Patah Hati

Di mobil Rio . .

"Tuh kan nangis!" kata Kasi yang menjadi sandaran Areun untuk menangis sejak masuk ke mobil. Rio yang sedang menyetir hanya bisa melihat dari kaca spion atas mobilnya. "Aku sudah bilang tadi padamu, tetapi kamu ngeyel." cerocos Kasi.

"Iya maafkan aku." Areun yang speechless tidak bisa berkata apa-apa selain menangis. Hujan pun turun di luar mengiringi air mata Areun yang terus mengalir.

"Kalau dipikir-dipikir perkataan Ibu Jaemin mungkin ada benarnya. Ibunya pasti lebih tahu watak anaknya. Mungkin Jaemin menerima kamu karena ada maksud tertentu," lontar Kasi mengingat kata-kata Ibu Jaemin tadi.

"Itu yang membuatku menangis. Aku terpikir dia tidak benar-benar ingin menikahi ku, dia menginginkan sesuatu dari pernikahan ini," sahut Areun.

"Karena yaa benar juga, kan. Sebagai CEO pilihan gadisnya untuk menikah pasti banyak, kenapa dia memilihmu yang sudah pasti akan ditolak ibunya. Tidak mungkin dia tidak tahu sifat Ibunya sendiri. Dia pasti sengaja mencari gara-gara," terka Kasi.

"Tetapi dia kan bilang akan tetap menikahi Areun," sanggah Rio membela Jaemin.

"Kalau dia memang niat, bukan hanya basa-basi, melihat Areun menolak dan pergi Ia harusnya mengejar Areun. Karena akan ada perasaan takut kehilangan kalau memang dia benar-benar menyukai Areun. Tetapi dia diam saja ketika kita pergi. Sudah Areun, keputusanmu sudah benar. Jangan ditangisi lagi," dukung Kasi menepuk lengan Areun dengan lembut.

"Aku pikir dengan dia menerima keadaanku dan tetap akan melanjutkan pertemuan kemarin tandanya hatinya sebaik malaikat yang tidak melihat orang lain dari fisiknya. Tetapi orang kaya sama saja. Suka seenaknya," celetuk Areun dalam kemarahan.

"Lain kali aku akan lebih berhati-hati mencarikan pria untukmu," ucap Kasi.

"Sudahlah Kasi. Jangan lagi. Aku tidak mau blind date lagi. Kalau ada jodohnya aku akan menikah. Atau kalau terpaksa aku akan menikah dengan Jakecaprio tapi kalau nggak ya aku tidak akan menikah."

"Jakecaprio?" sahut Rio dan Kasi berbarengan saling memandang heran.

"Dicaprio mungkin maksud Areun. Artis Bollywood itu," terang Rio.

"Artis Hollywood kali. Kalau Bollywood nanti jadinya Shahrukhaprio," timpal Kasi di sambut tawa Rio. Dengan mata berlinang Archi ikut tertawa mendengar percakapan kedua kakaknya yang sedikit dapat menghiburnya.

"Bukan. Jaycaprio itu si Jay. Sahabatku,"

"Oh si Jay...," sahut mereka berdua berbarengan.

"Dia kan sudah punya pacar? Si Dara temanmu itu," kata Kasi.

"Iya, tapi Jay bilang dia tidak pernah mencintai Dara dan hanya mencintai aku,"

"Kalau begitu tidak apa-apa. Jangan merasa tidak enakan terus Areun. Kamu juga pantas untuk bahagia," sahut Rio.

......****......

"Sudahlah Areun!" Jay menaruh nampan makanannya di meja sebrang Areun duduk. "Jangan bersedih terus, mungkin dia memang bukan jodohmu," katanya dengan santai memakan roti isi untuk makan siangnya.

"Andai itu bisa semudah bibirmu mengucap," jawab Areun lemah seraya memainkan salad buah di mangkuk.l

"Iya aku tahu kamu sedang patah hati. Tetapi life is still going on. Kamu sibuk memikirkan kehilangan orang itu, yang bahkan belum kamu kenal sepenuhnya. Tanpa kamu sadari orang-orang di sekitarmu yang sudah sangat mengenalmu kehilangan dirimu, kehilangan Areun yang ceria," kata Jay menuntut kepadanya.

Deug...Hati Areun merasa tercubit mendengar kata-kata Jay. Ia tidak pernah menyadari arti dirinya sebelum ini. Ia pun setuju bahwa karena masalah ini Ia jarang bicara apalagi bercanda dengan Kasi dan juga Jay.

"Sudahlah, ayo kembali ke kantor!" ajak Areun berdiri lalu berbalik dan berjalan.

"Bagaimana kalau nanti malam kita nonton?" ajak Jay mengimbangi jalan Areun.

"Aku tidak mau cari mati," kata Areun. "Aku baru patah hati tetapi aku juga belum bosan hidup," tambahnya.

"Ayolah! Dara tidak akan tahu." Jay merajuk.

"Tidak! Aku sangat mengenal Dara, jadi tidak mau mencari masalah dengannya."

......***......

Ting Tong....

"Jake!...Tolong bukakan pintu!" teriak Kasi dari dapur menyuruh Jake yang sedang bermain sendiri di ruang tamu.

"Apa Areun ada?" Suara pria terdengar tak lama setelah pintu dibuka oleh Jake.

"Kak Areun sedang pergi," jawab Jake polos. Kasi yang penasaran dengan suara itu diam-diam mengintip dari balik dinding dapur. Pintu yang terbuka lebar memperlihatkan Pria glowing berjas hitam itu berdiri disana.

"Ya Tuhan! Itu Jaemin!" Kasi terkejut melihat kehadiran Jaemin yang tidak pernah Ia sangka. Dengan panik dan tergesa-gesa Ia mengambil Handphone dari saku celemek nya yang berwarna merah kotak-kotak putih.

"Halo!...Areun?..." bisik Kasi selirih mungkin setelah panggilan itu tersambung. "Ada Jaemin di rumah sekarang," katanya lagi masi berbisik. Terdengar Areun pun yang terkejut sekaligus panik dari nada suaranya.

"Ibu! Ada yang mau bertemu!" teriak Jake berlari ke dapur. Dengan gugup Kasi memutus sambungan teleponnya.

"O iya, Ibu akan kesana!" Jawab Kasi terdengar gemetar. Kasi menenangkan diri sebelum menemui Jaemin.

"Kamu?" Kasi berpura-pura ketus saat menemui Jaemin di ruang tamu.

Jaemin yang sudah duduk di sofa berdiri dengan halus dan memberi salam sambil membungkuk.

"Untuk apa lagi kamu kesini?" Tanya Kasi duduk dengan kasar di sofa sebelahnya.

"Maafkan saya, saya baru datang sekarang. Sulit untuk saya membujuk Ibu saya," Suara Jaemin tenang dan lirih membuat siapapun terhanyut mendengarnya begitupun Kasi, namun Ia masih harus terus berakting marah padanya.

"Areun kan sudah bilang tidak mau menikah denganmu," kata Kasi masih ketus.

"Aku pulang!" Areun memasuki apartemen dengan pura-pura tidak bisa melihat Jaemin.

"Areun!.." Kasi berdiri menghampiri Areun. "Ini ada Jaemin."

"Apa? Jaemin?" Areun berpura-pura terkejut. Matanya digerakkan ke kiri dan ke kanan.

"Iya, apa kamu mau berbicara dengannya?" tanya Kasi.

"Untuk apa dia ke sini, Kasi? Apa tidak cukup dia menghina kita waktu itu?" tanya Areun dengan suara parau menahan tangis.

"Maafkan Aku, Areun. Aku memang bersalah." Jaemin tetap tenang dengan nada suara lembutnya.

"Setelah itu dia menghilang tanpa kabar dan tiba-tiba muncul disini. Untuk episode baru? Babak baru mempermainkan kita?" Areun tidak kuasa menahan air matanya mengingat kejadian di malam itu.

"Tenang, Areun! kita dengar dulu apa maunya dia." Kasi menuntun Areun untuk duduk di sofa tempat ia duduk tadi dan memberikan Areun tissue.

"Aku berusaha meyakinkan Ibuku agar aku bisa menikah denganmu. Dan aku baru berani datang ke sini setelah mengantongi izin dari Ibuku."

"Wah...apa ini berarti Ibunya sudah setuju?" Dalam hati Areun sumringah, namun sebisa mungkin ia menahan senyum bahagia untuk terukir diwajahnya.

"Apa berarti sekarang Ibumu sudah setuju?" tanya Kasi mulai berbicara tenang.

"Belum sepenuhnya, namun ia akan mengizinkan aku untuk menikah dengan Areun, bila Areun tidak keberatan."

"Bagaimana Areun? Apa kamu mau?" tanya Kasi melihat kepada Areun yang masih tertegun tidak percaya.

"Kalau aku terserah Kasi saja?" jawab Areun yang terkejut karena tepukkan kecil Kasi di punggungnya.

"Loh kok terserah aku? kamu yang akan menikah," sahut Kasi.

"Iya, aku mau kalau memang Tuan serius ingin menikah denganku," jawab Areun.

Wajah Jaemin yang tetap tenang membuat Areun sulit membaca ekspresi wajahnya.

"Tentu aku serius. Untuk apa aku meyakinkan Ibuku bila aku tidak serius." Senyum mulai mengembang di wajah Areun.

"Baiklah," jawab Areun bahagia memegang jemari Kasi.

"Kalau begitu saya permisi dulu. Untuk selanjutnya Pak Hide yang akan mengurus semua keperluan pernikahan. Tetapi kalau ada sesuatu kalian tetap bisa menghubungiku," kata Jaemin tersenyum tipis.

"Ok!" jawab Kasi yang ikut bahagia.

Jaemin keluar dari apartemen Kasi. Sambil berjalan keluar pandangannya berbinar puas, dan bibir kirinya menyunggingkan senyum angkuh.

...***...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!