Asisten Pribadi

Cahaya matahari dari luar memasuki kamar malalui pintu kaca besar mengusik tidur Areun. Perlahan Ia membuka matanya. Sudah pagi, gumamnya dalam hati. Rasa malas dan lelah sisa kemarin masi menggelayut di tubuh Areun membuatnya enggan untuk bangkit. Areun melihat dirinya sudah tertutupi selimut, Ia ingat betul kalau semalam Ia belum menarik selimutnya. Pikirannya pun langsung mengingat Jaemin.

"Apa dia yang menyelimuti aku?" Areun menoleh melihat kearah bantal disebelahnya dan tidak ada Jaemin disana. "Apa semalam Jaemin tidur disebelahku? Kenapa aku tidak menyadari saat Jaemin di sini. aduuuh!" Areun memukul-mukul keningnya pelan.

Tok...tok....

"Masuk!" Areun terduduk malas.

"Selamat pagi, nona." Seorang wanita tinggi kurus berbaju formal dengan rok span diatas tumit dan rambut tersanggul memasuki kamar Areun.

"Siapa dia?" Pikir Areun mulai berpura-pura tidak bisa melihat.

"Pagi!" Areun tersenyum dengan pandangannya yang tidak sejajar dengan wanita itu berdiri.

"Saya Wina, asisten pribadi anda." Wanita berkacamata itu memperkenalkan diri.

"Salam kenal Wina. Tetapi aku sudah bilang kepada Tuan Jaemin aku tidak ingin memiliki asisten."

"Tuan Jaemin sudah memberitahu saya. Saya akan didekat nona hanya saat nona membutuhkan saya, selebihnya saya akan berada di dapur dan menyiapkan keperluan nona."

"Oh gitu. Aku suka kalau begitu." Jawab Areun tersenyum menyibakkan selimutnya.

"Nona ingin mandi sekarang?" Tanyanya.

"Iya boleh," Areun terduduk di tepi tempat tidur dengan telapak kaki menyentuh lantai.

"Bath tube atau shower? Air hangat atau dingin?"

"Shower hangat saja,"

"Wah...nasib baik, hidup nyaman semua-semua dilayani. Aku tinggal bersantai dan mereka yang melakukan semuanya untukku."

"Silahkan, sudah siap airnya, nona. Anda ingin menggunakan pakaian apa dan warna apa?"

"Pakaian santai saja, warnanya yang adanya saja." Areun berdiri dari duduknya. "Apa kamu tahu Tuan Jaemin ada dimana sekarang?" Tanya Areun.

"Tuan sepertinya masih lari pagi keluar." Jawabnya.

"Begitu, ya." Areun mulai berjalan ke kamar mandi.

"Apa anda ingin saya menuntun anda?" Tanyanya dengan sopan.

"Tidak usah, saya bisa. Agar saya terbiasa juga."

"Baiklah." Wina memasuki ruangan pakain sementara Areun memasuki kamar mandi.

Selesai mandi Areun meminta Wina menunggu diluar kamar menunggu Areun berpakaian.

Sesaat setelah Wina keluar dan menutup pintu, pintu kayu berwarna putih itu kembali terbuka. Areun yang hampir membuka handuknya terkejut.

"Aku kan sudah bilang tunggu diluar?" Pekik Areun kesal, pandangannya lurus kedepan tidak menoleh ke arah pintu.

"Ini aku." Suara Jaemin yang terdengar.

"A...kamu. Maaf, aku tidak tahu." Areun mengarahkan badannya ke arah suara Jaemin. Ia bisa melihat Jaemin mengenakan kaos hitam yang pas dengan tubuhnya memperlihatkan otot lengannya yang tercetak dibagian tangan, dan celana training warna merah dengan list hitam. "Kalau begitu aku pakai baju dikamar mandi saja." Areun membungkuk, tangannya mencari keberadaan baju yang terlipat rapih di ujung bawah tempat tidur.

Areun menarik baju itu kepelukannya dengan cepat kembali berdiri tegap dan berbalik dalam waktu yang bersamaan. Namun tubuhnya menabrak Jaemin yang sudah berada dihadapannya sekarang. Mata Areun tepat sejajar di dada Jaemin sekarang. Tangannya yang menempel diperut Jaemin bisa merasakan baju itu basah oleh keringat. Meskipun berkeringat Areun hanya mencium aroma wangi mint menyerebak dari tubuhnya. Jantung Areun berdegup kencang lagi.

"Kenapa di kamar mandi, kamu bisa berpakain disini." Kata Jaemin memegang dua pergelangan tangan Areun di dadanya. Jaemin menundukkan kepalanya begitu dekat dengan wajah Areun. Areun menelan ludah Ia bisa melihat wajah tampan itu dengan jelas. Dan bibirnya yang tipis merah dan sexy ketika berbicara begitu menggoda untuk Areun.

"Aku belum terbiasa." Areun menahan handuk putih yang melilit ditubuhnya dengan satu tangannya karena mulai terasa kendur.

"Kamu ganti disini saja. Karena aku ingin mandi." Jaemin berbalik dan berjalan santai ke kamar mandi.

"Haish..." keluh Areun di dalam hati. "Apa-apaan ini? Aku pikir akan terjadi hal romantis setelah itu. Ya Tuhan...kenapa aku bisa memikirkan hal yang tidak-tidak? Dasar mesum."

...***...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!