Pagi hari, selesai sarapan di meja makan, Ayah dan Paman Jaemin berangkat ke kantor. Ibu Jaemin pergi ke perkempulan Istri-istri orang kaya.
"Areun, apa kamu mau aku antar ke kamar? Aku mau berangkat kerja." Kata Jaemin.
"Tidak, aku masih mau makan buah." Jawab Areun.
"Kalau begitu, aku berangkat dulu, ya. Kakek, Bibi aku berangkat!" Jaemin pun pergi.
"Hati-hati di jalan!" Areun tidak beranjak dari duduknya atau menoleh ke arah Jaemin.
"Kamu tidak pergi pagi-pagi lagi?" Tanya Bibi menyindir.
"Tidak, karena rumah ini membutuhkan menantunya tetap disini." Jawab Areun sinis dan bangga, sekaligus membalikkan omelan Ibu Jaemin.
"Cucu menantu!" Kakek memanggil.
"Iya Kakek." Jawab Areun halus dan lembut berbeda saat Ia menjawab pertanyaan Bibinya.
"Semalam kakek mendengar kalian ribut-ribut soal naik tangga. Ikut kakek, akan kakek tunjukkan sesuatu padamu." Kata Kakek berdiri dari kursinya.
"Aku bantu berjalan ya ayah?" Bibi sok manis ingin membantu.
"Tidak perlu, aku akan berjalan bersama cucu menantuku."
"Baik Kakek!" Areun tersenyum dan berdiri. Kakek merangkul lengan Areun dan berjalan bersama keluar dari ruangan makan dan berbelok memasuki koridor.
"Disini!" Kakek mengarahkan tangan Areun kepada sebuah tombol anak panah turun yang menempel di dinding. "Disini ada lift." Kata Kakek dan pintu lift terbuka.
"Waaahh!" Areun merasa takjub. "Di rumah ada lift juga?" Kata Areun di tuntun Kakek memasuki lift.
"Ini untuk membantu kakek naik dan turun karena kamar kakek juga di atas." Kakek membantu Areun menekan tombol lift. "Di sini hanya ada tiga lantai, untuk ke kamar kakek lantai dua. Kamu pencet yang tengah."
"Aa...begitu."
"Yang kamu berada semalam, itu juga lantai dua."
"Aku tidak tahu kalau rumah ini ada tiga lantai dan juga punya lift. Jaemin hanya mengajakku berputar di lantai bawah saja."
"Itu karena Jaemin tidak ingin kamu terluka kalau kamu mencoba naik." Kakek membantu Areun keluar dari lift saat telah berhenti di lantai dua.
"Tingggal lurus dan ini pintu kamar kakek." Kata Kakek menjelaskan lagi.
"Ini mudah Kakek." Jawab Areun.
"Tentu saja," Jawab Kakek.
Sejak saat itu Areun menjadi begitu dekat dengan Kakek. Areun sering menemani Kakek bermain catur baik di taman maupun di kamar. Meskipun Areun hanya mendengar kakek menjelaskan setiap jalan bidak caturnya dan Areun tidak bisa ikut bermain. Kedekatan Areun dan Kakek membuat Ibu dan Bibi Jaemin semakin jengkel dan kesal.
"Bagaimana kamu ini?" Teriak Ibu Jaemin pada Bibi. "Kapan kamu akan menyingkirkan gadis itu? Lihat sekarang dia bukan saja disayangi Jaemin tetapi juga Ayah."
"Aku sedang berpikir caranya." Jawab Bibi ketakutan.
"Aku tidak ingin dia lebih lama tinggal di rumah ini. Mengerti?"
"Baik kakak." Jawab Bibi.
...***'...
"Areun!" Bibi mendekati Areun yang sedang berada di taman. "Areun, kamu mau menemani bibi tidak nanti malam?" Bibi bersikap sok manis membuat Areun curiga.
"Menemani kemana bibi?" Tanya Areun bingung.
"Bibi ada perkumpulan arisan dengan teman-teman bibi. Mereka ingin berkenalan dengan menantu baru di rumah ini. Jadi bibi akan mengajakmu."
"Tapi aku harus izin dulu ke suamiku."
"Itu tidak perlu, bibi sudah memintakannya kepada Jaemin dan dia mengizinkan."
"Baiklah kalau begitu."
"Bersiap untuk nanti malam, ya?"
Sore harinya...
"Areun kamu diminta untuk menggunakan baju ini oleh teman-teman Bibi. Dipakai, ya?" Bibi menyerahkan kantong kertas coklat dan pergi dari kamar Areun.
"Apa ini?" Areun mengeluarkan baju hitam crop top dan rok hitam pendek mengkilap. "Apa-apaan ini? Dia menyuruhku menggunakan baju mini begini? tidak akan aku gunakan."
"Sudah siap Areun?" Tanya Bibi.
"Aku tidak mau menggunakan baju ini bibi."
"Ya ampun, jangan begitu. Nanti teman-teman bibi bisa kecewa mendengarnya. Ayo cepat dipakai bajunya. Nanti kita terlambat!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments