Setelah perang tanding berakhir,dengan kemenangan para pendekar tanah jawa.
Maka sebahagian besar ,para tokoh Dunia persilatan pulang ketempat asalnya, termasuk yg dari daratan tiongkok.
" Guru akan kemanakah kita selanjutnya,?' celetuk Arya bor bor tiba-tiba.
" Sebaiknya kita menghadap, eyang guru di Puncak Merbabu,!" jelas Wikala kepada arya bor bor.
" Angger akan ke Merbabu ,?" tanya Resi Begawan mahameru setelah mendengar ucapan Wikala tiba- tiba.
" Nenar eyang Resi, saya akan sowan kepada eyang guru, setelah menunaikan tugasnya,!" jelas Wikala kepada Resi Begawan mahameru.
" Bagaimana kalau kami ikut,!" pinta Resi Begawan mahameru.
" Dan sekalian kami ingin melepas rindu pada dimas Barada,yg sudah lama tidak bertemu,!" lanjut Resi Begawan mahameru.
" Boleh,boleh, kami sangat senang hati dapat teman di perjalanan hingga sampai ke Merbabu,!" ucap Wikala
" Bukan begitu bor,!" celetuknya pada arya bor bor.
" Betul guru,kalau ramai kan enak ,!" ucap arya bor bor.
" Baiklah besok pagi pagi sekali kita berangkat eyang ,!" ucap Wikala pada Resi Begawan mahameru.
Malam itu mereka masih bermalam dipuncak Merapi.
Dan keesokan paginya ,barulah Wikala dengan muridnya arya bor bor,dan Resi Begawan mahameru juga dengan muridnya Naja pratanu berangkat menuju utara kearah gunung Merbabu.
Sebenarnya jarak Merapi ke Merbabu tidak terlalu jauh, Namun keempat orang
pendekar berjalan dengan santai dan sambil mengobrol.
" Mohon maaf sebelumnya, eyang ,apakah eyang sudah pulih kesehatannya,?" tanya Wikala pada Resi Begawan mahameru.
" Berkat, anugrah hyang widhi wasa, melalui tanganmu ngger,eyang sudah sembuh, walaupun tenaga dalam belum,!"
jawab Resi Begawan mahameru.
" Syukurlah, mudah mudahan secepatnya tenaga dalam eyang dapat pulih,!" tutur Wikala.
" Eyang, seharusnya seperti gurumu,!" kata Resi Begawan mahameru.
" Maksud eyang,?" tanya Wikala.
" Seharusnya sudah meninggal kan urusan keduniawian, dan fokus kearah alam keabadian,!" desah Resi Begawan mahameru.
Terkenang dalam ingatan sang Resi yg bernama asli wekaz,saat saat berpuluh tahun yg lalu , saat jadi prajurit,saat jadi senopati di pamotan bersama,bhre Narapati eyangnya Wikala.
"Heehh,!" desahnya.
"Memang usia,boleh tua,rambut boleh putih, Gigi boleh ompong ,kulit bisa mengerut,tapi jiwa ini rasanya masih tetap seperti yg dulu,!'' tutur Resi Begawan mahameru.
" Maksud eyang ,?" tanya Wikala.
" Yah, sebenarnya eyang sudah tidak pantas untuk bertarung ataupun berkelahi,sepantasnyalah muda muda seperti dirimu,ngger!" terang sang Resi.
" Jadi,kenapa eyang ikut dalam perang tanding kemarin,?" tanya Wikala lagi.
" Itulah yg eyang sebutkan tadi, rasanya jiwa masih seperti yg dulu ,saat masih bersama eyangmu , sekarang sudah bersama cucunya, dunia terus berputar, sebahagian manusia lupa,bahwa ia akan kembali,!" jelas Resi Begawan mahameru.
" Faktor lain , eyang mau turut serta adalah jiwa patriot sebagai bekas prajurit,merasa terpanggil untuk membela negrinya,!" kata Resi Begawan mahameru.
Tidak terasa mereka sudah sampai di kaki Merbabu.Mereka mendaki melalui jalur selatan,ketika matahari condong ke barat sampailah mereka di pertapaan Mpu Barada
" Eyannng ,!" teriak Wikala segera memeluk Mpu Barada yg sedang duduk bersila di sebuah batu besar .
"Hheh, muridku yg bandel ,!" ucap Mpu Barada membuka matanya.
" Aha, ada tamu rupanya dari Semeru, Selamat datang kangmas ,wekaz,!" teriak Mpu Barada menyambut kedatangan Resi Begawan mahameru seraya memeluknya.
"Apa Khabar, kakang, sehatkan, ?" tanya Mpu Barada.
" Berkat hyang widhi wasa, kakangmu ini sehat,tiada kurang suatu apapun,!" jawab Resi Begawan mahameru.
Kedua tokoh tua Dunia persilatan pulau jawa itu pun kemudian mengobrol dengan asyiknya .
Sementara Wikala menuju ke dalam padepokan gurunya itu mendatangi adiknya Larasati wirani.
Larasati sendiri pun terkejut atas kedatangan kakaknya itu.
" Sudah lama sampai Kang,?" tanya Larasati.
" Baru,!" jawab Wikala pendek.
" Kau siapkan makan dan minum untuk tamu kita,!" perintah Wikala pada adiknya itu.
" Ehh, tamuu, berapa orang ,?" tanya Larasati pada kakaknya .
"Tiga orang,!" jawab Wikala singkat.
Sembari menunggu makan dan minuman datang mereka duduk di pendopo padepokan. Mpu Barada sambil bercerita.
" Bagaimana hasil perang tanding kemarin ,?" Tanya Mpu Barada pada Wikala.
Adalah Resi Begawan mahameru yg menjawab pertanyaan itu.
" Kalau tidak ada angger Wikala ,muka tokoh persilatan pulau jawa akan malu,!" jawab sang Resi.
" Maksud kakang bagaimana, ?" tanya Mpu Barada.
" Ya kalau tidak ada muridmu ini,seluruh tokoh persilatan tanah jawa di buat malu karena kalah, cuma angger Wikala satu satunya yg dapat memenangkan pertarungan dengan Dua orang lawan yg berbeda,!" jelas Resi Begawan mahameru.
Mpu Barada manggut manggut,seraya menyilahkan para tamu untuk makan dan minum.
" Jadi Pendekar luan( Luanjin), tumbang,?" tanya Mpu Barada.
" Jangankan Pendekar luan, Pendekar Ma( Majin) pun terkapar," terang Resi Begawan mahameru.
" Hebat, hebat,hebat ,!" ucap Mpu Barada. sambil mengunyah nasi di mulutnya.
" Dan kakang wekaz sendiri bagaimana,?" tanya Mpu Barada
" Usah dimas tanyakan itu, malu rasanya menyebutkan bahwa kakangmu ini kalah oleh Pendekar luan,!" ucap Resi Begawan mahameru sambil tertawa
" Mungkin kakang, kita yg sudah tua tua ini selayaknya pensiun ,!" ucap Mpu Barada sareh.
" Benar dimas, cuma kadang jiwa prajurit terpanggil, bila ada orang lain yg mau mengusik tanah air kita ini,!" jawab Resi Begawan mahameru.
" Ya,ya, sebenarnya pun saya ingin turun dalam perang tanding itu, mengingat kangmas Narapati sudah tidak ada lagi,!" ucap Mpu Barada.
" Mengapa tidak jadi,?" Tanya Resi Begawan mahameru.
" Teringat pada cucuku ini, yg sudah tuntas menerima ilmu dari kedua eyangnya,biarlah dia saja yg turun,hitung hitung pendadaran buatnya,!" jelas Mpu Barada.
Ketika sang surya beranjak keperaduannya, maka mereka pun pergi untuk membersihkan diri.
Adalah Naja pratanu yg tertinggal.Maka ketika ia kelimpungan mencari Wikala dll.
Ini terlihat oleh Larasati, berkata
" kakang mau ke sendang,?" tanya nya pada Naja pratanu.
Dengan wajah bersemu merah Pratanu mengangguk
" Mari kutunjukkan jalannya,!" ucap Larasati.
Maka mereka berdua pun menuruni lereng yg tidak terlalu dalam menuju sendang, Di tengah perjalanan mereka berpapasan de
ngan Wikala dan yg lainnya.
" Awas dimas pratanu ada buto cakil, di sendang,!" celetuk Wikala.
" Tidak ada,itu hanya guyonan Wikala,!" timpal Mpu Barada.
Ketika sampai di sendang matahari pun sudah tenggelam.
Akhirnya Pratanu pun mandi,sendirian sedangkan Larasati sudah pulang bersama Wikala.
Malam itu ,ketika sang dewi malam tidak hadir, hanya diterangi cahaya obor,penghuni padepokan terlibat pembicaraan yg seru.Disatu sisi Wikala dengan arya bor bor , Larasati dan Naja pratanu. Di lain fihak Mpu Barada dengan Resi Begawan mahameru.Sampai menjelang fajar baru mereka tidur.
Keesokan paginya ketika Mpu Barada dan Resi Begawan mahameru pergi, sedangkan Wikala dan arya bor bor turun kedesa di bawah kaki Merbabu untuk membeli bahan pangan .Tinggal berdualah Larasati dengan Naja pratanu.Saat Larasati sibuk merebus air, pratanu pun mengeluarkan serulingnya dan mulai meniupnya.
Keluarlah irama bernada sendu dari tiupan serulingnya.Sampai lama Pratanu meniup serulingnya .
" Kakang pintar nembang,!" celetuk Larasati tiba tiba.
" Ahh,ehh, nggak, !" jawab pratanu salah tingkah.
" Iya ,kakang pintar nembang,buktinya suara serulingnya merdu,!" puji Larasati sambil duduk di dekat Pratanu.
Pratanu beringsut pindah menjauhi Larasati.Sambil berkata,
" Sebenarnya ,saya nggak pintar,nembang, cuma kalau meniup seruling memang merupakan kesenanganku,!" jawabnya .
" Sejak kapan kakang belajar meniup seruling ?" tanya Larasati.
" Sejak kecil,menurut eyang Resi, seruling ini warisan ramaku,!'" jawab pratanu.
Pembicaraan mereka berdua sudah mulai mencair, rasa sungkan pratanu mulai menghilang.
Sementara itu Mpu Barada dan Resi Begawan mahameru terlibat pembicaraan yg serious di dalam hutan di lereng Merbabu agak jauh dari padepokan.
" Dimas, sebenarnya ada suatu rahasia yg ingin kuceritakan kepadamu,!" ucap Resi Begawan mahameru
" Apa,itu kangmas,?" Tanya Mpu Barada.
"Sebenarnya tujuanku mengikuti perang tanding ini ada dua tujuan,!" ucap Resi Begawan dan menarik nafas sebentar kemudian ia melanjutkan
" Yg pertama untuk membela negri ini dengan menjaga martabatnya dan yg kedua adalah untuk dapat berjumpa kembali dengan tokoh-tokoh dunia persilatan,terutama dengan dimas Barada,!" ujar Resi Begawan mahameru.
"Ada gerangan apakah hingga kakang ingin menemuiku,!" tanya Mpu Barada.
" Usia kita tiada yg tahu, mungkin hari ini atau besok ,kita boleh jadi dipanggil menghadap hyang widhi wasa,!" sambil menarik nafas sang Resi melanjutkan lagi
" Jadi sebelum ajal menjemputku, ingin kuceritakan sebuah rahasia pada dimas Barada,!" terang Resi Begawan mahameru.
"Ahh, kangmas membuatku pendadaran,!" ucap Mpu Barada.
" Dimas tahu siapa yg besertaku itu!" tanya Resi Begawan mahameru.
" Tahu, murid kangmas,!" jawab Mpu Barada.
" Maksudku asal usulnya,?" tanya Resi Begawan mahameru.
Nampak kepala Mpu Barada menggeleng
" Itulah maksudku ,bahwa sebenarnya muridku itu adalah cucumu juga,!" terang Resi Begawan mahameru.
" Apa, maksud kakang menyebut Naja pratanu itu adalah cucuku,?" tanya Mpu Barada.
" Ya, dia adalah cucu kakang Narapati berarti cucumu juga dimas ,!" jelas Resi Begawan mahameru.
" Kok ,bisa Naja pratanu cucu kangmas Narapati,?" tanya Mpu Barada
" Bukankah cucunya cuma Dua orang yaitu Wikala dan . Larasati,?" kata Mpu Barada.
" Ya, bisa toh dimas, Wong Naja pratanu itu putra raden gajah paniluh, dan raden gajah paniluh putra kangmas Narapati,!" jelas Resi Begawan mahameru
"Jadi saat kangmas Narapati di pamotan ,ia mempunyai anak, ?" tanya Mpu Barada.
" Ya, saat kita menaklukan pamotan kangmas Narapati menikahi putri bhre wirabhumi dari selir yg bernama dwarawardhani dan melahirkan putra bernama raden gajah paniluh,!" lanjut Resi Begawan mahameru.
" Dan gajah paniluh memiliki anak bernama Naja pratanu, berarti gajah paniluh bersaudara dengan anakmas wirapati, orang tua Wikala dan Larasati,!" ucap Mpu Barada.
Sementara Resi Begawan mahameru mengangguk angguk tanda setuju.
" Begitulah dimas, kuceritakan rahasia, mengingat usiaku sudah sangat tua, sementara angger pratanu sebatang Kara!" terang sang Resi.
" Kemana rama dan ibundanya,?" tanya Mpu Barada.
" Kalau ramanya ,tewas saat kangmas Narapati di hukum mati,sedangkan biyungnya mati saat melahirkan ya,!" kata Resi Begawan mahameru.
" Kasihan nasib anak itu ,!" ucap Mpu Barada.
" Jadi ,siapa tahu kakangmu ini lebih dulu dipanggil hyang widhi wasa, pratanu masih bisa dapat bimbingan dari kelurganya, bila perlu ia kita jodohkan dengan Larasati putri angger wirapati,!" ujar Resi Begawan mahameru.
" Mudah mudahan kami bisa membimbingnya,dan kalau jodoh itu tergantung angger wirapati,!" ucap Mpu Barada.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Mat Grobak
asik udah saling tertarik tinggal jodohin aja
2022-11-25
1
John Singgih
dan memang kebetulan sudah saling suka anaknya
2022-08-26
0
Miffta Paytren
mantulll
2022-04-08
1