Setelah berpikir sejenak , akhirnya Wikala memutuskan melewati Kali Brantas guna mempercepat sampai ke rumah.
Dengan menggunakan ajian wisnu kencana ajian lari cepatnya , setelah seharian penuh . Hingga ketika sang surya diufuk barat sudah berwarna merah , sampailah Wikala di alas kruing.
Karena rasa lapar yg sangat ,Wikala beristrahat sekaligus mencari santap malam di alas kruing.
Setelah berburu beberapa saat akhirnya didapatkannya seekor kelinci yg gemuk, kemudian di panggangnya.
Malam itu ia tidur di alas kruing.Keesokan paginya ia melanjutkan prjalanannya dengan menerobos alas kruing,karena kalau melewati kademangan kulonan ,maka ia akan sampai tengah hari sedangkan jalan lurus ia akan sampai saat matahari menggatalkan kulit.
Sesampainya di rumah, keadaan rumah sepi.Wikala bergegas menuju belakang ,juga sepi, akhirnya ia berlari menuju sawah yg ada di ujung bulakan.
Sebentar saja ia telah sampai di persawahan yg luas,sawahnya sendiri berada di tepi jalan.Dilihatnya dari kejauhan ibu dan adiknya.
" Biyuuuung ,larasss,!" sambil lari ia berteriak.
" Hehh, kaukah itu ,ngger,!" ucap ibunya.
Ketika ia sampai, di peluknya ibu dan adiknya bergantian.
" Ngger , sudah besar kau sekarang, ngger,!" seru ibunya sembari memeluknya.
" Larasati juga sudah besar, sudah jadi gadis pula,!" sambil melirik adiknya.
" Kakang kok lama sekali perginya, ?" tanya Larasati.
" Baru sekarang ini, kakang diizinkan pulang oleh eyang Barada,!" jawab Wikala.
" Biyung , kemana ramanda,?" tanya Wikala pada ibunya.
" Romomu , sedang bersemadi di bukit kanca nuwu,!" jawab ibunya.
" Marilah kita pulang, biyung pengen dengar pengalaman mu selama ini, !" ajak ibunya.
Mereka bertiga pulang ke rumah , meninggalkan sawah yg mulai menguning padinya.
Daerah kadipaten DAHA dan kahuripan
merupakan lumbung padi bagi kerajaan Majapahit, Meskipun Majapahit di landa kekeringan dan kelaparan pada masa Prabhu Wikramawardhana ,tetapi dua kadipaten ini yaitu daha dan kahuripan tetap mampu menghasilkan padi dan beras.
Ketika di rumahnya , Wikala bercerita panjang lebar tentang perjalanan dan pengalaman nya.
" Tetapi ngger, akhir akhir ini desa kita kurang aman , banyak begal dan rampok berkeliaran,!" tutur ibunya setelah Wikala selesai bercerita.
" Darimana mereka datang,?" tanya Wikala.
" Katanya dari gunung Willis, mereka kejam dan bengis dan tidak segan segan membunuh, !" lanjut ibunya lagi.
" Tapi sudahlah usah kau pikirkan, desa kita belum pernah mereka sambangi , namun desa sain ,desa sebelah ,sering,!" tukas ibunya lagi.
Sementara Larasati menyiapkan makanan di dapur.Wikala membersihkan diri di pakiwan( sumur) belakang.
Setelah mandi dan berganti pakaian, mereka bertiga bersantap bersama.
Malam harinya sambil duduk duduk di pendopo rumahnya, Larasati datang menghampirinya.
" Kang ,ajari Laras ilmu silat,!" pinta Larasati.
" Buat apa kau belajar ilmu silat ,adikku,?" tanya Wikala.
" Daerah kita kan, mulai tidak aman , sementara Romo jarang di rumah ,sewaktu waktu mereka datang , bagaimana nasib kami, aku dan biyung,!" jelas Larasati.
" Sementara Tantri sudah mulai,belajar, !" lanjutnya lagi.
" Ehh, Tantri belajar ilmu silat,?" tanya Wikala.
" Iya Kang, sekarang ia sudah besar dan cantik pula, pasti kakang akan pangling kalau bertemu dengan ya, !" kata Larasati.
" Iyaa,kah,!" jawab Wikala tidak percaya.
Paginya Wikala berjalan jalan di pematang sawahnya ,sambil melihat saluran air . Persawahan itu membatasi dua desa yaitu desa thanda dengan desa sain .Di tengah nya ada kali yg mengalir dan airnya jernih.Kali itu dinamai kali thanda.
Sawah keluarga Wikala yg terluas karena dulunya daerah thanda merupakan tanah pelungguhan untuk raden Wirapati ramanda Wikala, yg merupakan pejabat keraton Majapahit.
Saat sang Surya tepat diatas kepala, Larasati dan ibundanya datang ke gubuk
sawah.
Wikala, Larasati dan ibundanya makan bersama diatas gubuk
Sesaat kemudian tiba tiba dari sebrang Kali, ada yg memanggil manggil.
" Larass, larass, larass,!" teriak orang itu.
Larasati menoleh kan kepalanya dan berkata,
" Heeii, Tantri, kemarilah, mari makan bersama kami, !" balas Larasati.
Serta merta Tantri menyebrangi Kali yg tidak terlalu lebar dengan menggunakan jembatan bambu.
Setibanya di gubuk, Tantri tampak ragu ragu.
" Ayo, sini naik,!" ajak Larasati.
Tantri diam saja, setelah ibunya mengajak barulah Tantri mau naik.Ia tampak sungkan melihat Wikala berada di situ, mulanya Tantri mengira Wikala adalah orang asing.
Larasati lah berkata kemudian untuk mencairkan suasana .
" Ini, adalah kakang Radeksa,temanmu dulu mandi di Kali,!" jelas Larasati.
" Hheii, Tantri sudah besar sekarang dan cantik lagi,!" seru Wikala.
Tampaklah wajah Tantri bersemu kemerahan.
Lama Tantri terdiam ,salah tingkah .
Melihat gelagat ini , kembali Larasati menanyakan apa sebab ia memanggil tadi.
" Ehh, aku mau tanya , apakah kau mau belajar nari bersama bibi sintira,?" tanya Tantri.
" Mungkin mau Tri, sebab kakang Radeksa sudah pulang,!" jawab Larasati.
" Ehh, apa khabar Tri,?" tanya Wikala.
" Baik Kang, Deksa,!" jawab Tantri malu- malu.
" Memangnya belajar narinya ,dimana,?" tanya Wikala lagi.
" Di banjar desa Kang, !" jawab Tantri.
" Besok kutunggu di banjar desa, ya, rass,!" ucap Tantri sambil turun dari gubuk.
" Nggak makan dulu nak, Tantri,?" tanya ibunya Wikala.
" Nggak, biyung, Tantri sudah makan tadi, !" jawab Tantri
Yg kemudian beranjak menuju jembatan bambu.
Setelah kepergian Tantri , Wikala nampak terdiam, ada yg aneh saat melihat Tantri, padahal dahulu mereka teman sepermainan .
Keesokan paginya dengan diantar Wikala , Larasati berangkat ke banjar kademangan thanda sain, desa sain merupakan padesan induk kademangan .
Yg demangnya adalah ayah Tantri.
Di banjar kademangan telah ramai orang, termasuk ki demang dan perangkatnya .Para anak gadis yg akan belajar Tari, juga tidak ketinggalan Tantri.
Melihat kedatangan Larasati,Tantri berlari menghampirinya.
" Mengapa kakang Radeksa kau ajak,?" tanyanya pada Larasati.
" Emang tidak boleh kakang Radeksa ikut,?" Larasati balik bertanya .
" Bukan begitu, tapi kan, laki- laki- jarang yg mau menari ,!" jawab Tantri.
" Kakang Radeksa datang bukan untuk belajar Tari tapi sekedar jalan- jalan,!" terang Larasati.
Nampak kepala Tantri manggut- manggut, kemudian mereka naik keatas
banjar, sementara Wikala bergabung dengan para orangtua yg mengantar anaknya.
Setelah di buka oleh ki demang, maka latihan tari pun di mulai.
Ketika melihat Wikala ,ki demang pun memanggil nya . Setelah Wikala duduk di dekatnya berkatalah ia,
" Kapan angger Radeksa pulang,?" tanya ki demang.
" Kemarin ki demang,!" jawab Wikala.
" Begini loh, ngger, akhir akhir ini desa kita kurang aman,jadi saya berharap angger Radeksa mau sedikit memberi pelatihan kepada pemuda desa guna dapat menjaga keamanan desa,!" ujar ki demang tanpa tedeng aling-aling.
" Kapan kira- kira waktunya, Ki,?" tanya Wikala.
"Kalau angger mau dalam sepekan tiga kali,!" jawab ki demang.
" Baiklah ki, esok malam ,kita mulai,!" sahut Wikala.
Setelah selesai latihan tari, Wikala dan Larasati diajak singgah ke rumah ki demang.
Mereka disana di jamu dengan makan bersama,sambil bercerita tentang pengalaman Wikala selama hampir lima tahun meninggalkan desa.
Bagi Wikala selama di rumah ki demang ada sesuatu yg indah, ada getar getar aneh di dadanya saat bertemu kembali dengan Tantri.
Rasa yg sulit untuk di ungkapkan.Melihat Tantri sekarang yg sudah menjadi Dara Nan jelita, rasanya berbeda dengan waktu dahulu ketika mereka bermain bersama.
Lams Wikala larut dalam lamunannya, ketika Larasati menggamitnya dan berkata
" Kang sudah sore, mari kita pulang , biyung pasti telah lama menunggu,!" ajak Larasati.
" Baiklah , kami pamit ki demang ,mungkin besok malam saya datang lagi,!" berkata Wikala pada ki demang.
" Kami tunggu kedatangan angger,esok malam, !" jawab ki demang.
Sepanjang perjalanan pulang, Larasati sering menggoda Wikala.Mereka melintasi sawah nya yg merupakan batas desa .
Para penduduk desa rata- rata mengrnal
mereka terutama Larasati.
Mereka mengagumi keelokan wajah dan
kepribadian kedua orang putra putri Mpu
Thanda atau raden Wirapati ini .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Wira Yoga
1. Membaca
2022-03-30
1