Setelah menghadiri peragaan busana tadi malam Amelia tampak kelelahan, selain harus mengikuti acara sampai selesai ia juga harus menerima ajakan makan malam dari Steven. Amelia tidak tahu bahwa Steven memiliki restoran western di kota J Ini. Mereka makan malam di restoran milik Steven dengan alasan besok sebagai salam perpisahan karena besok Steven benar-benar akan kembali ke Paris.
Amelia langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur setelah membersihkan diri. Ia sempat memikirkan pertemuan dengan Richard tadi malam namun lama kelamaan matanya terpejam karena sangat mengantuk. Sedangkan Meyra juga sudah tertidur di kamar tamu.
Mimpi Amelia sirna ketika suara ketukan pintu cukup keras memaksanya untuk bangun.
"Tok.. tok..., nona Amel...bangun..., ada hal penting!" teriak Meyra dari luar kamar Amelia.
"Dasar berisik, kenapa dia selalu saja menganggu tidurku!" umpat Amelia sambil berusaha bangun dari tidurnya.
Amelia bergegas ke kamar mandi lalu mencuci muka dan menuntaskan panggilan alamnya, baru setelah itu Amelia membuka pintu kamarnya dengan sedikit kesal.
Ceklek
"Ada apa, Mey, kenapa kau suka sekali menganggu tidurku?" tanya Amelia sambil memasang muka cemberut.
"Sini!" ucap Meyra sambil menarik pergelangan tangan Amelia lalu mendudukkan sang bos ke sofa ruang tamu.
"Ada apa?" tanya Amelia sambil menatap heran pada asistennya itu.
"Lihat ini!" Meyra memberikan ponselnya pada Amelia.
Mata Amelia membelalak ketika melihat berita yang ada di media sosial yang berisi tentang dirinya bersama Richard dan Steven. Di pemberitaan itu terlihat Amelia dan Richard saling berpelukan dan juga gambar Amelia sedang berbisik dengan Steven dan terlihat mesra, berikutnya gambar Amelia sedang makan malam berdua dengan Steven. Dilihat dari baju yang dipakai Amelia, Steven dan Richard di foto tersebut diambil sewaktu acara peragaan busana, namun yang paling menyesakkan adalah tulisan miring tentang Amelia yang disertakan di foto-foto tersebut.
"Katakan pada saya nona Amel bahwa semua berita miring ini tak benar? tanya Meyra gusar.
"Ini semua tak benar, Mey, aku merintis karir menjadi bintang iklan dengan cara yang lurus, aku tak seperti yang mereka tuduhkan. Baik pak Richard maupun tuan Steven juga tuan Jonathan semua hanya teman kerja, kami profesional. Kau kan orang kepercayaan tuan Steven yang ditugaskan untuk membantuku, pasti kamu juga tahu siapa tuan Steven dan bagaimana hubunganku dengannya," jawab Amelia jujur.
"Ya aku percaya dengan nona Amel, tapi orang di luar sana mana mau percaya begitu saja," ucap Meyra terdengar cemas.
"Lalu, aku harus bagaimana, Mey menghadapi mereka?" tanya Amelia gusar.
"Sebaiknya nona Amel bersikap biasa saja di depan publik, kalau ada wartawan yang tanya jawab sejujurnya, toh nona kan memang tak melakukan apa yang mereka tuduhkan," saran Meyra.
"Kalau mereka masih nggak percaya dan mempengaruhi karirku dan perusahaan Z yang produknya aku bintangi bagaimana?"
"Kita bisa adakan jumpa pers, kita hadirkan tuan Richard dan tuan Steven, juga CCTV yang ada di dalam ruangan hotel itu juga restoran itu, ini hanya permainan biasa dari seseorang yang tak suka dengan keberhasilan yang anda capai," ujar Meyra yang sepertinya lebih paham dengan seluk beluk dunia entertainment. Hari ini seseorang bisa di puja namun besok bisa juga seseorang di hina, jika tak pandai membawa diri akan berakibat fatal pada diri sendiri bahkan orang lain.
Belum lagi rasa gusar reda, ponsel Amelia berbunyi, terlihat nama Richard di sana. Meski engan akhirnya Amelia menggeser tombol hijau di layar.
Amelia
"Hallo, Pak Richard ada apa menelpon?"
Richard
"Bagaimana keadaanmu?"
Amelia
"Saya baik-baik saja memang kenapa ya Pak?"
Richard
"Apa kau sudah melihat berita on line pagi ini?"
Amelia
"Sudah, memang ada apa?"
Richard
"Apa kamu tak merasa terganggu dengan berita itu?"
Amelia
"Ya jujur saya merasa terganggu, tapi pak Richard jangan khawatir, nama bapak dan Sanjaya group akan baik-baik saja."
Richard
"Aku sungguh mengkhawatirkan mu, kalau kau butuh bantuan apapun, kau bisa menghubungiku."
Amelia
"Terima kasih, atas perhatiannya, tapi saat ini saya baik-baik saja."
Richard
"Ya sudah jaga diri kamu baik-baik."
Panggilan pun tertutup, Amelia menghela nafas panjang.
"Apa jadwalku hari ini, Mey?" tanya Amelia lesu.
"Ada acara promosi di mall xx dengan pengisi hiburan nya mbak, Mayang, Penyanyi yang sedan naik daun itu," jawab Meyra
"Jam berapa acaranya, Mey?"
"Jam sepuluh."
"Rasanya malas, Mey," ucap Amelia lesu.
"Nggak usah di pikirkan nona, dunia selebriti memang seperti ini, penghasilan makin banyak ujiannya juga makin besar, yuk sekarang kita sarapan dulu biar nggak suntuk!" ajak Meyra menarik tangan Amelia untuk ke ruang makan, Amelia pun menurut saja ajakan asistennya itu.
Mereka makan dalam diam, Amelia sebenarnya tak berselera makan, apa lagi setelah melihat berita on line tadi, namun ia tak boleh terpuruk dengan keadaan. Kalau sampai ia jatuh, orang-orang tak menyukainya akan tertawa keras melihat keterpurukannya.
"Nona Amel, boleh saya tanya sesuatu yang agak pribadi?" tanya Meyra hati-hati.
"Tanyakanlah, aku tak apa, dari pada kamu berubah seperti penyebar berita bohong itu."
"Apa nona Amel memiliki hubungan khusus dengan pak Richard?"
"Hubungan kami sebatas atasan dan bawahan, tak lebih dari itu."
"Apa nona pernah memiliki perasaan spesial dengan pak Richard?"
"Iya, tapi itu dulu sewaktu aku masih jelek, cupu dan kampungan."
"Maksud nona?"
Amelia lalu menceritakan awal mulai susahnya dia mencari pekerjaan dan akhirnya bekerja di Sanjaya group lalu bertemu dengan Richard kemudian di tugaskan menjadi asisten Richard. Meyra sangat terkejut bahwa Amelia pernah mengalami fase sulit dalam hidupnya.
"Jad sekarang, nona Amelia sudah tak memiliki perasaan apapun pada tuan Richard?"
"Tidak, aku tak sebodoh itu akan masuk di lubang menyakitkan yang sama."
"Tapi bagaimana jika tuan Richard benar-benar mencintai nona?"
"Aku tak akan percaya, kalau benar dia mencintaiku pasti karena aku sudah berubah menjadi cantik, sudah lah kenapa bahas dia, aku mau mandi dulu setelah itu kita akan bersiap ke mall xx itu!" ajak Amelia kemudian berdiri dari kursinya dan segera pergi ke kamar mandi.
"Kasihan juga nona Amel pernah memiliki kenangan menyakitkan seperti itu," batin Meyra.
Pukul sembilan Meyra dan Amelia ke mall xx tempat acara promosi produk kecantikan yang ia bintangi. Namun baru sampai lantai dasar Amelia sudah di tunggu banyak pencari berita.
"Astaga, Mey banyak wartawan di depan, bagaimana kita bisa keluar dan dari mana mereka tahu aku punya Apartemen disini, padahal hanya kau, orang tuaku dan tuan Steven yang tau tentang Apartemen ini?"tanya Amelia panik.
"Tenang, nona, sebaiknya kita minta bantuan security untuk meminta mereka pergi secara baik-baik," saran Meyra.
"Oke, terserah kau saja, aku sudah pusing melihat semua ini!" ucap Amelia frustasi.
Amelia segera menhubungi security untuk meminta para wartawan keluar dari lingkungan apartemen, meski terjadi keributan sedikit antara security dan para wartawan, akhirnya para pencari berita itu bersedia keluar dari lingkungan apartemen dengan perasaan kecewa.
Setelah para wartawan pergi, baru Amelia dan Meyra bisa keluar apartemen menuju mall xx.
"Apa nona punya musuh?" tanya Meyra ketika sudah di dalam mobil .
"Aku merasa tidak punya musuh, memang kenapa Mey?"
"Saya rasa ada seseorang yang tak suka dengan kesuksesan anda nona dan semua kejadian dari menyebarnya berita on line sampai kedatangan wartawan ke apartemen nona, semua sudah di rencanakan," ujar Meyra yang berusaha menarik benang merah dari rentetan kejadian buruk yang menimpa nonanya itu.
"Aku merasa tak punya musuh, aku juga tak pernah bermasalah dengan selebritis lain, siapa ya?" tanya Amelia dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments