Keesokan harinya, di Kantor Areun,
"Gimana blind date mu?" tanya Jay menyodorkan secangkir kopi hangat yang langsung diterima dengan senang hati oleh Areun.
"Haaahh.." Areun menghela napas berat. "Mungkin aku memang ditakdirkan untuk tidak menikah," jawab Areun gundah lalu menyeruput kopinya.
"Jangan begitu. Aku bersedia menikah denganmu tapi kamu masih mencari yang lain," timpal Jay merengut.
"Ini juga karena doamu kan?" celetuk Areun. Dia mengingat permohonan Jay tempo lalu.
Si pembuat permohonan terbahak,
"Hahaha... Apa doaku begitu ampuh hingga bisa terkabul?" gurau Jay merasa bangga. "Ya makanya sudah menikah saja denganku. Ini tuh tandanya udah takdir,"
"Kamu sudah punya pacar, aku tidak mau jadi pe-la-kor," tukas Areun, mengeja perlahan kata terakhirnya.
"Tapi aku juga kan tidak mencintai Dara. Dia yang mengejar-ngejar aku terus dari zaman SMA," tampik Jay membela diri.
"Apapun itu, kalian sudah punya status," sahut Areun.
"Kalau kamu berubah pikiran, kasih tahu aku, ya!" pinta Jay dengan lembut dan matanya berbinar melihat ke arah Areun.
Jay sebenarnya mencintai Areun namun Areun yang sudah menganggapnya seperti saudara karena terlalu akrab tidak pernah menganggap Jay serius. Dan juga karena Areun tahu Dara mencintai Jay jadi dia mengalah agar tidak melukai hati temannya.
"Tapi aku lihat-lihat kayanya kamu mengharapkan blind date mu yang kemarin jadi, ya?" terka Jay melihat wajah Areun yang murung.
"Yah...biasanya juga begini kan, klo aku berharap tapi gagal." sahut Areun.
"Katanya kamu nggak suka pria yang lebih tua sepuluh tahun darimu,"
"Kalau yang ini pengecualian. Dia sangat tampan bahkan kalau melihat wajahnya, kamu nggak akan pernah menyangka kalau dia itu berumur empat puluh lima tahun."
"Benarkah? Setampan itu? Sama aku lebih tampan siapa?" tantang Jay terdengar percaya diri
"Apple to Apple lah," jawab Areun singkat. Mengelak untuk menjawabnya secara nyata.
"Bukan Galaxy to Galaxy?" gurau Jay terkekeh.
"Itu merek lah," jawab Areun lalu tertawa.
"Senang kalau melihat kamu ceria lagi," lontar Jay berhasil membuat Areun tersipu.
Beberapa hari berlalu namun belum juga ada kabar tentang Jaemin. Hati Areun semula masih menanam harapan dan begitu resah menanti kabar baik. Tetapi seiring berjalannya waktu dan belum juga ada kabar baik, Areun mulai menyakinkan dirinya bahwa tidak akan ada kelanjutan dari pertemuan ia dan Jaemin waktu itu. Bayang-bayang wajah Jaemin terus melintas dalam pikiran dan hatinya.
Sesuai kebiasaanya Areun memainkan musik yang cocok seperti suasana hatinya saat itu. Ia bulak balik memutar lagu dari Jin BTS "Yours" yang merupakan OST dari serial Jirisan.
Dalam benaknya selalu berkata, sudah jelas Jaemin pasti akan menolak menikah dengannya. Meskipun yang lebih menyakitkan bagi Areun adalah kenyataan bahwa Jaemin menolaknya tanpa pemberitahuan, pergi tanpa kejelasan.
Ia pun ikhlas blind date kali ini harus gagal lagi, karena ini pun salah Ia sendiri yang berpura-pura. Tetapi dia pun berpikir kalaupun dia tidak berpura-pura, apakah Jaemin akan menerimanya sebagai istrinya.
Karena terasa tidak memungkinkan lagi. Areun pun mulai melupakan kemungkinan bahwa setelah ini dia akan melakukan blind date lagi. Dia takut akan gagal lagi. Dan sedikit kurang dia bisa melupakan Jaemin
Meski hatinya sedih dan kembali terluka, Areun mencoba bersikap biasa saja di depan Kasi. Karena Areun tidak ingin membuat Kasi merasa sedih juga. Sudah cukup baginya merepotkan Kasi.
Beberapa hari kemudian . .
Di malam yang sejuk setelah hujan, Areun memperhatikan keluar jendela yang terbuka melihat sekitar yang basah karena hujan. Ia berhenti sejenak dari mengerjakan tugas di laptopnya. Kamarnya yang berukuran 1.5x2 meter ia biarkan gelap. Hanya ada cahaya dari laptopnya yang menyala dan lampu jalan yang masuk melalui jendela.
"Apa aku terima saja tawaran Jay, ya?" pikir Areun memandang kosong ke kejauhan.
"Tapi Dara pasti akan membenciku. Namun Kalau aku terima Jay, aku bisa melegakan hati Kasi dan aku pun tidak perlu sungkan bila menikah dengan Jay, karena dia adalah temanku sendiri," tambahnya entah kenapa tetap merasa tidak enak hati walau baru sekedar pemikirannya saja.
Suara langkah kaki berlari mendekat ke kamar Areun memecahkan kesepian saat itu. Areun yang sedang hanyut dalam lamunannya menoleh ke arah pintu yang terbuka. Namun dia acuh, Jake keponakannya pikirnya.
"Mereka setuju!" teriak Kasi penuh antusias dan begitu sumringah menggoyangkan handphonenya yang menyala disamping telinga. Areun melompat dari kursinya karena terkejut.
"Setuju apa?" tanya Areun memicingkan matanya bingung. Bergantian melihat kearah Kasi dan handphone.
"Tuan Jaemin mau ke tahap selanjutnya!" ucapnya penuh semangat.
"Aaaa...benarkah?!" pekik Areun bahagia. Matanya berbinar dan jantungnya berdetak kencang terlebih saat ia kembali terbayang wajah ganteng dan postur tubuh Jaemin yang hampir sempurna.
"Apakah aku bermimpi?" tanya Areun masih tidak percaya dengan kabar yang mengejutkan ini.
Areun dan Kasi saling menautkan jari-jari tangan mereka dan melompat-lompat kegirangan.
"Oke...oke...tenang!" Kasi mengatur napasnya yang menderu. "Mereka ingin mengadakan pertemuan keluarga besok malam," kata Kasi lebih mengejutkan lagi.
"Tapi.." Areun yang bahagia dan semangat menjadi murung. "Yang dia tahu aku buta, lalu besok aku harus tetap pura-pura?" tanya Areun meringis memegang tangan Kasi.
"Iya juga, aku jadi lupa soal itu. Terus bagaimana?" Kasi balik bertanya.
"Kalau aku jujur apa dia bisa menerima aku yang telah membohonginya? Bagaimana Kasi?" Areun merengek bagai anak kecil.
"Aku juga bingung ini." Kasi menggaruk kepalanya yang menjadi gatal karena berpikir. "Kita lihat saja keadaannya besok, Areun. Lalu kita akan putuskan bagaimana seharusnya."
Malam pun berlalu begitu lambat. Areun begitu gelisah hingga Ia tidak bisa tidur. Kabar baik dan buruk menyertainya malam ini.
A..a..a..a..a..a.. intro lagu bernada lambat dan suara penyanyi Taeyon yang merdu dimainkan di handphone Areun. Can't control Myself, seolah merefleksikan keadaan Areun saat ini. Ia begitu bingung mengambil keputusan untuk besok. Ia tidak ingin salah pilih hingga harapannya untuk bisa menikah dengan Jaemin musnah. Kiri kanan, bulak balik ia menghadapkan badannya yang tertutup separuh selimut.
"Arrrghhh!!!!" Geramnya lirih menutupi mukanya dengan selimut. "Bagaimana ini? Satu keputusan yang akan menentukan masa depanku." kata Areun.
"Jujur aku nggak mau kalau ini sampai gagal, aku sangat ingin menikah dengan Jaemin. Kalaupun aku harus berpura-pura buta asal bisa menikah dengan Jaemin, aku rela!" rengeknya dalam hati.
"Tetapi apa itu memang jalan yang baik? Kenapa ini jadi sulit!" pikirnya lagi.
Tanpa ia sadari, mata Areun menutup dan Areun pun tidur dengan sendirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments