"Wina, aku ingin banget makan kimbab. Apa kamu bisa membuatkannya untukku?" Tanya Areun begitu tiba-tiba.
"Baik nona. Akan saya siapkan." Jawab Wina.
"Tolong bawa ke kamar kakek, ya. Aku ingin makan bersama dia."
"Tuan besar sedang tidak di rumah nona."
"Kakek kemana?"
"Sejak kemarin lusa Tuan besar pergi untuk pengobatannya. Mungkin karena itu Nona Hae berani menjebak nona seperti itu karena Tuan besar tidak di rumah."
"Begitu ya? Mereka memang keterlaluan. Mereka pikir bisa menyingkirkan aku."
Sementara itu di kamar Ibu Jaemin
"Bodoh!" Hardik Ibu Jaemin dengan lantang. "Kenapa kamu melakukan cara seperti itu?"
"Rencana itu hampir berhasil, kan ka? Jaemin sempat mengusir Areun. Tetapi gadis itu saja yang pandai bermain kata."
"Kita harus lebih berhati-hati setelah ini. Dia tidak sepolos seperti kelihatannya." Kata Ibu Jaemin memandang tajam ke luar dari jendela kamarnya.
Malam harinya....
"Wah aku senang sekali kakek sudah pulang!" Seru Areun duduk di sofa kecil dengan meja pendek diantaranya. Tempat Kakek suka bermain catur. "Bagaimana pengobatannya, kek?" Tanya Areun.
"Kakek tidak sakit, Areun. Kakek tidak berobat Kakek hanya kontrol."
"Hehehe...iya kakek. Kakekku memang masih seperti remaja. Semangatnya....hahaha..." Kakek ikut tertawa.
"Semangatnya saja, lihat fisik kakek juga seperti remaja kan. hahaha."
"Hahaha...Iya kakek."
"Kakek dengar kemarin kamu dijebak oleh Hae ya?" Tanya Kakek menaruh bidak catur nya dipapan catur.
"Kakek dengar dari siapa?"
"Kakek punya banyak kaki tangan di sini."
"Benarkah kakek?" Areun tersenyum takjub. "Sayang aku tidak bisa melihat, aku ingin melihat kaki tangan kakek yang banyak."
"Bukan...bukan begitu Areun. maksud kakek banyak orang kepercayaan kakek di rumah ini."
"Hahaha.." Areun tertawa dan ikut senang melihat kakek tersenyum.
"Baru berani pulang kamu?" Bentakan Jaemin terdengar ke kamar Kakek.
"Seperti Jaemin sedang memarahi Jisung." Kata Kakek.
"Aku akan menemui mereka. Dimana mereka kek?" Areun berdiri bingung.
"Sepertinya di kamar Jisung."
"Disebelah mana itu?"
"Keluar dari sini lalu lurus saja." Kata kakek memberi petunjuk.
"Baik kakek."
Di Kamar Jisung...
Jisung berdiri menunduk di hadapan Jaemin yang sedang marah.
"Kakak ingin sekali menghajarmu, sungguh." Jaemin berbicara dengan menahan kesal. "Kakak sudah menganggap dirimu seperti adik kandung kakak sendiri. Tetapi kamu..." Tangannya mengepal kencang, menahan diri.
"Maafkan aku, ka. Aku..." Belum sempat Jisung menyelesaikan kalimatanya,
"Kesalahan begitu fatal. Apa kamu tidak berpikir tentang kesalamatan kakak iparmu? Dia istriku Jisung!" Pekiknya
"Jaemin!" Areun dengan tangan terulur meraba memasuki kamar Jisung.
"Areun!"
"Jangan marahi dia Jaemin." Pinta Areun lembut.
"Kenapa tidak boleh? Karena ulahnya dan Ibunya dia hampir membuatmu celaka."
"Iya benar. Tetapi aku tahu dia hanya alat Ibunya." Kata Areun menggenggam tangan Jaemin.
"Tetapi dia harus belajar dari kesalahannya. Aku tidak ingin kamu berbuat jahat lagi kepada Areun. Camkan itu Jisung!"
"Baik, Maafkan aku ka. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." Kata Jisung terlihat menyesal.
"Ya sudah kalau begitu. Areun, ayo kita ke kamar." Ajak Jaemin merangkul Areun.
"Dia pikir aku akan berterimakasih kepadanya karena sudah menyelamatkan aku dari amarah Kak Jaemin. Tidak akan."Kata Jisung di dalam hati memandangi kepergian Jaemin dan Areun dengan sangar. "Aku tahu ituu hanya sifat sok baikmu. Kak Jaemin mungkin terpedaya olehmu tetapi tidak denganku" Tambahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments