Keesokan harinya, Daffin dan Giska cek out dari hotel itu dengan hati yang bahagia. Senyum keduanya terukir indah tak terlepas dari dua wajah rupawan ini.
Daffin tidak langsung pulang ke mansion, keduanya menuju ke pasar raya. Di sana Daffin ingin Giska memilih lengerie se"si untuk dipakai di malam-malam selanjutnya.
Sebenarnya Giska pingin sekali minta dibelikan jilbab namun ia bingung harus mulai dari mana. Tapi untuk saat ini, ia ingin menyenangkan hati suaminya dengan memilih beberapa lengerie yang ada di konter tersebut.
Puas memilih keduanya menyerahkannya ke kasir dan dibayar sesuai dengan harganya.
Giska meneruskan langkahnya bersama sang suami, namun ia berhenti melihat model-model busana muslim cantik untuk usianya, di konter khusus untuk busana muslimah.
"Apakah kamu ingin berhijab?" Tanya Daffin yang melihat istrinya sedang serius menatap busana muslim.
"Hhm!" Giska mengangguk.
"Alhamdulillah terimakasih sayangkuh, aku senang jika kamu ingin berhijab mulai sekarang ini dan semoga istiqamah ya." Ucap Daffin tersenyum ceria.
Giska memilih dan memantaskan busana yang akan dipakainya komplit dengan jilbabnya. Walaupun busana yang diambilnya belum kelihatan syar'i yang masih terbatas fashion semata, tapi Daffin memakluminya karena dia tidak ingin istrinya memakai pakaian syar'i hanya setengah hati.
Dengan niat menutupi aurat saja itu sudah bagus tidak perlu harus langsung sempurna. Semua butuh proses dalam berhijrah. Tidak perlu memaksakan diri kalian jika ilmu belum sepadan dengan iman. Adanya iman perlu adanya ilmu. Itu yang tersirat dalam pikiran Daffin sekarang.
"Mas Daffin, coba lihat, bagus nggak?" Tanya Giska dengan tingkah polosnya.
Gaya remaja yang belum berusia genap 20 tahun ini, memilih pakaian nyaman untuk dirinya saja.
"Cantik sayang." Daffin memuji Giska yang sudah mengenakan jilbab sesuai style-nya.
Giska begitu senang mendengar pujian suaminya. Ia kemudian memilih beberapa busana lainnya. Daffin membiarkan itu karena Giska membeli hal yang bermanfaat untuk dirinya. Setelah mengemas belanjaannya. Daffin mengajak Giska untuk makan di salah satu food court yang ada di dalam gedung pasar raya tersebut.
Giska memilih makanan ringan seperti somay sedangkan Daffin memilih makanan berat seperti ayam bakar. Keduanya menikmati makanan mereka sambil membahas apa saja.
Daffin tidak ingin membahas hal yang menyakitkan semalam, yang terjadi pada istrinya saat berada di pesta Weni, ia lebih senang membahas hal lainnya karena hatinya saat ini sedang kasmaran dengan istrinya.
"Sayang, aku belum pernah mengunjungi kampung halamanmu, apakah kamu tidak ingin membawaku ke sana?" Tanya Giska sambil mengunyah makanannya.
"Apakah kamu mau ke sana?" Daffin ingin Giska memintanya sendiri untuk berkunjung ke rumah keluarganya di kampung, bukan dirinya yang meminta itu.
"Tentu saja aku mau, aku pingin lihat suasana pesantren dan mendengar lantunan ayat suci Alquran menggema di tempat itu, saat setiap santri berusaha menghafalkannya.
"Ok, siap tuan putri besok pagi kita akan berangkat ke sana dengan penerbangan pertama." Ujar Daffin yang sudah menyelesaikan makanannya terlebih dahulu.
"Alhamdulillah terimakasih ya mas sudah traktir aku hari ini dan mengajak aku berbelanja." Wajah Giska kelihatan berbinar.
"Sampai mansion dipakai ya sayang, aku mau melihatnya." Ucap Daffin.
"Masa di mansion pakai jilbab?" Giska sedikit protes dengan permintaan suaminya.
"Bukan busana muslimnya sayang, tapi lingerie yang aku maksud." Daffin tersenyum nakal.
"Cih dasar suami, yang ingat cuma itu aja dipikirannya." Giska pura-pura cemberut.
"Mau aku cium kamu disini?"
"Jangan, lebih baik kita pulang. Kamu tuh ya seorang ustadz, nggak boleh berprilaku seperti itu." Giska mengoreksi tingkah suaminya yang tiba-tiba berubah genit didepannya.
"Aku ini pengusaha sayang, bukan ustadz walaupun aku mengenyam pendidikan agama." Timpal Daffin yang sudah berada di mobilnya.
"Emang nggak semua orang yang mengambil pendidikan agama itu harus jadi ustadz?" Tanya Giska lagi.
"Tidak semuanya sayang. Contohnya sahabat Rosulullah Abu bakar Siddiq, Usman bin Affan, Abdurahman bin Auf dan masih banyak lagi para sahabat, yang rata-rata dari mereka itu adalah pengusaha atau pedagang. Tapi keseharian mereka selalu ingin mengusai ilmu agama dan tidak harus menjadi ustadz." Jelas Daffin memberi pengertian kepada istrinya.
"Oh, jadi intinya kita wajib mempelajari ilmu agama tapi kita bisa melakukan pekerjaan lainnya yang tidak berhubungan dengan mengajar?" Tanya Giska untuk mempertegas pengertian dari orang yang belajar ilmu.
"Iya sayang, ilmu agama itu penting karena dengan ilmu agama menuntun kita untuk menjadi lebih baik. Agama yang akan mengarahkan kita, jika kita salah dalam menentukan pilihan dalam pekerjaan kita, agama yang akan menjadi filter agar kita bisa membedakan baik buruknya dalam suatu tindakan.
Dan ilmu agama yang akan membimbing kita ke jalan yang benar untuk mencapai Jannah." Daffin menceramahi istrinya bagaimana fungsi Islam mengatur setiap aspek kehidupan manusia dalam berinteraksi dengan makhluk sosial maupun dengan Allah Sang Pencipta.
"Mas Daffin ajarin Giska banyak hal khususnya ilmu agama ya." Pinta Giska.
"Iya sayang tapi kamu harus belajar Alquran dulu." Imbuh Daffin.
Tidak terasa mobil mereka sudah memasuki halaman mansion. Daffin membuka pintu mobil untuk istrinya dan mengambil belanjaan Giska lalu memberi kunci mobil pada pelayannya untuk memasukkan mobilnya ke garasi.
Keduanya tetap saling berceloteh menuju kamar mereka. Giska yang makin cerewet ketika sudah berdamai dengan suaminya. Kejadian semalam membawa manfaat untuk keduanya lebih intim dan tidak lagi saling menjaga image.
Giska langsung masuk ke walk in closet untuk mencoba lengerie yang dibelinya sesuai permintaan suaminya.
Daffin menunggu di pembaringan dengan tidak lagi mengenakan pakaiannya.
Debaran jantungnya makin kencang menunggu perubahan sang istri ketika menggunakan gaun tidur se*si itu.
Giska yang sudah siap dengan lingerie menatap lagi tubuhnya untuk menambah keyakinan dirinya agar tampil menawan di hadapan suami tercinta.
Giska melangkah ke kamarnya berhenti sesaat dan melihat ekspresi wajah sang suami.
"MasyaAllah." Hanya kata itu yang terucap dari bibir Daffin.
"Sayang apakah kamu suka?" Giska tersipu malu menanyakan hal aneh pada suaminya.
Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Daffin malah menghampiri dan menggendong Giska untuk dibawa ke ranjang empuknya. Tubuh Giska dibaringkan dan iapun sudah tidak lagi berbasa-basi.
Daffin kembali meneguk kenikmatan dari tubuh istrinya. Ciuman dari wajah, bibir, leher jenjang milik istrinya dan lama menikmati benda kenyal diantara dua gundukan kembar milik Giska.
Desa**an nafas saling memburu merasakan sensasi yang luar biasa dari milik partner ranjang yang cukup imbang dalam permainan panas ini.
Giska berteriak histeris kala miliknya mendapatkan serangan kenikmatan dari lidah suami yang sudah memasuki area terlarangnya.
Tubuh keduanya merasakan getaran seribu volt listrik yang menghasilkan ion-ion cinta yang menari indah di dalam gairah cinta yang sudah memuncak di atas ubun-ubun yang siap memuntahkan lahar keduanya untuk menyemai benih dalam rahim yang siap menampung calon penerus tahta kerajaan bisnis keluarga mereka.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Keseharian Giska dan Daffin yang saat ini makin akrab, membuat keduanya selalu bersama ketika keduanya sudah berada di mansion.
Ketika usai sholat isya, Giska ingin belajar ngaji dengan suaminya. Sebenarnya Giska sudah lancar membaca Alquran, namun masih ada kesalahan mahrojul ( tempat keluarnya huruf) yang kurang tepat, yang diucapkan oleh Giska.
Usai belajar mengaji dengan suaminya, Giska menanyakan banyak hal kepada suaminya.
"Mas Daffin, apakah Allah akan mengampuni orang yang selalu melakukannya zina di masa hidupnya?" Tanya Giska.
"Semua orang dapat diampuni oleh Allah dosanya. Apapun dosa kita. Dengan syarat taubat nasuha, termasuk dosa zina sayang. Kalau kita bertaubat sungguh-sungguh pasti diampuni Allah.
Meski zina termasuk dosa besar, Allah SWT tetap akan mengampuni dosa zina jika bertaubat dengan tulus dan sungguh-sungguh. Tidak ada dosa yang tak diampuni Allah SWT jika bertaubat dengan sungguh-sungguh." Ujar Daffin.
"Bagaimana kalau dia mati dalam melakukan zina?" Tanya Giska.
"Neraka jahanam jaminannya." Ucap Daffin dengan singkat.
"Mengapa kamu tanyakan hal itu sayang?" Tanya Daffin heran pada istrinya.
"Aku dari dulu sangat takut dengan hubungan yang satu itu, walaupun saat itu, ilmu agamaku masih minim.
Walaupun aku terkesan bandel dan sulit diatur, tapi ketika hal-hal yang berbau zina, aku selalu menolaknya dengan halus tanpa menyakiti orang itu.
Tapi sayangnya, kedua orangtuaku sudah terlanjur mengecap diriku sebagai anak nakal yang sulit di atur dan lebih mengerihkan lagi mereka mengira aku sudah gonta ganti pasangan seperti istilahnya sek* bebas.
Tuduhan-tuduhan itu, ku terima dengan lapang dada, sambil tetap menjaga diriku dari sentuhan lelaki manapun.
Aku tahu, di masa mudaku, aku memilih pergaulan bebas yang suka keluar masuk klab malam ketika kedua orangtuaku selalu sibuk dengan urusan mereka dan jarang berada di rumah. Itulah mengapa aku mengajak semua sahabatku untuk menginap di hotel jika malam terlalu larut. Tapi menginapnya dengan sahabatku Weni dan teman wanita lainnya.
Pulang-pulang, aku sudah kena semprot dari ayah. Setiap kali mendengar tuduhan ayah padaku, hatiku sangat sakit mas Daffin.
Dan aku orang yang paling malas menyangkal semua tuduhan itu karena aku merasa tidak melakukannya." Ucapan Giska membuat Daffin baru mengerti mengapa Tuan Ruslin buru-buru ingin menjodohkan Giska dengan dirinya.
"Ya Allah, jadi selama ini, Tuan Ruslin hanya salah paham pada putrinya. Dan ternyata Giska tetap menjaga nama baik keluarganya, hebat kamu sayang!" Daffin sangat mengagumi Giska yang bisa ia ucapkan dalam hatinya.
"Terus, mengapa kamu mau menerima perjodohan kita waktu itu, jika tuduhan ayah tidak benar padamu?" Tanya Daffin.
Giska tersipu malu ketika disinggung hal itu pada dirinya.
"Jawab dong!" Jangan malu-malu seperti itu!" Titah Daffin.
"Itu karena wajah mas Daffin yang sangat tampan saat pertama kali Giska melihat mas Daffin mendatangi meja makan restoran malam itu.
Giska nggak pakai mikir dua kali, langsung menerima perjodohan itu." Ujar Giska jujur membuat Daffin langsung memeluk istrinya yang sangat polos saat ini.
"Ya Allah Giska, kamu telah membuat kami salah paham kepadamu." Gumam Daffin yang sangat malu menuduh Giska seperti gadis liar yang sulit diatur.
"Mengapa mas Daffin tiba-tiba memeluk Giska seperti ini?" Tanya Giska.
"Karena aku juga saat itu langsung jatuh cinta kepadamu saat pertama kali melihatmu, sayang." Ujar Daffin.
"Ternyata cinta kita datang pada mata lalu turun ke hati tanpa belajar karakter kita masing-masing." Ujar Giska.
"Sepertinya begitu sayang. Lebih baik teken kontrak lebih dulu sebelum direbut oleh orang lain," lanjut Daffin.
Keduanya terkekeh geli mengenang pertemuan pertama mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments