Di kediaman mertuanya, Giska mengikuti semua kegiatan dan kebiasaan keluarga suaminya dalam keseharian mereka. Setiap jam 3 pagi, anggota keluarga ini sudah bangun sholat tahajud, membaca Alquran dan berdzikir sambil menunggu Azan subuh.
Bukan hanya keluarga kyai Azzam yang sibuk beribadah bermunajat kepada Allah di sepertiga malam, tapi para santri sudah berada di mesjid untuk melakukan sholat tahajud.
Giska yang lebih dulu menyelesaikan sholat tahajjudnya mendatangi para santri itu dengan masih menggunakan mukenanya.
Sekitar satu jam, Giska menunggu anak-anak itu sedang bermunajat pada Robb-nya.
Ada yang menarik perhatiannya ketika seorang gadis yang sedang menangis meminta pada Allah, agar dimudahkan untuk menghafalkan Al-Qur'an 30 juz.
"Ya Allah, ijin hambaMu ini menghafalkan 30 juz Al-Qur'an, agar dengan amal hamba ini bisa hamba hadiahkan kepada kedua orangtuaku yang telah meninggal aku sejak aku masih kecil.
Ya Allah, hanya dengan amal ku ini, aku bisa membahagiakan keduanya untuk menempati surgaMu ya Allah." Ucapnya sambil berurai air mata.
Seorang remaja ini tidak sadar jika di balik punggungnya ada Giska yang ikut menangis mendengar doanya.
"Ya Allah, kabulkan permohonan anak ini dan kabulkan juga permohonanku agar aku bisa seperti dirinya." Gumam Giska membatin.
Tidak lama kemudian, waktunya masuk azan subuh. Giska mendengar lantunan kumandang adzan yang langsung masuk menusuk jiwanya.
Giska yang biasa mendengar azan selama ini, tidak pernah merasakan kemerduan suara yang begitu syahdu dan indah di pagi subuh itu.
Entah mengapa azan subuh ini sangat menggugah hatinya.
"Wah, kalau ada mas Daffin, kita terhibur dengan azannya. Sudah lama kita tidak mendengarkan suara merdunya." Ucap salah satu santri yang sudah duduk ditingkat SMA.
Giska tersentak ketika mengetahui yang mengumandangkan adzan adalah suaminya sendiri.
"Apa?" Itu suaranya mas Daffin?" Gumam Giska seakan tak percaya bahwa suaminya sendiri yang sedang mengumandangkan adzan subuh.
"Yah, bagaimana aku tahu itu suaranya mas Daffin, selama ini ia selalu sholat di mesjid, sudah gitu mesjid yang ia datangi sangat jauh dari mansionnya." Sambung Giska.
Tapi dalam hatinya, ia sangat bangga ketika mengetahui yang mengumandangkan adzan subuh saat ini adalah suaminya.
Giska makin terpesona dengan dengan suaminya yang memiliki segalanya yang ia butuhkan.
Wajah yang tampan, pengusaha hebat, suami yang romantis, mengusai ilmu agama islam dan sekarang memiliki suara yang indah ketika adzan.
"Ya Allah, betapa banyak berkah yang aku dapatkan dari Engkau ya Robby. Baru dua hari di sini banyak sekali pelajaran yang ku petik." Ucap Giska dengan perasaan kagum atas kebesaran Allah dan rahmat-Nya pada dirinya yang tidak pantas meraih semua itu.
Dirinya bukanlah seorang wanita yang sholeha, apa lagi menjadi menantu impian dan juga istri yang baik. Ia masih merasa sangat jauh dengan ilmu yang dimilikinya saat ini.
Menjadi wanita yang sholeha untuk suaminya, ini sedang ia lakukan untuk terus memperbaiki dirinya, agar ia tidak mengecewakan suami dan keluarga suaminya.
"Ya Allah, jadikan aku hamba yang paling takut kepada azabMu dengan begitu hamba akan terus memperbaiki diri untuk mencapai nilai takwa yang Engkau ridhoi dalam membina rumah tanggaku menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah." Gumamnya dalam hati.
Sholat subuh mulai didirikan. Giska berserta jamaah lainnya sudah merapatkan barisan saf agar sholat lebih khusu dan tidak akan memberi celah bagi setan untuk menggoda mereka yang sedang menghadap Allah dalam ibadah sholehahnya.
Usai sholat berjamaah, Giska membantu kedua adik iparnya memasak. Sekitar jam enam pagi semuanya sudah rapi hanya tunggu sarapan pagi bersama.
Karena tidak ada lagi yang bisa ia kerjakan, Giska pamit pada adik iparnya mau lari pagi dan ingin menikmati udara segar di desa itu.
Mariam mengangguk dan mengizinkan Giska lari pagi sendirian.
"Apakah tidak ada lagi yang bisa saya bantu Mariam?" Tanya Giska.
"Sudah kelar semua mbak Giska."
"Kalau begitu apakah saya boleh lari pagi, saya ingin merasakan udara segar di desa ini." Ucap Giska.
"Silahkan mbak Giska." Ucap Mariam.
Giska akhirnya lari pagi sambil melihat para petani yang sudah mulai turun ke sawah. Ada juga para ibu-ibu yang membawa hasil panen mereka ke pasar.
Lama Giska menyusuri jalanan desa di tengah pematang sawah. Giska kemudian duduk beristirahat sejenak sambil melihat hamparan hijau yang menyegarkan mata indahnya.
Giska merenungi kehidupan orang-orang desa. Kerasnya mereka bekerja dengan upah yang tidak seberapa. Para petani yang bahu membahu melawan waktu, dari gelap bertemankan embun pagi dan udara sejuk menusuk tulang, hingga terik mentari siang membakar kulit hingga legam.
Kaki telanjang mereka yang harus bermandikan pekatnya lumpur berjalan dengan berat membajak sawah dengan bantuan sapi pembajak sawah. Walaupun sekarang sudah ada alat yang lebih canggih namun sekalinya alat itu dipakai kadang harus rusak dan sulit untuk diperbaiki.
Giska melihat itu semua, hatinya makin pilu, melihat kemiskinan para petani yang mendapatkan keuntungan tidak setara dengan perjuangan mereka yang bersimbah peluh di bawah teriknya panas matahari.
"Apakah kalian tidak mengeluh jika panen kalian kadang harus gagal?" Apakah orang-orang borju yang mendapatkan miliaran rupiah dengan mengandalkan kecerdasan mereka, kadang membuang nasi mereka karena lauk yang tidak enak.
Mereka tidak melihat kalian yang mati-matian berjuang di sini untuk bisa memenuhi kebutuhan perut manusia. Oh petaniku, kalian hebat, kalian sangat sabar menghadapi kerasnya hidup. Semoga Allah menyiapkan surga terbaik untuk kalian. Terimakasih sudah memberikan kehidupan untuk kami warga kota.
Setelah puas merenungi nasib para petani, Giska menemukan filosofi kehidupan hari ini. Ia kembali berdiri melanjutkan lari paginya sendirian. Tanpa terasa ia sudah jauh berlari. Tapi ia tidak peduli, menikmati keindahan panorama alam terbuka dengan bentangan hijau bak permadani indah dengan tingkat warna hijau tua, hijau muda dan kekuningan karena bulir padi yang sudah matang merunduk ke bawah karena beratnya memikul biji beras yang siap dipanen oleh para petani.
Di rumah mertuanya, Daffin mencari istrinya di setiap sudut ruangan. Namun ia sama sekali tidak bertemu dengan Giska.
"Mas Daffin mencari Giska ya?" Tanya Mariam yang baru keluar dari kamarnya.
"Iya, apa kamu tahu dia ke mana?" Tanya Daffin panik.
"Oh tadi ia pamit ke aku kalau dia ingin lari pagi dan ingin menghirup udara segar di desa ini mas.
"Apa?" Jadi kamu membiarkan ia sendirian lari pagi, bagaimana kalau dia nyasar dan tidak tahu arah pulang?" Daffin sangat marah pada adiknya.
"Emang mas Daffin tidak tahu kalau mbak Giska mau lari pagi?" Tanya Mariam yang heran lihat masnya kebingungan cari istrinya.
"Saya tadi temanin Abah ngajar ngaji santri." Ucap Daffin.
"Tadi mbak Giska bantuin kami masak setelah itu dia pamit lari pagi." Mariam memberi tahu kegiatan Giska sebelum lari pagi.
"Sudahlah aku mau mencari dia dulu.
Daffin mengeluarkan motornya keliling kampung mencari istrinya namun tidak di temukan.
"Ya Allah, Giska kamu lari pagi ke mana sih." Daffin makin kuatir dengan istrinya.
Ia kemudian melanjutkan pencariannya menuju pematangan sawah.
"Mungkin ia ingin melihat sawah." Ucap Daffin bermonolog.
Dari jauh Daffin melihat seorang gadis sedang membantu seseorang untuk mendorong gerobaknya. Ia buru-buru mendekati gadis itu dan ternyata benar itu istrinya sedang membantu seorang ibu yang sedang menarik gerobak yang memuat jeraminya.
"Giska!" Daffin memanggil istrinya.
"Mas Daffin." Giska tersenyum melihat ke arah suaminya sambil mendorong gerobak ibu itu.
Ibu itupun berhenti sesaat lalu tersenyum pada Daffin yang ia kenal adalah putra dari Kyai Azzam.
"Assalamualaikum mas Daffin!" Sapa ibu itu lembut.
"Waalaikumuslam bu de!" Balas Daffin.
"Ini siapamu le?"
"Dia istriku, bude." Jawab Daffin.
"Walah, maafkan bu de mas Daffin, aku tidak tahu kalau ini istrimu." Maaf ya. Dari tadi si non, maksa bantuin bude." Ujar bu de Asih.
"Nggak bude, aku senang bantuin Bu de, sekalian olahraga.
"Ayo naik sayang!" Titah Daffin kepada istrinya.
"Bu de, maaf!" Giska pamit pulang ya." Ujar Giska santun pada Bu de Asih.
Daffin membawa pulang istrinya. Ia sangat senang melihat istrinya cepat beradaptasi dengan lingkungan desa. Tapi ia juga kuatir jika Giska kecapean pasti tidak akan bisa hamil.
🌷🌷🌷🌷🌷
"Sayang, kenapa kamu nekat lari pagi sendirian?" Tanya Daffin setelah sampai di rumahnya.
"Aku hanya ingin lihat keadaan desa di pagi hari." Ucap Giska sembari membuka sepatunya.
"Kamu belum ngerti jalanan desa dan kenapa kamu matiin ponselmu?"
"Kalau nyasar tinggal tanya, siapa yang nggak kenal Kyai Azzam, orang semua pasti kenal Abah dan mereka pasti senang mengantar aku ke sini." Ujar Giska.
"Tapi kamu tadi nggak bilang sama Bu de Asih kalau kamu istriku." Daffin protes kepada istrinya.
"Kalau aku bilang, dia akan menolak aku untuk membantunya." Ujar Giska.
"Mengapa kamu tiba-tiba ingin bantu orang sayang. Kita ini baru menikah, aku ingin kamu cepat hamil, jika kamu membantu mendorong gerobak tadi, benih yang ditanam di rahim kamu sulit dibuahi." Ujar Daffin.
"Mas Daffin, anak itu urusan Allah, jika Allah memberikan kita kesempatan untuk memiliki buah hati insya Allah akan secepatnya ada.
Tapi kalau belum di kasih jangan menyerah. Lagian kata mas Daffin, aku boleh bantu dengan tenaga, ya aku bantu dengan tenaga karena Bu de Asih butuh bantuan tadi berupa tenaga bukan uang." Giska mengulang kembali apa yang pernah dikatakan Daffin padanya.
"Ya Allah, jadi kamu langsung mengamalkannya, tanpa mempertimbangkan kondisi tubuhmu?" Daffin memegang jidatnya, dengar apa yang dikatakan istrinya.
"Emang salah ya?" Tanya Giska dengan polosnya.
"Dengar ya sayang, orang desa itu tubuh mereka sudah terlatih untuk bekerja keras. Sedangkan kamu seumur hidupmu semua dilayani, jika kamu melakukan hal yang tadi, tubuhmu bisa langsung sakit." Jelas Daffin.
"Yang bikin sakit tubuh aku tuh kamu, bercinta nggak kira-kira, badanku remuk tahu nggak?" Giska mencela perbuatan suami padanya.
"Itu beda sayang, karena itu bagian dari kewajiban, berpahala melayani suami." Daffin masih berdalih.
Tok....tok!"
"Mas Daffin dan mbak Giska, di panggil ummi sarapan." Asia memanggil pasangan pengantin baru itu.
"Sebentar Asia, nanti kami ke sana." Ujar Daffin dari dalam kamarnya.
Di dalam kamar, Giska berganti pakaian dengan baju yang sedikit longgar. Kemudian berjalan menuju ruang makan.
"Mas Daffin, aku nggak apa kalau nggak pakai jilbab?" Tanya Giska.
"Keluargaku hanya ada dua saudara perempuan dan kedua orangtuaku yang boleh melihat rambutmu, kecuali ada saudaraku yang laki-laki, kamu wajib pakai hijab." Daffin menjelaskan siapa saja yang boleh melihat rambut Giska.
"Syukurlah, adikmu cewek semua jadi aku punya teman bisa ngobrol apa saja sesama wanita." Ujar Giska.
Daffin mempersilahkan istrinya duduk dan ia duduk di sebelah Giska. Mariam dan Asia berhenti makan sarapannya karena tertegun melihat wajah kakak ipar mereka sangat cantik.
"Apakah pertemuan pertama mbak Giska dan mas Daffin saat itu, mbak Giska belum berjilbab ya?" Tanya Asia penasaran.
"Iya Asia saat itu aku belum tahu bakal dijodohkan dengan mas Daffin. Aku tahunya setelah orangtuaku sudah memesan tempat untuk pertemuan dua keluarga kita." Giska menjawab pertanyaan adik iparnya itu.
"Ohh!" Pantasan mas Daffin langsung suka karena sudah lihat bentuk aslinya." Imbuh Mariam.
"Ayo makan dulu, kalian bisa cerita nanti kalau sudah selesai makan, ingat aturan di rumah ini, Asia, Mariam," tegur halus ummi Aliyah.
Mereka pun sarapan bersama tanpa ada pembicaraan selanjutnya. Usai sarapan, Daffin mengajak lagi istrinya untuk jalan-jalan keliling kampung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments