4. PATH 4

"Maafkan aku sayang, aku tidak ingin membuatmu menderita tapi kapan kamu bisa menjadi perempuan sholehah, jika kamu tidak di didik mulai sekarang." Daffin kembali ke kamarnya.

Daffin sedang berpikir keras untuk menebus kesalahannya karena telah membiarkan wanitanya makan mie instan di hari pertama Giska menempati rumahnya.

Giska kembali ke kamarnya dan membuka ponselnya ingin membaca novel di aplikasi novel toon. Ia tidak mempedulikan suaminya sedang menatapnya. Sikap angkuhnya kembali muncul walaupun sebenarnya ia sudah berjanji pada dirinya ingin merubah sifatnya jika sudah menikah dengan Daffin, lelaki tampan yang pertama kali ia sudah jatuh cinta dipertemuan pertama mereka di acara perjodohan beberapa bulan yang lalu.

Daffin yang tidak tahu niat baik istrinya itu menganggap Giska tidak lebih dari seorang gadis angkuh yang perlu dijinakkan agar menjadi wanita yang patuh.

Hari telah menjelang sore, Daffin mendekati istrinya yang sedang sibuk mengotak-atik ponselnya, entah apa yang dilakukan gadis itu saat ini.

"Giska, apakah kamu bersedia mendampingiku bertemu dengan klien ku malam ini?" Tanya Daffin dengan cara berbohong.

"Baiklah aku akan menemanimu malam ini," ucap Giska menyanggupi permintaan suaminya.

"Sekitar ba'da magrib kita pergi, bagaimana?"

"Iya!" Jawab Giska dengan suara berat.

Daffin membuka bajunya lagi didepan Giska sebelum masuk ke kamar mandi.

"Sebenarnya cowok ini mau apa?" Apakah dia sengaja menggodaku atau gimana, kalau dia menginginkan diriku, kenapa nggak melakukan saja, toh aku ini istrinya. Kenapa dia menggubris perkataanku yang melarangnya untuk menyentuhku, oh ini sangat tidak enak, aku ingin merasakan sentuhan suamiku, aku sangat menginginkannya." Ucap Giska sedih.

Di dalam kamar mandi, Daffin memikirkan lagi Giska yang merupakan gadis nakal yang menyukai se*s bebas, itulah sebabnya ia tidak ingin menyentuh istrinya walaupun ia tahu itu dilarang oleh agama, tapi jiwa kelelakiannya yang sangat cemburu dengan masa lalu gadis itu.

Tapi disisi lain, ia sangat tergoda ketika menatap wajah cantik istrinya, apa lagi melihat bibir Giska yang sangat sensual yang memancingnya untuk me***mat bibir istrinya

"Ya Tuhan sampai kapan aku bertahan untuk tidak menyentuh istriku?" Tanyanya membatin.

Sekitar sepuluh menit Daffin membersihkan dirinya karena hampir azan magrib. Ia tidak ingin ketinggalan sholat berjamaah di mesjid walaupun satu rakaat karena itu hal yang tabu baginya.

Giska yang tahu jika Daffin selalu menunaikan sholat jamaah di mesjid, menyiapkan baju dan sarung untuk suaminya. Daffin keluar dari kamar mandi melihat bajunya sudah disiapkan Giska sangat senang.

"Terimakasih istriku," ucap Daffin lalu memakaikan baju kokonya serta sarung yang sudah disiapkan oleh Giska.

"Kamu siap-siap ya, aku pulang dari mesjid kamu harus sudah rapi." Daffin berangkat ke mesjid bersama pelayan laki-laki yang bekerja di mansionnya.

Sepeninggal Daffin, Giska mengambil wudhu dan juga menunaikan sholat magrib di kamarnya. Giska melakukan sholat jika suaminya sudah berangkat ke mesjid dan jika sudah pulang ia akan menyimpan rapi mukenanya agar tidak terlihat oleh suaminya.

Giska tidak ingin perubahannya diketahui oleh Daffin, ia tidak ingin suaminya merasa bahwa dirinya diam-diam belajar agama lebih mendalam sebelum mereka menikah.

Usai sholat Giska berdandan secantik mungkin dengan baju yang begitu sopan walaupun tanpa hijab. Giska mengenakan rok panjang dan baju lengan panjang. Penampilannya yang sangat anggun malam ini membuat Daffin yang baru pulang sholat terpesona dengan istrinya yang masih berusia 18 tahun ini.

"Kamu sudah siap?" Daffin meletakkan sajadahnya dan Giska mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan suaminya.

"Assalamualaikum mas Daffin!" Ucap Giska lembut.

Degg!

Wajah Daffin langsung merona merah mendengar istrinya memanggilnya dengan embel-embel sebutan mas diawal namanya.

Daffin membelai rambut panjang istrinya ketika Giska mengecup tangannya. Giska mendongakkan wajahnya menatap wajah suaminya dan tersenyum manis.

Deg!"

Daffin makin dibuat salah tingkah oleh sikap istrinya malam ini.

"Mas Daffin belum ganti baju? Giska sudah siapin di walk in closet." Ucap Giska.

"Tunggu sebentar ya, mas ganti baju dulu." Daffin beralih ke kamar ganti dan memakai busana yang sudah disiapkan istrinya.

"Ternyata kamu bisa menjadi istri yang baik, hanya perlu latihan saja Giska." Daffin kembali mematut penampilannya di kaca.

Ketika Daffin keluar dari kamar ganti, giliran Giska yang takjub dengan ketampanan suaminya. Jika tidak mengingat sumpahnya ingin rasanya dia mencium suaminya.

"Mas Daffin tahukah kau, jika saat ini aku ingin dimanja, dibelai, dicium dan selanjutnya di atas kasur kita berperang. Mengapa kamu menjauhiku? apakah kamu kira aku sudah-- ?"

"Ayo kita dinner di luar?" Daffin memberikan lengannya untuk digandeng oleh istrinya.

Mobil mewah yang dikendarai oleh Daffin sendiri malam itu untuk membawa istrinya ke restoran yang sudah dibooking sebelumnya.

Tiba ditempat itu Giska tidak melihat sosok kline yang dibicarakan oleh suaminya yang akan bertemu mereka malam ini.

"Mana kline mas Daffin?" Tanya Giska ketika keduanya menempati meja dengan papan kecil reseived.

"Tadi ia tiba-tiba membatalkan janji temu malam ini karena ada urusan mendadak, jadi supaya tidak mubazir lebih baik kita yang makan karena orang itu sudah membayarnya." Daffin membohongi istrinya untuk menutupi rasa malunya karena ia yang menginginkan mereka makan malam di luar.

Pelayan restoran itu datang membawa berbagai sajian dengan kereta makanan. Dua pelayan sibuk menghidangkan menu sesuai urutannya yang akan di makan tamu mereka malam ini.

Daffin yang sudah tahu menu makanan kesukaan Giska memesan semuanya agar gadis

ini mendapatkan kembali selera makannya karena tadi siang hanya makan mie instan.

Giska pun tidak mengatakan bahwa apa yang ada di atas meja ini adalah semua makanan kesukaannya karena ia tidak ingin Daffin tahu apa saja yang menjadi favoritnya.

"Apakah kamu suka sayang?" Tanya Daffin disela-sela mereka menikmati hidangan makan malam saat ini.

Giska tidak menjawab namun anggukan kecil dengan senyum yang sedikit tersipu malu membuat Daffin gemas dengan istrinya yang masih belia ini.

"Apakah kamu masih mau yang lainnya?"

"Tidak mas, aku sudah kenyang." Ucap Giska usai menghabiskan makanan penutupnya.

"Mengapa dia tidak memuji penampilanku, harusnya seorang suami memuji penampilan istrinya ketika ia berdandan cantik di depan suaminya.

Apakah mas Daffin tidak tahu itu?" Giska merasa sangat kecewa dengan sikap Daffin yang terlihat cuek dan tidak peka menjadi seorang lelaki maupun suami.

"Kapan kamu memulai kuliahmu?" Daffin menyinggung soal pendidikan istrinya.

"Bulan depan,"' ucap Giska nggak semangat.

"Mengapa bahas yang nggak penting sih, harusnya dia mulai menanyakan hal-hal apa saja yang kusukai dan tidak aku sukai atau setidaknya memujiku sedikit saja, apa susahnya mas Daffin. Mengapa kamu sangat pelit dengan pujian?" Ucapnya membatin.

Karena sama-sama jaim, akhirnya keduanya memilih pulang ke mansion dan tidak ingin membahas hal lainnya.

Di perjalanan, Daffin tidak tahu lagi harus ngomong apa, ia hanya menatap lurus jalanan ibukota hingga tiba di mansionnya.

Seperti biasa Giska sibuk dengan ponselnya, melihat wa group teman SMA nya, tanpa mau memulai percakapan lagi dengan suaminya.

Setibanya di mansion, Daffin dan Giska langsung masuk ke kamar mereka dan sesuai kesepakatan keduanya tetap memilih tidur terpisah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!