"Keterlaluan kamu Ra! teganya kamu berselingkuh di malam ulang tahun pernikahan kalian!" bentak papa Rara
"Rara nggak selingkuh Pa, Rara juga nggak tau siapa yang datang ke kamar Rara." Rara mencoba menjelaskan pada papanya namun papanya lebih percaya pada Raka daripada Rara.
Raka sebelumnya sudah berakting bagus sekali, sehingga membuat papa dan mama Rara bersimpati padanya.
"Sudahlah pa, ma, kejadiannya juga sudah terjadi. Mohon maafkan saya karena mungkin saya akan menceraikan Rara, saya tidak sanggup jika hidup dengan Rara kembali, semuanya yang terjadi membuat saya sakit," kata Raka pura-pura sedih seolah dialah korban.
"Raka, mama tidak menyalahkan kamu. Memang Rara yang keterlaluan," sahut mama yang lebih membela Raka menantu bejadnya daripada Rara anaknya
Rara hanya menangis bahkan orang tuanya tidak berpihak padanya.
"Saya sadar ma, mungkin Rara belum bisa mencintai saya, mengingat pernikahan kita dulu karena sebuah perjodohan, oleh karena itu dia berselingkuh di belakang saya dan menyakiti saya dengan cara yang seperti ini," kata Raka dengan berpura-pura menangis.
"Aku sangat mencintai kamu mas," sahut Rara dengan menangis juga.
"Apa! cinta. Ra, sudahlah jangan pura-pura semua sudah jelas, kamu membawa masuk laki-laki lain ke dalam kamar kita, apa menurut kamu itu cinta?" tanya Raka dengan mengusap matanya yang basah akibat air mata buaya yang keluar.
"Sudah berapa kali aku bilang, aku nggak selingkuh, aku nggak membawa pria itu masuk mas," timpal Rara dengan menatap satu persatu orang yang ada di sana. Namun semua sudah termakan cerita palsu Raka sehingga tidak ada yang percaya dengan Rara.
Raka terus saja menangis, seolah dia benar-benar sakit hati, padahal dalam hatinya dia bersorak gembira.
Rara yang melihat Raka menangis mencoba menghibur suaminya, dia mendekat dan ingin memeluk suaminya namun Raka menolak, "Maaf Ra, aku tak bisa kamu peluk, banyaknya kecupan di leher kamu membuat aku sakit, seharusnya itu kecupan aku bukan orang lain!" katanya lagi yang membuat Rara semakin menangis, dia bersimpuh di kaki Raka memohon ampun namun Raka tentu tidak mau, toh memang ini permainannya.
"Maaf mas, maafkan aku," pinta Rara
Raka membangunkan Rara, dia mendudukkan Rara di kursi, "Meski sulit aku sudah memaafkan dirimu tapi aku tidak bisa melanjutkan rumah tangga kita ini, hotel itu aku yang pesan, aku meminta pelayan untuk menghiasnya sebagus mungkin, tapi apa? yang tidur dan bersenang-senang di sana bukan aku melainkan orang lain, coba kalau kamu jadi aku," ucap Raka yang membuat Rara semakin bersalah begitu pula dengan mama dan papa Rara.
Sesuai perjanjian dulu, akhirnya Raka mendapat semua hak waris Rara, dan Rara tidak mendapatkan apa-apa bahkan dia kini di usir oleh kedua orang tuanya.
"Kami tidak sudi memiliki anak yang tak tau diri seperti kamu Ra, lebih baik kamu pergi," usir papa Rara
"Jangan ma! pa! please! Rara mau kemana ma pa," pinta Rara
"Kalau kamu tidak ingin mendapat hukuman seperti ini seharusnya kamu pikir-pikir dulu sebelum mempermalukan kami dengan sikap kamu," maki papa Rara
"Mas, tolong mas bujuk mama dan papa supaya tidak mengusir aku," pinta Rara mencoba mendekati Raka tapi Raka dengan tega melemparkan tatapannya sembarang dan mengabaikan permohonan Rara.
"Dasar anak nggak tau diuntung, Raka itu baik, pengertian, sayang sama kamu tapi kamu malah menyia-nyiakannya demi lelaki yang nggak jelas.
Parah kamu Ra!" seru papa Rara
Rara hanya bisa menangis, sekeras apapun dia membela dirinya tetap saja kedua orang tuanya nggak akan percaya, karena memang keadaan sudah membuktikan kalau dia berselingkuh.
Karena tidak ingin ada debat, Rara memutuskan pergi dari rumah orang tuanya.
Entah dimana dia akan tinggal sekarang, dia sendiri juga tidak tau.
Semenjak menikah dengan Raka, Rara putus kontak dengan semua teman-temannya, kini dia benar-benar sendiri.
Rara akhirnya memutuskan untuk menyewa kamar sepetak untuk tempat tinggalnya.
"Layaklah untuk ditinggali," kata Rara lalu dia merebahkan diri di kasur kecil yang telah disediakan oleh pemilik kamar.
Keesokan harinya Rara mencoba mencari pekerjaan, namun mencari pekerjaan tidak lah mudah mengingat tidak ada orang dalam yang membantu, Beberapa hari berlalu namun Rara masih belum mendapatkan pekerjaannya.
"Ini opsi terakhir aku, kalau tidak diterima aku pasrah." kata Rara lalu melangkahkan masuk ke dalam perusahan properti, saat HRD melihat nilai-nilai Rara saat kuliah, akhirnya dia tertarik dan Rara diterima.
"Alhamdulillah akhirnya aku diterima juga," gumam Rara.
Meski hanya bagian marketing namun Rara sudah merasa bahagia. Setidaknya ada pemasukan untuk makan, sehingga tabungannya tetap utuh untuk membuka bisnis kecil-kecilan nanti sukur-sukur kalau bisa menambah.
Beberapa hari kemudian, Rara mendapatkan tugas untuk menawarkan properti di Ray Group, dia kini yang menemui Presdirnya langsung.
"Bismilah semoga mereka mau bekerja sama," gumam Rara lalu dia masuk Ray Grup. Rara bilang pada resepsionis kalau dia sudah ada janji dengan Presdir Ray group, dan resepsionis mengkonfirmasi dulu dengan asisten Presdir, setelah mendapatkan konfirmasi dia mengantar Rara untuk ke ruangan presdir langsung.
"Selamat siang pak Ray," sapa resepsionis sambil mengetuk pintu yang sudah terbuka.
"Siang," balas Ray
"Pak ini ada tamu," kata resepsionis
"Suruh masuk," sahut Ray
Resepsionis menyuruh Rara untuk masuk, kemudian dia pergi meninggalkan Rara.
Dengan gugup Rara masuk ke dalam ruangan Presdir, dia berdiri di depan Ray.
"Duduk atau mau berdiri saja," kata Ray dengan dingin.
"Astaga, dingin sekali, aku seperti berada di kutub selatan bermain bersama pinguin," batin Rara dengan sedikit tertawa.
"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Ray
"Nggak kok pak, maaf," jawab Rara gugup lalu dia duduk.
Saat melihat Rara, ingatan Ray pergi ke beberapa hari yang lalu, dimana malam itu dialah yang masuk ke dalam kamar Rara, dia salah masuk kamar dan kebetulan juga kartu yang dia bawa cocok dengan kamar Rara.
"Wanita ini," batin Ray.
Saat itu, Setelah pertemuan dengan beberapa kliennya, Ray merasakan panas di sekujur tubuhnya. Kemudian dia meminta Asistennya untuk menyewa hotel karena dia ingin meredam panas tubuhnya, Ray tau kalau dia dijebak namun Ray cukup tau apa yang harus dia lakukan yaitu dengan berendam air dingin, namun saat itu Ray malah masuk kamar Rara, melihat Rara yang tidur membuat Ray langsung saja mengerjai Rara, saat itu Rara juga menikmati permainan Ray bahkan dia membalas pautan yang Ray berikan seolah Rara memang menginginkan hal itu.
Ray mencoba melupakan kegiatan panas malam itu dan setelah lupa kini Rara malah muncul di hadapannya.
"Pak, halo, halo," kata Rara karena Ray nampak melamun.
"Iya," sahut Ray
"Pak, saya mau menawarkan property kami pada perusahaan bapak," kata Rara dengan menunjukkan proposal yang dia bawa.
"Baiklah, letakkan saja proposalnya nanti akan saya pelajari dan kini kamu boleh keluar," sahut Ray yang membuat Rara membolakan matanya, semalam Rara sudah latihan supaya saat dia menjelaskan kliennya akan tertarik, dan ternyata aplikasi di lapangan Ray cuman menyuruh meletakkan proposalnya tanpa memberi kesempatan Rara menjelaskan sedikitpun.
"Yakin pak, apa bapak tidak ingin mendengar penjelasan dari saya dahulu," kata Rara
"Tidak," timpal Ray
"Oh," ucap Rara dengan perasaan kesal plus gemas.
"Saya keluar nih pak," kata Rara
"Iya silahkan, sudah tau jalan keluarnya kan. Apa perlu saya antar keluar," sahut Ray
"Ya nggak papa pak kalau bapak nggak keberatan," ucap Rara dengan terkekeh.
Ray yang kesal melirik Rara dengan tatapan mautnya.
"Baik-baik pak," ujar Rara lalu keluar rungan Ray.
"Haduh tatapan matanya membuat rok aku mau melorot," seloroh Rara, yang mana tentu tidak ada hubungannya lirikan Ray dengan rok nya yang melorot.
Rara segera kembali ke perusahannya, dia melaporkan kalau belum ada jawaban dari Presdir Ray Grup.
"Dia hanya meminta saya untuk meletakkan proposalnya saja Bu," kata Rara memberi laporan.
"Ya sudah, nggak papa. Berdoa semoga mereka mau membeli property kita syukur-syukur kalau mereka mau bekerja sama dengan kita," kata sang manager.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 185 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
TERNYATA RAY BUKAN REHAN. KNP SINOPSIS GK SSUAI CRITA...
2023-12-26
1
Sulaiman Efendy
ORG TUA GOBLOK, KNP GK DISELIDIKI, MAUNYA DIBODOHIN RAKA...
2023-12-26
1
ossy Novica
Rara barbar juha yah halunya tingkat genteng ha haaaa
2023-10-06
1