"Bibi ingin menghubungi keluarga non Giska tapi takutnya mereka panik Tuan, kalau tahu non Giska tidak ke tempat mereka dan ponsel non Giska juga tidak aktif." Bi Ima memberi alasan yang masuk akal pada majikannya.
"Baiklah bibi, saya yang akan ke rumah mertua saya, mungkin Giska lupa memberikan kabar atau punya alasan lain." Ujar Daffin lalu kembali ke mobilnya.
Daffin juga sekarang terlihat panik, ia takut kalau sampai ke kediaman mertuanya, jika Giska tidak ada di sana, ini akan menjadi pertanyaan besar bagi mereka.
"Daffin tumben pagi-pagi ke sini nak, ada apa?" Tanya Nyonya Nunung ketika melihat Daffin turun dari mobilnya.
"Nggak bunda, pingin bertamu saja." Jawab Daffin.
"Kenapa nggak aja Giska?"
Degg..
"Berarti Giska tidak menginap di sini." Gumamnya membatin.
Karena tidak ada Giska, Daffin akhirnya pamit lagi. Ia tidak memberitahukan kepada mertuanya bahwa saat ini ia sedang mencari Giska.
"Ko cepat pamitnya, emang ada apa sih Daffin?" Nyonya Nunung merasa penasaran.
"Nanti saja bunda, Daffin akan menghubungi bunda, sekarang Daffin ada urusan penting. Daffin sudah kembali ke mobilnya.
Di Apartemen milik Reza, Giska di biarkan tidur di kamarnya. Reza belum melakukan apapun, karena Daffin memberinya obat bius. Ia menunggu Giska sampai sadar kembali.
Karena semalaman nggak bisa tidur menunggui Giska, Reza akhirnya tertidur pulas di sofa yang ada di kamarnya. Ketika Reza tertidur, Giska baru mengerjapkan matanya. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, ia merasa sangat asing dengan tempat tidur yang bukan miliknya.
Giska berusaha duduk, kepalanya rasanya sangat berat dan saat ia hendak turun dari tempat tidur itu, ia melihat Reza sedang tertidur pulas di sofa di sudut kamar lelaki itu.
"Bajingan! rupanya dia yang telah menculikku." Giska bangkit dan berjalan perlahan menuju pintu kamar Reza.
Ia berjalan dengan perlahan-lahan. Ia tidak ingin sampai ketahuan oleh Reza. Setelah dirasanya aman ia langsung lari menuju pintu utama, baru saja dia ingin membuka pintu itu, ternyata pintu kamar apartemen milik Reza harus di buka dengan kata sandi.
"Kurangajar, bagaimana bisa aku kabur dari sini." Gumamnya lirih.
"Apakah kamu ingin kabur Giska?" Tanya Reza dengan senyum menyeringai menatap wajah cantik Giska yang kini sudah berhijab.
"Mau apa kamu Reza, tolong jangan macam-macam padaku!" Ucap Giska sambil menelan salivanya dengan kasar.
"Aku masih penasaran dengan tubuhmu, sayang karena sudah dua kali aku ingin merasakan apa yang ada padamu, tapi bajingan itu menggagalkannya dan mengaku bahwa dia adalah suamimu, dia bohongkan?" Bentak Reza membuat Giska tersentak.
"Dia benar-benar suamiku yang sah, aku menikah dengannya setelah lulus SMA, aku sengaja tidak memberi tahukan siapapun teman-teman kita karena aku sangat malu menikah muda saat itu." Ucap Giska mengakui semuanya pada mantan pacarnya ini.
"Tidak Giska! kamu bohong Giska!" Teriak Reza dengan sangat murka.
"Benar Reza, demi Allah, ini lihat cincin kawin aku dan KTP-ku sudah berubah status sekarang." Ujar Giska.
"Makin kamu banyak bicara, aku makin tidak mempercayainya." Reza menangkap tubuh Giska, gadis ini berlari kian kemari menghindari tangan Reza.
"Jangan Reza! aku mohon padamu jangan sakiti aku!" Aku tahu kita memang pernah dekat, tapi aku sekarang sudah menjadi istri orang lain. Tolong aku! siapa yang ada di luar sana tolong aku!" Teriak Giska sambil menggedor-gedor pintu apartemen milik Reza.
Reza menarik hijab Giska hingga terlepas, Reza membuang jilbab Giska dan kini, ia seperti iblis ingin menerkam mangsanya yang sangat ketakutan.
Dengan sekali tarik, rok panjang Giska sobek, beruntung Giska menggunakan celana panjang dari dalam, jadi ia tidak begitu merasa malu.
Ketika tubuh Giska sudah dapat dikuasai oleh Reza, pintu kamar apartemennya di tembak dari luar dan di tendang hingga pintu itu jatuh terpental.
Giska dan Reza sama-sama kaget melihat polisi dan suaminya sudah berada di apartemen Reza. Daffin langsung menghampiri istrinya dengan pakaian yang acak-acakan sedangkan Reza langsung diamankan oleh pihak berwajib dan di gelandang ke kantor polisi.
Giska menangis histeris. Daffin melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh istrinya. Ia juga mencari hijab Giska yang mungkin ada di ruangan itu. Setelah mendapatkannya ia menutupi kepala Giska dan menggendong tubuh istrinya ke luar dari kamar apartemen Reza sebelum kedatangan wartawan.
"Kamu tidak apa sayang?" Tanya Daffin ketika sudah berada di dalam mobilnya.
"Aku diculik sama bajingan itu....hiks...hiks." Ucap Giska sambil berurai air mata.
"Aku tahu sayang, feeling ku sangat kuat ketika menyadari kamu sulit di hubungi dan keluargamu tidak tahu menahu tentang penculikan ini, sekarang kita pulang ya." Daffin menjalankan mobilnya menuju mansion.
Giska merebahkan tubuhnya di kamarnya, Ia merasa sangat syok dengan kejadian barusan yang terjadi padanya. Beruntunglah Daffin datang tepat waktu sebelum Reza memperkosa dirinya.
"Aku takut mas Daffin!" Ujar Giska yang masih membayangi dirinya dibekap oleh Reza dari belakang jok mobil.
"Bagaimana bisa kamu diculik oleh bajingan itu Giska?"
"Semalam lampu yang ada di tempat parkir sangat gelap. Aku sangat ketakutan dengan gelap mencari mobilku yang aku sendiri lupa letak parkirnya.
Aku sengaja memencet tombol kontak mobil, dengan berharap bisa menemukan mobilku lebih cepat. Dan ternyata ketika aku berada di dalam mobil itu, Reza sudah berada di dalam mobil dan langsung membekapku dengan cairan obat bius." Ucap Giska.
Daffin yang mendengar cerita istrinya makin geram dengan mantan kekasih istrinya itu. Namun ia masih memikirkan reputasi dua keluarga yang akan menjadi korban wartawan yang akan mengekspos berita ini ke masyarakat dan itu akan menghancurkan perusahaan yang mereka miliki saat ini.
Daffin meminta polisi untuk tidak membawa kasus ini ke media. Polisi pun mengerti posisi Daffin yang merupakan pengusaha dan juga memiliki keluarga dari kalangan cendikiawan.
Kasus itu ditutup dan Reza di tahan selama satu tahun penjara.
Setelah kejadian itu, Giska tidak berani lagi pergi keluar sendiri membawa mobilnya.
🌷🌷🌷🌷🌷
Sejalannya waktu, setelah dua bulan kejadian itu, Giska mengalami mual yang amat sangat, kepalanya sulit sekali diangkat. Ia lebih banyak mengurung diri di kamarnya. Ia malas melakukan aktivitas apapun.
Bahkan melihat matahari pun ia segan. Daffin mengira istrinya sakit, ia menyentuh tubuh Giska suhunya biasa saja masih dalam kategori normal.
"Kamu kenapa sayang, nggak mau keluar di luar? Mengapa jadi pemalas?" Tanya Daffin seraya memeluk tubuh istrinya.
"Tidak tahu sayang, aku tiba-tiba jadi pemalas, aku sudah berusaha bangun tapi kepalaku sangat pusing." Ucap Giska dengan nada suara yang makin lemah.
"Mungkin kamu kena anemia sayang, nanti kita ke dokter saja untuk memastikan keadaanmu." Ucap Daffin.
"Aku malas ke mana-mana mas Daffin, aku ingin di kamar saja." Giska merengek manja pada suaminya.
"Nanti kamu pakai kursi roda saja kalau kamu malas jalan atau aku yang akan menggendongmu." Ucap Daffin.
"Kalau begitu gendong aku," ucap Giska meledek suaminya.
Keduanya terkekeh dan saling bercanda. Walaupun begitu Giska tidak ingin mengecewakan suaminya. Ia siap berangkat ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya.
"Mas Daffin tolong petik jeruk Santang yang ada di kebunku." Pinta Giska.
"Oh iya, harusnya kita panen sekarang sayang karena hampir semua tanamanmu siap di panen.
Sekarang kita tidak perlu beli sayur dan lainnya karena semuanya sudah tersedia di kebun kita." Ucap Daffin yang begitu senang melihat taman belakang mansion milik mereka penuh dengan segala mac kebutuhan olahan masakan.
Giska juga yang senang piara ayam dan juga kambing di rumahnya. Hanya sapi yang tidak di ijikan Daffin karena perawatannya yang cukup repot.
Daffin mengajak istrinya untuk memetik buah jeruk di kebun mereka.
Giska memaksakan dirinya untuk melihat suaminya mengambil buah jeruk yang ada di kebun mereka.
Giska meminta Daffin mengupas jeruk untuknya.
"Ya Allah, mengapa istriku makin manja begini?" Gumam Daffin lirih.
Ia memberikan buah jeruk yang dikupasnya untuk istrinya.
Giska memakan hasil panen dari tanamannya.
"Sangat manis jeruknya sayang, seperti kamu." Ujar Daffin yang ikut menikmati buah jeruk itu.
"Alhamdulillah, tidak sia-sia aku menanam ini semua.
"Ba'da ashar kita ke rumah sakit ya sayang!" Daffin mengingatkan istrinya untuk memeriksa keadaan Giska yang masih saja mual walaupun sudah makan jeruk.
Giska mengangguk dan meminta suaminya untuk menggendongnya membawa lagi dirinya ke kamar mereka.
*
*
Suasana sore hari, ketika matahari sudah tidak begitu kuat memancarkan cahaya panasnya, Giska dan Daffin memutuskan untuk memeriksa keadaan Giska yang saat ini terlihat kurang sehat.
Di tengah perjalanan menuju rumah sakit, Giska melihat banyak sekali makanan yang di jajakan di pinggir jalan raya. Giska meminta suaminya untuk berhenti sejenak karena tergiur dengan makanan yang ada di sekitar area jalan raya tersebut.
"Mas Daffin!" Aku mau makan soto mie." Pinta Giska.
"Nanti saja sayang kalau sudah pulang dari rumah sakit." Ujar Daffin.
"Aku maunya sekarang, tolong berhenti!" Giska makin merengek.
"Ok sayangkuh, tunggu ya kita cari tempat parkir yang agak kosong." Ucap Daffin sambil melihat kanan kiri tempat yang bisa mereka parkir.
Keduanya turun menghampiri kedai soto mie. Giska memesan dua soto mie Bogor.
Ketika menyantap soto mie, Giska menambahkan banyak jeruk nipis kedalam mangkuk soto mie miliknya.
"Sayang, nanti kamu sakit perut kalau kebanyakan makan yang asam." Daffin melarang istrinya yang sudah memeras tiga buah jeruk nipis di mangkuk soto mie.
"Ini sangat segar sayang, cobain deh!" Giska menawarkan soto miliknya pada Daffin.
"Nggak...nggak, sayang!" Buat kamu saja." Ucap Daffin dengan menahan tangannya menolak suapan dari istrinya.
Keduanya menyelesaikan makanan mereka, lalu bergegas menuju rumah sakit.
Diruang kerja dokter Tiara, Giska diperiksa. Dokter Tiara bertanya dengan pertanyaan umum sekitar sirkulasi menstruasi Giska.
"Apakah haidnya lancar mbak Giska?" Tanya dokter Tiara.
"Sepertinya dua bulan ini, aku tidak haid dokter, biasanya juga suka terlambat jadi aku tidak mempedulikannya." Ucap Giska.
"Kalau begitu saya minta anda ke toilet dan bawa wadah ini untuk mengisi air seni anda mbak Giska!" Titah dokter Tiara.
Giska melakukan apa yang diperintahkan oleh dokter padanya. Sekitar lima menit kemudian ia memberikan wadah yang sudah berisi air seninya. Dokter kemudian meminta suster untuk melakukan sesuatu dengan air seni milik Giska.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments