marah." Giska membawa mangkuk mienya ke taman belakang mansion.
"Kasihan nona muda, baru jadi pengantin baru harus makan mie instan, kenapa Tuan muda begitu kejam pada istrinya sendiri, apa sebenarnya yang terjadi antara mereka?" Ah itu bukan urusanku. Pelayan Ima kembali ke tempat kerjanya untuk melihat para pelayan yang sedang mengerjakan tugas mereka masing-masing.
"Bibi, kemana istriku?" Tanya Daffin yang tidak melihat keberadaan istrinya.
"Itu di taman, dia lagi makan mie tanpa nasi, bibi tawarin nasi katanya nanti Tuan Daffin bisa marah, jika dia di suruh masak, dia nggak tahu cara memasak nasi." Pelayan Ima memberi informasi seputar nona mudanya itu.
"Astaga, anak itu dari pagi belum makan apapun kenapa harus langsung makan mie, ya Allah aku sudah keterlaluan membuat istriku jadi menderita begitu." Daffin menyesali perkataannya yang tadi ia ucapkan di depan istrinya.
Iapun menghampiri Giska yang sudah membersihkan mie instannya. Giska juga membersihkan wadah bekas makanannya dan meletakkan kembali ke tempatnya.
Daffin yang melihat itu sangat tidak tega pada istrinya, ingin rasanya ia memeluk istrinya dan meminta maaf pada Giska namun ia tidak ingin gagal mendidik istrinya menjadi pribadi yang sholih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments