Esok harinya karena kesulitan tidur di malam hari, Areun jadi bangun terlambat dan Ia terburu-buru berangkat kerja. Di tempat kerja pun Areun tidak bisa fokus. Banyak yang Areun pikirkan.
Pikiran tentang pertanyaan-pertanyaan, seperti pilihan untuk terus berpura-pura atau tidak? pakaian yang akan ia kenakan? pergi ke salon untuk menata rambutnya, kemungkinan pertemuan ini akan berjalan mulus atau tidak? apakah ia akan menikah dengan Jaemin atau tidak? Dan juga ia memikirkan tentang wajah tampan Jaemin yang bisa memikat hatinya.
Tetapi waktu tidak membiarkan dia berpikir lebih lama lagi. Jam pulang kerja pun tiba.
Areun pulang dari kantor dan segera menuju salon di dekat sana. Di salon sudah ada Kasi yang datang lebih awal. Mereka sama-sama make up dan menata rambut semi formalnya untuk pertemuan malam ini. Kasi telah membelikan baju untuk Areun. Sebuah gaun tiga per empat berwarna hitam dengan lengan terbuka.
Selain Kasi, Suami Kasi Rio akan ikut bersama mereka. Sementara itu Jake dititipkan kepada pengasuh bayaran di apartemen mereka.
"Aku sudah rapih belum?" Tanya Rio, Pria berusia 37 tahun dengan setelan jas coklat berbahan semi beludru dan kaca mata minusnya.
"Sudah." Jawab Kasi merapikan sedikit dasi merah yang Rio pakai.
Setelah melakukan perjalanan menggunakan mobil, mereka pun sampai di hotel tempat mereka akan bertemu. satu restoran di hotel itu telah disewa oleh Jaemin untuk pertemuan ini.
Langkah Areun gentar, Ia berhenti di depan pintu masuk hotel, menarik kembali Kasi yang menggandeng tangan Areun.
"Ada apa, Areun?" tanya Kasi bingung melihat Areun yang tengah menunduk murung.
"Iya kenapa, Areun? Tuan Jaemin pasti sudah menunggu di dalam." sambung Rio.
"Aku sudah memutuskan Kasi," kata Areun menegakkan wajahnya. Kasi dan Rio saling menatap bingung.
"Apa kamu akan membatalkan pertemuan ini?" pekik Rio
"Bukan! Yang dia tahu aku ini tidak bisa melihat, dan seperti itulah yang akan terus Ia ketahui."
"Areun..." Kasi menggertak dengan matanya yang lebar. "Jangan begitu, ini untuk masa depanmu tidak mungkin kamu bisa terus berpura-pura seperti itu dalam satu rumah," protes Kasi memperingatkan.
"Aku hanya tidak ingin Jaemin menganggap ku orang yang suka berbohong." Areun merenung, pandangannya kosong ketika menunduk. "Dan Ia akan membatalkan pernikahan ini. Aku tidak pernah menyukai pria yang blind date seperti aku menyukai Jaemin. Aku takut kehilangan dia." Bulir air mata memenuhi sudut mata dalam Areun.
"Ta..." Kasi hendak menyela, namun Rio menahannya dengan menggenggam tangan Kasi. Kasi melihat tangannya yang dipegang Rio dengan kesal.
"Areun pasti sudah memikirkan ini baik-baik. Kita percayakan saja ini kepadanya. Kita hanya perlu mendukungnya." Rio tersenyum melihat wajah Areun yang tengah memandangnya bicara.
Meski Kasi belum bisa menerima rencana Areun, Kasi tetap berakting seperti yang Areun dan Rio mau.
Kasi menggandeng tangan Areun di pinggangnya. Sementara Rio bagai pengawal mereka berjalan di belakang. Pintu besar Restoran terbuka memperlihatkan mewah dan indahnya dekorasi di dalam. meja dan kursi terselimuti kain putih bersih mengkilap dengan hiasan pita berwarna pink. Bunga-bunga mawar segar berwarna pink dan putih menghias di atas meja dan sudut ruangan. Alunan musik klasik yang syahdu dimainkan band akustik di dalam.
Mereka bertiga begitu terpana melihat itu semua. Kasi tersenyum lebar tanda takjub dan tak percaya begitu pula Rio. Namun Areun yang harus pura-pura tidak bisa melihat hanya bisa terkagum dalam hati. Matanya tidak berkedip dan hanya melihat lurus kedepan.
Satu keluarga di meja besar di tengah ruangan berdiri melihat kearah mereka. Disana ada Jaemin mengenakan stelan jas hitam rapi, seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul mengenakan pakaian formal dan seorang pria paruh baya terlihat paling tinggi diantara ketiganya mengenakan kacamata dan berjas abu-abu.
Areun, Kasi dan Rio pun sampai kepada mereka. Areun, Kasi dan Rio membungkuk tanda hormat.
"Selamat datang!" sambut Ayah dan Ibu Jaemin.
"Senang bertemu kalian semua!" jawab Rio memulai bersalaman di ikuti Kasi. Areun hanya mematung sambil tersenyum. Kasi membimbing Areun untuk bersalaman dengan mereka. Ibu Jaemin menatap sinis kepada Areun.
"Apa kamu yang akan menikah dengan Jaemin?" tanya Ibu itu menunjuk Kasi.
"Apa?" Kasi begitu terkejut. "Bukan, saya sudah bersuami." Kasi merangkul Rio.
"Adik kami yang akan menikah," jelas Rio melihat kearah Jaemin yang tersenyum tipis.
"Apa?" pekik Ibu Jaemin bernada kesal, melotot kearah Jaemin. "Ini tidak bisa terjadi. Pernikahan itu akan kami batalkan," kata Ibu Jaemin.
"Kenapa Ibu?" tanya Jaemin terlihat sedikit marah dan tidak terima.
"Kami bisa mencarikan wanita yang lebih sempurna untukmu, Jaemin!" teriak Ibu Jaemin menatap Areun jijik.
Ayah Jaemin mengusap punggung Ibu Jaemin dan menyuruhnya tenang dengan suara lemah.
"Apa tidak bisa kamu hanya memberikan kami aib dengan menikahi wanita dari gadis kalangan bawah, tetapi ini dia pun bahkan tidak bisa melihat," sorotan kebencian menjurus kearah Areun.
Kasi tidak terima dengan penghinaan Ibu Jaemin. Ia ingin membeberkan kebenaran saat itu. Namun Areun menahannya dengan mengencangkan genggamannya. Kasi pun menahan kesalnya dengan mengepalkan jemarinya.
"Aku menyukai Areun dan akan menikah dengannya, Sekalipun Ibu suka atau tidak!" jawab Jaemin dengan tegas.
"Kamu tidak menyukainya Jaemin. Jangan membohongi Ibu. Kamu hanya ingin membuat Ibu kesal kan!! Ibu tahu kamu sedang marah pada Ibu tetapi jangan menghukum Ibu seperti ini" teriaknya lagi sambil menangis dan ditarik perlahan keluar Restoran oleh Ayah Jaemin.
"Maafkan Ibu saya!" pinta Jaemin.
"Kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Ibumu sebelumnya?" tanya Kasi dengan nada tinggi. "Pasti tidak akan seperti ini jadinya," tambahnya menurunkan nada suara. "Dan kami tidak akan merasa sehina ini."
"Maafkan saya, saya tidak tahu Ibu saya akan bereaksi seperti ini. Sekali lagi maafkan saya." Jaemin membungkuk. "Tetapi saya akan tetap menikahi Areun." Jaemin begitu yakin.
"Tidak," jawab Areun mengejutkan semua. Terutama Kasi yang berpikir, maunya apa sih ni orang. Dia mau pura-pura tidak bisa melihat agar tetap bisa menikah. Sekarang Jaemin akan menikahinya dia tidak mau.
"Bila Ibumu tidak ingin kita menikah maka jangan menikah. Aku tidak ingin menikah tanpa restu dari Ibumu." tandas Areun yakin.
"Tapi Areun.." Kasi menggeretakan giginya menahan kesal.
"Bila ibumu tidak bisa menerima aku maka pernikahan itu tidak akan baik untuk kita. Kami pamit, Tuan." Kata Areun memutar balik badannya menyudahi pertemuan itu.
Ibu Jaemin usianya sudah 63 tahun namun wajahnya yang awet muda tidak menunjukkan usianya, sama halnya dengan anak semata wayangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Frozz Bee
tulisan bernada...sambil nyanyi bacanya
2022-03-10
0