Love Is Sight

"Apa-apaan ini?" tanya Areun dalam hati tidak bisa mempercayai apa yang Ia lihat pada Pria dewasa itu.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Pria itu dengan nada datar pada suara bass khas cowoknya.

"Ya," jawab Areun menaruh gelas kopinya dan mencoba menenangkan dirinya.

"Katanya usianya 45 tahun, tetapi yang terlihat malah sebaliknya." Hati Areun berbisik tidak percaya memperhatikan setiap detail wajah Pria itu yang belum terlihat adanya kerutan sama sekali. Rambut hitamnya yang klimis tertata rapi, Wajah putih bersinar, tirus namun tetap berisi dengan dagu lancip, hidung mancung dan matanya yang jernih menyorot dengan tegas namun teduh.

"Apa anda Tuan Jaemin?" tanya Areun untuk memastikan ini orang yang benar.

"Tentu saja, ini saya," jawabnya dengan pasti, menegakkan badannya, memberikan jarak punggungnya yang sedari tadi bersandar di sandaran kursi. "Terimakasih!" ucapnya lirih saat waiters menaruh gelas kopi di meja.

Waiters itu tersenyum lalu pergi namun pria itu tetap terlihat datar.

"Kamu bekerja di kantor agency?" tanyanya lalu menyeruput minumannya.

"Apa?" Areun membesarkan matanya terkejut sekaligus gugup dengan pertanyaan itu.

"Bagaimana ini? Aku terlanjur berpura-pura," sesal hati Areun. "Kalau aku bilang saja aku tadi hanya berpura-pura, kira-kira dia marah tidak, ya? Pasti marahlah ya kan?" sahut hatinya lagi.

"Dia pasti langsung ill feel kalau tahu aku membohonginya. Sudah terlanjur, aku pasrah lah dengan hasilnya," kata hati Areun lagi.

"Mana mungkin saya bisa bekerja dengan kondisi seperti ini," jawab Areun tersenyum.

"Tetapi dari info yang saya dapat, anda bekerja,"

"Tadinya seperti itu Tuan. Tapi karena kecelakaan saya harus kehilangan penglihatan saya dan saya jadi berhenti bekerja," jelasnya sesuai dengan skenario yang dia buat sebelumnya.

"Info yang saya dapat juga tidak disebutkan Areun tidak bisa melihat."

"Sepertinya infonya banyak yang salah. Mungin mereka lupa," jawab Areun celingak celinguk dengan pandangan kosong seperti orang yang tidak bisa melihat beneran.

"Tapi kamu benar Areun yang dikirim Kasi, kan?" Jaemin memastikan lagi.

"Apa anda mau lihat kartu identitas saya? tanya Areun perlahan-lahan mencari tas selempang yang ia taruh di bangku sebelahnya.

"Akh...tidak perlu. Baiklah nona Areun. Sepertinya pertemuan kali ini cukup di sini. Karena saya masi ada rapat." Jaemin berdiri dari duduknya dan dengan dinginnya ia pergi meninggalkan Areun.

Areun melihatnya berjalan dengan gagah, tubuhnya yang tegap, kakinya yang panjang dan jenjang melangkah dengan langkah yang anggun namun tetap begitu macho. Dengan tubuh yang tersinkron halus Jaemin memasuki mobil sedan hitam yang terparkir di pinggir jalan depan cafe.

"Arrgh..." Rintih Areun melorot kebawah kursi. "Ya Tuhan," Tubuhnya masih gemetaran lalu duduk kembali di kursi. "Dia tampan, dia tidak tua. Lalu aku sudah terlanjur berbohong. Kalau tadi aku membongkar rahasiaku, aku takut dia ilfil. Ya Tuhan...aku akan melewatkan kesempatan berjodoh dengannya karena kebodohanku."

"Harusnya aku mendengarkan Kasi untuk bertemu saja dulu dengannya," sesalnya lagi. "dan menolak belakangan. Tetapi karena takut bersikap tidak enak dengan teman Ka Rio aku jadi mencari cara agar membatalkannya. Ternyata malah jadi seperti ini!" ratapnya mengusap kasar wajahnya kebawah.

Sementara itu ...

Seorang pria tua tengah berbicara di telpon dengan raut kesal.

"Dari info yang saya dapat di lapangan, wanita yang kamu kirimkan tidak bisa melihat. Kenapa kamu tidak mengatakan dari sebelumnya?" katanya terdengar kesal meski suaranya begitu halus.

"Apa?" Dari sebrang sana Kasi merasa terkejut dengan apa yang Ia dengar. "Tidak bisa melihat? Areun?" Kasi terdengar khawatir.

"Tuan," terdengar suara pria tua itu menjauh dari telepon.

"Nanti akan aku hubungi lagi," sambung pria tua berbicara dengan Kasi di telepon lalu panggilan pun terputus.

Di rumah Kasi....

Kasi menanti Areun datang dengan cemas, kakinya tidak henti-hentinya ia hentakan pelan ke lantai. Jari tangannya yang panjang dan langsing ia gigit-gigiti kukunya. Tidak lama Areun datang dengan wajah sumringah.

Kasi berdiri, "Areun, kamu tidak bisa melihat?" tanya Kasi sangat khawatir sambil memegang-megang pipi Areun dan memandang ke dalam matanya. Lalu dia mengibaskan tangannya di hadapan Areun. "Kamu kenapa? Apa yang terjadi? tambahnya.

"Aku nggak apa-apa, Kasi," dengus Areun kesal.

"Terus tadi Pak Hide - asisten Tuan Jaemin dan teman Ka Rio yang menjodohkan kalian, bilang," Kasi jadi tidak mengerti dengan keadaan ini.

"Iya, aku pura-pura tidak bisa melihat tadi. Karena aku pikir aku akan bertemu bapak-bapak. Tapi ternyata..." Areun tersenyum membayangkan wajah Jaemin lagi dan mulai terpesona kembali.

"Lalu kenapa kamu tidak berhenti berpura-pura?" tanya Kasi penasaran.

"Yaa..apa yang akan dia pikirkan kalau tau aku berbohong?" Jawab Areun menjatuhkan bokongnya ke sofa dengan malas. "Saat itu juga Ia pasti menolak ku." Areun memelas.

"Terus sekarang bagaimana?" desak Kasi ikut bingung.

"Yaa kita lihat saja nanti, kalau hati dia selembut malaikat pasti dia tidak akan melihat orang lain dari fisiknya. Kalau tidak, ya aku yang akan sedih melewatkan kesempatan bagus." Areun meringis.

"Ya Tuhan, Areun!" Kasi menepuk jidat. Tidak habis pikir dengan ulah Areun.

"Tenang Kasi, Aku janji besok aku akan cari apartemen dan pindah dari sini. Aku tidak akan merepotkan kamu lagi." ucap Areun tiba-tiba.

Kasi menyipitkan matanya dan berpikir. Awalnya Kasi bingung dengan kata-kata Areun namun bisa dengan cepat Kasi tangkap maksud ucapan Areun.

"Bukan begitu Areun. Aku tidak pernah keberatan kalau kamu tinggal di sini terus. Aku menyuruhmu menikah bukan karena aku ingin kamu pergi dari sini. Tetapi aku ingin kamu ada yang menyayangi, menjagamu dan menemani kamu," terang Kasi merangkul pundak Areun.

"Kami menyayangimu, tetapi kamu pasti membutuhkan kasih sayang yang lebih. Dan aku pun ingat pesan Almarhum Ayahmu yang menginginkan kamu menikah dan memiliki anak. Kamu sudah aku anggap adikku sendiri, Areun." Kasi menitikan air mata, begitupun Areun.

"Maafkan aku, Kasi!" Areun menangis dan memeluk Kasi. Hatinya kini penuh penyesalan yang akan dia ingat seumur hidupnya.

Pupus Lah sudah harapannya untuk memiliki suami. Mungkin ini jawaban dari doa Jay. Areun tidak akan menikah kecuali dengannya.

"Ya sudah tidak apa-apa. Kita bisa mencari yang lain. Dan yang kali ini aku carikan yang masih muda pasti," jawab Kasi belum menyerah.

"Tapi jangan berondong juga, ya. Yang sedang-sedang saja."

"Iya. Tetapi aku tidak janji jabatannya bisa setinggi pria tadi,"

"Tidak masalah untuk jabatan. Asal dia masih memiliki pekerjaan yang jelas," sahut Areun mengedipkan mata.

Bayangan author gambaran tokoh Jaemin tapi jaemin versi umur 45 tahun. Visual unreality-nya pasti bikin dia tetap kelihatan awet muda. Kalau mau ganti visual sesuai selera masing-masing ya, nggak apa-apa kok.

Mohon maaf belum sempurna tulisannya, maklum amatiran 😂. Mohon like-nya, dan juga komen-nya terimakasih.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!