Di ruang praktek dokter Tiara, Giska menunggu hasil tesnya dengan hati berdebar. Ia berharap bahwa dirinya saat ini hamil.
Setelah menunggu lima menit, suster itu memberikan hasilnya pada dokter Tiara. Dokter Tiara tersenyum dan memberikan selamat pada Daffin dan Giska.
"Selamat Tuan Daffin dan nona Giska, kalian sekarang telah menjadi calon ayah dan ibu. Usia kandungan anda sekitar dua bulan, untuk lebih jelasnya bisa langsung melakukan USG." Ucap dokter Tiara.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah akhirnya Engkau mengabulkan doa hamba." Ucap Giska lirih.
Giska menatap wajah suaminya dengan senyum mengembang, namun Daffin hanya membalasnya dengan senyum yang begitu hambar.
Dokter kemudian memberikan vitamin dan obat untuk mengatasi anemia untuk Giska. Keduanya pamit dari hadapan dokter.
"Mas, apakah kamu tidak senang, sekarang aku hamil?" Seru Giska dengan wajah ceria.
Daffin lagi-lagi hanya mengangguk dengan memberikan senyum yang dipaksakan. Tidak ada sedikitpun kebahagiaan yang terpancar di wajahnya.
Giska sibuk menghubungi orangtuanya dan juga keluarga suaminya.
"Benarkah nak, kamu hamil?" Tanya nyonya Nunung seakan tak percaya mendengar kabar dari putrinya.
"Iya bunda, sekarang bunda sudah jadi Oma." Ucap Giska.
"Jaga kesehatan dan jangan makan yang pedas. Bersyukurlah pada Allah karena ia menitipkan keberkahan dalam rahimmu seorang anak." Nyonya Nunung menasehati putrinya.
"Sudah dulu ya bunda, Giska mau telepon ummi juga. Bye bunda." Giska menyudahi obrolannya dengan bundanya dan sekarang beralih menghubungi mertuanya.
"Assalamualaikum ummi!" Sapa Giska melalui video call.
"Waalaikumuslam sayang!" Apa kabar cantik!"
"Lagi sakit Ummi." Ucap Giska dengan wajah pura-pura sedih.
"Sakit apa sayang?" Tanya ummi Alya panik.
"Giska lagi hamil." Ucap Giska lalu terkekeh untuk mengagetkan ibu mertuanya.
"Alhamdulillah, akhirnya aku akan mendapatkan cucu." Ucap Ummi Aliya.
"Mana Daffin sayang?" Tanya Ummi Aliya yang tidak melihat putranya bersama Giska.
"Mas Daffin lagi di ruang kerjanya Ummi." Ucap Giska.
"Baiklah nanti ummi hubungi Daffin, kamu jaga kesehatan ya sayang!" Ummi Alya memberikan banyak nasihat untuk menantu kesayangannya sebelum mengakhiri pembicaraan mereka.
Di ruang kerja, Daffin hanya duduk termenung setelah mengetahui istrinya hamil. Ia tidak suka mendengar kabar ini.
Entah apa yang terjadi pada suami Giska ini.
Satu bulan berlalu, perubahan pada sikap Daffin yang selalu menjauhi Giska setelah mengetahui Giska hamil membuat Giska makin meradang.
Awalnya Giska merasa Daffin hanya lelah atau banyak pikiran karena kerjaannya yang menumpuk di perusahaan. Giska lebih memilih mengalah. Setiap kali Giska membutuhkan belaian suaminya, Daffin selalu saja menolak dengan alasan capek atau kandungan Giska yang masih muda tidak boleh ada hubungan intim.
"Mas Daffin kenapa?" Emang Giska salah apa?" Apakah Giska membuat kesalahan yang bikin mas Daffin sakit hati?" Tanya Giska lembut.
"Aku lagi capek Giska, kamu tidur atau mau melakukan apapun terserah, tolong jangan ganggu aku! kamu mengerti!" Daffin membentak istrinya membuat Giska tersentak.
"Mas Daffin, apa masalahmu?" Kamu sendiri yang menginginkan aku cepat hamil tapi setelah aku hamil, kenapa sekarang kamu berubah?" Di mana letak kesalahanku?" Giska sudah tidak sabar menghadapi sikap Daffin yang makin dingin padanya.
Daffin tidak menjawab pertanyaan istrinya, ia malah keluar dari kamar dan pindah ke kamar tamu. Giska makin penasaran dengan sikap diam suaminya.
"Ya Allah, aku sedang hamil tapi kenapa aku diperlakukan tidak adil oleh suamiku sendiri." Giska mengambil wudhu dan ingin menanyakan sesuatu kepada Robb-nya.
Ia melakukan sholat kyamul lail. Sholat yang dilakukan sebelum tidur, beda dengan sholat tahajud, yang dilakukan sesudah tidur terlebih dahulu.
"Ya Allah, aku memohon kepadaMu, tunjukkan aku jalan yang lurus, beri aku kemudahan untuk memahami suamiku." Pintanya dengan bersimbah air mata.
Malam itu, Giska tidur sendiri tanpa ditemani oleh suaminya. Ia terus menangis hingga matanya bengkak.
🌷🌷🌷🌷🌷
Kehamilan Giska sekarang memasuki usia empat bulan. Ia berencana untuk kembali memeriksakan lagi kandungannya ke dokter sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh dokter.
Kali ini ia sendirian ke dokter tanpa di temani suaminya karena Daffin menolak untuk mengantarnya ke dokter.
Ia melihat perkembangan bayinya yang tumbuh sehat dan juga normal. Dokter memberikan beberapa saran terbaik mereka, baik itu makanan maupun nasehat untuk menjauhi setress yang berlebihan.
Setelah cukup mendengarkan apa saja ucapan dokter, Giska kembali ke mansionnya diantar oleh sopir pribadinya.
Ditengah jalan, ia melihat abang-abang yang sedang menjual rujak. Giska meminta sopir untuk membelikan rujak buah untuknya.
Setibanya di mansion, Giska menikmati rujaknya di temani oleh bibi Ima. Bibi Ima sebenarnya tahu apa yang dialami oleh rumah tangga majikannya ini. Tapi ia tidak berani untuk memulainya karena takut salah bicara.
Demikian pula dengan Giska yang tidak ingin kemelut rumah tangganya diketahui oleh orang lain walaupun itu adalah kepala pelayan yang sudah dekat banget dengan dirinya.
Di malam harinya ketika makan malam, suasana makin hari makin kaku. Di meja makan duduk dua orang yang awalnya saling berbincang mesra sambil menikmati makanan penutup, kini keduanya terlihat canggung dan saling menghindar.
Ketika Giska ingin meninggalkan meja makan duluan, ia di cegah oleh suaminya.
"Giska aku tunggu kamu di ruang kerjaku. Segera temui aku di sana!" Ujar Daffin lalu meninggalkan Giska seorang diri.
Bibi Ima hanya mengangguk ke arah Giska seakan memberikan kekuatan kepada gadis itu.
Giska menuruti permintaan suaminya dan ia menemui Daffin yang sudah menunggunya di dalam sana.
Cek lek!"
Pintu itu dibuka dan Giska masuk dengan wajah tertunduk.
"Giska, besok aku akan memulangkan kamu ke rumah orangtuamu lagi." Ucap Daffin.
Giska tersentak melihat wajah suaminya dengan paras tercengang.
"Maksud mas Daffin apa ya?" Tanya Giska yang tidak mengerti niat suaminya.
"Kamu akan tahu setelah aku sendiri yang akan menjelaskan semuanya kepada orangtuamu besok, jadi bersiap-siaplah mulai dari sekarang!" Ucap Daffin lalu keluar dari ruang kerjanya.
Hati Giska makin tak menentu, ia sampai saat ini belum mengerti kemarahan suaminya pada dirinya sejak mengetahui dirinya hamil.
"Apakah maksudnya, dia ingin bercerai denganku?" Jika iya, apa masalahnya? Mengapa harus menjelaskan kepada kedua orang tuaku?" Pikiran Giska makin mumet.
Keesokan harinya. Giska dan Daffin berangkat ke mansion Tuan Ruslin. Karena di kabari oleh Giska, bahwa mereka akan datang, nyonya Nunung mempersiapkan makanan yang enak untuk putrinya yang lagi hamil itu.
"Mas Daffin hanya menitipkan aku sajakan di mansion ayah karena Giska hamil?" Tanya Giska dengan wajah lugu.
"Aku tidak ingin menjelaskannya di mobil Giska karena aku sedang menyetir." Daffin memberikan alasannya.
"Mas Daffin bisa menepikan mobilnya dulu dan bicara dengan Giska baik-baik sebelum tiba di mansion ayah." Ucap Giska.
Daffin menepikan mobilnya dengan kasar dengan menginjak rem mendadak membuat tubuh Giska nyaris terpental ke depan dasbor mobil.
"Mas Daffin!" Apa yang kamu lakukan?" Aku sedang hamil, apakah kamu buta atau pura-pura tidak tahu!" Bentak Giska kesal.
"Makanya jadi perempuan harus sabar, bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku tidak ingin menjelaskannya di mobil dan akan menjelaskan langsung di hadapan orangtuamu, puas kamu!" Daffin berteriak keras didepan wajah Giska.
"Kenapa jadinya seperti ini, apakah kamu ingin menikah lagi hingga mau memulangkan aku ke rumah orangtuaku?" Tanya Giska yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya di depan suaminya.
Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Daffin kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju mansion.
Giska mendengus kesal karena tidak satu alasan jelas yang terucap dari mulut suaminya.
"Ada apa dengan manusia ini, mengapa langsung berubah seratus delapan puluh derajat disaat aku mengandung anaknya yang selama ini ia tunggu-tunggu." Gerutu Giska dalam hatinya.
Mobil itu sudah masuk ke gerbang perumahan mewah yang di tempati oleh orang tua Giska saat ini.
"Assalamualaikum ayah, bunda!" Ucap Giska dengan raut muka masam.
"Waalaikumuslam sayang!" Nyonya Nunung merasa ada yang tidak beres dengan pasangan ini.
"Hei Daffin duduklah nak, ayah senang kalian mengunjungi kami." Ucap Tuan Ruslin sangat senang melihat kedatangan putri dan menantunya Daffin.
"Maaf ayah, saya datang ke sini bukan untuk berkunjung, tapi saya ingin memulangkan lagi putri anda karena saya ingin bercerai dengan Giska."
Degg...
Bagai di sambar petir di siang hari bolong, Giska begitu terperanjat mendengar ocehan Daffin yang begitu menyakitkan hatinya.
"Apa maksudmu mas Daffin!" Teriak Giska tidak percaya.
"Iya nak, apa yang terjadi? Apakah Giska melakukan kesalahan kepadamu?" Tanya Tuan Ruslin sangat syok mendengar ucapan cerai dari menantunya untuk putrinya.
Semua orang hanya menunggu jawaban selanjutnya dari Daffin.
Giska menghampiri ibunya, ia menangis dalam pelukan bundanya. Dadanya terasa sangat sakit mendengar kata cerai dari suaminya.
"Ada apa denganmu Daffin, mengapa kamu harus menceraikan putriku di saat ia sedang mengandung anakmu!" Tuan Ruslin membentak menantunya yang dianggap sangat kurangajar.
"Iya nak Daffin, jika Giska bersalah, jangan kamu menghukumnya seperti ini. Kasihanilah putriku, disaat hamil muda kamu mengusirnya dari rumahmu dan memulangkan dia lagi tanpa alasan yang tak jelas." Timpal Nyonya Nunung sambil menangis.
"Tanyakan kepada Giska, anak siapa yang saat ini ia kandung?" Daffin menatap lekat wajah istrinya dengan amarah yang kian membuncah.
Giska menguraikan pelukannya dari bundanya ketika mendengar pertanyaan dari suaminya. Dengan mata mendelik ia bertanya lagi kepada suaminya.
"Hah, apakah pertanyaanmu nggak salah?" Tanya Giska dengan suara parau.
"Aku tidak salah Giska karena ini fakta, anak yang kamu kandung itu adalah anak hasil zinahmu dengan mantan kekasihmu Reza." Teriak Daffin dengan suara menggelegar.
Plak..plak!"
Tamparan keras mendarat di pipi Daffin dari istrinya Giska.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
N1SW4N Z4F4
udah aku duga pasti daffin ngira klo itu ank istrinya SMA mantan pcarnya...
2022-11-14
1
Linda Bengkulu
di sini aku dapat pelajaran,, ternyata tidak semua orang yg ber ilmu ,, dan berpengetahuan tinggi tentang agama,,, tidak semua nya dapat berlapang dada,, dan malah sebaliknya nya,, berfikiran sempit,, alias picik,, cuman gara" dia di fonis kurang sehat oleh dokter,, dan secara tidak langsung dia tidak mempercayai keajaiban Allah SWT.. hadeh... Dafin.... Dafin... gue kecebong banget ame loh....😠😠😠
2022-09-25
3