Adik Sepupu

"Wanita itu tidak menungguku diluar." Gumam Areun memperhatikan sekitar yang nampak sepi dan tenang setelah keluar dari kamar.

Areun berjalan perlahan dan tangannya lurus kebawah meraba-raba udara, berpura-pura berjalan berhati-hati takut ada orang lain sedang memperhatikannya. Areun berjalan ke sebelah tangga besar yang menuju lantai dua. Kamar Jaemin berada didekat dan juga pintu utama.

Di kejauhan dia bisa melihat seorang pria tinggi, berambut pirang mengenakan sweeter putih sedang berjalan semakin mendekat dengannya. Areun berpura-pura tidak bisa melihat pria itu dan melewatinya begitu saja.

"Eh..." Tangan besar pria dengan tinggi 183 cm itu melingkar di sikut Areun.

"Aduuh" Areun mengaduh berpura-pura terkejut.

"Ada apa dengan orang ini, aneh!" Pikir Areun tidak melihat ke arah pria itu.

"Kenapa kamu tidak menyapaku?" Tanyanya ketus. Alis kiri Areun terangkat. "Oh iya, aku lupa...kamu tidak bisa melihat!" Pria itu tertawa mengejek.

"Siapa kamu?" Tanya Areun dongkol.

"Aku adik sepupu kak Jaemin. Adik kesayangannya!" Penuh penekanan Dia berbisik ditelinga Areun.

"Harusnya kamu lebih hormat kepadaku. Aku kakak iparmu."

"Idih...tidak ada yang menganggapmu di rumah ini, kecuali kak Jaemin." Kata Pria itu angkuh. "Lebih berhati-hati disini, kamu bisa terluka nantinya." Bernada mengancam Pria itu pun berjalan pergi.

Areun melesatkan tonjokan udaranya mengarah ke Pria itu. "Dia pikir aku takut!" Gumam Areun lemah.

"Areun?" Jaemin muncul kemudian menghampiri Areun yang masih kesal. "Kenapa kamu berjalan sendiri?" Tanyanya mengaitkan tangan Areun dilengannya.

"Aku ingin lebih mengenal rumah ini."

"Kamu bisa meminta Wina menemanimu, agar kamu tidak tersesat. Ayo kita ke ruang makan untuk sarapan. Semua menunggu kita di meja makan." Jaemin menuntun Areun sampai menuju ruang makan.

"Semua? Ada berapa banyak orang di rumah ini sampai harus menyebut mereka semua?" Areun bertanya-tanya di dalam pikirannya.

"Pagi!" Sapa Jaemin kepada 8 orang yang sudah duduk dibangku masing-masing mengelilingi meja makan. Dan Pria menyebalkan itu bisa Areun lihat duduk diantara mereka.

"Oh menantu, silahkan duduk!" Kakek Jaemin yang duduk di sisi ujung meja makan dengan ramah mempersilahkan. Hanya Kakek ini yang terlihat ramah, yang lain berwajah ketus.

Umur kakek sudah 90 tahun lebih.

Jaemin menarik kursi dan membantu Areun duduk. Jaemin duduk di kursi sebelah kirinya, di sebelahnya Ia bisa melihat Ibu Jaemin dan di sebelahnya lagi Ayah Jaemin. Pria menyebalkan itu sekarang duduk disebrang Areun. Di sebelah kanan pria itu ada seorang wanita yang terlihat seumuran dengan Ibu Jaemin dan pria kurus yang terlihat lebih muda dari Ayah Jaemin. Disebelah kiri pria itu ada dua orang anak perempuan yang kira-kira berumur 12 tahun dan wajah keduanya mirip.

Sarapan pagi pun di mulai dengan tenang. Mereka terlihat begitu menikmati sarapan mereka. Pria menyebalkan itu tersenyum-senyum meledek seolah merasa Areun tidak bisa melihat bahwa Ia sedang menertawainya.

"Kalian lanjutkan sarapannya, Kakek akan ke kamar." Kakek berambut putih itu berjalan sedikit membungkuk.

"Aku akan mengantar Ayah." Ayah Jaemin segera memapah Kakek yang ringkih.

"Aku selesai." Ibu Jaemin pergi tidak lama kemudian.

"Kakak tunggu!" Wanita disebelah Pria menyebalkan itu menyusul Ibu Jaemin. Pria disebelahnya pun mengikuti.

"Jisung!" Jaemin memanggil dan pria menyebalkan itu menoleh melihat Jaemin.

"Bagaimana? Kapan kamu akan mulai bekerja?" Tanya Jaemin.

"A-ku...belum siap kak." Jawab pria yang tadi terlihat begitu percaya diri tiba-tiba berubah menjadi pria kikuk dihadapan Jaemin.

"Kamu harus segera bergabung di perusahaan. Oh iya, Areun!" Jaemin menengok ke arah Areun. "Dia Jisung, dia adik sepupuku. Dia baru kembali dari amerika tiga bulan yang lalu."

"Salam kenal!" Ucap Areun berpura-pura manis padahal dihatinya kecut karena Pria itu.

"Ka Jaemin, kami akan berangkat les." Dua orang anak perempuan itu berdiri.

"Iya Nura dan Nara. Mereka adik Jisung, mereka kembar, Areun."

"Benarkah?!" Areun berpura-pura terkejut. "Aku ingin tahu seberapa mirip mereka?" Dengan jelas ia bisa melihat bahwa kedua memiliki wajah yang mirip dan postur tubuh yang hampir sama.

"Mereka bukan kembar identik, tetapi mereka mirip satu sama lain."

"Oh begitu. Jaemin, apa kamu bisa mengajakku berkeliling rumah?" Tanya Areun agar bisa segera pergi dari hadapan Jisung.

"Tentu!" Jawab Jaemin berdiri dan membantu Areun untuk bangkit.

"Kenapa tidak menyuruh Wina saja?" Kata Jisung seolah keberatan Areun bersama Jaemin.

"Aku ada dirumah, jadi aku yang akan menemani istriku. Ayo, Areun!" Jaemin merangkulkan erat lengannya.

"Ini tidak mudah bagiku, berpura-pura tidak bisa melihat diantara mereka yang terang-terangan membenciku. Bila Jaemin tidak ada disisiku, aku pasti sudah menyerah dalam posisi ini."

...***...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!