19. PART 19

Setelah mencurahkan semua permasalahannya, tentang kemelut rumah tangganya kepada dokter Yayat, Davin pulang dengan membawa setumpuk kesedihannya.

Ia menangis meratapi kebodohannya karena telah melepaskan permata hidupnya yang sangat berharga tanpa telusuri kebenarannya terlebih dahulu.

Di tengah perjalanannya menuju mansion, Ia baru ingat sesuatu. Ia kemudian memutar balik arah mobilnya menuju rumah sakit yang pertama kali ia datangi, untuk memeriksa kesuburannya.

Kebetulan hari itu jadwal praktek dokter Irwan, jadi mudah baginya menuntut dokter itu. Setibanya di rumah sakit tersebut, ia memarkirkan mobilnya dengan sangat gusar.

Ia lalu turun dari mobilnya dan kembali membanting pintu mobilnya itu dengan sangat kasar.

Ia kemudian mendatangi ruang praktek dokter Irwan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Dengan serta-merta tanpa memikirkan sopan santun ia langsung melemparkan tiga laporan medis diatas meja kerja dokter Irwan. Dokter Irwan tersentak melihat wajah murka seorang Davin yang menatap matanya dengan tatapan membunuh

"Ada apa ini Tuan Davin?" Tanya Dokter Irwan yang sudah yang sedikit terpancing emosi lalu berusaha mengendalikan perasaannya menghadapi pasiennya ini.

"Bisakah dokter jelaskan itu semua padaku?" Tanya Davin dengan menunjukkan ketiga laporan medis yang salah satunya berasal dari dokter Irwan.

" Apa maksud anda Tuan Davin?" Tanya dokter Irwan tidak mengerti.

"Lihatlah surat laporan medis yang anda keluarkan untuk saya, di laporan itu menyatakan aku mandul, sedangkan ketika aku memeriksa ulang kesuburanku di dua rumah sakit yang berbeda, ternyata laporan medis dari dua dokter yang berbeda itu, menyatakan bahwa kesuburan aku sehat dan normal. Itu berarti kesuburan ku tidak bermasalah dokter.

Sekarang aku mau menanyakan kredibilitas anda sebagai dokter disini di rumah sakit ini, yang telah melakukan kesalahan karena mendiagnosa laporan medis kesuburan ku yang tidak valid.

Aku akan menuntut anda pada direktur rumah sakit ini, karena anda sudah melakukan mal praktek kepada saya." Ucap Daffin yang tidak main-main dengan ancamannya.

"Sebentar Tuan Daffin, beri saya kesempatan untuk menelusuri kebenaran ini, pasti ada satu kesalahan teknis yang terjadi di Lab. rumah sakit ini.

Saya mohon anda tidak ceroboh menuntut rumah sakit ini dan saya, karena telah memberikan laporan medis yang palsu pada anda." Dokter Irwan berusaha meminta kesempatan pada Daffin agar pria tampan ini mau menerima alasannya.

"Baik saya tunggu hasil medis anda sekarang! tidak ada hari esok" Ucap Daffin membuat dokter Irwan menelan salivanya dengan kasar.

Dokter itu melakukan pemeriksaan ulang kesuburan Daffin. Daffin menunggu hasil tes kesuburannya itu di depan ruang praktek dokter itu yang ia beri kesempatan dalam waktu dua jam.

Daffin menunggu dengan sabar sambil membuka aplikasi ponselnya. Ia membuka galeri foto yang ada di ponselnya. Ia melihat lagi foto-foto cantik istrinya.

Ia juga mengingat lagi cerita semua orang desa yang merupakan warga kampungnya sendiri. Bagaimana peran istrinya yang secara tidak langsung membangun pesantren dan desanya. Nama istrinya lebih harum di sana, dari pada dirinya yang merupakan warga asli desa tersebut.

Ia membantu desanya jika petugas desa mengajukan proposal proyek pembangunan desa padanya, baru ia sumbangkan dananya. Jika tidak ada kebutuhan yang dibutuhkan desa padanya, ia mendiamkannya.

Beda dengan istrinya Giska, yang mendekati para warga itu secara persuasif, menanyakan apa saja keluhan mereka terhadap pekerjaan ataupun kesulitan perekonomian mereka atau warga yang terlilit hutang karena terjerat oleh rentenir, Giska menyelesaikan dengan caranya sendiri, secara diam-diam. Tapi uang yang digunakan Giska untuk membantu warga desa bukan berasal dari Daffin.

Daffin menarik nafasnya berkali-kali. Rasa sesak di dadanya yang tidak dapat tertampung saat ini. Ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi istrinya yang saat ini sedang terbaring lemah di rumah sakit karena depresi yang ditimbulkan olehnya.

"Giska, apa yang harus aku lakukan padamu sayang?" Bulir bening itu sudah terurai dengan sendirinya.

"Selamat sore Tuan Daffin!" Sapa seorang suster yang memanggil namanya.

"Ada apa suster?"

"Anda ditunggu di ruang direktur rumah sakit ini," ucap suster Yuni.

Daffin melangkah mengikuti arahan suster Yuni menuju ruang direktur rumah sakit tersebut.

"Silahkan masuk Tuan Daffin!" Anda sedang di tunggu di dalam." Ucap suster Yuni lalu membuka pintu ruang kerja itu dan menutupinya kembali.

Di dalam ruang kerja direktur utama rumah sakit itu, sudah ada dokter Irwan dan dokter Priyono sebagai direktur utama rumah sakit itu serta kepala penanggung jawab laboratorium rumah sakit tersebut.

"Silahkan duduk Tuan Daffin!" Titah dokter Priyono.

Daffin mengambil tempat di sofa tunggal yang disediakan untuknya di ruang tamu yang ada di dalam ruang kerja direktur utama rumah sakit tersebut.

"Begini Tuan Daffin, tentang laporan medis yang dikeluarkan oleh pihak rumah sakit kami oleh dokter Irwan, ternyata ada suatu sabotase yang dilakukan oleh salah satu perawat kami yang kebetulan saat ini beliau sedang off kerja.

Mungkin nanti malam ia akan bertugas. Tapi, kami tidak tahu apa kepentingan gadis ini dengan menukar sampel anda dengan sampel pasien lain.

Kami punya buktinya karena di ruang Lab ada terpasang CCTV tersembunyi yang tidak di ketahui semua pekerja lab, karena ingin menjaga sesuatu yang terjadi seperti yang dilakukan oleh perawat kami." Ucap dokter Priyono menjelaskan keadaan yang sebenarnya pada Daffin.

"Boleh saya lihat CCTV itu dokter?" Pinta Daffin yang ingin tahu siapa di balik dalang kekacauan ini.

"Sebentar!" Dokter Priyono mengambil laptopnya dan memperlihatkan tayangan oknum perawat yang sengaja menyabotase sampel milik pasiennya.

Daffin memperhatikan bentuk tubuh seorang perawat yang sedang menukar sampel miliknya dengan sampel pasien lain. Awalnya belum berapa jelas karena gadis itu menggunakan hijab serta masker, namun ketika sudah menyelesaikan misinya, gadis itu membuka maskernya dan melihat kanan kiri untuk memastikan tidak ada yang melihatnya.

Degg..

"Astaghfirullah!"

"Bukankah itu Dita?" Ujar Daffin dengan wajah tercengang menatap dua dokter di depannya sambil menunjuk oknum perawat itu di laptop milik dokter Priyono.

"Apakah anda mengenal dekat perawat Dita Tuan Daffin?" Tanya dokter Priyono.

"Aku sangat mengenalnya dokter, dia adalah adik kelasku saat ia masih menjadi santriwati di pesantren milik keluarga aku." Ujar Daffin secara lugas pada kedua dokter yang ada di hadapannya.

"Apakah kalian pernah terlibat hubungan kekasih ketika masih sekolah?" Tanya dokter Irwan.

"Dia dulu menyukai aku, tapi sifat agresifnya membuat aku tidak menyukainya. Aku menolaknya saat itu dengan alasan ingin fokus belajar. Tapi di hari aku ingin melakukan pemeriksaan dan menunggu giliran dipanggil oleh dokter Irwan, dia sempat menegurku dan kami terlibat obrolan sebentar.

Setelah itu aku pamit padanya karena sudah di panggil oleh dokter Irwan saat itu." Daffin menjelaskan keterkaitan dirinya dengan perawat Dita yang sekarang sudah menjadi tersangka utama dalam kasus penukaran sampel miliknya.

"Baiklah Tuan Daffin kami akan menindaklanjuti kasus ini sesuai dengan kebijakan rumah sakit ini." Ujar dokter Priyono.

🌷🌷🌷🌷🌷

Daffin pulang ke mansionnya dengan perasaan kecewa. Langkah kakinya menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya.

"Tuan Daffin sudah pulang?" Tanya bibi Ima yang menghentikan langkah Daffin ketika lelaki ini sudah mencapai puncak anak tangga.

"Bibi!" Apa yang bibi katakan tentang hasil tes milikku benar adanya. Aku sudah mencoba melakukan dua tempat yang berbeda dan ternyata hasilnya akurat yang menyatakan kesuburanku normal.

Itu berarti Giska saat mengandung bayiku, buah hati kami... hiks.... hiks." Daffin tertunduk lesu.

"Bibi tidak bisa menolong tuan Daffin kecuali Allah. Mintalah petunjuk dari Allah semoga Tuan diberikan kekuatan dan solusi dari masalah ini." Ucap bibi Ima.

"Apakah Giska mau memaafkan aku bibi? setelah apa yang telah aku lakukan padanya?"

"Tuan yang lebih tahu jawabannya dari pada bibi, karena tuan yang telah menyebabkan semua ini terjadi.

Tuan memulangkan nona Giska tanpa mempertimbangkan kondisinya yang sedang hamil dan menuduhnya berzina dan lebih menyakitkan hatinya dengan menceraikan dirinya tanpa belas kasih." Ucap bibi Ima.

"Aku memang salah bibi namun, aku bingung untuk memperbaiki kesalahanku kepadanya. Dia pasti sangat membenci diriku bibi dan tidak akan memaafkan diriku karena dia telah bersumpah kepadaku saat aku gigih ingin menceraikan dirinya." Daffin menyesali perbuatannya.

"Jangan jadi lelaki pengecut Tuan Daffin karena awal mula tragedi ini karena anda yang menciptakannya sendiri. Keluarga anda dan juga nona Giska sendiri sudah berkali- kali mengingatkan anda, namun tak satupun nasehat baik dari mereka anda gubris.

Berani berbuat berarti harus berani bertanggungjawab apapun itu hasilnya untuk mendapatkan kembali cinta nona Giska.

Mumpung belum terlambat karena mbak Giska masih dalam masa Iddah, itu berarti kesempatan untuk Tuan Daffin memperbaiki kesalahan yang Tuan Daffin perbuat kepadanya bisa termaafkan karena sebentar lagi dia akan melahirkan." Ucap bibi Ima menasehati panjang lebar kepada Tuannya itu.

"Ternyata bibi untuk nasehatnya dan saya akan berusaha untuk memperbaiki kesalahan saya kepada Giska. Mohon doanya bibi Ima, semoga Allah membolak balikkan hati Giska untuk menerima permohonan maaf dari saya." Ucap Daffin lalu kembali ke kamarnya.

Dikamar Daffin mengambil album foto pernikahannya dengan Giska yang belum sempat ia buang di kala dirinya dikuasai oleh amarahnya saat itu.

Daffin menatap wajah cantik Giska yang menggunakan hijab saat mereka menikah.

Foto Giska yang berdiri sendiri saat ia turun dari tangga menghampiri dirinya dan ingin menyalami Daffin yang kala itu menunggu Giska untuk menyerahkan mas kawin pada istrinya.

"Giska....hiks..hiks!" Aku kangen sayang." Daffin memeluk album foto colase itu dengan erat.

"Mengapa aku tidak mendengarkan mu saat itu?" Mengapa aku harus membuatmu menderita terlebih dahulu baru mau memperbaiki diriku setelah menyadari kesalahan yang aku perbuat kepadamu sayang. Apakah kamu siap memaafkan aku?" Daffin bermonolog.

Malam makin larut, Daffin sulit memejamkan matanya karena terlalu memikirkan Giska saat ini.

Ia kemudian mengambil air wudhu untuk melakukan sholat tobat. Usai menunaikan sholat tobat ia melanjutkan dengan membaca ayat suci Al-Quran untuk bisa menenangkan dirinya yang saat ini sedang galau berat.

"Ya Allah, berikan jawaban terbaik untukku dari masalah yang sedang aku alami saat ini." Gumam Daffin dalam doanya.

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

PERCUMA AZA TAU AGAMA, TPI LO MAIN TUDUH & FITNAH ISTRI LO TNP MAU CARI KBENARANNYA, STELAH APA YG KAU LAKUKN, BRU LO INGIN CARI KBNARANNYA, DN STELAH TAU KBENARANNYA BARU LO NYESAL, GK PNY OTAK.. ALIM, TPI MSH IKUT HAWA NAFSU IBLIS, GK NYADAR LO YG SLALU TK TAU WAKTU MNTA JATAH MA ISTRI BUAT PNUHI KBUTUHAN BIOLOGIS LOO

2023-01-25

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!