Blind Date

Sepulang kerja....

"Apa?!" pekik Areun terkejut saat sedang dalam sambungan telepon dengan Kasi dari smartphone samsung miliknya. Mengejutkan orang-orang yang sama-sama baru saja keluar gedung kantor.

"Hari ini? Itu terlalu cepat." Kata Areun lagi mengecilkan suaranya namun masih bernada panik. "empat puluh lima tahun? Apa tidak ada yang lebih muda lagi?....Seorang CEO? Aku tidak peduli jabatannya," protes Areun terus.

"Kamu kan tahu aku tidak mau menikah dengan pria yang umurnya lebih tua dari sepuluh tahun dari aku," sambung Areun.

"....dia pasti keliatan sudah tua, tapi kasi....tut...tut...." panggilan terputus.

"Sial...dia memutus panggilannya!" ketus Areun menghentakkan satu kakinya.

Areun bergegas pulang ke rumah. Saat berada di bis tiba-tiba hujan turun meski mendungnya sudah sedari tadi. Areun menatap hampa keluar jendela. Tetes hujan mulai membasahi jendela bisa di luar sana.

sesampainya di rumah.

"Maaf tadi terputus, Jake merengek ingin pergi beli es cream," kata Kasi saat Areun baru memasuki dapur. Ia sama sekali tidak menoleh dan tetap sibuk dengan masakan yang sedang ia buat diatas kompor.

"Apa tidak ada pilihan lagi?" tanya Areun merajuk duduk lemah di atas kursi meja makan. Kasi mematikan kompor dan memasukan makanannya kedalam wadah saji. Ia berbalik, menaruh makanan di atas meja dan duduk di sebrang Areun.

"45 tahun itu belum terlalu tua Areun. hanya berbeda 13 tahun denganmu, kan?" tlerang Kasi.

"Setidaknya dia pasti terlihat bapak-bapak atau lebih bagusnya om-om."

"Tetapi ini tawaran yang menarik loh, Dia seorang CEO perusahaan, anak dari seorang direktur utama dan sekarang akan mencalonkan diri jadi pejabat. Hidupmu pasti terjamin. Dari blind date sebelumnya tidak ada yang semenarik ini," celetuk Kasi terlihat sangat antusias.

"Ya Tuhan . . Kita seperti sedang ingin menjual aku. Aku tidak mau akh." Areun mengerucutkan bibirnya.

"Temui saja dulu. Kalau kamu tidak mau kita bisa menolak besok," bujuk Kasi lagi.

"Lagipula aneh gitu. Seorang CEO yang notabene banyak uangnya, di usia yang segitu, harus mencari pasangan dengan blind date. Apa sebegitu tidak lakunya dia?" tanya Areun. Kasi terlihat bingung menjawab Areun.

"Biasanya orang-orang kaya itu akan dijodohkan dengan yang selevel dengannya. Kenapa harus mencari?" Areun terus mengeluarkan teori-teorinya.

"Ya mungkin karena dia terlalu pemilih, yang selevel dengannya tidak ada yang menarik perhatiannya. Dan diusianya dia ingin mencari pasangan dengan cara singkat." Kasi mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan Areun.

"Aduuuh...nggak tahu deh aku." Kasi mengibaskan lengannya yang tertekuk sambil menggeleng kecil. "Pokoknya kamu temui saja dia dulu. Aku sudah me-reschedul janji temu kalian jadi besok siang. Besok kamu libur kan?

"Iya, besok kan hari Sabtu," jawab Areun dengan mulut manyun.

"Jangan cemberut gitu dong," goda Kasi menowel lengan Areun sambil tersenyum. "Sayang aku tidak punya foto dia. Kalau ada kamu kan bisa melihatnya dulu,"

"Tuh apalagi dia tidak memberikan foto, pasti ada apa-apanya deh," kata Areun curiga.

"Ya sudah kamu temui saja dulu. Lagipula kalau dibatalkan juga tidak enak. Blind date ini permintaan dari teman akrabnya Rio untuk saudaranya. Takutnya malah jadi tersinggung dan marah sama Rio," jelas Kasi.

Semalaman Areun tidak bisa tidur memikirkan blind date nya besok. Dia masih mengkhawatirkan usia mereka yang terlalu jauh. Areun hanya mau memiliki pasangan yang usianya tidak terlalu jauh berbeda. Dia tidak ingin yang lebih tua atau juga lebih muda darinya.

Karena tidak ingin menikahi pria yang lebih tua 13 tahun akhirnya Areun mulai mencari cara agar pria itu mau membatalkan perjodohan mereka.

Esok harinya....

Di cuaca yang teduh, Areun telah menunggu sang CEO dimeja luar cafe dengan segelas kopi cup dingin di hadapannya. Sudah hampir sejam Areun menunggu namun sang CEO belum juga datang. Beberapa kali matanya melihat ke jalan saat ada mobil melintas di sampingnya. Ketika Areun sedang menunduk suara berat seorang pria menyapa dari hadapannya.

"Sore nona Areun!" Areun bisa melihat jas biru mengkilap yang pria itu kenakan berada hampir menempel di meja. Tanpa menoleh keatas, Areun bangkit dengan linglung. ia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan seolah mencari asal suara itu.

"Tinggi sekali!" ujar Areun dalam hati karena mendapati wajahnya yang lurus hanya sampai di bagian dada pria berbaju rapih itu. Sepertinya tingginya sekitar 175 atau memang Areun yang cukup mungil dengan tinggi yang tidak pernah mencapai angka 160 cm.

"Iya, saya Areun," jawab Areun tersenyum dan tangannya meraba-raba di udara berpura-pura mencari cari tangan pria itu untuk digenggam.

Pria itu mengernyitkan dahinya dan menaikan alisnya tanda aneh melihat Areun. Ia menggerakkan telapak tangannya di wajah Areun. Areun berusaha tidak terpengaruh. Namun Areun bisa melihat tangannya yang mulus dan begitu putih. Ia pun bisa mencium betapa harumnya CEO ini.

"Kamu tidak bisa melihat?" tanya pria itu.

"Iya tuan. Silahkan duduk dulu." Areun berbohong. Dia tersenyum, mempersilahkan.

Setelah berpikir semalam, Areun memutuskan akan berpura-pura buta. Cara halus agar pria itu bisa menolak menikah dengannya. Daripada Areun harus mengatakan tidak secara langsung, yang malah dapat merusak pertemanan Rio dengan sahabatnya.

Areun mundur perlahan dan berpura-pura mencari kursi yang jelas-jelas bisa Ia lihat tepat disampingnya.

Pelan-pelan Ia mencoba menaruh bokongnya di atas kursi. Pria itu terlihat khawatir dan ingin membantu namun melihat Areun dapat duduk ia bersikap seolah tidak peduli dan duduk di kursi sebrang Areun.

Areun masih menunduk tidak berani melihat wajah pria itu. Ia takut sangat terkejut akan kenyataan orang yang akan Ia temui. Dengan berpura-pura begini Ia berharap, kalau pria ini setua yang Ia bayangkan, Pria ini akan menolak dengan kondisi Areun yang seperti ini.

"Permisi tuan, akan pesan apa?" tanya waiters perempuan muda, berbaju hitam disamping kiri meja mereka. Areun menoleh kesamping kanan untuk menghindari tatapan dengan waiters tersebut.

"Americanno 8 shot espreso," jawab Pria itu. "Apa kamu mau memesan?" tanyanya kepada Areun.

"Akh tidak, punyaku masih ada," jawab Areun tersenyum seraya meluruskan wajahnya.

"Hanya itu," kata Jaemin kepada waiters yang masih menunggu. Waiters itu pun pergi menyiapkan pesanan untuk Jaemin.

Mereka tampak canggung. Tidak ada yang memulai pembicaraan di antara mereka. Melihat kriteria yang tidak sesuai dengannya Areun bersikap defensif.

Kemudian Areun berpura-pura mencari gelas kopi dihadapannya. Pria itu mendekatkan gelas kopinya ke tangan Areun. Menggunakan sedotannya Areun meminum kopi dan menegakkan wajahnya.

"Ukhuk...Ukhuk..!" Areun terbatuk-batuk, tersedak minumannya sendiri karena begitu terkejut saat matanya melihat pria dihadapannya ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!