Setelah meninggalkan bilik ibundanya, maka dyah ayu parangkawuni bergegas mencari tumenggung singha wara.
Di suruhnya seorang prajurit jaga , untuk menghadap kepadanya.
Tidak terlalu lama datanglah sang tumenggung ke taman kaputren,
" ada gerangan apakah anakmas dyah ayu, memanggil paman, !" kata tumenggung singha wara.
" begini paman, saat tempo hari kita di cegat di gunung argo, apakah paman tahu siapa yg menolong kita waktu itu,?" tanya putri parangkawuni.
" paman tidak tahu, !" ujar tumenggung singha wara sambil menggelengkan kepalanya.
" namanya, atauu tempat tinggalnya, ?" desak Sang putri.
" ehh, iya, namanya kalau tidak sa..la..h, adalah Wikala dan asalnya dari DAhA, !" kata tumenggung singha wara.
" kuharap paman dapat menolongku untuk mencarinya, kalau bertemu, suruh menghadap kepadaku, !" perintah putri parangkawuni.
" baiklah anakmas, paman akan menyuruh prajurit sandi untuk mencarinya, nanti setelah nya saya suruh, menghadap,!" jawab tumenggung singha wara.
" Secepatnya, bila perlu sebelum penobatan ramanda Prabhu, !" perintah putri parangkawuni tegas.
" semoga, secepatnya ,!" jawab tumenggung singha.
Setelah putri parangkawuni kembali ke biliknya, tumenggung singha wara pun pergi dari taman kaputren, dan memerintahkan seorang prajurit sandi melaksanakan perintah putri parangkawuni.
******
Sementara di desa thanda, Wikala yg masih gundah gulana, berniat menemui gurunya di Merbabu sekaligus ingin melihat keadaan Larasati adiknya.
" Romo izinkan ,ananda menemui guru di Merbabu, barang sepekan,!" pintanya kepada Mpu Thanda.
" Apakah angger tidak ikut, menghadap paseban agung , di keraton,?" Mpu Thanda kepada Wikala.
" paseban agung kan ,sekira dua pekan lagi, ananda kan masih mempunyai waktu, sepekan,!" ucap Wikala.
" terserahlah, padamu ngger, yg penting buat Romo, jangan membuat malu keluarga Narapati, !" jelas Mpu Thanda.
" Mudah mudahan hamba tidak akan membuat malu keluarga, dengan memenuhi undangan itu,!" kata Wikala.
Setelah mendapat restu dari kedua orang tuanya maka Wikala pun menemui Tantri guna pamitan.
Setelah dari desa thanda, Wikala segera merapal ajian mega mendung sekaligus ajian wisnu kencana guna mempercepat
sampainya di Merbabu, setengah harian ia berlari dalam bentuk gulungan kabut, sampailah Wikala di Merbabu.
Kecepatan gulungan kabutnya laksana mega mega di hembus sang bayu yg sangat kuat itulah kehebatan ajian mega mendung.
Sesampainya di Puncak Merbabu Wikala langsung menemui Mpu Barada gurunya, yg kala itu sedang duduk bersila seperti tengah bersemedi.
" ampun eyang, murid menghaturkan sembah,!" ucap Wikala.
" Sembah murid, guru terima,!" kata Mpu Barada masih dalam posisi semula.
" ada apa kah gerangan kedatangan angger ke Puncak Merbabu kembali,?" tanya Mpu Barada lagi.
" sungguh murid , mempunyai masalah yg sangat rumit, Dan mohon bantuan eyang guru memecahkannya,!" jawab Wikala.
Setelah di ceritakan semuanya oleh Wikala, maka sang guru, nampak manggut-manggut , kemudian berkata,
" Sungguh ngger Wikala, murid ku yg sangat kusayangi, bahwa sesuatu di alam mayapada ini ada yg mengaturnya,
jika angger memang digariskan untuk menjadi bagian dari keraton, angger pun tidak bisa menolaknya, karena hyang widhi wasa telah, menentukannya,!" ucap Mpu Barada pelan.
" jadi guru , apakah murid tidak berdosa, terhadap seorang yg murid sayangi kemudian meninggalkan nya guna memenuhi wasiat eyang Narapati dan Prabhu Wikramawardhana,?" tanya Wikala pada gurunya.
" Sebenarnya perbuatan menyakiti itu adalah dosa , tetapi terkadang sesuatu yg sakit di awalnya, akhirnya menjadi bahagia,!" tutur Mpu Barada.
" eyang contohkan kepada anak ayu Brhe wirabhumi , dyah suhita brhe daha, sudah kehilangan ramanda nya Prabhu wirabhumi ia pun harus jadi istri Prabhu Wikramawardhana , orang yg telah membunuh ramandanya melalui tangan eyangmu, kondisinya saat itu benar-benar menyakitkan, akan tetapi beliau kemudian berakhir bahagia dengan diangkat sebagai permaisuri dan anaknya kelak menjadi Ratu di negeri Majapahit ini,!" jelas Mpu Barada dengan panjang lebar.
Wikala kelihatan menarik nafas dalam dalam seakan mencerna apa yg telah diwejangkan gurunya itu.
Larasati yg baru kembali dari sendang, melihat Wikala ada dihadapan gurunya, langsung berlari memeluknya, dan berkata,
" sudah lama kakang tidak datang, kami berdua rindu, bukan begitu eyang,!" kata nya sambil melepaskan pelukannya.
Mpu Barada mengangguk mengiyakan.
" kakang sibuk membantu para pemuda untuk meningkatkan ilmu silatnya,!" jawab Wikala.
" ada hal apa kakang datang kemari, bagaimana keadaan romo dan biyung,!" tanyanya lagi
" romo dan biyung dalam keadaan baik ,!" jawab Wikala.
" nanti semisal angger kembali, eyang mohon sambangi dulu padepokan Semeru, ada perasaan kurang enak terhadap kakang wekaz,!" ucap Mpu Barada memotong percakapan kedua kakak beradik itu.
" baik eyang,!" jawab Wikala.
" kang, Khabar Tantri bagaimana, ?" tanya Larasati kepada Wikala.
Nampak raut wajah Wikala berubah, yg tadinya sudah kelihatan cerianya akibat wejangan sang guru tiba-tiba menjadi keruh kembali.
" Keadaan Tantri pun, baik,!" jawab Wikala singkat.
" kakang nampaknya kurang senang ketika kutanyakan Tantri, apakah kakang punya masalah dengannya,!" tanya Larasati mendesak.
" tidak, kakang tidak punya masalah dengannya,!" jawab Wikala.
" awas kalau menyakiti Tantri, berarti kakang menyakitiku , juga,!" ucap Larasati ketus.
" dan kakang akan berhadapan dengan ku, !" kata Larasati bernada marah.
******
Sementara di istana kerajaan Majapahit, kesibukan makin meningkat mengingat wisuda penobatan Prabhu rajasawardhana, tinggal menghitung hari.
Di salah satu sudut istana, tampak tengah berbincang salah seorang putra Prabhu rajasawardhana yaitu dyah Rana wijaya dengan salah seorang bangsawan keraton yg bernama Mahisa Dara putra seorang rakryan Mantri Kuda Langhi.
" Sebenarnya selain wisuda ramanda Prabhu, nanti dinda dyah parangkawuni akan dijodohkan,!" ucap dyah Rana wijaya kepada Mahisa Dara yg juga merupakan temannya.
" siapakah kiranya, orang yg beruntung mendapatkan gusti putri parangkawuni,?" tanya Mahisa Dara kepada Sang pangeran.
" Entahlah Dara, Aku pun tidak tahu , kata ramanda Prabhu itu merupakan kejutan,!" jawab dyah Rana wijaya.
" Adakah orang dalam istana yg akan menjadi jodoh Gusti putri,?" tanya Mahisa Dara seolah kepada diri sendiri.
" Seperti nya tidak, dan bukan seorang yg berkedudukan di istana baik istana Majapahit ini ataupun istana kadipatenan,!" terang dyah Rana wijaya.
Sesaat Mahisa Dara terdiam, ia terbawa lamunannya, melihat sosok dyah ayu parangkawuni yg cantik jelita dengan bermatakan indah,
" andai aku, jodoh tuan putri, bahagia nya aku,!" pikirnya dalam hati.
" apakah pangeran akan tetap di Majapahit setelah Gusti Prabhu di wisuda,?" tanya Mahisa Dara mengalihkan pembicaraan.
" mungkin sementara waktu ia, akan tetapi istana kahuripan pun akan kosong setelah ramanda Prabhu menetap disini, jadi mungkin salah satu dari kami, baik kangmas Samara, karana atau sendiri pasti yg akan menempatinya,!" jawab dyah Rana wijaya.
" Jika pangeran menjadi wisaya ( adipati) , hamba mohon ajak lah hamba turut serta,!" pinta Mahisa Dara.
" jangan khawatir Dara ,kita telah berteman sejak kecil, tetapi apakah dirimu suka meninggalkan istana Majapahit ini?" tanya dyah Rana wijaya kepada Mahisa Dara.
" Sebenarnya sih, hamba sangat senang di sini, akan tetapi hamba pun harus memikirkan masa depan saya,!" ucap Mahisa Dara.
Setelah beberapa lama berbincang pangeran dyah Rana wijaya dan Mahisa Dara pun berpisah,
Sepeninggal dyah Rana wijaya, Mahisa Dara kembali kerumahnya, di kediaman rakryan Mantri Kuda Langhi, seorang Mantri wreda , yg telah lama mengabdi di istana sejak zaman Shri Ratu suhita sampai saat ini.
Di rumahnya, tampak rakryan Mantri sedang duduk di pendopo setelah selesai menjalankan tugasnya mengatur tempat menginap para tamu undangan.
" ramanda, saya dengar dari pangeran rana wijaya, bahwa putri parangkawuni akan di jodohkan saat wisuda nanti,!" ucap Mahisa Dara setelah duduk dekat ramanda nya.
" hehh, dengan siapa, ?" tanya rakryan Mantri Mantri terkejut mendengar ucapan anaknya.
" saya tidak tahu , pangeran pun tidak mengetahuinya, dan dari nada bicaranya pun kurang suka dengan perjodohan itu,!" jawab Mahisa Dara.
" orang dalam atau luar istana , ?" tanya rakryan Mantri lagi.
" sepertinya luar istana,!" kata Mahisa Dara.
" sungguh beruntung orang itu!" ucap rakryan Mantri Kuda Langhi.
" mengapa Dara, engkau tidak mampu menarik hati tuan putri, percuma memiliki ilmu ngerogoh sukma, tapi tuan putri tidak dapat kau takhlukan,!" kata rakryan Mantri kepada anaknya dengan nada kecewa.
" karena kudengar tuan putri akan menjabat jadi wisaya (adipati) di pamotan,!" tutur rakryan Mantri lanjut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Fatur
kayak awan kinton....
2022-09-12
1
Wira Yoga
Intrik istana akan ada
2022-03-30
0
Zakaria faizz
iya karena episode satria dari DAhA episode 2 dan episode 1 adalah Romansa di desa thanda, maaf atas salah susun
2022-03-19
0