Giska pulang dengan hati yang sangat gembira, hari ini ia tidak ingin suaminya menjemputnya. Daffin yang sudah menunggunya di kamar siap dengan kejutan untuk istrinya. Giska yang tidak di beritahu oleh Bibi Ima, jika Daffin saat ini sudah pulang. Sambil bernyanyi riang, Giska masuk ke kamarnya dan Ia mendapatkan surprise dari suaminya.
"Selamat atas keberhasilannya sayang." Ucap Daffin mengecup bibir istrinya dan memberikan buket bunga dan satu kotak perhiasan.
"Jazzakallah Zauji(terimakasih jiwaku)" Ucap Giska menerima pemberian suaminya.
Giska membuka kotak itu dan ternyata cincin berlian yang sangat cantik.
"Mas Daffin, ini model terbaru dan edisinya terbatas lho." Ucap Giska lalu memberikan kotak itu pada suaminya agar Daffin yang menyematkan cincin itu diajarinya.
"Apakah kamu menyukainya sayang?"
"Ini sangat indah mas Daffin," ucap Giska yang masih memperhatikan cincin di jarinya.
"Ini kuenya." Daffin mengambil satu kotak tiramisu cake dan menyerahkan kepada istrinya.
Giska memotong kuenya lalu memberikan potongan itu kepada suaminya.
"Sayang aku mandi dulu ya, badanku sangat lengket." Ucap Giska usai mencoba kue tiramisu itu.
"Mandi bareng ya sayang, aku juga belum mandi." Daffin menggendong tubuh istrinya dan berdiri di bawah shower.
Keduanya saling menyabuni dan memberikan setiap sentuhan pada milik mereka. Giska memejamkan matanya menikmati jari suaminya bermain diarena sensitifnya. Melihat istrinya sudah tidak mampu menahan getaran itu, Daffin memasukkan miliknya sambil memeluk erat punggung istrinya.
Keduanya kembali melepaskan sisa-sisa kenikmatan itu dengan menguraikan pelukan mereka. Keduanya meneruskan mandinya dan melanjutkan lagi di kasur empuknya. Seakan tidak ada lagi pekerjaan lain, selain mengulanginya berulangkali hingga keduanya memilih menyerah.
"Terimakasih sayang, akhirnya kita bisa merayakan pesta keberhasilanmu malam ini berdua." Daffin membelai rambut panjang istrinya dengan mesra.
"Sepertinya aku tidak bisa jalan mas Daffin. Kakiku rasanya sangat lemah." Giska seakan tak berdaya karena Daffin tidak memberinya waktu untuk beristirahat.
"Tetaplah disini sayang, kalau bisa sampai kamu hamil baru kamu boleh pergi ke manapun." Ucap Daffin.
"Aku kan sudah bilang kalau mas Daffin boleh menikah lagi kalau aku tidak bisa memberi mas Daffin anak." Giska mengulangi lagi perkataannya.
"Jangan mengucapkan sesuatu yang akan membuatmu menyesal melakukannya." Ucap Daffin sedikit marah pada istrinya.
"Terus aku harus bagaimana untuk bisa memberikan mas Daffin keturunan, jika mas Daffin ingin buru-buru memilikinya?" Giska mulai ngambek.
"Besok kita ke dokter, supaya lebih jelas permasalahannya." Ujar Daffin lalu menghubungi bibi Ima untuk mengantar makanan ke kamar mereka.
"Bagaimana kalau besok aku dinyatakan mandul oleh dokter?" Apa yang akan mas Daffin lakukan kepadaku?" Tanya Giska dengan wajah sedih.
"Hussttt!" Jangan berkata seperti itu sayang!" Tidak baik kalau kamu mendahului keputusan Allah. Tetap berdoa dan berikhtiar." Daffin menasehati istrinya.
"Aku hanya menanyakan sesuatu kepada mas Daffin, buat mempersiapkan diriku agar tidak terlalu kecewa besok dan juga aku siap di madu jika aku dinyatakan mandul oleh dokter." Ucap Giska.
"Kita pikirkan itu lagi nanti sayang karena aku tidak mau kamu berandai-andai." Ujar Daffin.
"Katakan saja sayang karena aku ingin mendengarnya!" Giska tetap memaksakan kehendaknya.
"Baiklah, jika kamu merelakan aku menikah lagi karena rahimmu bermasalah, maka aku akan menikah dua wanita sekaligus. Aku akan membelikan mereka rumah berserta isinya dan aku akan membagikan waktuku hanya untuk mereka berdua tanpa memperhatikanmu lagi. Bagaimana?" Tanya Daffin yang ingin melihat reaksi istrinya yang sejak tadi memaksanya untuk mengatakan perasaannya.
"Baiklah, kalau begitu tugasku sebagai istrimu telah selesai dan semua milikmu aku akan memberikan semuanya pada mereka." Ucap Giska membalas sakit hatinya pada suaminya yang menjawabnya seenak jidatnya.
"Tuh kan kamu cemburu, kamu sih yang mancing aku duluan." Gerutu Daffin yang tidak ingin istrinya bersedih.
Giska masuk di dalam selimutnya sambil menangis. Ia tidak menyangka suaminya akan membuangnya begitu saja jika ia mandul.
"Sayang!" Jangan ngambek dong!" Aku jadi ikutan sedih!" Daffin merayu kembali istrinya.
"Mas Daffin tidur di sofa sana!" Giska mengusir suaminya.
Ia tidak ingin tidur berdua karena suaminya ingin mencampakkannya.
"Aku hanya membuatmu cemburu sayang, bukan benaran ucapan aku tadi." Ujar Daffin makin merapatkan tubuhnya ke wanitanya.
Satu-satunya cara untuk membuat gadisnya bisa memaafkannya adalah bercinta.
Keesokan harinya, Daffin tidak berangkat ke perusahaannya, ia ingin mengantar istrinya ke dokter untuk memeriksakan keadaan rahim istrinya.
Dokter melakukan beberapa tes dalam pemeriksaan pada rahim Giska. Setelah menunggu sekitar dua jam hasilnya sudah keluar.
"Bagaimana hasilnya dokter?" Tanya Daffin.
"Tidak ada masalah dirahim istri anda, semuanya sangat baik dan rahimnya siap dibuahi kapan saja." Ujar dokter Risna.
Daffin dan Giska mengucapkan syukur dan tersenyum puas dengan hasil pemeriksaan medis yang menyatakan rahim Giska tidak bermasalah.
"Ternyata kamu sangat sehat sayang, ketakutanmu yang tidak beralasan. Jangan biarkan setan menganggu pikiranmu dengan hal-hal yang buruk. Fokus pada dirimu yang harus hamil tahun ini." Ucap Daffin.
"Aku semalam hanya becanda tapi, mas Daffin jawabnya terlalu serius sayang." Ucap Giska manja.
"Kita makan bakso dan somay kesukaan kamu, ya sayang!" Ujar Daffin yang mengarahkan mobilnya ke tempat kuliner yang ada di sekitar pinggir jalan.
"Boleh!" Jawab Giska yang saat ini sedang berbahagia karena rahimnya sangat sehat.
"Ya Allah, karuniai kami keturunan yang sholih, agar bisa meneruskan dakwah agamamu dari ajaran kekasihmu Rosulullah." Gumam Giska membatin.
Mobil Daffin memasuki area yang menjual berbagai kuliner. Giska menelan liurnya karena banyak sekali makanan yang dijajakan oleh para pedagang.
Giska memesan makanan yang tadi dipinta suaminya yaitu semangkok bakso dan satu piring somay. Minumannya jus alpukat dan jus jeruk kesukaan keduanya.
Kebetulan hari sudah siang, jadi banyak sekali karyawan yang datang makan di tempat itu. Beruntunglah Daffin dan Giska sudah mendapatkan pesanan mereka, keduanya menikmati sambil membahas lagi hasil dokter tentang rahim Giska.
Banyak sekali celoteh nakal yang disampaikan Daffin pada istrinya, namun Giska hanya menanggapinya dengan senyuman dan terkadang tersipu malu mendengar pujian suaminya pada dirinya.
Tidak terasa makanan mereka sudah habis. Giska membayar makanannya lalu beranjak pergi dari tempat kuliner itu.
"Sayang!" Cepat masuk ke mobil! Udara saat ini sangat panas." Titah Daffin yang sudah membukakan pintu untuk Giska.
Daffin memberikan tip pada tukang parkir yang membantunya keluar dari tempat parkir mobil yang begitu padat siang itu.
🌷🌷🌷🌷🌷
Tiga bulan kemudian, Daffin sedang melakukan perjalanan bisnis ke Australia. Giska tidak ingin ikut karena sudah janji dengan teman-temannya untuk pergi ke acara badan amal.
Daffin mengizinkannya karena Giska selalu melakukan hal-hal yang positif menurutnya. Setelah memberikan beberapa nasehat pada istrinya Daffin pamit meninggalkan istrinya dalam waktu satu minggu.
Tapi sebelum berangkat ke Australia, Daffin terlebih dahulu mengunjungi dokter untuk memeriksakan keadaan dirinya. Ia merasa dirinya lah yang bermasalah dengan kesuburannya.
Ketika masuk ke ruang kerja dokter Irwan, ada seorang suster yang melihat Daffin dan ia mengenalinya.
"Mas Daffin!" Sapa suster tersebut.
"Hei Dita, kamu kerja di sini?" Tanya Daffin pada Dita yang merupakan salah satu santri wanita yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren miliknya.
"Iya mas, aku bekerja di rumah sakit ini. Mas Daffin sakit?" Tanya Dita.
"Tidak, saya hanya ingin konsultasi dengan dokter Irwan saja. Permisi Dita." Daffin tidak betah lama-lama berdiri di depan Dita, ia tahu Dita masih memiliki perasaan padanya.
Dita pernah menyatakan cinta padanya secara terang-terangan ketika ia sudah menyelesaikan pendidikan pesantrennya.
Daffin saat itu masih muda dan ia belum memikirkan untuk memiliki kekasih. Dita adalah gadis yang sangat cantik tapi selalu kelihatan agresif dan itu membuat Daffin kurang menyukainya.
Daffin sudah berada di ruang praktek dokter Irwan. Ia menyampaikan keluhannya pada dokter Irwan. Setelah mendengarkan keluhannya dokter Irwan melakukan berbagai tes kesehatan pada kesuburan Daffin.
"Tuan Daffin, hasil tes anda akan keluar dua hari lagi, saya akan mengabari anda nantinya." Ucap dokter Irwan.
"Baik dokter saya akan Menunggu hasilnya semoga memuaskan." Ujar Daffin lalu menyalami dokter sekaligus pamit pada dokter Irwan.
Setelah dari rumah sakit, Daffin langsung menuju bandara.
Dua hari kemudian, acara amal yang digelar oleh salah satu yayasan badan amal mengumumkan hasil galang dana malam itu sekitar hampir satu triliun.
Dana itu akan digunakan untuk pendidikan dan kesehatan bagi orang-orang yang tidak mampu secara finansial.
Usai acara amal itu, Giska pamit dengan teman-temannya dan menuju mobilnya. Karena malam cukup larut dan lampu di area parkir kurang penerangannya, Giska lupa memarkirkan mobilnya di bagian mana.
Ia pun memencet kontak mobilnya agar terlihat mobil yang ia parkir. Setelah mengetahui letak mobilnya Giska buru-buru menghampiri mobilnya karena tidak ada orang selain dirinya.
Ketika sudah berada didalam mobil
tiba-tiba ada seseorang yang membekap mulut dan hidungnya hingga ia tidak sadarkan diri.
Lelaki itu tidak lain adalah Reza mantan kekasih Giska. Reza memindahkan tubuh gadis itu di jok sebelahnya lalu ia membiarkan Giska tertidur. Mobil Giska dibawa olehnya ke apartemen miliknya.
Di mansion bibi Ima sangat kuatir menunggu Giska belum juga pulang. Sudah berkali-kali, ia menghubungi ponsel Giska namun keadaannya mati.
Bibi Ima akhirnya menghubungi Daffin, namun suami Giska sedang berada dalam pesawat menuju Jakarta dan ponselnya dimatikan.
"Aduh bagaimana ini?" Bibi Ima makin takut. Apakah aku tunggu saja kabar dari nona muda." Ucapnya lalu kembali ke kamarnya.
Sekitar jam lima subuh bibi Ima menanyakan pelayan lain tentang Giska.
"Wawan, apakah nona muda sudah pulang?" Tanya bibi Ima.
"Dari semalam nona tidak pulang bibi." Ucap Wawan yang baru pulang dari mesjid.
Tidak lama kemudian, Daffin sudah pulang. Ia menyapa bibi Ima yang sedang berdiri mematung ditempatnya.
"Assalamualaikum bibi," Ucap Daffin lalu langsung ke kamarnya.
"Tuan Daffin tunggu sebentar!" Bibi Ima mencegah Daffin yang ingin menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Ada apa bibi?" Tanya Daffin heran.
"Dari semalam, nona Giska belum pulang Tuan." Ujar bibi Ima dengan wajah tertunduk ketakutan.
"Apa?" Apa sudah menghubungi ponselnya atau mertuaku siapa tahu dia menginap di sana." Ucap Daffin panik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
CARI MATI SI REZA, SEMOGA GISKA BLM DIRUSAK REZA
2023-01-25
1