"hufh!" Areun bernapas lega. "Capek juga mataku tidak bisa banyak bergerak," kata Areun di dalam hati. "Wah...ini foto Jaemin!" Areun mengambil bingkai foto kecil diatas nakas. "Dia memang tampan." Areun berjalan mengelilingi kamar melihat-lihat foto yang tertempel di dinding.
Ia pun melihat keluar dari pintu kaca besar yang menuju ke teras kamar yang terbuat dari kayu berwarna cokelat tua.
"Ini istana. Kalau Kasi melihat ini dia pasti akan terpukau."
Kenop pintu terdengar berputar, Areun berjalan jingjit sambil mengangkat gaunnya kembali ke posisi duduknya semula. Pintu kamar mandi terbuka dan sejurus dengan mata Areun, Jaemin keluar dari sana hanya mengenakan handuk putih dibagian bawah tubuhnya memperlihatkan tubuh atasnya yang berotot. Dengan handuk lainnya Jaemin mengacak-ngacak rambutnya yang basah.
Areun menelan salivanya, wajahnya memerah dan jantungnya berdegup kencang. Dengan segera Ia memalingkan wajahnya dari tubuh Jaemin yang seksi.
"Ya Tuhan...perutnya sixpack, otot dada dan lengannya, sangat mengagumkan. Ini godaan duniawi," pikir Areun.
Tok..tok... tiba-tiba pintu terketuk. Dengan suara halusnya Jaemin mempersilahkan masuk.
"Tuan, ini koper nona." Pak Hide menarik koper kecil milik Areun.
"Tolong rapihkan bajunya di dalam clothing room," kata Jaemin.
"Baik, Tuan." Pak Hide memasuki pintu lain tidak jauh dari pintu kamar mandi. Sebuah ruangan yang lebih besar dengan sekat-sekat didindingnya.
"Ambilkan bajuku sekalian," pinta Jaemin lagi. Pak Hide membawakan kaos putih yang terlipat rapih dan celana training berwarna hitam sebelum kembali keruangan baju. Jaemin mengenakan kaosnya terlebih dahulu,
"Jangan lihat! jangan lihat!" bisik Areun memejamkan matanya.
"Saya permisi, Tuan." Pak Hide pun pergi keluar kamar. Saat Areun menoleh Ia melihat Jaemin telah mengenakan kaos dan celananya.
"Apa kamu ingin ke kamar mandi?" tanya Jaemin.
"Iya, aku ingin mengganti baju," jawab Areun. "Tetapi aku tidak tahu bajuku."
"Sebentar, akan aku ambilkan," katanya memasuki kamar baju.
"Heum.. bajunya, dia minta Pak Hide yang ambilkan sedangkan dia dengan rela mengambilkan aku baju."
"Ini?" Ia menyodorkan dan menaruh piyama tidur Areun ditangan Areun.
"Terimakasih."
Dengan penuh perhatian, Jaemin mengantar Areun ke kamar mandi, menuntun Areun memberitahu posisi-posisi setiap benda dan kegunaan alat di dalam sana.
"Baiklah, aku sudah bisa menghapal posisinya sekarang," kata Areun. Namun Jaemin masih berdiri disisi pintu.
"Tolong ditutup pintunya," pinta Areun menyindir halus Jaemin untuk keluar. Namun Jaemin hanya menutup pintu dan membiarkan dirinya tetap di dalam.
"Kamu masih disana?" tanya Areun menyipitkan matanya namun tidak menatap ke arah Jaemin langsung.
"Iya, aku akan menolongmu kalau kamu ada kesulitan," jawab Jaemin lugu.
"Aku rasa aku bisa mengganti bajuku sendiri. Kamu bisa tunggu diluar."
"Baiklah kalau begitu." Jaemin keluar dari kamar mandi.
setengah jam sudah Areun berada di dalam kamar mandi. Jaemin pun merasa khawatir dan mengetuk pintu.
"Areun, apa kamu baik-baik saja."
"Eu...iya. iya..aku baik-baik saja," jawab Areun yang masih kesulitan menggapai resleting dibalik punggungnya.
"Aku akan masuk," kata Jaemin membuka pintu.
"Bisa tolong turunkan resleting gaun ini?" tanya Areun.
Jaemin terkekeh mengetahui Areun yang selama ini di kamar mandi karena kesulitan membuka resletingnya. Ia segera menghampiri Areun.
"Kenapa kamu tidak teriak minta tolong dari tadi?" tanya Jaemin dengan lembut menurunkan resleting gaun Areun.
"Aku malu," jawab Areun yang berdebar merasakan tangan Jaemin dipunggungnya.
"Sudah," kata Jaemin. Areun segera berbalik menutupi punggungnya yang sudah tidak tertutup lagi sampai ke atas bokongnya.
"Terimakasih," Wajah Areun memerah.
"Aku akan disini, kalau-kalau masih membutuhkan aku."
"Tidak...tidak, aku sudah bisa sendiri sekarang."
"Kamu pasti malu, ya. Kita kan sudah jadi suami istri sekarang," kata Jaemin keluar dari kamar mandi.
"Kenapa dia bisa bersikap biasa saja seperti itu, sementara aku gugup dan malu setengah mati dihadapannya," gumam Areun.
Areun selesai mengenakan piyamanya. "Kita kan sudah jadi suami istri sekarang." Ucapan Jaemin terputar ulang dipikiran Areun.
"Suami Istri....apa dia ada kepikiran untuk malam ini?" Areun menutupi dadanya dengan gaun yang melingkar dilengannya. "Tidak...tidak. Aku belum siap." Areun memunggungi pintu dan menempelkannya di pintu berwarna putih itu.
"Aku akan mengurung diri saja di sini." Kata Areun.
"Areun!...kalau kamu mau tidur, tidur duluan saja. Aku akan ke ruang kerja dulu, ada dokumen yang harus aku periksa malam ini juga." Teriak Jaemin dari luar.
"Ha....beruntungnya aku. Aku tidak perlu tidur di kamar mandi malam ini." Pikir Areun senang.
"Tuan," Terdengar suara Pak Hide.
"Aku akan segera ke sana." Suara Jaemin menyahut.
"Iya, aku akan selesai sebentar lagi." Jawab Areun pura-pura. Ketika mendengar pintu kamar tertutup Areun keluar dari kamar mandi.
Areun membuka pintu sedikit dan mengeluarkan kepalanya untuk memastikan tidak ada orang di sana. Dirasa aman, dengan setengah berlari Areun berjalan ke tempat tidur dan membantingkan tubuhnya di atasnya.
"Hua...nyaman sekali." Areun meregangkan tubuhnya, menelungkupkan tubuhnya, menyampingkan kepalanya ke sisi lain tempat tidur, mengusap bantal yang harusnya di tiduri Jaemin.
"Ini masih seperti mimpi bagiku. Bisa menikah, menikah dengan pria tampan, kaya, baik lagi. Aku yang biasa tidur sendiri sekarang akan tidur disisi pangeran tampan. heum.." Areun tersipu malu menggelengkan kepalanya.
Tanpa terasa Areun yang begitu lelah memejamkan matanya dan tertidur dengan nyenyak.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments