"Terpesona?" tanya Ray yang seketika membuat Rara membuang pandangannya.
"Idih siapa yang terpesona," elak Rara tanpa melihat Ray
"Dari cara pandang kamu jelas-jelas kamu tertarik," sahut Ray lalu berjalan menuju wardrobe (ruang ganti) miliknya.
Sesampainya di pintu, Ray berkata
"Jangan mengintip karena pintunya nggak aku tutup."
Seketika Rara melemparkan tatapan mautnya, kesal sekali dengan Ray.
"Dasar," umpat Rara
Ray memilih baju di walk in closet miliknya, karena dia sedang tidak bekerja pakaian casual menjadi pilihannya, kaos dan celana pendek tak lupa jam tangannya.
Setelah selesai dia keluar, lagi-lagi Rara terpaku melihat penampilan Ray, baru kali ini melihat Ray berpenampilan apa adanya.
"Astaga, ganteng bin tampan sekali. Beruntungnya sekali yang jadi istrinya nanti," batin Rara dengan memandangi Ray.
Melihat Rara yang menatapnya membuat Ray tersenyum, baru kali ini dia senyum-senyum sendiri dan tertawa, biasanya hari-harinya dipenuhi dengan keseriusan bekerja, jangan tersenyum apalagi tertawa. Mangkanya dia dijuluki Raja es abadi.
Rara yang sudah sadar dari lamunannya segera bangkit dari tempat tidur Ray. Dia mencari tasnya namun tidak ada.
"Tas aku mana pak Ray?" tanya Rara
"Ketinggalan di kantor," jawab Ray
"Terus gimana pak?" tanya Rara
"Ambilah, gitu saja bertanya," jawab Ray.
"Aku mau memantau perusahan, jadi pulanglah," usir Ray
Rara membolakan matanya, bisa-bisanya Ray menyuruhnya pulang, padahal dia tau kalau tasnya ketinggalan di kantor, bagiamana dia pulang?
Rara masih terdiam di tempatnya, "Kenapa masih di situ, nggak mau pulang? mau menebeng hidup di sini?" tanya Ray
Rara yang sudah sangat kesal segera keluar dari kamar Ray, urusan bagaimana dia pulang dia pikir belakangan yang penting kini dia bisa keluar dari do Raymond.
Setelah keluar dari kamar Ray, Rara terus berjalan namun karena Mension Ray yang besar membuat Rara berputar-putar.
"Ini mana pintu keluarnya, ini rumah atau hotel kenapa besar sekali," gumam Rara.
Rara terus berjalan berputar-putar tanpa bisa menemukan jalan keluar.
Tak sengaja dia melihat Ray di ruang kerjanya dan Rara langsung masuk.
"Pak Ray?" panggil Rara
Ray yang serius memantau pekerjaannya jadi terganggu dengan panggilan Rara.
"Apa lagi? bukannya kamu sudah pulang," kata Ray
"Maaf pak, saya tidak menemukan jalan keluar," sahut Rara
"OMG, wanita ini kenapa selalu menyusahkan aku," gerutu Ray lalu beranjak dari kursinya.
Rara membuang egonya, dia memohon pada Ray untuk mengantarnya ke kantor Ray untuk mengambil tasnya, karena semua barangnya ada di sana termasuk kunci rumah, dompet, ponsel dan lain-lain.
Melihat puppy eyes Rara membuat Ray tidak tega,
"Baik tapi semua gak gratis," kata Ray
"Kenapa sih pak, anda nggak ikhlas menolong saya," sahut Rara
"Terlalu banyak yang sudah saya perbuat untuk kamu," timpal Ray
"Termasuk membuat kamu puas di ranjang waktu itu," batin Ray.
"Baiklah-baiklah, anda meminta apa?" tanya Rara
"Kemari," titah Ray sambil mengkode Rara untuk mendekat.
Rara yang merasakan bau-bau tak beres perlahan mendekat, dan setelah dekat Ray mengangkat dagu Rara dan menciumnya.
Rara mencoba berontak namun tangannya dipegangi oleh Ray.
"Bibir kamu sebagai jaminan, jadi setiap aku menginginkannya jangan menolak," kata Ray lalu mengusap sisa saliva di bibirnya.
Ray yang sudah merasakan nikmatnya berciuman menjadi candu.
Setelah berciuman Ray mengantar Rara ke kantornya, dia meminta Revan untuk menunggunya di parkiran dengan membawa tas Rara jadi dia dan Rara tidak usah repot-repot naik ke atas.
Seusai dapat tas Rara, Ray mengantar Rara pulang.
************
"Banyak juga mas warisan si Rara itu," kata Sheryl
"Iya, papa Rara memang pengusaha yang sukses, aku sudah bersabar selama setahun hidup dengan wanita itu. Jika bukan demi warisan lima puluh milyar mana mungkin aku mau. Dengan asetnya aku akan mengembangkan bisnis aku supaya bisa menandingi Raymond Toretto," sahut Raka
"Iya, tapi aku masih heran bagaimana Rara bisa menjadi kekasih seorang Ray, lagipula kenapa Ray bisa mau dengan Rara, seorang janda yang tidak punya apa-apa," timpal Sheryl
"Pasti dia menjual tubuhnya pada Ray, karena selama denganku dia tidak pernah puas, aku memang menyetelnya seperti itu," ucap Raka.
"Kamu sadis juga mas," sahut Sheryl
Raka dan Sheryl saling berciuman, lalu mereka pindah ke tempat tidur untuk saling membuang hasrat.
Sheryl menggeliat seperti cacing kepanasan di bawah Raka. Permainan Raka sungguh membuat Sheryl puas, berbeda saat dia bermain dengan Rara. Raka yang egois hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan kepuasan Rara.
Seusai bermain Raka dan Sheryl pergi ke sebuah restoran dan di sana mereka bertemu dengan Ray yang juga makan siang, dan kebetulan tempat duduk Ray tak jauh dari Raka sehingga dia bisa melihat Raka dengan jelas.
"Mantan suami Rara pak, hari ini dia telah mendapatkan warisan Rara," kata Revan memberi laporan
"Orang tua bodoh, anak sendiri ditelantarkan orang lain dimuliakan," kata Ray
"Benar, Raka itu terkenal pandai bersilat lidah," sahut Revan
"Kamu pantau terus perusahannya Revan, aku ingin sekali menghancurkan manusia biadab seperti itu," timpal Ray
Revan nampak tertawa melihat Ray, apa Ray ingin menghancurkan Raka demi Rara?
"Apa anda ingin menghancurkan Raka demi Rara?" tanya Revan
"Nggak ada hubungannya dengan wanita itu, aku dari dulu memang tidak suka dengannya," jawab Ray mengelak
Revan hanya tersenyum saja, perasaan Ray tau Raka ya dari laporan yang dia berikan, tapi kenapa sekarang bilang kalau dari dulu sudah tidak suka dengan Raka?
"Mengelak lah terus pak, nanti pasti ada momen saat anda tidak bisa mengelak lagi, dan saya akan kawal anda sampai di momen itu," batin Revan.
Seminggu sudah berlalu, Ray tidak bertemu dengan Rara karena memang tidak ada keperluan. Kalau ada pertemuan dengan perusahan tempat Rara bekerja, bukan Rara yang menemuinya mengingat Rara hanya seorang marketing.
Di meja kerjanya Ray nampak berfikir, dia melamun sambil memainkan pulpen hingga Revan yang masuk dia tidak tau.
"Pak meeting kita maju dua jam, jadi kita harus bersiap," kata Revan
Ray masih dalam lamunannya, raut wajahnya nampak berfikir dengan keras.
"Tumben melamun," gumam Revan lalu menarik kursi dan duduk berseberangan dengan Ray.
Revan menghela nafas, lalu dia berdehem namun lagi-lagi Ray masih setia dengan lamunannya.
"Pak," panggil Revan, namun Ray tidak merespon
Revan yang kesal menggebrak meja sehingga Ray yang kaget reflek melemparkan pulpennya ke Revan.
"Ada apa, datang-datang menggebrak meja," maki Ray
"Sudah datang daritadi pak, tapi pak Ray yang asik melamun," sahut Revan dengan mengelus dahinya karena pulpen yang dilempar Ray.
"Oh gitu," timpal Ray datar.
"Cuma gitu responnya," guman Revan dengan kesal.
"Oh ya Revan, buat Rara dipecat dari perusahannya, buat dia tidak diterima di perusahaan manapun,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 185 Episodes
Comments
Arin
bner kta kmu Rey...orng tua ngga ada otak ya Kya gtu
2023-08-02
0
玫瑰
Ya
2022-06-02
0
Heny Febti
Modus nih si Ray.😂
Jangan pedes2 Ray ngomong sama Rara, nanti bucin lho..
2022-06-01
0