Panik

"Kita harus lewat pintu belakang," kata Kasi yang baru mendapatkan telepon dari Pak Hide. "Di depan sudah banyak wartawan."

"Aku tidak pernah membayangkan pernikahanku akan menyedot banyak perhatian." Tiba-tiba perasaan gugup menyelusup di dalam hati Areun yang semula begitu bahagia. Ia meniup tangannya yang mulai terasa dingin selain karena ac mobil tetapi juga karena rasa cemasnya.

Rio memasuki gerbang belakang aula.

"Kamu benar-benar beruntung Areun, bisa menikah dengan salah satu orang berpengaruh di negeri ini." Kasi menolehkan separuh badannya ke kursi belakang.

"Tetapi aku belum siap dengan semua perhatian ini."

"Lama-lama kamu pun akan terbiasa."

"Beban ini dua kali lebih berat, selain karena status istri orang kaya tetapi juga aku harus terbiasa menjadi orang yang tidak bisa melihat."

"Kita akan memikirkannya nanti, agar kamu bisa berhenti berpura-pura." Mobil terparkir tepat di depan pintu belakang aula ketika Kasi selesai berbicara. Mereka membuka sabuk pengaman mereka saat bodyguards berjas rapih membukakan pintu mobil.

Terlihat pengamanan yang ketat disana. Polisi dan bodyguards pribadi tersebar disekeliling aula untuk berjaga. Perasaan Areun semakin tidak karuan dibuatnya. Banyak kupu-kupu berterbangan diperutnya.

"Aku tidak tahu apa aku harus bahagia atau takut sekarang ini," bisik Areun kepada Kasi yang sedang menggandeng lengannya.

"Tidak perlu kamu pikirkan, jalani saja dulu." Jawab Kasi dengan berbisik juga. Seorang bodyguard wanita yang juga berjas hitam dengan kemeja putih di dalamnya berjalan di depan mereka untuk menunjukkan arah ke ruang tunggu.

Mereka memasuki ruang tunggu dan bodyguard wanita itu pun pergi.

"Ini gila! Aku tidak bisa melanjutkan ini." Areun mulai panik tidak karuan berjalan mondar mandir.

"Kasi aku tidak ingin menikah," kata Areun mengejutkan.

"Jangan gila Areun, bagaimana kamu ingin berubah pikiran sekarang? Pernikahan 20 menit lagi?" Kasi membesarkan matanya menatap Areun sambil berdiri dihadapan Areun.

Rio melihat situasi dan membawa Jake untuk keluar dari ruang tunggu. "Kita mau kemana papah?" tanya Jake polos dalam gendongan papahnya.

"Kita akan berjalan-jalan disekitar aula ini. Kamu mau kan?" tanya Rio menghilang dibalik pintu.

"Dia bilang pernikahan ini akan jadi pernikahan sederhana. Tetapi lihat. Terlalu banyak sorotan," kata Archi.

"Aku rasa aku tidak bisa menikah dengan orang kaya." Areun menekan kedua telapak tangannya dikedua sisi keningnya.

"Apa maksudmu? Dari sebelumnya kamu tahu siapa dia dan sudah mencari tahu tentang dia di internet. Kenapa tiba-tiba kamu berpikiran seperti itu?"

"Aku pikir aku akan menikah seperti orang kebanyakan apalagi dia mengatakan pernikahan akan diadakan secara sederhana. Tetapi ini terlalu berlebihan untukku. Aku tidak bisa menikah dengan perhatian sebesar ini, apalagi dengan kondisiku yang harus berpura-pura tidak bisa melihat. Bagaimana kalau teman-temanku melihat," Areun mulai menitikan air matanya.

"Jaemin bilang dia akan merahasiakan identitas istrinya dengan alasan privasi. Dan tidak ada media yang akan menyorot atau membuka identitasmu kecuali mereka ingin tamat," jelas Kasi namun belum bisa menenangkan Areun.

"Areun...Areun tenangkan dirimu sayang." Kasi memeluk Areun dan mengusap punggung Areun. "Kamu tenangkan dirimu dulu." Kasi memberikan Areun tissue dan mengambilkan air minum dari meja panjang dengan cermin yang sama panjang menempel didinding atasnya.

"Ini, minum dulu!" Kasi membantu Areun untuk minum. "Kamu pikirkan dulu sekali lagi, coba kamu bayangkan apa yang akan terjadi kalau kamu membatalkan pernikahan ini sekarang. Bagaimana dengan Jaemin? Dia yang harus melawan Ibunya sendiri agar kamu bisa menjadi pengantinnya, pasti akan sangat terluka. Keluarganya pun pasti akan marah kepada Jaemin karena telah mempermalukan keluarganya dengan batalnya pernikahan ini." Areun meresapi kata-kata Kasi dalam isak tangisnya. Dia yang mulai bisa mengendalikan dirinya mulai menjadi tenang.

"Maafkan aku Kasi, Aku terlalu panik."

"Aku mengerti Areun, sini aku betulkan make up-mu dulu." Kasi mengambil kotak bedak dari tas tangannya.

"Permisi!" Pintu terketuk dan masuklah bodyguard wanita tadi. "Maaf, upacara pernikahan tinggal lima menit lagi, diharapkan Nyonya dan Nona segera menuju aula."

"Baiklah, kami akan segera ke sana."

......***......

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!