Daffin menerima panggilan telepon dari Umminya di kampung.Ia keluar dan berdiri di balkon lantai dua. Kelihatannya ummi Aliya sedang membicarakan hal yang serius dengan putranya. Giska yang tidak sengaja menguping pembicaraan antara putra dan ibu tersebut.
"Maaf ummi, sepertinya Daffin belum bisa pulang ke kampung karena Daffin tidak ingin para santri melihat istri Daffin yang belum memakai hijab, Daffin tidak rela kecantikan istriku dinikmati banyak orang. Tunggu saja ummi, pelan-pelan Daffin akan berusaha untuk merubah tampilan Giska menjadi perempuan yang Sholehah, yah walaupun itu dimulai dari jilbab dulu." Ucap Daffin menjawab pertanyaan ummi Aliya.
Giska merasa sangat bersalah karena impian keluarga suaminya ternyata ingin melihat dirinya menjadi wanita yang Sholehah.
Giska pun memiliki niat untuk berbelanja tapi bingung untuk meminta uang kepada suaminya.
"Jika aku tahu-tahu pakai jilbab, nanti dia curiga kalau aku menguping pembicaraan ia dan ibunya. Tapi kalau ditunda terus, lelaki itu akan kesulitan untuk pulang kampung membawaku, akhh.. Ini sangat membuatku kacau." Keluhnya sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Kamu belum tidur?" Tanya Daffin tiba-tiba mengagetkan Giska yang sedang melamun.
"Tentunya aku belum ngantuk jadi nggak bisa tidur." Ujar Giska yang kembali meraih ponselnya.
"Sebaiknya kamu tidur, ini sudah malam." Daffin meminta istrinya yang masih melotot melihat ponselnya.
"Bisakah kamu tidur disampingku? Kalau kamu menemaniku di sini aku dengan senang hati akan memejamkan mataku." Giska mengiba pada suaminya.
Daffin terlihat berpikir keras, ia ingin sekali tidur dengan Giska namun ia masih memikirkan kata-kata Giska yang sangat membuatnya sulit untuk menggauli istrinya.
"Baiklah kalau kamu tidak mau, saya tidak akan memaksa." Giska mematikan lampu lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.
Daffin menuju sofa dan meletakkan kepalanya di bantal namun permintaan Giska sungguh menyiksa dirinya. Bagaimanapun juga ia adalah lelaki normal tidur dengan seorang wanita yang sekarang sah menjadi istrinya.
Iapun kemudian bangkit lagi lalu menghampiri Giska dan tidur disamping gadis itu.
Giska tersenyum dibalik selimut ketika merasakan tubuh suaminya sudah menempel pada tubuhnya.
Bau harum tubuh Giska dan sampo yang digunakan gadis itu, membuat Daffin menjadi makin terangsang.
Ia pelan-pelan membuka selimut Giska yang ditutupi oleh gadis itu.
Nafas keduanya sudah mulai terdengar memburu karena dahaga kerinduan malam pertama belum tersentuh dalam dua bulan pernikahan mereka.
Tanpa berkata-kata, bahasa tubuh keduanya saat ini sedang berbicara jika keduanya sedang membutuhkan kehangatan.
Daffin mulai menyentuh pipi istrinya untuk lebih dekat dengan wajahnya.
Giska menahan nafasnya dalam keadaan matanya yang terpejam menunggu sentuhan pertama dari suaminya.
Melihat Giska pasrah, Daffin mengecup bibir itu sekali, lalu dengan lembut mulai memagutnya. Giska membalas ciuman itu dan memasuki rongga mulut suaminya. Ciuman pertama itu terasa sangat manis, bibir sensual Giska dengan permainan lihai dari wanitanya membuat Daffin terbuai akan sentuhan istrinya.
Merasakan sensasi ciuman panas Giska membuat Daffin melepaskan ciumannya karena kelihaian Giska membuat ia kembali dikuasai rasa cemburu.
Giska yang tidak mengerti mengapa suaminya tiba-tiba menghentikan ciuman mereka merasa sangat aneh atas perubahan sikap suaminya.
Iapun tidak ingin bertanya karena akan memicu pertengkaran antara mereka berdua.
"Tidurlah Giska, maaf aku sangat lelah hari ini, aku akan tidur disebelahmu, itukan yang kamu pinta?" Daffin membalikkan tubuhnya membelakangi Giska yang masih bingung dengan sikap Daffin yang dianggap egois.
"Aku malah nggak bisa tidur kalau caranya seperti ini, apa salahnya ngelanjutin, mengapa dia tiba-tiba berhenti dibabak pertama yang baru di mulai." Giska bangun mencari obat tidur yang sudah ia konsumsi untuk bisa tidur nyenyak.
Daffin sudah tidak peduli dengan istrinya, ia lebih memilih tidur setelah meredakan gairahnya. Walaupun ia begitu tersiksa, namun ia tidak ingin terlalu jauh untuk menyentuh istrinya karena belum bisa menerima masa lalu Giska.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Tiga hari kemudian, Giska mulai mengenakan hijab ketika berangkat kuliah. Ia pun tidak ingin menggunakan mobil milik suaminya dan lebih memilih naik taksi.
Kemewahannya sudah ia tinggalkan karena tekadnya untuk mendapatkan empati suaminya bahwa ia bisa berubah dan menjadi wanita baik-baik.
Tapi sayang di saat ia ingin berubah, teman-teman gengnya di masa SMA dulu mengajaknya ke sebuah Club.
"Hai Giska, hari ini gue ulang tahun, ngundang teman-teman SMA kita sih, khususnya kelas kita aja, kamu datang ya sekalian reunian." Ucap Weni yang merupakan teman akrab Giska.
"Gimana ya, aku sulit minta izin sama..?" Giska belum sempat menyelesaikan perkataannya, Weni langsung menimpalinya.
"Loe mikirin ijin orangtua?" Nanti aku yang minta sama nyokap, bokap loe, pasti diizinkan deh." Weni masih memaksa.
"Bukan, masalahnya gue sudah_?
"Eh jangan bilang kalau loe sudah married ya." Timpal Weni yang tidak tahu jika sahabatnya sudah berumahtangga.
Disisi lain, ia tidak ingin mengecewakan sahabatnya, namun ia juga bingung, cara izin sama suaminya.
"Baiklah Weni, nanti malam aku akan hadir ke ulang tahunmu." Giska mengakhiri sambungan ponselnya dengan Weni.
Giska bolak balik ke kamarnya dengan perasaan bingung. Ia ingin sekali hadir di ulang tahun sahabatnya dan ingin bernostalgia dengan teman-temannya yang sudah terpisah karena menempuh pendidikan perguruan tinggi di tempat yang berbeda-beda, bahkan ada yang sampai kuliah diluar negeri.
"Bagaimana caranya aku minta izin pada mas Daffin supaya bisa pergi ke pesta ulang tahun Weni?" Giska makin gelisah menentukan keputusan untuk dirinya.
"Kamu kenapa Giska?" Tegur Daffin yang sudah ada dibelakang Giska.
Degg!"
"Bisa nggak kamu datang dengan salam?" Jangan membuatku kaget seperti itu!" Giska duduk di sofa dengan wajah cemberut.
"Kamu mau apa, kelihatannya penting sekali?" Tanya Daffin yang memperhatikan kegelisahan istrinya.
"Aku...aku, hhm!" Apakah aku boleh ke pesta ulang tahun sahabatku Weni?" Tanya Giska hati-hati.
"Apakah pestanya diadakan di rumah sahabatmu itu?"
"Iya benar, di rumah Weni." Jawab Giska bohong.
"Kalau begitu saya antar kamu ke sana." Ucap Daffin.
"Apakah mas Daffin ikut ke pesta juga?" Tanya Giska ketakutan.
"Tidak!" Aku hanya mengantarmu saja lalu pulang, kamu boleh menghubungiku lagu jika acaranya sudah selesai." Ujar Daffin.
"Benarkah?" Mas Daffin tidak apa kalau Giska kumpul dengan teman-teman SMA aku?" Tanya Giska lagi.
"Hmm!" Jawab Daffin singkat.
"Oh so sweet baby, muuuaaacchhh!" Giska langsung spontan memeluk suaminya dan mencium pipi Daffin dengan mesra.
Daffin sangat terkejut dan bercampur senang, melihat Giska begitu bahagia mendapatkan izin darinya.
"Dasar bocah!" Hanya pesta yang ada di pikiran saat ini. Apakah kehidupan gadis-gadis kota seperti itu? berpesta dan berhura-hura hanya untuk mendapatkan kesenangan sesaat. Tapi dia masih muda dengan usia belasan, bagaimana bisa diajak dewasa jika dirinya saja hanya ingin bersenang-senang." Gumam Daffin membatin.
Giska mulai memilih baju yang akan ia kenakan di pesta ulang tahun sahabatnya Weni. Ia ingin sekali menanyakan pendapat suaminya tentang gaun yang akan ia pakai, tapi lagi-lagi Giska tetap pada keangkuhannya karena merasa Daffin tidak begitu memberinya perhatian lebih.
Ketika malam tiba, Giska masih memikirkan gaun yang akan dipakainya, padahal tiga gaun yang sudah ia siapkan di depan matanya saat ini.
Tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam nampak termangu melihat tiga gaun itu.
Daffin yang kesal menunggu istrinya yang terlalu lama berada di dalam walk in closet itu, nekat masuk ke dalam ruang ganti itu.
Betapa terkejut keduanya saling menatap ketika Daffin melihat tubuh se*si istrinya yang terpampang indah di depan matanya.
Giska yang hanya diam terpaku menatap wajah Daffin yang tidak lepas menatap tubuhnya.
Seketika sang junior milik Daffin sudah mengeras dibawah sana karena tertegun melihat kemolekan tubuh istrinya yang aduhai itu.
Daffin buru-buru keluar lagi dengan debaran jantung yang hampir copot dari tempatnya.
"Ah, sial!" Daffin menggerutu kesal karena tidak tahan dengan lekuk tubuh istrinya yang seketika menyiksa pandangannya.
Di dalam ruang walk in closet, Giska berjingkrak kesenangan karena tidak sengaja menggoda Daffin dengan kemolekan tubuhnya.
"Aku mau ko, diperkosa kamu mas Daffin. Lagian aku istrimu, jadi sah-sah saja jika kamu ingin menyerangku dari sisi mana saja." Ucap Giska dengan tersenyum puas karena berhasil mengerjai suaminya.
"Giska!" Cepatlah!" Ini sudah malam, jadi nggak ke pestanya?" Tanya Daffin dari luar sambil menggedor pintu kamar ganti itu.
"Iya sebentar sepuluh menit lagi." Ucap Giska dari dalam walk in closet sambil menahan tawanya.
"Rasain loe!" Emang enak nenangin sang juniormu." Ucap Giska sambil tertawa kecil.
Tidak lama kemudian, Giska melangkah keluar dengan gaun indah yang dipakainya malam itu.
Namun Daffin tidak peduli lagi dengan penampilan istrinya karena dirinya hampir putus asa menenangkan gejolak birahinya yang tak kunjung reda dibawah sana.
"Cih, so jual mahal, padahal butuh. Kalau mau tabrak saja, nggak usah so gengsi kaya gitu. Apa sih yang loe pikirin dari gue?" Sudah secantik ini, masih saja tak berkutik" Gumam Giska membatin.
Daffin mengantar Giska ke rumah Weni. Daffin tidak menemui sahabat Giska itu, ia langsung meninggalkan rumah Weni dan membiarkan Giska bersenang-senang dengan sahabatnya itu.
"Hai Giska!" Ya ampun dari dulu cantiknya nggak pernah pudar deh, jadi iri gue lihat loe." Ujar Weni sangat senang bertemu lagi dengan Giska selama enam bulan terakhir ini.
"Ah, kamu juga Weni tetap cantik nggak berubah." Ujar Giska kalem.
"Tadi siapa yang ngantar loe?" Sopir baru lagi ya, pasti tampan, kenalin dong ke aku?" Tanya Weni penasaran.
"Nggak ko, itu bokap gue, lagian dia pingin pastiin, benar nggak gue ke rumah loe dan merayakan ulang tahun loe." Ujar Giska berbohong kepada sahabat SMA nya ini.
"Ohh..gitu!" Ok kita cabut yuk!" Ucap Weni.
Weni dan Giska buru-buru ke tempat acara. Keduanya sudah ditunggu oleh para teman-teman yang masih satu kelas dulu. Disitu juga ada Reza mantan kekasih Giska.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments