"Ini kekasih aku," kata Rara
Ray melemparkan tatapan mautnya pada Rara, seenaknya bilang kekasih, jadian aja enggak.
Rara menatap Ray dengan tatapan puppy eyes sehingga membuat Ray sedikit berbelas asih dengan tidak menyangkal.
Sheryl dan Raka melongo, bagaimana bisa Rara menjadi kekasih Raymond Toretto, seorang pengusaha kelas dunia yang diperkirakan kekayaannya adalah mencapai milyaran dolar.
Perbandingannya sungguh jauh antara penguasa kota dan penguasa dunia.
"Woy, kalian kok malah melongo. Kenalkan ya ini mas Ray, kalian tentu tau dong Presdir Ray Grup." Rara memperkenalkan Ray pada Raka dan juga Sheryl sambil menyabukkan tangannya di pinggang Ray. Awalnya Ray terlihat kikuk namun lama-lama dia mengikuti permainan Rara, "Ayo kita bermain," batin Ray dengan tersenyum licik.
"Hem, kenalkan aku kekasihnya," kata Ray dengan menyabukkan tangannya juga ke pinggang Rara.
Bahkan Ray memeluk Rara, lalu dia berbisik, "Ini semua nggak gratis,"
Rara merinding mendengar bisikan Ray, bagaimana kalau Ray meminta bayaran yang tinggi padanya.
Dengan terkekeh dia berbicara lirih, "Kita bicarakan kembali nanti."
"Jangan coba-coba kabur," bisik Ray lalu dia mengecup sekilas kening Rara
Rara hanya bisa tersenyum tanpa bisa apa-apa, "Bisa-bisanya dia memanfaatkan keadaan," batin Rara
Raka dan Sheryl sungguh dibuat heran dengan Rara dan Ray. Mereka masih tidak berkata apa-apa selain melihat keromantisan palsu mahkluk hidup di depannya.
"Mohon maaf pak Ray, kamu ada urusan jadi kamu harus kesana dulu," kata Raka yang tidak ingin melihat keromantisan Ray dan Rara
"Iya," sahut Ray singkat padat dan jelas dengan datar.
Raka dan Sheryl pergi lain tempat, sedangkan Rara perlahan melepas pelukan Ray.
"Pak Ray, di sini gerah sekali," ucap Rara
"Jangan coba-coba kabur, kan aku sudah bilang kalau semua tidak gratis," sahut Ray
"Baiklah baiklah, tapi bisa nggak aku cicil. Kalau harus membayar kontan aku tidak ada," timpal Rara
"Brengsek kamu pikir aku ini finance atau tukang kredit sehingga mau membayar aku dengan mencicil, lagipula uang aku sudah banyak jadi aku nggak butuh uang kamu," ucap Ray dengan mengangkat dagu Rara.
"Lalu dengan apa aku membayar anda pak Ray?" tanya Rara
"Masih aku pikirkan," jawab Ray lalu pergi meninggalkan Rara di tempatnya.
Terlalu asik mengobrol dengan ibu manager membuat Rara lupa waktu. Tak terasa pesta berakhir, rumah kontrakan Rara yang lumayan jauh membuat Rara pamit terlebih dahulu dan kebetulan sekali Raka dan Sheryl juga pulang.
"Jaman modern seperti ini masih juga mengendarai motor, dasar kismin," ejek Sheryl
"Dasar wanita edan, aku sumpahin tu mulut disengat lebah, biar bengkak," sahut Rara lalu pergi mengendarai motor meninggalkan Raka dan Sheryl
"Lihat tu mas mantan istri kamu," gerutu Sheryl
"Sudah-sudah ayo kita pulang," ajak Raka.
Rara mengendarai pelan-pelan sepeda motornya namun tiba-tiba, motornya mogok.
"Lo Lo ini kenapa," gumam Rara
Rara mencoba menyalakan mesin motornya namun tidak bisa.
"Ini kenapa?" tanyanya pada dirinya sendiri
Rara kemudian turun dan mencoba mengecek motornya namun dari arah belakang mobil dengan kecepatan tinggi melintasi genangan air sehingga airnya mengenai Rara.
"Aaah, woy," teriak Rara
Rara melihat bajunya yang basah dengan air kotor,
"Aahh, pertama motor mogok sekarang kena cipratan air kotor, kenapa sial aku sempurna malam ini, apalagi kontrakan masih jauh," umpat Rara dengan bingung.
Puas menggerutu akhirnya Rara memutuskan untuk menuntun motornya, dia berharap ada bengkel motor yang buka, namun lagi-lagi Dewi keberuntungan tidak berpihak padanya, lama menuntun sepeda akhirnya sampai juga dia di kontrakannya.
Setelah sampai Rara pergi mandi lalu tidur, di sisi lain Ray merebahkan dirinya di tempat tidur, dia mengingat kembali malam panas dengan Rara.
"Apa aku bilang padanya kalau akulah yang menidurinya malam itu?" Ray bermonolog dengan dirinya sendiri.
Lama mengobrol sendiri membuat Ray lelah dan pergi ke alam mimpinya.
Keesokannya, Rara merasa agak kurang enak badan namun karena hari ini ada janji dengan Ray dia bertekad untuk pergi kerja.
Dengan kepala yang pusing Rara pergi ke kantor dengan naik ojek online.
Setibanya di kantor, Bu Manager meminta Rara untuk segera pergi ke Ray grup karena menurut asisten Ray mereka butuh berkasnya segera.
Dengan langkah pelan, Rara keluar kantor lagi lalu dia memesan ojek online. Tak butuh waktu lama untuk sampai di Ray grub, Rara yang sudah lemas segera masuk dan bertanya pada resepsionis.
"Maaf mbak tapi Pak Ray belum datang mungkin satu jam kemudian beliau sampai kantor," kata Resepsionis
"Lalu asistennya?" tanya Rara
"Pak Revan juga belum datang mbak?" jawab resepsionis
"Pada belum datang kenapa aku disuruh buru-buru kemari," ucap Rara lalu meminta ijin untuk menunggu di loby.
Lama menunggu namun Ray maupun Revan belum datang sehingga Rara pergi dulu, dia ingin membeli obat dan roti serta minum untuk mengurangi rasa pusingnya.
Tanpa bilang ke resepsionis Rara langsung keluar saja dan kebetulan di sekitar kantor Ray ada minimarket jadi Rara nggak perlu menggunakan jasa ojek online.
Tiga puluh menit berlalu, Rara baru kembali karena tadi harus antri.
Setibanya di kantor Ray, resepsionis memintanya untuk langsung ke ruangan pak Ray karena sudah ditunggu.
Tok
tok
tok
Rara mengetuk pintu, setelah mendapat sahutan dari dalam Rara membuka pintu lalu masuk.
"Ini pak berkasnya," kata Rara sambil menyodorkan berkas yang diminta Ray.
"Kenapa telat?" tanya Ray
"Saya pergi sebentar pak," jawab Rara
"Tunggu, aku pelajari dulu berkasnya," sahut Ray
"Dan tetap berdiri, hukuman karena kamu sudah telat," imbuh Ray
"Baik pak," sahut Rara menurut.
Rara tidak memiliki kekuatan untuk membantah Ray sehingga dia menurut dan berdiri menunggui Ray yang mempelajari berkas yang dibawa Rara.
Mempelajari sepuluh lembar berkas tentu membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Rara yang mencoba bertahan kini sudah diambang batasnya. Kepalanya berputar, karena tak kuat Rara membalikkan badan untuk merebahkan dirinya di sofa.
"Mau kemana?" tanya Ray
"Sofa pak, saya mau duduk," jawab Rara
"Enak sekali, tetap di tempat kamu," omel Ray
"Tapi pak...." belum sempat melanjutkan kata-katanya Ray sudah memotong
"Nggak ada tapi-tapian, tetap di tempat kamu atau bawa kembali berkas ini," sahut Ray lalu melanjutkan mempelajari berkasnya.
Rara perlahan membalikkan badan lagi menatap Ray.
Ray yang tidak tau kalau Rara sakit menyunggingkan senyuman, pikirnya dia bisa mengerjai Rara.
Keringat dingin sudah keluar membanjiri kening Rara, ruangan Ray rasanya berputar-putar bahkan kini matanya juga gelap.
Karena sudah tidak tahan,
Bugh
Rara menjatuhkan dirinya ke lantai,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 185 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
KASIAN SI RARA, UDHLH DIJEBAK SUAMINYA, YG NIDURIN PRIA KAFIR LAGI...
2023-12-26
1
Diana Dwiari
pingsan krna lapar ya,jg capek
2022-11-23
0
Nm@
Raraaaaaaaaaa!
2022-07-29
0