"Pernikahan apaan seperti ini, kaya kuburan saja, tidak ada rayuan ataupun gombal yang terdengar dari mulut Daffin. Ganteng sih tapi sayang, terlalu kaku, aku nggak suka. Apa saja yang ada di otaknya ya sekarang?" Lagi-lagi Giska ngedumel sendiri dengan batinnya.
Tidak terasa, iapun tertidur dengan baju tidur yang sedikit tersingkap bagian perutnya. Daffin yang sejak tadi belum bisa memejamkan matanya melihat lagi istrinya. Ia ingin menatap wajah cantik istrinya tanpa menganggu Giska yang sudah dalam keadaan pulas.
"Kamu seperti boneka kalau tidur seperti ini," ucap Daffin lalu melihat bagian baju piyama Giska yang tersingkap memperlihatkan sedikit gundukan kembarnya.
Daffin menelan salivanya dengan kasar menatap bagian tubuh Giska tepat dibagian yang menggoda imannya. Tapi sayang, rasa cemburunya kembali meracuni pikirannya dan kata-kata yang terlontar dari mulut Giska bahwa ia sudah tidak perawan lagi, membuatnya kembali merasa sangat sakit hati.
Entah kapan dia bisa memaafkan masa lalu istrinya, yang jelas saat ini ia sedang membujuk hatinya agar bisa melupakan masa lalu Giska sebagai wanita yang gampang tidur dengan lelaki.
"Maafkan aku sayang! aku belum bisa menerima masa lalumu yang sangat menjijikkan itu." Ucapnya lalu membenahi selimut milik Giska yang terpisah dari tubuh istrinya itu.
Satu minggu usia pernikahan mereka, dalam satu minggu itu Giska begitu getol belajar memasak, setidaknya ia memasak hanya untuk dirinya karena itu perintah suaminya. Setiap kali sarapan pagi dan makan malam Giska selalu menyiapkan makanannya sendiri.
Siang itu, bibi Ima yang mencium masakan Giska yang membuat liurnya tergoda ingin merasakan masakan nona mudanya. Iapun mendekati gadis itu malu-malu.
"Non, apakah boleh bibi cobain masakan non, kelihatannya sangat enak," ucap bibi Ima sambil menelan salivanya karena tergiur dengan masakan nona mudanya.
"Oh silahkan bibi, aku malah senang kalau bibi sangat menyukainya." Ucap Giska mempersilahkan bibi Ima mengambil sendiri lauk yang dibuatnya.
"Hmmmm!" Ini sangat enak non, jika disiapkan untuk Tuan muda Daffin, pasti beliau akan memuji masakan nona muda." Bibi Ima memberi ide cemerlangnya.
"Benarkah suamiku akan menyukainya?" Tanya Giska dengan wajah berbinar.
"Tentu saja nona, bibi aja ketagihan dengan masakan nona muda apa lagi suami nona." Imbuh BI Ima membuat Giska mengangguk senang.
"Baiklah mulai sekarang aku yang akan memasak untuk suamiku tapi bibi jangan mengatakan kalau ini adalah masakan aku, gimana menurut bibi?" Tanya Giska menatap wajah bibi Ima sangat serius.
"Lha, kenapa dirahasiakan non, bukankah Tuan Daffin akan lebih sayang pada nona jika nona bisa menyenangkan lidahnya dan mengenyangkan perutnya dengan masakan istrinya.
Dengar nona laki-laki itu lebih senang dengan tiga perkara dalam hidup mereka. Yaitu matanya untuk melihat istrinya yang cantik, perutnya saat merasakan masakan yang lezat yang dibuat oleh istrinya dan ketiga ditempat tidur saat seorang istri bisa memuaskan dalam melayaninya ditempat tidur." Ucap bibi Ima panjang lebar membuat Giska tersipu malu.
"Ah, bibi bisa aja mengatakan itu." Ujar Giska terkekeh.
"Lha, gini-gini bibi sudah pengelaman non, buktinya pernikahan bibi langgeng sampai suami bibi meninggal dunia lima tahun yang lalu." Bibi Ima menjadi murung ketika mengenang suaminya yang telah pergi untuk selamanya.
Giska mengusap punggung bibi Ima untuk mengurangi kesedihan wanita paruh baya itu.
"Bibi, untuk makanan mas Daffin, mulai sekarang aku yang tangani tapi dengan satu syarat jangan pernah mengatakan itu masakan aku kecuali aku sendiri yang mengatakannya. Kalau dihina oleh mas Daffin tentang masakanku, setidaknya aku tidak begitu malu bibi," ucap Giska sedikit memohon kepada kepala pelayannya ini.
"Baik nona, terserah anda saja bagaimana baiknya, kami hanya bisa mendukungmu yang penting nona muda bisa membahagiakan Tuan muda Daffin." Ujar bibi Ima.
Sore itu, sebelum suaminya tiba di mansion, Giska sudah merapikan masakannya tinggal pelayan yang akan menghidangkannya.
Giska kembali ke kamarnya untuk membersihkan dirinya dan berdandan cantik untuk menyambut suaminya pulang kerja.
Giska menyiapkan semua kebutuhan suaminya, mulai dari baju ganti dan air mandi yang sudah di masukin sedikit aroma terapi untuk merilekskan tubuh dan pikiran suaminya setelah seharian lelah bekerja.
Sekitar pukul lima sore, Daffin tiba juga di mansion, Giska sengaja menunggunya di teras dengan memberikan senyum terbaiknya.
Daffin sangat senang dengan perubahan sikap istrinya yang sudah banyak belajar untuk melayani dirinya.
"Assalamualaikum cantik!" Sapa Daffin sambil tersenyum.
Degg!"
"Apakah baru saja dia memujiku?" Tanya Giska pada dirinya sendiri. Tumben dia memujiku, apakah aku harus bersikap manis juga padanya dengan membalas pujian yang sama? ah, itu sangat memalukan terkesan murahan." Giska merasa bimbang untuk bersikap selanjutnya pada suaminya.
"Aku sudah siapkan air mandi untukmu dan juga baju ganti." Ucap Giska seraya mengambil tas kerja suaminya namun dia lupa mencium tangan Daffin.
Daffin yang salah paham pada istrinya, merasa ia tidak dihargai karena Giska hanya melakukannya setengah hati.
Saling tidak terbuka satu sama lain membuat keduanya sama-sama menunggu siapa diantara mereka yang akan terlebih dahulu memberikan perhatian dan cinta.
Hingga makan malam tiba usai menunaikan sholat isya, keduanya duduk berdua dengan menu makanan yang berbeda.
Pelayan Ima mengambil nasi dan lauk untuk Tuannya, sedangkan Giska hanya melayani dirinya sendiri karena Giska bingung untuk memulai sesuatu, walaupun ia tahu harus melayani suaminya seperti ia melihat ibunya yang selalu melayani ayahnya selama diatas meja makan.
"Ummm!" Tumben bibi Ima, hari ini masakannya sangat enak." Daffin memuji masakan istrinya yang ia sendiri tidak tahu.
Bibi Ima menatap wajah Giska yang kelihatan berbunga-bunga saat ini, ketika mendapat pujian suaminya atas masakannya. Ia hanya menggeleng kepalanya agar bibi Ima menjaga kesepakatan antara mereka berdua. Bibi Ima hanya mengangguk kecewa karena Giska tetap pada pendiriannya.
"Apakah anda menyukainya Tuan?" Tanya bibi Ima mewakili perasaan Giska.
"Tentu saja, ini sangat nikmat, bumbunya sangat pas, sangat cocok di lidah saya, ini sesuai dengan masakan ummi, aku jadi kangen sama ummi." Ujar Daffin yang terlihat sedih karena selama dua bulan mereka menikah, mereka belum sekalipun mengunjungi keluarganya di kota Solo.
"Apakah mas Daffin sedang memikirkan Ummi?" Tanya Giska.
"Iya tapi saat ini aku belum bisa bertemu ummi karena masih ada pekerjaan yang harus aku tangani. Apakah kamu mau mengunjungi orangtuaku Giska?" Daffin menatap wajah cantik istrinya.
"Aku sih mau-mau saja, lagi pula aku ingin sekali bertemu para santri Abah dan Ummi, mungkin aku juga ikutan belajar disana bersama para santriwati atau membantu mereka mengerjakan tugas." Giska memantapkan niat baiknya.
"Aku ingin sekali mengajakmu pulang kampung Giska, jika kamu mau berhijab." Ucap Daffin membatin.
Usai makan malam Daffin mengajak Giska untuk mengobrol. Giska menghargai permintaan Daffin dan menunggu di taman.
Malam ini sangat cerah dengan wajah langit dihiasi kelap kelip bintang di langit yang membentuk beberapa rasi bintang yang menghiasi malam.
Angin sepoi-sepoi menyibak rambut Giska lalu menutupi bagian pipinya.
Giska merentangkan tubuhnya diatas kursi panjang yang terbuat dari kayu membentuk sandaran untuk tempat beristirahat bagi pemilik rumah.
lama Sindy terpaku menatap bintang-bintang di langit.
Daffin menyapanya dan duduk disisi Giska, di bangku sebelah milik Giska.
"Ya Tuhan, jika dia tahu kalau saat ini aku ingin duduk dalam pangkuannya dan bersandar di dadanya yang bidang, pasti aku akan sangat bahagia saat ini.
Tapi mengapa aku diperlakukan seperti tamu dirumah ini? mengapa juga dia selalu menjaga jarak denganku sepertinya aku ini kuman baginya.
Giska menarik nafasnya dalam, membuang rasa kesalnya karena terlalu banyak berharap pada sang suami yang tidak mengerti perasaannya saat ini.
"Apakah aku harus pura-pura jatuh agar mendapatkan perhatian darinya?" Tanya Giska lagi dalam lamunannya.
"Apa yang kamu pikirkan sayang?" Apakah kamu sedang memikirkan aku saat ini?" Tanya Daffin memulai obrolan mereka.
"GR banget!" Ucap Giska sambil mengerucutkan bibirnya.
"Apakah dia tidak membutuhkan belaianku?" Bukankah wanita sangat manja jika berdua dengan suaminya?" Tapi mengapa istriku malah lebih senang menghibur dirinya sendiri dengan diam?" Gumam Daffin membatin
Daffin mulai merasa kesal dengan Giska. Keduanya sama-sama ngedumel apa saja yang menjadi harapan mereka dari pasangan. Tapi sikap Daffin yang juga menunggu tidak akan memberikan dampak apapun pada Giska yang juga angkuh.
"Giska!" Daffin mencoba mendekati wanitanya.
Giska sudah bersiap untuk menunggu kata selanjutnya yang ia harap adalah kata-kata ajaib yang penuh cinta dari seorang Daffin.
"Mengapa dari tadi, kamu lebih banyak menatap langit dari pada menatap wajahku?" Tanya Daffin membuat hati Giska kembali suram.
"Kenapa juga urusan langit dibawa dalam obrolan. Dekati aku ke, lalu peluk aku dan berkata, Giska aku sungguh beruntung memiliki istri seperti dirimu. Bisa kan, dia ucapkan itu padaku, sekali saja, nggak usah banyak-banyak dulu deh." Ucap Giska membatin.
"Giska!" Kenapa tidak menjawab pertanyaanku? ko, jadi bengong gitu sayang." Ujar Daffin yang melihat Giska hanya asyik dalam lamunannya.
"Aku hanya mengagumi alam raya ini mas Daffin. Bagaimana Allah menciptakan begitu banyak bintang hanya untuk menerangi malam." Ujar Giska yang sebenarnya bukan itu yang ia inginkan dari Daffin.
"Oh, pantasan dari tadi kamu kelihatan mikirin banget sampai sedalam itu." Ucap Daffin tersenyum tipis pada Giska.
"Dasar bodoh!" Aku tidak mau tanya begitu, lagian aku juga bisa belajar sendiri dibuku." Gumam Giska membatin.
"Sebenarnya, Allah menciptakan bintang bukan hanya sebagai penghias langit tapi dengan bintang, malaikat akan melempar setan karena berusaha menguping pembicaraan Allah dan malaikat tentang takdir hambaNya, mulai dari urusan jodoh, sakit, kematian dan redjeki yang akan didapatkan hambaNya." Ujar Daffin.
"Untuk apa setan menguping pembicaraan antara Allah dan malaikat?" Tanya Giska yang mulai penasaran dengan ucapan suaminya tentang bintang.
"Karena setan akan menyampaikan apa yang ia dengar itu kepada pengikutnya. Seperti para manusia yang menegang ilmu hitam dan para dukun yang mencari uang dengan cara menipu orang yang ingin dikeruk hartanya dari orang yang membutuhkan jasanya yang bisa melihat masa depan, padahal yang disampaikan setan itu hanya sedikit yang ia tahu karena sudah dilempar duluan oleh malaikat dengan bintang-bintang itu yang biasa kita kenal dengan bintang jatuh, padahal itu hanya batu meteor yang melayang dari langit namun jatuh dan pecah di angkasa sebelum mencapai bumi." Ujar Daffin panjang lebar pada istrinya.
Giska mulai sangat tertarik dengan penjelasan tentang rahasia bintang yang banyak fungsinya selain menjadi penghias malam.
"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments