18. PART 18

Alih-alih untuk mencoba memeriksa kesuburannya ke rumah sakit lain, Daffin malah pulang ke kampungnya menemui kedua orangtuanya. Kedatangannya ke kampung disambut dingin oleh umminya.

Kedua adiknya bersikap yang sama, mereka juga tidak ingin bicara dengan Daffin karena Daffin terlalu egois sebagai seorang suami yang menceraikan istrinya Giska dalam keadaan hamil tua.

Karena di rumah tidak ada yang peduli padanya, iapun kemudian bermain dengan para santri. Seorang santri menyapanya dan berjalan disampingnya.

"Mas Daffin, mas pulang sendiri ke sini? kenapa nggak mengajak mbak Giska juga mas? Oh iya mas Daffin mbak Giska itu baik ya, waktu ia balik lagi ke Jakarta saat pertama kali ke sini dulu, ia sempat-sempatnya mikirin kami.

Setiap hari kami dikirim makanan oleh setiap kedai makanan yang ada di kota solo, kadang somay, besok lagi bakso, lusa mie pangsit dan masih banyak lagi komplit dengan minumannya, kadang sesekali kami makan pizza, semuanya sudah dibayarkan oleh mbak Giska.

Dan sampai saat ini makanan itu terus mengalir ke pesantren ini. kami merasakan kebaikannya tidak berhenti." Ucap Ragil pada Daffin.

"Apa katamu Ragil? setiap hari Giska mengirimkan kalian makanan?" Daffin seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar dari santri yang satu ini.

"Iya mas Daffin, kedua adik mas Daffin juga tahu hal itu dan satu pesantren ini tahu, kalau sampai sekarang mbak Giska selalu mengirimkan makanan dan minuman dan juga hadiah bagi anak yang berprestasi." Sambung Ragil lagi.

"Aku pergi dulu ya mas Daffin." Ragil pamit dari hadapan Daffin.

Daffin mengambil sepedanya, ia ingin berjalan-jalan di wilayah kampung dan ingin menikmati pemandangan sawah yang saat ini sedang mengeluarkan bulir padi dari setiap tangkainya.

"Eh mas Daffin, assalamualaikum!" Sapa mbok Inem pada Daffin ketika melintasi di depan rumahnya.

"Waalaikumuslam mbok!" ucap Daffin santun dan menyalami mbok inem dan mbok Ijah yang mencegahnya.

"Istrimu yang cantik itu tidak ikut ya? padahal aku senang sekali kalau dia bisa ikut, Giska orang yang baik, dulu saat dia kemari, ia membagikan sembako untuk kami dan di dalamnya ada amplopnya. Tidak cuma itu dia juga memberi kami mukena." Ujar mbok inem.

"Aku juga di kasih obat saat aku mengeluh sakit rematik." ucap mbok Ijah.

"Nanti salam ya buat istrimu yang baik hati itu" Ucap mbok Inem.

Daffin hanya tersenyum lalu pamit pada dua nenek ini.

Di tengah jalan diantara pamatangan sawah, pak Rahmat memanggil Daffin untuk mampir. Keduanya terlihat saling menyapa dan menanyakan kabar satu sama lain.

"Aden sendirian ke sini?"

"Iya pak Rahmat." Ucap Daffin.

"Coba kalau non Giska ikut, ia pasti senang karena berkat dirinya yang sudah menyumbang traktor, hasil panen kami melimpah.

Traktor adalah alat pertanian yang paling sering digunakan untuk melakukan pengolahan tanah bagi pertanian.

"Kami juga diberi pupuk dan ia juga rela mendatangkan seorang ahli pertanian untuk memberikan penyuluhan bagaimana merawat padi saat terserang hama atau mengindari musim penghujan yang mengakibatkan kegagalan panen.

Istrimu sangat hebat, kehadirannya di sini bukan saja menjadi kebanggan kamu dan keluargamu tapi kami semua yang sudah menikmati kebaikannya. Jika kamu masih melanjutkan perjalananmu ke desa tetangga, mereka akan menceritakan kebaikan istrimu yang telah menolong usaha kecil dan menengah." Sambung pak Rahmat.

Daffin hanya menarik nafas panjang. Seharian ini, ia hanya mendengarkan pujian para santri dan warga desanya untuk mantan istrinya Giska.

Dari semua pujian itu, ia akhirnya memutuskan kembali lagi ke Jakarta dan ingin mencoba saran bibi Ima untuk memeriksakan kembali kesuburannya di dua rumah sakit yang berbeda.

🌷🌷🌷🌷🌷

Dua hari kemudian Daffin sudah berada di Jakarta. Mantan suami Giska ini langsung meluncur ke dua rumah sakit yang berbeda untuk melakukan tes kesuburannya. Ia tidak ingin menunggu waktu yang lama untuk menunggu hasil laporan medisnya.

"Dokter, apakah bisa dilakukan secepatnya?" Saya tidak ingin menunggu lama." Pinta Daffin setengah memaksa dokter yang saat ini sedang melakukan sejumlah tes pada dirinya.

"Di sini bisa dilakukan dengan cepat karena didukung oleh teknologi canggih, anda datang di rumah sakit yang tepat Tuan, karena semua hasil diagnosa dokter ditunjang oleh teknologi itu yang sangat membantu dokter dan pasien dalam menangani kasus penyakit tertentu termasuk hasil tes kesuburan Anda." Ucap dokter Yayat.

"Kapan bisa keluar hasilnya dokter?" Tanya Daffin lagi.

"Sekitar satu jam, mohon ditunggu prosesnya. Bagian tim Lab. akan mengantarkan hasilnya pada saya." Timpal dokter Yayat.

"Sebaiknya saya ke kantin dulu sambil menunggu laporan dari anda." Daffin berlalu dari hadapan dokter Yayat.

Di kantin rumah sakit itu, Daffin memesan kudapannya berupa roti Burger dan secangkir kopi latte.

Tidak perlu menunggu lama, pesanannya sudah di antar pelayan kantin. Ia menikmati snacknya sambil sesekali menyesapkan kopi latte miliknya.

Seketika hatinya gelisah tersirat jelas dari wajah tampannya. Ia mulai ketakutan dengan hasil medis yang keluar nanti sama dengan hasil medis pertama yang baru saja ia datangi dan hasilnya yang menyatakan dirinya tidak mandul. Kali ini rumah sakit kedua yang ia kunjungi.

"Bagaimana jika hasil itu benar, bahwa aku tidak mandul, tapi jika itu benar apakah aku perlu menuntut rumah sakit pertama sekali, saat aku melakukan tes kesuburan dan hasilnya itu telah mengeluarkan hasil laporan medis yang tidak valid." Daffin mempertanyakan kebodohannya saat ini.

Jam menunjukkan waktunya sudah satu jam berlalu berarti ia harus mengambil hasil medisnya.

Daffin menghabiskan sisa kudapannya lalu menuju ke ruang praktek dokter Yayat.

Cek lek..

"Silahkan masuk tuan Daffin, baru saja orang Lab. mengantarkan hasil laporan medismu, silahkan duduk!" Titah dokter Yayat seraya menyerahkan amplop putih itu pada Daffin.

Daffin membukanya dengan dada berdebar, seakan bom waktu akan meledakkan dirinya karena keangkuhannya yang telah menghancurkan rumah tangganya sendiri.

"Jika anda bermasalah, sekarang sudah ada obatnya dan bisa menjalani beberapa terapi untuk mengatasi masalah anda Tuan Daffin." Sahut dokter Yayat yang melihat ada keraguan di wajah tampan lelaki dihadapannya ini.

Daffin membuka lagi kertas yang terlipat itu yang sempat terjeda karena ocehan dokter yang tidak ingin berhenti menasehatinya.

Mata Daffin terbelalak lebar, wajahnya seketika pucat, lidahnya seakan kelu karena laporan medis ini telah merontokkan semua persendiannya.

"Innalilahi wa innailaihi rojiuun." Daffin berseru lalu menangis tanpa rasa malu pada dokter Yayat.

"Apa yang terjadi Tuan Daffin? apakah ada masalah dengan hasil laporan medisnya?" Tanya dokter Yayat yang melihat Daffin langsung meraung di ruang prakteknya.

"Ya Allah, ampuni aku ya Robby karena telah mendzolimi istriku sendiri." Ujarnya sambil mengigit lengan bawahnya sendiri.

"Tolong Tuan Daffin! jangan membuatku bingung dan penasaran seperti ini." Dokter Yayat langsung meraih laporan medis itu dari tangan pasiennya.

Ia membacanya dengan teliti dan ternyata hasilnya memuaskan, yang menyatakan bahwa kesuburan Daffin seratus persen baik.

"Hasilnya memuaskan, mengapa malah anda menangis Tuan Daffin?" Dokter Yayat makin kesal dengan Daffin yang sempat membuatnya ketakutan.

"Istriku, dokter. Aku menceraikannya karena meragukan anak yang dikandungnya saat ini. Aku menuduhnya telah berzina dengan orang lain karena laporan medis yang pertama menyatakan aku mandul." Daffin curhat kepada dokter Yayat tentang masalah yang dihadapinya saat ini.

"Lantas apa tindakanmu saat ini?" Lagian anda terlalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan di mana istrimu sedang membutuhkan perhatianmu disaat dirinya sedang mengandung anak kalian.

Apa lagi seorang wanita hamil perasaannya tiga kali lipat, lebih sensitif dari pada perempuan yang tidak mengandung." Terang dokter Yayat.

"Sekarang, apa yang harus aku lakukan dokter mengingat saat ini istriku sedang mengalami depresi berat karena tuduhanku padanya.

Berkali-kali ia memohon kepadaku saat aku ingin menceraikannya di hari persidangan perceraian kami, di saat itu aku tidak mempedulikan tangisannya dan rengekannya karena kecemburuanku yang telah menutup mata batinku." Ujar Daffin.

"Penyesalan memang datangnya selalu belakangan Tuan Daffin. Kamu harus menerima resiko apa yang pernah kamu perbuat pada dirinya.

Dia sangat mencintaimu dan rela merendahkan dirinya di depan orang lain hanya ingin mendapatkan lagi tempatnya dihatimu tapi kamu malah meremehkan dirinya dengan mencampakkan istrimu begitu saja hanya selembar laporan yang bisa kamu lakukan lagi pengujiannya yang akurat di rumah sakit yang berbeda." Ucap Dokter Yayat.

Terpopuler

Comments

Andy Mauliana

Andy Mauliana

Penyesalan emang datangnya belakangan klo di awal mAh Pendaftaran

2023-06-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!