Memasuki tiga tahun pernikahan Daffin dan Giska belum juga dikaruniai seorang anak. Giska yang saat ini sedang menanti ujian skripsi tidak begitu memikirkan hal itu, karena ia merasa masih muda dan menunggu rejeki itu datang padanya tanpa memikirkan hal yang sangat berat dalam hidupnya.
Daffin yang merasa tidak puas karena ia sudah merindukan tangis bayi dalam rumahnya karena usianya sendiri sudah melewati tiga puluh tahun. Sedangkan teman-temannya sudah memiliki dua anak bahkan tiga anak.
Malam itu melihat Giska yang sedang mempersiapkan ujian skripsinya makin membuat Daffin sangat setress. Ia mengira istrinya lebih mementingkan pendidikannya dari pada memiliki bayi.
"Bagaimana kita bisa memiliki bayi sayang, kalau kamu sibuk dengan urusan pendidikanmu." Daffin mulai mengeluhkan sikap istrinya.
"Mas Daffin, kalau skripsinya sudah kelar, kita ke rumah sakit ya, konsultasi dengan dokter kandungan, mungkin mereka punya solusi untuk kita atau mas Daffin mau nikah lagi?" Ujar Giska sekenanya.
"Emang kamu rela aku menikah lagi?" Daffin sangat kesal dengan ucapan istrinya.
"Kalau aku nggak bisa punya anak aku rela mas Daffin menikah lagi." Giska serius dengan ucapannya.
"Apakah kamu tidak mencintaiku?" Bukankah hampir seluruh wanita di dunia ini tidak rela dirinya di madu?" Tanya Daffin makin kesal dengan istrinya.
"Pilihan ada pada mas Daffin, aku tidak berhak melarang mas Daffin, jika ingin menikah lagi kalau sangat menginginkan keturunan, tapi kalau ingin keturunan dariku, ku harap mas Daffin harus bersabar. Hanya itu pilihan dariku yang bisa kuberikan pada mas Daffin yang ingin memiliki keturunan." Ucap Giska lalu menutup skripsinya menuju tempat tidur.
"Kamu sadar nggak sayang, ucapanmu bisa menjadi doa, jika aku nikah lagi, kamu akan menderita karena kamu akan membagi semua milikmu pada wanita lain." Daffin menakuti istrinya.
Apa yang dikatakan Daffin membuat Giska tidak mudah terkalahkan. Ia membalas perkataan suaminya membuat Daffin tidak bisa berkutik.
"Jika mas Daffin menikah lagi dan memiliki anak, aku akan menggugat cerai pada mas Daffin karena aku tidak kuat di madu." Giska menutup tubuhnya dengan selimut.
"Aku tidak akan menceraikanmu dan aku akan bersabar menunggu kamu hamil anak kita." Daffin membuka selimut dari tubuh istrinya.
"Makanya jangan menakutiku, kalau tidak ingin bercerai dariku." Ucap Giska seraya memejamkan matanya.
"Jangan tidur sayang! aku dari tadi menunggumu belajar skripsimu." Daffin membujuk istrinya lembut.
"Mas Daffin, aku sangat lelah sayang, besok aku harus mengikuti sidang skripsi." Ucap Giska yang tidak ingin melayani suaminya.
"Aku tidak akan mengganggumu sayang, aku hanya ingin memelukmu saja." Ucap Daffin.
"Tapi tangannya ke mana-mana, aku nggak bisa tidur kalau begini caranya." Mata Giska kelihatan sangat lelah dan juga sangat berat.
Ucapan Giska sudah nggak jelas, ia lalu benar-benar menutup matanya, agar otaknya yang dari tadi berpesta pora dengan skripsi yang dibacanya tersimpan semua dengan rapi.
Melihat wajah istrinya yang lelah, Daffin pun tidak tega lagi menganggu Giska, ia pun bangkit menuju balkon kamarnya dan memikirkan bagaimana keadaan rumah tangganya tanpa anak yang belum hadir di tengah mereka.
🌷🌷🌷🌷
Giska berangkat lebih pagi ke kampusnya. Daffin hanya mengantarnya dan memberikan nasehat dan doa terbaiknya untuk wanitanya. Ia kemudian mengecup lembut bibir istrinya.
"Sayang, nanti kalau sudah giliran kamu, baca doa syahidul istighfar dan baca selawat tiga kali setelah itu sampaikan hajatmu pada Allah, insya Allah, semoga kamu bisa melaluinya dengan mudah." Ucap Daffin lalu mencium lembut bibir sensual Giska.
"Terimakasih suamiku tersayang, atas doa dan nasehatnya. Nanti tidak usah menjemputku karena aku ingin makan bersama teman-temanku setelah sidang skripsi." Ucap Giska lalu mencium tangan suaminya dengan takzim.
Daffin meneruskan perjalanannya menuju perusahaannya. Sedangkan Giska langsung menuju ruang sidang, di mana teman-temannya sudah berkumpul.
"Giska, gimana kamu sudah siap belum?" Tanya Eka yang kelihatan sudah setress duluan.
"Belajarnya sudah, doanya juga, sisanya tinggal mental saja." Jawab Giska santai.
"Kalau kamu sih, otakmu sudah sejajar dengan google, tinggal di perintah dengan pertanyaan langsung meluncur sendiri tanpa mikir. Mulut loe kalau jawab pertanyaan sudah kaya robot." Timpal Eka yang selalu memuji kecerdasan Giska.
Tidak lama kemudian, para dosen penguji memasuki ruangan sidang. Peserta sidang ikut masuk dan menduduki tempat mereka masing-masing.
Giska hanya berzikir, karena dirinya sudah mempersiapkan sidang ini jauh-jauh hari.
"Semoga kita semua mendapatkan nilai A." Ucap si Ucok dengan logat Bataknya.
Tidak lama, nama Giska dipanggil oleh dosen yang merupakan dosen pembimbingnya sendiri.
"Sudah siap Giska?" Tanya pak Acep Mulyadi saat Giska berdiri dengan tenang dengan tetap fokus ke layar in fokus menayangkan setiap slide presentasi skripsinya.
Giska menjelaskan dari bab satu sampai dengan bab lima, kemudian menyampaikan kesimpulan dari hasil penelitiannya.
Pertanyaan selanjutnya dari dosen penguji seputar penelitian Giska. Giska menerangkan tiap detailnya dengan sangat kompeten dan empiris.
Para dosen penguji yang terdiri dari lima orang, puas dengan jawaban yang diberikan oleh Giska.
"Sangat bagus Giska, kami puas dengan jawaban hasil penelitianmu." Ucap dekan fakultas di mana Giska bernaung saat ini.
Giska menarik nafas lega ketika sudah menyelesaikan skripsinya. Ia kemudian keluar dari ruang sidang dan menghubungi suaminya atas kesuksesannya hari ini. Ia hanya sedang menunggu nilai skripsinya yang sebentar lagi akan diberikan oleh dosen penguji.
"Hallo, assalamualaikum mas Daffin!" Sapa Giska dengan senyum tersungging di bibirnya yang sensual itu.
"Waalaikumuslam istriku sayang!" Balas Daffin yang menghentikan kegiatannya dan fokus dengan obrolannya bersama istri tercinta.
"Alhamdulillah mas Daffin, aku sudah menyelesaikan ujian skripsi aku dengan baik dan lancar." Ucapnya dengan wajah berseri.
"Alhamdulillah sayang, selamat ya semoga dapat nilai A. Mau aku jemput sekarang?" Tanya Daffin.
"Jangan dulu mas! aku mau pesta sama teman-teman di kantin kampus." Giska minta izin pada suaminya.
"Berarti nanti malam giliran aku yang akan pesta denganmu di kasur." Daffin menggoda istrinya.
"Sayang, sampai nanti ya, bye love you." Giska menghindari ocehan suaminya yang menjurus ke arah yang lain.
Daffin terkekeh dengan tingkah istrinya yang sengaja menghindari godaan darinya.
"Kamu membuat aku jadi makin kangen sayang, kita lihat saja nanti karena urusan kita belum selesai." Daffin tersenyum penuh arti.
Tidak lama kemudian, pengumuman nilai untuk hasil ujian sidang skripsi telah di mulai.
Para peserta sidang menunggu dengan hati cemas karena hasil akhir ini menentukan kesempurnaan mereka menyelesaikan semua mata kuliah dan lulus dengan hasil yang memuaskan.
Nama Giska yang dipanggil pertama kali.
"Giska Ananta dengan nilai A yaitu 4.00." Ucap Kaprodi fakultasnya.
"Alhamdulillah, terimakasih pak." Ucap Giska mengambil amplop di tangan dosennya.
Semuanya mendapatkan hasil yang tidak seimbang. Tapi mereka semuanya lulus dalam sidang skripsi hari ini.
Sesuai janji Giska, mereka merayakan keberhasilan dengan pesta di kantin kampus. Giska yang mentraktir teman-temannya yang hari ini ikut sidang skripsi bersamanya.
Di tempat yang berbeda, Daffin bersama dengan relasi perusahaannya sedang makan siang bersama. Mereka terdiri dari lima orang yang saat ini sedang bersama Daffin menikmati makan siang mereka di restoran yang tidak jauh dari perusahaannya.
Ada seorang temannya Daffin yang sengaja mengajukan pertanyaan Daffin tentang anak.
"Tuan Daffin, berapa anakmu saat ini?" Tanya Tuan Atala.
"Aku belum dikaruniai keturunan Tuan Atala, mohon doanya.
"Sudah berapa tahun anda menikah?" Tanya Tuan Dimas.
"Sudah tiga tahun."
"Mengapa anda hanya bertahan dengan satu istri, kalau anda belum dikaruniai anak. Saya sarankan pengusaha hebat seperti kita ini setidaknya memiliki tiga istri. Satu istri sah dan dua istri sirih." Ucap Tuan Rasya sambil terkekeh.
"Iya Tuan Daffin, diantara kita berlima ini, hanya kamu yang terlalu setia dengan satu wanita, aku sangat menyayangkan itu, apa lagi orang setampanmu bisa mendapatkan wanita manapun dengan model apapun yang kamu mau, pasti ada Tuan Daffin." Ujar Tuan Syahrir.
"Terimakasih kasih atas tawarannya teman-teman, aku lebih memilih setia dengan satu istri sudah cukup bagiku. Lagi pula istri masih muda, usianya sekarang baru 21 tahun. Dan hari ini dia baru menyabet gelar Sarjana strata satu.
Istriku sangat cantik dan cerdas dan juga sangat mulia hatinya. Seluruh keluargaku sangat menyukainya, ditambah lagi para santri juga sangat menyayangi Giska.
Tidak ada yang bisa menggantikan tempatnya dihatiku Tuan-tuan." Ucap Daffin yang menolak untuk melakukan poligami kepada istrinya.
"Itu pilihanmu Tuan Daffin, lagi pula kami hanya menawarkan saja tidak memaksamu, siapa tahu kalau suatu saat kamu berminat, kamu bisa menghubungi kami dan kami akan siap membantumu menjodohkanmu dengan setiap wanita yang sesuai dengan kriteria dirimu." Ujar Tuan Rasya.
"Ini Tuan Daffin, coba anda lihat gadis-gadis muda ini. Mungkin kamu suka diantara mereka." Ujar Tuan Syahrir seraya menyerahkan ponselnya dengan memperlihatkan beberapa wanita yang ada di dalam galery fotonya.
Untuk menghargai teman-temannya, Daffin melihat wanita-wanita cantik tersebut.
Daffin begitu geram ketika melihat banyak foto gadis dengan berpose hanya menggunakan bikini.
Wajahnya sangat merah menahan amarahnya. Ia kemudian mengembalikan ponsel temannya itu lalu mengatakan sesuatu membuat keempatnya tidak bisa berkutik.
"Mereka memang cantik dan sangat cantik, mungkin semua yang ada didalam sini, sudah kalian tiduri dan kalian memberikannya kepadaku. Aku tidak pernah memakai sampah daur ulang. Mohon maaf, aku permisi karena harus menjemput istriku dikampusnya." Ucap Daffin lalu meninggalkan restoran itu dengan hati kesal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments