2. PART 2

Sebuah babak baru pasangan berawal dari sini, ada yang bisa menikmati pernikahannya dengan penuh cinta, ada yang menjalaninya dengan penuh kehampaan bahkan ada yang melaluinya dengan kesulitan dan kesengsaraan.

Kisah yang dimulai dari awal bahagia namun berakhir dengan perpisahan entah itu dengan perceraian maupun dengan kematian. Begitu pula yang akan terjadi dengan perjalanan kisah cinta antara Daffin dan Giska Ananta yang akan mengucap janji suci pernikahan mereka yang sebentar lagi akan di gelar di kediaman Tuan Ruslin, ayah kandung dari Giska.

Tanggal dan bulan telah ditetapkan oleh kedua keluarga calon pengantin. Daffin dan Giska tidak keberatan jika mereka dijodohkan walaupun belum mengenal satu sama lain.

Hanya butuh waktu satu bulan persiapan pernikahan akan di gelar di kediaman mansion pak Rusli. Dari pihak laki-laki, kedua orang tua Daffin meminta agar calon menantu mereka Giska mau mengenakan hijab di hari pernikahan.

Lagi-lagi Giska menyanggupinya.

Keluarga besar Daffin makin yakin jika gadis seliar Giska bisa dirubah akhlaknya oleh putra mereka kelak.

Waktu berlari begitu cepat, Hari sakral itu berlangsung dengan khidmat. Pengucapan ijab Kabul dalam bahasa Arab di ucapkan secara fasih oleh Daffin.

Rasa lega kedua keluarga mempelai terlihat sangat puas kala saksi menyatakan sah. Doa dipanjatkan oleh pak penghulu demi keberkahan rumah tangga mempelai.

Daffin yang tidak tahu jika pengantin wanitanya kini sudah berhijab menunggu dengan hati berdebar kencang.

"Aduh... mengapa aku segugup ini," gumamnya membatin.

Giska keluar dengan menggunakan gaun pengantin syar'i lengkap dengan mahkotanya yang dipesan khusus oleh orangtuanya Giska. Mahkota yang bertahta berlian itu nampak berkilau menyinari wajah cantik Giska yang menggunakan makeup tipis atas permintaannya sendiri.

Giska melakukan semua ini semata-mata karena ingin menyenangkan hati suaminya bahwa ia bisa mengubah sisi liarnya menjadi wanita muslimah seutuhnya.

Daffin yang sejak tadi menunggu Giska turun dari tangga itu mulai tidak sabar. Kegelisahannya terlihat mana kala wajahnya sudah timbul bulir-bulir halus peluh yang menghiasi area pelipisnya.

Tidak lama muncullah bidadarinya yang turun menapaki satu persatu anak tangga sambil melihat mempelai prianya.

Daffin mengulum senyumnya dan memuji kecantikan istrinya yang begitu memukau dirinya.

"MasyaAllah!" Ucapnya tercekat di tenggorokannya.

Giska pun menyembunyikan senyumnya dan berusaha tampil tenang dihadapan suaminya.

"Assalamualaikum!" Ucap Giska membuat Daffin tertegun.

Para tamu undangan menggoda keduanya untuk lebih dekat karena sudah sah.

"Waalaikumuslam warahmatullahi wa barakatuh!" Balas Daffin yang terlihat salah tingkah.

Daffin meraih kotak cincin kawin dan menyemaikan ke jari manis Giska dan sebaliknya Giska pada Daffin.

Giska mengecup punggung tangan suaminya dengan takzim.Momen itu direkam dan di foto oleh beberapa fotografer handal dari salah satu IO yang terkenal di kalangan artis.

"Kamu tampan sekali suamiku," ucap Giska membatin.

Rasa risih keduanya yang tidak bisa menyatakan perasaan mereka masing-masing karena belum merasa dekat.

"Ahh, biarkan saja begini, nanti juga mengalir sendiri." Pikir Daffin menghibur kegugupannya.

"Apakah dia senang menikahiku, mengapa dia kelihatan biasa saja." Giska mulai ragu.

Hingga acara ramah tamah itu berakhir dengan lancar. Kedua mempelai langsung menuju hotel yang telah dipesan oleh Daffin.

Setelah menjalani prosesi adat pernikahan dan dilanjutkan resepsi pernikahan membuat Giska dan Daffin sangat kelelahan.

Keduanya kembali ke Hotel tempat yang sama mereka menjalani acara resepsi pernikahan.

Hotel bintang lima yang sangat mewah terletak dikawasan Kuningan Jakarta.

mereka memilih hotel ini karena lokasinya strategis memudahkan para tamu undangan dan kerabat lebih mudah menjangkaunya.

Tampaknya sepasang pengantin baru ini ingin buru-buru sampai ke hotel melepaskan lelah,

mengingat keduanya selalu sibuk dengan aktivitas mereka sampai menjelang hari pernikahan.

Rupanya Daffin hanya menyewa hotel bintang bintang lima namun ia memilih kamar twins membuat istrinya sangat kecewa saat keduanya sudah berada di kamar hotel tersebut tanpa ada hiasan apa pun.

Saking kesalnya Giska hingga ia membuka semua pernak pernik yang menempel ditubuhnya dan membuangnya ke segala arah.

Hal ini membuat Daffin sangat kesal dengan sifat liar Giska yang menurutnya sebagai istri pembangkang.

"Ada apa denganmu? mengapa tiba-tiba kamu seperti ini?" Daffin yang memang perfeksionis tidak ingin semuanya jadi berantakan.

"Kenapa loe nggak suka, yah udah pindah sana, siapa juga yang mau tidur sama kamu dan apa lagi ini kamar sekecil ini dan dua tempat tidur, kemampuanmu cuma segini, kere banget sih loe!" Kata-kata Giska sangat menyakitkan bagi Daffin.

"Siapa yang mau tidur dengan wanita liar sepertimu, makanya aku sengaja memesan dua tempat tidur agar tidur kita terpisah." Daffin membalas sakit hatinya pada Giska membuat gadis ini sangat syok.

"Iya, aku memang sudah tidak perawan, aku melakukan **** bebas sejak usiaku 16 tahun, menikmati segala bentuk milik laki-laki lain yang belum tentu sehebat milikmu!" Giska merendahkan martabat suaminya.

"Heh gadis angkuh, kamu kira aku sudi menikahimu karena kamu anak orang berada? Banyak wanita sholeha di luar sana yang mengantri untuk menikah denganku, jadi jangan so dihadapanku karena kamu jauh dari tipe istri yang aku idamkan." Ujar Daffin tidak mau kalah.

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi Daffin dari Giska yang sedang menahan air matanya untuk tidak sampai tumpah. Ia tidak menyangka jika lelaki sepintar Daffin mampu mengeluarkan kata-kata kotor yang merendahkan dirinya.

"Aku memang kotor dan liar jadi jangan pernah menyentuhku." Ucap Giska lalu menghubungi resepsionis hotel untuk memindahkan barangnya ke kamar suite room.

Ia memungut semua barang-barangnya dan memasukkannya ke kopernya dengan tenang.

Daffin sangat menyesal dengan ucapannya karena telah merendahkan harga diri istrinya.

Tidak lama kemudian, bunyi bel kamar terdengar. Giska meminta pelayan hotel memindahkan kopernya ke kamar yang sudah disiapkan oleh mereka.

Pelayan itu membawa koper milik Giska menuju suite room. Sedangkan Daffin tidak berusaha mencegah istrinya atau pun ikut ke kamar istrinya.

Keduanya sama-sama mempertahankan ego masing-masing tanpa ingin mengalah satu sama lain. Giska yang memiliki watak yang sangat keras dengan tidak ingin mendapatkan fasilitas murahan apa lagi mengenai barang-barang yang bermerk mewah.

Sedangkan Daffin adalah lelaki yang memperhitungkan segala sesuatunya karena semua tidak boleh dilakukan secara mubasir karena semua hal sesuai dengan kebutuhan bukan dengan gaya hidup mewah, seperti yang saat ini dirasakan oleh Giska anak pemilik perusahaan ternama di kota Jakarta.

Setibanya di kamar yang lebih luas dan sangat indah, Giska menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya dengan gusar.

Ia merasa suaminya orang yang terlalu pelit dalam memanjakan dirinya.

"Mana mungkin aku menghabiskan hidupku dengan lelaki pelit seperti itu?" Keluh Giska lalu menghempaskan tubuhnya diatas kasur empuknya.

Dikamar berbeda Daffin juga tidak kalah kesalnya dengan istrinya.

"Apakah dia pikir uang seperti air, dihamburkan begitu saja demi kenyamanan dirinya. Jangan harap aku akan takluk dihadapanmu hanya karena kamu telah dimanjakan dengan kemewahan seumur hidupmu.

Mending aku beramal pada orang yang membutuhkan daripada memanjakanmu sesuai apa maumu." Daffin menarik selimutnya menghabiskan malam pengantinnya dengan tidur mendengkur sambil menunggu datangnya waktu subuh.

Saat sarapan pagi tiba, Daffin yang merasa sangat lapar bergegas menuju restoran hotel yang sudah menyediakan berbagai menu sarapan pagi. Sedangkan Giska masih berkutat dengan bantalnya karena tidak ingin bangun pagi lebih awal karena ia selalu melakukan sholat subuh diawal waktu namun kembali tidur setelahnya.

Daffin yang tidak tahu jika kebiasaan istrinya yang bangun siang menuduh gadis itu tidak pernah menunaikan kewajibannya sebagai muslimah yang taat.

"Apa yang bisa aku harapkan dari wanita itu, bagaimana bisa dia membesarkan anak-anak kami jika dirinya sendiri saja sulit diatur." Gumamnya membatin.

Daffin menikmati sarapan paginya tanpa memperdulikan istrinya yang saat ini masih berada dalam alam mimpinya.

Ia melihat pasangan yang saat ini juga sedikit berbulan madu sama seperti dirinya, kelihatan sangat bahagia menikmati momen berharga mereka.

Keadaan ini membuat Daffin merasa awal pernikahannya yang sudah terasa hambar dan menyedihkan.

Alih-alih ingin mendidik istrinya menjadi seorang wanita yang bersahaja dengan kehidupan yang nyaman tanpa fasilitas mewah, justru ia mendapatkan penolakan mentah-mentah dari sang istri yang baru dinikahinya dua hari yang lalu.

"Apakah kehidupannya harus dihargai dengan kemewahan?" Apakah dia tidak tahu bagaimana rasanya kehidupan rakyat jelata di luar sana yang harus berjuang dengan tenaga dan membuang rasa malu bahkan merendahkan kehormatan mereka demi sesuap nasi?" Daffin tidak habis pikir dengan kepribadian istrinya yang terlalu dimanjakan oleh mertuanya hingga ia harus berusaha lebih keras untuk mendidik istrinya yang angkuh itu untuk lebih sederhana dalam segala hal.

Tidak lama dering telepon berbunyi. Daffin meraih ponselnya dan melihat nama dilayar ponselnya itu. Ternyata dari kedua saudaranya, Asia dan Mariam.

"Assalamualaikum mas Daffin!" Sapa keduanya secara bersamaan.

"Wasalaikumuslam!" Balas Daffin.

"Mas Daffin bulan madunya di Jakarta?" Kenapa nggak di Bali atau negara Eropa mas?" Tanya Mariam yang so kepo.

"Mas Daffin lagi banyak pekerjaan yang belum tuntas dikerjakan karena pernikahannya terlalu mendadak jadi sulit untuk mengatur waktu. Mungkin lain kali baru bisa honeymoon ke luar negeri." Ucap Daffin memberi alasan kepada adiknya.

"Kirain mas Daffin pelit sama mbak Giska, mas Daffin kan orangnya sangat perhitungan, apa-apa selalu memperhitungkan untung dan ruginya. bahkan pelit untuk diri sendiri, apa lagi untuk istri." Asia mencibir sifat pelit Daffin yang menempel pada abangnya itu.

"Bukan pelit tapi hemat. Jika aku pelit kalian tidak akan sekolah di luar negeri." Ucap Daffin yang masih sabar dengan bullyan kedua adiknya.

"Oh ya, mana mbak Giska?" Ko mas Daffin sarapannya ko sendirian nggak bareng sama mbak Giska?" Tanya Mariam ketika melihat Daffin duduk sendirian dari video call yang saat ini mereka lakukan.

"Dia sudah kembali ke kamarnya, katanya lagi sakit perut." Ujar Daffin berbohong kepada kedua adiknya.

"Ya sudah, selamat berbulan madu mas Daffin semoga selalu bahagia." Mariam melambaikan tangannya ke arah Daffin yang hanya tersenyum kecut kepada kedua adiknya tersebut.

Daffin meninggalkan restoran hotel usai sarapan lalu kembali ke kamarnya karena ia ingin pulang siang ini.

Ia merasa sangat mubazir berada di hotel tanpa ada yang bermanfaat untuk bisa ia lakukan.

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

GILA GISKA, USIA 16 TH UDH BRZINAH,, MMG BERAT PNY ANAK PEREMPUAN JIKA TK BSA MNDIDIK DGN BEKAL AGAMA YG KUAT..
TAU DARI MANA DAFFIN KLO GISKA WANITA LIAR, TRUS APAKH ORTUNYA TAU KLO GISKA UDH GK SUCI LAGI.. BRP BNYK GISKA MLAKUKAN ZINAH, DN BRP LKI2 UG UDH MRASKN ME**K GISKA.

MSH MENDING KISAH OTHOR TETANGGA, YG BRJUDUL SUAMI UNTUK MANTAN PLAYGIRL, MSKI SERING GONTA GANTI PSANGN. TTPI MSH BSA JGA KSUCIAANNYA, DN HNY SATU MNTAN PACARNYA YG SMPAT CIUM TOKOH KHANSA DI NOVEL TESEBUT,
INI SI GISKA, AMPUN DEHHH KSIAN JUGA MA DAFFIN..

2023-01-25

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!