Malam hari di kediaman Jaemin,
"Jay..." Areun berbisik berbicara di telpon genggamnya. "Iya, sepertinya aku tidak bisa menunggu sampai akhir bulan...iya tolong sampaikan ke Bos, ya?" Areun berbicara sembunyi-sembunyi di balkon belakang lantai dua rumah besar ini. Satu tempat yang jarang orang singgahi. "Tidak tidak...aku tidak bisa ke kantor. sampai jumpai Jay." Areun menutup teleponnya dan menyembunyikan handphonenya di saku celana.
Areun berjalan mengendap-ngendap dalam ke gelapan. Hingga suara wanita mengusik keingin tahuannya.
"Aku tidak menyukai gadis itu sama sekali." Suara Ibu Jaemin terdengar dari ruang kamar. Areun mengintip dari sela pintu yang tidak tertutup rapat. Dia bisa melihat Ibu Jaemin duduk di sofa kecil dengan Ibu Jisung di sebelahnya.
"Aku juga, dia terlihat kampungan." Timpal Ibu Jisung menyetujui.
"Kita harus menyingkirkan gadis itu bagaimana pun caranya. Kamu harus membantuku mencari cara menyingkirkan dia."
"Itu pasti." Ibu Jisung mengiyakan dengan yakin.
"Bukan hanya gadis itu yang akan singkirkan, kakak ipar. Tetapi anakmu juga akan aku singkirkan dari daftar ahli waris utama keluarga Jang." Kata Ibu Jisung dalam hatinya tersenyum licik.
"Siapa yang mereka bicarakan? Apa aku gadis itu?" Gumam Areun dengan suara kecil. Suara langkah sepatu terdengar menaiki tangga yang terbuat dari kayu itu.
Areun hendak pergi bersembunyi namun pemilik langkah kaki itu lebih cepat mempergokinya.
"Sedang apa kamu disini?" Tanya Jisung ketus.
"Kamu bicara denganku?" Balik Areun bertanya.
"Dengan siapa lagi aku berbicara, di sini hanya ada kamu."
"Oh, aku kan tidak tahu kalau hanya ada aku di sini."
Ibu Jaemin dan Ibu Jisung yang mendengar suara Jisung keluar dari kamar untuk melihat.
"Sedang apa kamu berada di dekat kamar Ibuku?"
"Oh, disini ada kamar Ibumu. Aku sedang berjalan-jalan saja, mengenali setiap sudut rumah ini." Jawab Areun begitu santai.
"Bagaimana dia bisa naik ke sini? Dia kan tidak bisa melihat?" Kata Ibu Jisung merasa heran.
"Aku tidak bisa melihat Nyonya, bukan tidak bisa berjalan. Ya pasti aku bisa menaiki tangga."
"Eu..iya, tapi kamu kan tidak bisa melihat setiap anak tangga bagaimana bisa berjalan naik."
"Aku hanya tinggal meraba-raba dengan tangan dan kakiku." Areun menggerakan tangan dan kakinya mencontohkan bagaimana Ia bisa merasakan anak tangga untuk naik. "Ini tidak sulit. Jangan meremehkan kami yang tidak bisa melihat. Insting kami lebih peka daripada kalian yang bisa melihat."
"Orang aneh!" Ejek Ibu Jisung kalah mental.
"Apa dia mendengar pembicaraan kita?" Bisik ibu Jaemin pada Ibu Jisung.
Areun berjalan menuju tangga, Ia sengaja berjalan dekat dengan Jisung, ketika hampir melewatinya dengan sengaja Ia mendorong Jisung.
"Eh maaf, aku tidak lihat." Ejek Areun dalam suaranya.
Dengan perlahan Dia menuruni tangga, meraba setiap anak tangga dengan kakinya.
"Ya ampun, Areun!" Jaemin yang baru pulang kerja berlari menyusul Areun.
"Kenapa kalian diam saja, tidak membantu Areun turun." Pekik Jaemin karena khawatir sambil melihat Jisung, Ibunya dan Bibinya.
"Dia bisa naik sendiri ke sini dengan aman. Pasti turun juga dia bisa." Jawab Ibu Jisung mengejek.
"Tidak apa-apa Jaemin. Bibimu benar,aku bisa melakukannya sendiri dengan aman." Kata Areun turun tangga dengan dipapah Jaemin.
"Walau begitu, lainkali jangan naik turun tangga sendiri ya? Aku takut kalau terjadi hal yang tidak-tidak." Kata Jaemin terdengar begitu tulus.
"Owh...so sweet, apa dia benar-benar begitu mengkhawatirkan aku? Jangan-jangan dia memang betul-betul suka sama aku." Pikir Areun tersipu-sipu sendiri hingga tanpa Dia sadari dengan wajah memerah Areun geleng-geleng kecil sambil tersenyum tipis.
"Kamu kenapa?" Tanya Jaemin bingung melihat Areun.
"Tidak, bukan apa-apa." Jawabnya jadi malu.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments