Di Club tersebut, sudah berkumpul semua teman Weni dan Giska. Keduanya disambut dengan kue ulang tahun yang sudah dipasang lilin ke 18 tahun. Doa dipanjatkan sebelum meniup lilin. Tepuk tangan riuh kembali terjadi. Weni memberikan potongan kue pada sang kekasih dan sahabatnya Giska.
Salaman dan pelukan sebagai ucapan pada Weni. Kado ulang tahun diberikan oleh teman-temannya. Acara dilanjutkan dengan berbagai macam atraksi dari teman-temannya Weni malam
itu.
"Selamat ulang tahun Weni!" Semoga selalu sehat, panjang umur dan makin dewasa dalam berpikir." Ucap Giska memberikan doa terbaiknya untuk Weni seraya memberikan kado untuk sahabatnya itu.
"Terimakasih Giska!" Tapi aku mau kamu kasih kado yang lain, yang lebih berkesan dari kado ini." Ujar Weni.
"Kado apa lagi sih Weni?" Tanya Giska sambil merotasi mata malas.
"Aku ingin kamu menyumbang sebuah lagu untukku, kamu mau ya!" Pinta Weni penuh harap.
"Ok deh siap!" Giska menghampiri panggung dan meminta para pengiring musik untuk sesuaikan dengan tinggi nadanya.
Giska menyumbang sebuah lagu untuk sahabatnya tersebut sebagai hadiah ulang tahun. Tapi, di saat semuanya lengah, Reza yang baru datang itu, diam-diam menaburkan obat perangsang pada minuman mantan kekasihnya Giska.
Reza yang tidak tahu jika Giska yang belum menikah melakukan kejahilan itu. Usai menyanyikan sebuah lagu, Giska kembali ke tempat duduknya dan menyedot milk sake miliknya yang sudah tercampur dengan obat perangsang.
Reza kembali ke tempatnya dan berdiri di bar tender Club tersebut. Ia tersenyum bahagia karena sebentar lagi ia akan menikmati tubuh Giska karena dari dulu, gadis itu selalu menolaknya untuk bercinta.
Reza tidak tahu jika pemilik sah tubuh Giska adalah suaminya. Lelaki tampan yang bernama Daffin itu, rupanya tidak langsung pulang ke mansionnya usai mengantar istrinya. Ia ingin tahu kejujuran istrinya dan bagaimana perlakuannya diluar rumah tanpa pengawasan darinya.
Tidak lama kemudian, Giska merasakan ada sesuatu yang membangkitkan gairah birahinya. Ia memeluk dirinya sendiri dan berusaha tetap sadar.
"Sssstttt!" Seketika ia mendesis dan terasa menggigil. Ada apa dengan tubuhku? mengapa aku seperti ini? mas Daffin tolong aku!" Ucap Giska lirih dengan mata yang terpejam sambil merasakan gejolak birahinya yang mulai memuncak.
"Ada apa cantik?" Reza mulai merapatkan duduknya ke tubuh Giska yang sudah mulai fly.
Giska mendorong tubuh Reza dan mencoba bangkit saat Reza ingin memegang tangannya.
Dengan tubuh sempoyongan, Giska berontak ingin melepaskan pergelangan tangannya dari Reza, tapi lelaki itu malah menarik tubuh Giska dalam pelukannya.
"Lepaskan aku bodoh!" Bentak Giska dengan kasar.
Reza masih saja memaksakan kehendaknya untuk memeluk Giska, hingga tidak sadar sebuah bogem mentah mendarat ke pipinya.
Daffin menarik kerah baju Reza lalu meninjunya berkali-kali hingga darah segar mengalir dari sudut bibirnya dan juga hidungnya. Musik tiba-tiba berhenti. Semua yang berjoget ria spontan menyaksikan perkelahian itu.
"Hei, ada apa denganmu? siapa kamu?" Tanya Reza sambil mengusap bibirnya yang sakit.
"Aku suaminya Giska!" Aku bisa melaporkanmu ke polisi karena kamu telah menabur minuman istriku dengan obat perangsang dan melecehkan istriku." Ancam Daffin dengan wajah memerah.
Reza tersentak mendengar perkataan Daffin yang ingin melaporkan perbuatannya pada polisi.
"Ini videonya, aku merekam semuanya, aku sudah mengirim ke email ku. jika sekali lagi kamu berusaha menggoda istriku, aku akan melaporkanmu ke pihak yang berwajib." Daffin menggendong tubuh istrinya dan membawanya pergi dari tempat itu.
Semua teman Giska tercengang ketika mengetahui Giska diam-diam telah menikah. Weni sahabat dekat Giska pun tidak tahu jika Giska telah menikah.
"Emang dia sudah menikah?"
Celetuk Weni yang baru sadar dari rasa syoknya.
"Dasar! sahabat apaan kamu, sahabat menikah malah nggak tahu." Teman-temannya pada mencibir persahabatan Weni dengan Giska.
"Ayo kita lanjut lagi!" Kata Weni setelah Reza diamankan oleh sakurity Club.
Pesta itu diteruskan kembali. Hingar-bingar musik dari DJ Club memainkan lagi musiknya.
🌷🌷🌷🌷
Di mobil Giska seperti orang kerasukan, ia mulai membuka kancing bajunya. Daffin yang melihat istrinya sudah tidak bisa menguasai dirinya, mampir ke sebuah hotel mewah yang terdekat dengan arah mobil mereka saat ini.
"Ahhkk, mas Daffin ini sangat panas, tubuhku sangat panas." Giska mulai meracau karena obat perangsang sudah mengusai tubuhnya.
Setibanya di kamar, Daffin ingin menyelamatkan istrinya. Ia melakukan sesuatu, yang saat ini sangat dibutuhkan istrinya.
Daffin melucuti semua pakaian istrinya dan juga miliknya. Sekarang tampak tubuh keduanya sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuh mereka.
Ciuman hangat Daffin menjelajahi seluruh permukaan tubuh istrinya dan berakhir di belahan pangkal paha istrinya.
Giska menjerit ketika lidah Daffin menari indah pada lembah sempit miliknya. Desa*an dan lenguhan Giska memicu gairah suaminya untuk terus melakukan serangan hingga akhirnya pertemuan kedua milik mereka yang kini terbenam dengan sempurna.
"Akkhhh, Mas Daffin!" Erangan erotis menambah semangat Daffin memacu tubuh istrinya.
"Akhhh, baby!" Daffin pun menikmati cengkraman yang menjepit miliknya dengan begitu kuat dibawah sana.
Giska menggigit bibir bawahnya karena menahan sakit pada bagian bawah perutnya. Tapi pengaruh obat perangsang itu mengalahkan segalanya. Ia kini sudah melayang di awan biru lalu terhempas karena telah mendapatkan puncak kenikmatan yang didambakannya sejak tadi.
Daffin pun demikian, setelah menahan gejolak malam pengantin yang tertunda selama tiga bulan pernikahan mereka, akhirnya ia menjebol juga gawang pertahanan dari keangkuhan istrinya dan keegoisannya.
Pelan-pelan Daffin bangkit dan melihat tubuh istrinya yang masih tergolek lemah dengan mata yang masih terpejam dan mulutnya meracau menyebut nama dirinya.
Bukan racauan Giska yang jadi tumpuan pandangannya saat ini, namun noda merah pada seprei putih yang menjadi titik fokusnya kini. Ia begitu kaget mendapati istrinya masih suci.
Antara rasa haru dan kesal membaur menjadi satu saat ini.
"Astaghfirullah!" Jadi selama ini istriku menjaga kesuciannya dengan baik, berarti aku lelaki pertama yang telah memetik mahkotanya." Daffin menyesali perbuatannya karena terlalu terbawa emosi atas pengakuan istrinya sendiri dihari pertama pernikahan mereka.
Daffin kembali memeluk istrinya dan menangis dibalik punggung Giska.
"Maafkan aku sayang, kenapa aku terlalu bodoh mempercayai kata-katamu, hingga menyiksa diriku sendiri dan juga dirimu. Pasti selama ini kamu sangat mengharapkan diriku untuk mengugurkan kewajiban kita sebagai suami istri, tapi aku tidak memberikan itu semua kepadamu." Ucapnya sambil menangis.
"Pasti kamu sangat menderita karena diriku yang tidak memperlakukan kamu selayaknya seorang istri. Aku melewatkan hari-hari sepimu dan membiarkanmu tidur sendirian dengan berlinang air mata dibalik selimut tebalnya." Lanjut Daffin.
Daffin merangkul tubuh istrinya yang masih setengah sadar, membawa dalam pelukannya. Ia mencium bibir sensual milik istrinya.
"Aku tidak akan lagi mempedulikan kemarahanmu, kau segalanya bagiku kini. Aku tidak akan menyia-nyiakanmu gadis nakal." Ucapnya.
Hingga malam larut, Daffin baru bisa memejamkan matanya, menyusuri mimpi indahnya bersama sang istri tercinta.
Keesokan di pagi subuh, Giska berusaha membuka matanya yang masih terasa berat, ia mendengar sayup-sayup azan berkumandang dari kejauhan.
Tubuhnya terasa sangat pegal, apa lagi di bagian inti*nya terasa sangat perih.
Giska melihat tubuhnya yang tidak mengenakkan apapun dan melihat lagi sebelahnya, ternyata Daffin masih terlelap.
"Ya Allah, apa yang kami lakukan semalam. Akhhhh, kenapa tubuhku sakit semua dan ini, astaga ternyata dia telah mendapatkannya.
"Cih dasar, sekarang kamu baru tahu aku masih perawan? Enak nggak dikibulin aku" Ucapnya sambil menatap wajah tampan suaminya.
"Ternyata kamu butuh jugakan?" Sambungnya dengan tetap menatap wajah suaminya.
Tiba-tiba Daffin membuka matanya membuat Giska spontan terpekik.
"Akkhhh!" Ternyata kamu mengerjai aku ya." Giska memukul dengan keras dada bidang suaminya yang sedang terkekeh dengan tingkah konyolnya.
Daffin menangkap tangan Giska dan menarik tubuh itu lalu mengulangi percintaan panas mereka.
"Maafkan aku sayang, aku telah mengabaikanmu selama ini." Ucap Daffin sambil terus menghentakkan tubuhnya pada milik istrinya.
"Mas Daffin yang rugi, bukan Giska. Giska kan perempuan jadi hanya menunggu." Ucap Giska tanpa rasa bersalah.
"Sayang, apakah kamu mau melakukan lagi?" Tanya Daffin yang ingin mengulangi lagi percintaan panas mereka.
"Tapi, milikku masih terasa perih mas Daffin." Keluh Giska manja.
"Aku akan memberimu pelumas sayang, supaya kamu tidak merasakan sakit, buka kakimu sayang!" Pinta Daffin dengan suara yang sudah sangat berat.
Giska yang sedang membuka kakinya sambil berlutut, memberikan Daffin ruang, agar masuk diantara dua pahanya untuk memberikan kenikmatan pada miliknya. Daffin yang sudah sibuk di bawah bagian bawah perut istrinya yang sedang duduk menga*ng di atas mulut suaminya.
Giska terus mengerang dan melenguh dengan mengeluarkan suara erotis sambil berpegangan di sandaran pembaringan tempat tidurnya.
Puas bermain di bawah tubuh istrinya, bibir Daffin kembali merayap di punggung Malika, ia menyentuh lembut semua bagian leher belakang hingga pinggul bulat milik istrinya yang kian menggoda.
Walaupun seorang diri, Daffin sudah terbakar. Ia tampak begitu suka dengan rintihan-rintihan kecil berbau erotis dari bibir Giska.
"Mas Daffin!" Giska merintih manja.
Daffin tersenyum lebar hingga memperlihatkan barisan giginya yang putih tersusun rapi lalu di sambut dengan lidah berwarna merah muda memenuhi ruang bibir dengan menutupi giginya.
Tak lama kemudian, Daffin memberikan godaan kecil dengan gigitan manja di area kanan pinggang Giska yang memiliki lekuk tubuh sempurna.
ini adalah salah satu tempat kesukaan Daffin yang selalu memperhatikan Giska saat tidur walaupun memakai baju tidur, karena lekukan itu begitu indah dekat dengan pintu surga dunia.
Giska bertahan, ia memegang bantal untuk menutupi gairahnya sejak tadi. Namun ketika bibir dan kehangatan yang berasal dari mulut Daffin yang menyentuh bok**ng bulat miliknya, Giska mengerang manja.
"Sayang! cukup!" Pinta Giska manja, kemudian menggigit ujung selimut.
"Mas Daffin!"
Irama dan nada manja yang semakin gelisah dari bibir Giska membuat Daffin sangat suka.
Kini suaminya terus menambah kenakalannya.
Lu*"*n demi lu***n yang basah dirasa semakin terasa berat oleh Giska hingga tubuhnya meliuk semakin menantang gairah Daffin untuk mengajaknya menari.
Bibir Daffin kembali menggigit daun cuping telinga Giska, sementara tangannya menarik sisi pinggang istrinya sehingga pinggul mereka terangkat sempurna. Pagi ini Daffin ingin bercinta dengan gaya yang lain.
Setelah mendapatkan posisi yang cocok, Daffin menempelkan bagian bawah perutnya yang penuh dengan urat hangat pada pintu surga milik istrinya, kemudian ia menggapai kenikmatan yang sudah ada di tangannya.
Daffin memainkan biji lunak milik Giska yang mulai berkedut, ia semakin suka dengan sensasi yang terasa di setiap sentuhan jarinya, apa lagi saat Giska makin mengerang gelisah sembari memanggil namanya berulangkali.
"Sayanggg!" Panggil Daffin dengan suara yang sayup-sayup terdengar oleh istrinya.
"Aku suka lihat kamu begini." Ujar Daffin lirih.
"Mas Daffin!"
"Giska!" Suara Daffin yang semakin jelas terdengar berat, setelah hampir dua puluh menit mengaduk pinggul pada kecepatan tinggi, tidak merasa puas jika tanpa melihat manik istrinya yang indah.
Daffin melepaskan miliknya dan membalikkan tubuh Giska dengan penuh kelembutan. Giska yang paham langsung mengikuti gerakan tangan Daffin yang rileks.
Seketika Daffin menjauhkan dan menarik kedua pergelangan kaki Giska, dengan bokong yang berada di ujung tempat tidur, lalu bersama senyum, Daffin kembali menenggelamkan miliknya pada danau dangkal milik Giska.
D**ah manja terdengar puas di telinga Daffin, ia pun langsung memendam miliknya seperti mesin yang telah panas siap bertempur.
Percintaan yang selalu mengesankan dan keduanya tengah bahagia setelah selesai melewati pertempuran yang panjang dan memuaskan.
Daffin mengeluarkan benih kental miliknya, menyirami rahim istrinya dengan hembusan nafas hangat dengan suara yang terdengar lelah. Ia pun jatuh dalam pelukan istrinya yang kini menyambut tubuh kekar itu dengan pelukan hangat.
"Terimakasih istriku!" Bisik Daffin lirih.
"Terimakasih sayang!" Ucap Giska seraya mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, dada kamu terasa hangat mas Daffin," ucap Giska yang sudah mencapai puncak kenikmatan.
"Sayang," panggil Daffin.
"Iya cinta!" Ujar Giska singkat.
"Apakah kamu sudah puas sayang?" Tanya Daffin.
"Apakah mas Daffin sedang menantangku?" Tanya Giska cekikikan.
"Dasar gadis nakal! kamu tidak akan pulang dari sini sampai besok." Ucap Daffin lalu menggelitik pinggul Giska hingga keduanya terkekeh bersamaan, lalu kembali berciuman mesra setelah mendapatkan kembali kenikmatan yang sama sebelumnya.
Bedanya kali ini, Giska melakukannya dalam keadaan sadar, jadi nikmatnya lebih berasa dari pada ketika Giska tidak sadarkan diri karena dibawah pengaruh obat perangsang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
OTHOR NGEPRANK READER DGN SINOPSISNYA..
DN GISKA KG NGEPRANK SUAMINYA..
UNTUNG SAJA DAFFIN TTP MMNATAU ISTRINYA, KLO GK, HBIS DAH GISKA...
2023-01-25
1