"Apa maksudmu dengan anak zina mas Daffin?" Kapan aku berzina?" Giska berteriak di depan wajah suaminya dengan mata menyalang.
"Di apartemen Reza ketika dia menculikmu, bukankah kamu sudah tidur dengannya?" Daffin menuding istrinya telah berzina dengan Reza, lelaki yang ada di masa lalu Giska.
"Kau,.. jadi kamu merasa anak yang aku kandung ini, anaknya Reza?" Dan kau mengira aku telah berzina, hah...!" Padahal hari itu kamu melihat sendiri bagaimana kerasnya aku untuk melawannya agar tubuhku tidak dijamah oleh lelaki biadab itu, bukankah kamu melihat itu?" Giska balik bertanya dengan tegas pada suaminya yang meragukan kesuciannya.
"Bagaimana dengan malam itu, bukankah dia sedang menahanmu dan kamu dalam keadaan tidak sadarkan diri karena telah dibiusnya?" Daffin makin menyudutkan Giska dengan pertanyaannya yang begitu menyakitkan.
"Sudah diam!" Bentak Tuan Ruslin yang tidak tahan lagi melihat perdebatan suami istri ini.
"Daffin katakan kepada ayah! mengapa kamu yakin sekali kalau anak yang dikandung Giska bukan bayimu?" Tuan Ruslin bertanya dengan nafas yang memburu karena amarah.
Daffin mengeluarkan surat dari dokter dan menyerahkan kepada ayah mertuanya.
"Di laporan medis itu menyatakan aku mandul!" Bagaimana aku bisa punya anak kalau aku mandul ayah.
Degg..
Giska tidak percaya dengan hasil medis suaminya. Daffin meninggalkan mansion mertuanya dengan mengucapkan salam.
Kedua orangtua Giska hanya terpana dan saling menatap. Dalam hati mereka meyakini putri mereka Giska tidak mungkin berbohong, tapi melihat kenyataan bahwa surat ini dari dokter yang merupakan laporan medis secara akurat milik Daffin membuat mereka juga tidak bisa ingkar.
"Astaghfirullah!" YaAllah bagaimana ini ayah? tidak mungkin aku hamil anak orang lain ayah, ini anak kandung mas Daffin, aku bersumpah ayah...hiks ..hiks...,!" Giska makin terisak menerima tuduhan suaminya yang tidak berdasar.
"Hanya tes DNA yang bisa membuktikan kebenarannya sayang," ucap Nyonya Nunung menenangkan putrinya.
"Tidak bunda!" Jika kalian lakukan itu sama saja kalian juga menuduhku berbuat zinah." Seru Giska yang langsung lari ke kamarnya.
"Giska tunggu dulu sayang, bunda tidak menuduhmu seperti itu, hanya saja suamimu meragukanmu, makanya dengan cara tes DNA akan mengungkapkan kebenarannya, tolong lihatlah posisimu saat ini sayang!" Bundanya membelai rambut panjang putrinya yang saat ini sedang menangis sambil tidur diatas kasurnya.
"Bunda, aku tahu hidupku dulu tidak baik, aku bukan anak sholehah seperti yang bunda dan ayah harapkan, tapi semenjak bertemu dengan mas Daffin menjadi istrinya, Giska berusaha menjadi istri yang sholeha untuknya, membenahi akhlak Giska dan menjaga nama baiknya.
Sekarang Giska tidak mengerti saat dia mengharapkan sekali punya bayi dari Giska tapi malah menuduh Giska berzina, apa yang harus Giska lakukan?" Walaupun harus melakukan tes DNA, itu sama saja kalian meragukan perubahan Giska dan itu adalah tuduhan yang secara tidak langsung untuk Giska." Ujar Giska dengan tetap menangis.
"Bagaimana maunya Giska sekarang supaya menolak tuduhan itu dan membuat Daffin percaya padamu?"Tanya Nyonya Nunung pada putrinya.
"Aku ingin mas Daffin melakukan lagi tes kesuburannya di rumah sakit lain dengan pengawasan kita, agar semuanya jelas." Ujar Giska.
"Baiklah sayang!" Tidurlah! tenangkan pikiranmu dan jangan terlalu setress karena tidak baik untuk bayimu," ucap Nyonya Nunung lalu meninggalkan kamar putrinya.
Giska masih saja menangis karena hatinya masih kesal dengan tuduhan yang dilayangkan oleh suaminya yang sangat menyakitkannya.
"Mas Daffin, mengapa kamu tega menuduhku seperti itu? berarti selama ini kamu belum yakin akan cinta dan niat baikku untuk merubah sifat burukku....hiks...hiks!"
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Seminggu di mansion orangtuanya, Giska menanti ada kabar baik dari suaminya itu, jika ia akan melakukan lagi tes kesuburannya. Alih-alih kabar baik yang datang, justru kabar buruk yang menyapanya dengan surat perceraian yang didapatkannya.
Giska menerima surat itu dari pelayannya. Ia membacanya dengan tangan gemetar diiringi air mata yang membasahi pipinya.
"Tidakkkk..!" Mas Daffin jahat." Giska berteriak histeris, Ia melemparkan apa saja yang ada di kamarnya.
"Mengapa kamu tega melakukan itu padaku? begitu burukkah aku dihadapanmu? sehingga kamu memilih mempercayai hasil medis itu dari pada istrimu sendiri. Ujian apa ini ya Allah?" Tangisnya terdengar menyayat hati ibunya yang berada di luar kamarnya.
Tuan Ruslin yang mendengar jika Daffin melayangkan surat gugatan cerai pada putrinya, langsung menghubungi Kyai Azzam. Ia tidak terima dengan keputusan yang terkesan terburu-buru seperti ini.
Kiyai Azzam dan ummi Alya langsung terbang ke Jakarta menemui besan mereka untuk berdiskusi mengenai permasalahan anak-anak mereka.
Sebelum menemui besan mereka, Kyai Azzam terlebih dahulu menemui putranya di mansionnya, ia ingin mendengarkan sendiri penjelasan dari putranya itu.
Daffin menceritakan alasannya, mengapa ia harus menceraikan istrinya Giska, orangtuanya mendengarkan penjelasan Daffin dengan seksama. Setelah itu Kyai Azzam mulai memberikan berapa pandangannya dengan kasus yang terjadi pada keluarga putranya.
"Daffin, apakah kamu yakin dengan keputusanmu?" Tanya Kyai Azzam pada putranya.
"Aku sangat yakin Abah, kalau anak yang dikandung Giska bukan anakku karena Giska pernah diculik oleh mantan pacarnya, bisa jadi lelaki itu telah memperkosanya atau juga mereka berdua telah berzina dengan sengaja ayah." Ucap Daffin lagi.
"Bagaimana jika doktermu yang keliru atau melakukan kesalahan pada sampel milikmu?" Tanya Kyai Azzam.
"Tidak ayah, dokter itu seorang yang profesional, ia tidak mungkin salah dalam melakukan tugasnya.
"Daffin, pikirkan lagi niatmu yang ingin menceraikan Giska dengan baik-baik nak, kita sama-sama tahu Giska memang sebelumnya gadis liar, tapi seorang wanita akan meninggalkan hal buruk di masalalunya dan ingin merubah akhlaknya demi Allah dan kekasihNya, juga demi dirimu sebagai suaminya. Ia tidak akan melanggar sumpahnya hanya karena kenikmatan sesaat yang menyesatkan dirinya." Ucap Nyonya Alya memberikan pendapatnya.
"Jika kamu ingin menceraikannya, setidaknya tunggulah bayi itu lahir dan biarkan hasil medis yang membuktikan bayi siapa yang ia kandung agar kamu tidak akan menyesal nantinya." Sambung ummi Alya.
"Tidak ummi! tidak perlu tunggu tes DNA, aku tetap tidak ingin lagi Giska menjadi istriku karena aku yakin anak itu bukan darah dagingku." Daffin tetap pada pendiriannya yang ingin menceraikan istrinya.
"Baiklah Daffin, jika tuduhanmu itu tidak berdasar, maka kamu jangan menyesalinya suatu hari nanti. Giska tidak akan menerimamu walaupun kamu harus menangis darah!" Timpal ummi Alya lalu meninggalkan putra dan suaminya di ruang keluarga.
Ummi Alya merasa sangat tidak enak bertemu dengan besannya. Hati kecilnya percaya bahwa Giska mengandung cucunya.
"Ya Allah, berilah kami petunjuk jangan biarkan kami dalam keragu-raguan seperti ini. Tunjukkan yang batil maupun yang haq." Ucap ummi Aliya bermonolog.
Keesokan harinya, keluarga dari pihak Daffin bertandang ke rumah besannya, untuk membahas kembali perihal yang sama. Karena kemauan keras Daffin yang ingin bercerai dari Giska membuat kedua orangtuanya pasrah dengan keputusan putranya.
Kedatangan kedua orangtuanya Daffin membuat keluarga Giska sedikit bernafas lega. Mungkin kedatangan kyai Azzam bisa mencairkan ketegangan antara Giska dan Daffin agar keduanya tidak bercerai.
Giska turun ke lantai bawah ketika melihat kedua mertuanya datang menemuinya.
Wajah sembab dengan kelopak mata yang sudah bengkak menandakan Giska sangat terpukul saat ini.
"Ummi!" Giska makin mewek di depan ibu mertuanya.
"Sayang!" Ummi Alya memeluk menantu kesayangannya itu.
"Ummi demi Allah, ini anaknya mas Daffin Ummi. Giska tidak pernah tersentuh oleh tangan lelaki manapun sampai mas Daffin sendiri yang mendapatkan kesucian Giska." Giska mengakui semuanya pada ibu mertuanya.
"Iya sayang, ummi sangat percaya dan sangat yakin atas dirimu. Kamu adalah anak yang baik, putri yang manis dan menantuku yang hebat, sayang." Ummi Alya memeluk lagi tubuh Giska dengan perut Giska yang sudah membesar.
"Ummi, apakah mas Daffin tega membuang darah dagingnya sendiri demi keegoisannya yang lebih percaya hasil tes kesuburannya dari pada istrinya sendiri?" Tanya Giska yang masih berharap suaminya datang membawa pulang lagi dirinya ke mansion mereka.
"Saat ini, setan sedang mengusai jiwanya nak, hingga ia tidak ingin mendengarkan siapapun saat ini, termasuk kami orangtuanya." Ujar Kyai Azzam.
Giska makin lemas mendengar penuturan ayah mertuanya yang dianggapnya bisa membantu menyatukan kembali cinta mereka.
"Apa maksud Abah berkata seperti itu?" Tanya Giska.
"Ia lebih meyakini kebenaran dari hasil tes kesuburannya daripada mendengarkan Abah dan Umminya yang meminta dua untuk melakukan ulang tes itu di rumah sakit yang berbeda untuk menghindari kesalahpahaman antara kamu dan dia, nak Giska." Ujar Kyai Azzam.
"Astaghfirullah!" Jika kalian orangtuanya saja tidak ia dengarkan, bagaimana dengan kami yang hanya pangkat mertuanya." Nyonya Nunung menyesalkan sikap Daffin yang terlalu keras kepala.
"Hanya waktu yang bisa menjawab semuanya, nak Giska. Biar dia yang akan menyesali perbuatannya yang telah menghakimi kamu tanpa perasaan. Dia yang akan datang merangkak sambil mengemis cintamu, dia yang akan menangis darah ketika putranya lahir dengan status darah dagingnya.
Kita lihat saja nanti nak Giska, bagaimana ia memperlakukan kamu hari ini, begitu pula yang akan ia tuai nantinya." Ucap Ummi Aliya yang mendukung menantunya Giska dari kezholiman putranya pada Giska.
"Ummi, Maafkan Giska sudah membuat kalian ikut menderita gara-gara keraguan mas Daffin pada Giska." Ucap Giska sambil menangis.
"Sudah sayang!" Jangan terlalu bersedih hati, kasihan bayimu di dalam rahimmu." Ucap Nyonya Nunung kepada putrinya yang setiap saat hanya bisa menangis.
Kedua orangtua Giska dan Giskanya sendiri hanya pasrah menerima nasib mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments