Sisa kelelahan nampak sangat jelas diwajah keduanya. Senyum kebahagiaan ketika keduanya saling duduk berhadapan. Giska yang sedang bergelayut manja diatas perut suaminya sambil mengalungkan kedua lengannya di leher suaminya.
Sedangkan Daffin masih sibuk menyentuh bagian kenyal diantara dua bukit kembar milik istrinya dengan kedua tangannya.
"Apa masih mau lagi sayang?" Daffin menggesek lagi miliknya pada milik istrinya.
"Nanti saja sayang, aku lapar." Giska kelihatan kelelahan dan ingin segera makan.
"Tunggu di sini, tidak usah keluar kamar, biar pelayan yang mengantarkan makanan untukmu." Daffin menghubungi Bi Ima untuk meminta pelayan membawa makan malam untuk mereka ke kamar.
"Mas Daffin, kalau ditanya sama bibi Ima gimana dong?" Tanya Giska yang malu hati dengan pelayannya itu.
"Aku akan bilang kamu lagi sakit." Ujar Daffin.
"Bohong itu dosa lho mas, lagian diaminin malaikat gimana, nantikan aku bisa sakit benaran." Ucap Giska sambil mencebikkan bibirnya.
"Bohong untuk kebaikan nggak dilarang sayang, kita kan sedang ibadah, jadi nggak masalah. Lagian aku sedang bersedekah kepada istriku sendiri." Ucap Daffin.
"Bersedekah apanya, aku nggak ngerti mas?" Giska merasa bingung arti sedekah dalam hubungan suami istri.
"Sabda Rasulullah, jika orang tidak mampu bersedekah dengan uang, tenaga dan pikirannya bagi yang sudah berkeluarga, ia bisa memberikan sedekahnya pada istrinya melalui hubungan badan." Jelas Daffin.
"Berarti orang kaya dan orang cerdas itu lebih hebat. Ia bisa bersedekah dengan harta, tenaga dan pikirannya, banyakan dia dong pahalanya dari pada orang nggak punya." Giska sedikit protes.
"Tapi orang kaya itu hisabnya lebih lama ketika mau antri masuk surga, mereka akan ditanya ke mana saja harta yang diberikan Allah ketika di dunia.
Apakah mereka akan belanjakan hartanya di jalan Allah atau menghabiskan untuk berfoya-foya demi menjaga gengsi dengan manusia lainnya." Daffin menjelaskan keadaan di mana orang miskin dan kaya diperlakukan berbeda ketika antri di depan pintu surga.
"Mengerihkan mas Daffin, berarti orang kaya itu harus hati-hati membelanjakan hartanya agar tidak lama masuk surganya." Timpal Giska.
"Benar sayang, seperti itu kita nanti diakhirat." Sambung Daffin.
Tok..tok!
"Tetap di sini, biar aku yang ambil makanannya." Daffin beranjak dari tempat tidurnya dengan memakai baju piyama tidur membuka pintu kamarnya.
"Taro saja di sini kreta makanannya biar saya yang bawa masuk." Titah Daffin pada pelayannya.
"Baik Tuan, saya permisi."
"Terimakasih!"
"Dengan senang hati Tuan." Ucap pelayan itu lalu kembali ke dapur.
Daffin mendorong kereta makanannya membawa ke dalam kamar.
Giska mengenakan lingerie untuk makan bersama suaminya.
"Makan yang banyak sayang karena malam masih panjang," ujarnya sambil tersenyum nakal.
"Mas Daffin nakal." Gerutu Giska membuat suaminya terkekeh.
Daffin menyuapi istrinya. Giska merasakan kebahagiaan yang sebenarnya saat ini. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya hari ini, sungguh di luar dugaannya.
Keduanya makan dengan lahap, menu malam ini sesuai dengan kesukaan Giska. Daffin sudah mengetahui segala sesuatu tentang Giska, maka mudah baginya menyenangkan istrinya ini.
Giska yang manja dan angkuh kadang terkesan liar dan bar-bar, kini mengenal sosok Daffin yang merubah cara pandangnya tentang hidup. Daffin yang tegas, cerdas dan bersahaja tergoda dengan sikap manja dan kecantikan Giska.
Perbedaan yang mencolok dirubah dalam waktu yang cukup lama, tiga bulan saling menjaga image kini bersatu hanya dalam 1 tragedi yang memaksa Daffin menyelamatkan istrinya dari pengaruh obat perangsang.
🌷🌷🌷🌷🌷
Perjalanan menuju Semarang untuk menemui keluarga besar suaminya, Giska tampil cantik dengan busana muslimah yang dikenakannya saat ini.
Ia mengenakan rok panjang berwarna krem dipadukan atasan tangan panjang warna hitam, hijab yang berwarna corak terkesan lebih feminim.
Rasa bangga Daffin membawa pulang istrinya yang masih muda dan sangat cantik ke kampung halamannya.
Memasuki gerbang utama pesantren Khairul Ummah, para santri menyambut pengantin baru ini. Kedua orangtua Daffin dan kedua adiknya sudah berdiri di antara para santri dan santriwati.
Keanggunan Giska mendapatkan pujian dan decak kagum yang hadir disitu. Mereka tidak menyangka menantu dari Kyai mereka sangat cantik seperti artis ibu kota.
Setelah menyalami kedua mertua dan adik iparnya, Giska menghampiri para santri. Giska pintar mengambil hati peserta didik itu, dengan mengajak mereka bermain games.
Caranya menanyakan hal-hal yang umum yang masih ada hubungannya dengan pelajaran mereka. Maklumlah walaupun Giska mantan gadis liar tapi otaknya sangat cemerlang.
Semuanya ia beri hadiah kecuali yang jawabannya benar, ia akan memberikan hadiah yang lebih spesial.
Puas bermain games dengan para santri, Giska kembali menemui keluarga suaminya.
"Mbak Giska lebih cantik dari pada aslinya," ucap Mariam.
"Cantiknya lebih dari artis ibukota, pantas saja mas Daffin langsung klepek-klepek, cantiknya kaya gini. Apalagi sebelum pakai jilbab pasti mbak Giska jadi pusat perhatian, pantas saja mas Daffin menolak pulang kampung karena mbak Giska belum pakai hijab." Timpal Asia membuat Daffin sangat malu.
Wajah Giska bersemu merah mendengar adik iparnya meledek suaminya, Daffin menatap istrinya merasa sangat gemas.
"Ternyata, jika kamu kelihatan malu makin menggoda sayang, tunggu nanti malam ini kita tidak akan tidur," bisik Daffin lalu meninggalkan istrinya bersama ummi dan kedua adiknya.
"Ehm..ehm!" Mas Daffin bucin." Ujar keduanya lalu terkekeh.
"Sudah-sudah, kalian dari tadi hanya ledekin masnya terus." Ummi Aliyah menghentikan candaan kedua putrinya dan mengajak Giska duduk di halaman belakang sambil melihat kebun kecil yang penuh dengan buah dan sayur.
Banyak buah tomat, cabe rawit dan cabe merah keriting yang terlihat indah dan dibiarkan tetap pada tangkainya walaupun sudah matang.
Buah jeruk Santang yang bergelantungan, belum lagi buah strawberry yang menghiasi taman itu.
Hamparan sayur sawi, sayur kol bayam dan kangkung berbaris tumbuh sesuai jenisnya.
"Ummi, Giska jadi betah duduk di sini. Kebun ini membuat hati dan pikiranku menjadi tenang. Cara mengatur tanamannya sangat rapi dan pinggirnya ditumbuhi bunga mawar yang beraneka warna." Ucap Giska lalu menghampiri tanaman itu.
"Kalau kamu mau ambil saja sayang." Ucap Ummi Alya yang melihat menantunya sangat suka dengan tanaman.
"Nanti kalau aku pulang ke Jakarta, aku mau buat taman seperti ini." Timpal Giska yang sudah memetik buah jeruk yang kelihatan sudah matang.
"Kalau ditanam sendiri lebih puas sayang, dari pada menyuruh orang lain yang menanam." Ucap Ummi Aliya.
"Jadi ummi yang tanam ini semua?" Tanya Giska.
"Iya sayang, makanya ummi betah lihat hasil tanaman ummi tumbuh subur." Imbuh ummi Aliya.
"Masalahnya, kalau Giska yang tanam, tumbuh nggak ya." Giska bimbang dengan kemampuannya.
"Kalau kamu mengerjakannya karena cinta pada tanaman mereka akan tumbuh subur sesuai dengan harapanmu." Ucap Ummi Aliya.
"Oh itu rahasianya." Giska mulai paham.
"Ummi masakannya sudah dihidangkan." Ucap Mariam yang sudah memasak untuk tamu istimewa mereka hari ini.
"Ayo nak Giska, kita makan." Ujar ummi mengajak menantunya ke ruang makan.
Giska sangat lahap menyantap masakan mertuanya.
Daging gepuk, ayam goreng, sayur lodeh komplit dengan lalapan sambal dan tahu tempe.
"Apakah Giska bisa memasak?" Tanya nyonya Alya walaupun dia sudah tahu menantunya ini tidak pernah memasak atau mengerjakan pekerjaan rumah lainnya semasa gadisnya.
"Saya lagi belajar ummi melalui YouTube." Ucap Giska yang masih merendah dihadapan keluarga suaminya.
"Jadi istri itu harus bisa memasak sayang agar suami betah di rumah!" Ucap nyonya Alya menasehati Giska.
"Insya Allah Ummi, Giska akan lebih giat lagi belajar memasak." Lagi-lagi Giska tidak memamerkan dirinya kalau dia sudah jago memasak dan membuat kue untuk suaminya.
Walaupun Giska dan Daffin saat ini sangat akrab, tapi Giska tidak pernah mengakui dirinya bahwa selama ini, ia sudah memasak sendiri untuk suaminya.
Giska yang ingin membantu adik iparnya merapikan meja dan mencuci piring kotor, kedua adik iparnya itu meminta Giska untuk rehat dulu karena baru tiba di kampung.
"Mbak Giska, sebaiknya di kamar sama mas Daffin, besok pagi saja bantu kita masak." Ucap Mariam.
"Baiklah, aku masuk dulu ya." Ucap Giska lalu menemui suaminya di kamar.
Giska melihat suaminya sedang berkutat dengan pekerjaannya di laptop miliknya. Giska bingung mau ngapain saat ini. Ia juga tidak ingin menganggu suami yang saat mengurus bisnisnya.
"Semua orang pada sibuk, aku sendirian. Lebih baik aku menemui anak-anak pesantren." Ujar Giska lalu menuju ke asrama santriwati.
"Assalamualaikum!" Sapa Giska lembut ketika anak-anak itu sedang bercengkrama diantara mereka.
"Waalaikumuslam, eh mbak Giska!" Ujar mereka menjawab serentak salam Giska.
"Kalian sedang apa?" Tanya Giska.
"Ini mbak, lagi ngobrol saja." Ucap mereka sambil tersenyum kepada Giska yang sudah duduk diantara tempat tidur para santri tersebut.
"Maaf mbak Giska boleh tanya nggak sesuatu pada kalian?"
"Boleh!"
"Emang kalian nggak kangen sama orangtua kalian setelah sekian bulan tidak bertemu?" Tanya Giska yang kepo dengan para santri yang rela hidup berjauhan dengan orangtua mereka.
"Kangen banget sih mbak, tapi kami juga di sini karena pingin belajar ilmu Allah biar bisa membawa kedua orangtua kami masuk surga." Ucap Rena.
"Alhamdulillah, senang dengarnya.
"Berapa kali sehari kalian makan?" Tanya Giska.
"Tiga kali sehari!" Ujar Desy.
"Ada makanan pendamping nggak? seperti bakso, somay, mie ayam dan jajanan lainnya."
"Kalau itu beli sendiri saja mbak Giska, kalau dapat uang jajan lebih di kasih sama orangtua." Ucap Laila.
"Kalau begitu mau nggak, kalau tiap hari, mbak Giska kirim makanan cemilan untuk kalian?" Tanya Giska.
"Benarkah? Tapi bagaimana caranya?" Mbak Giska saja tinggal di Jakarta." Reni bingung dengan tawaran Giska.
"Sekarang gampang, nanti mbak Giska berlangganan dengan setiap kedai makanan cemilan yang ada di kota Solo ini sayang." Ucap Giska.
"Nanti mereka yang akan mengirimkan kalian makanan untuk setiap hari." Ucap Giska.
"Wah!" Mbak Giska baik sekali. Terimakasih ya mbak, semoga keberkahan selalu tercurah untuk mbak Giska dan mas Daffin." Ucap Lea.
Anak-anak itu menyambut gembira tawaran Giska yang sangat membuat mereka berharap banyak pada istri dari Daffin ini karena diantara mereka ada yang jarang jajan karena tidak semua santri beruntung mendapat uang jajan lebih dari orangtuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments