Sementara itu setelah beberapa lama pergi, untuk melakukan tirakatnya, Mpu Thanda pun kembali, berkatalah ia kepada Wikala,
"Anakku Radeksa, ada pesan dari eyangmu,agar engkau datang ke bukit kanca nuwu,"! ucap Mpu Thanda.
"Bukan kah eyang telah wafat, Romo, bagaimana mungkin ia dapat menyuruh saya untuk datang,?" tanya Wikala.
" Romo mendapatkan perintah nya, melalui, mimpi, !" ujar Mpu Thanda lanjut.
" Jadi, kapan engkau bisa berangkat,?" tanyanya lagi.
"Baiklah Romo, besok lusa, Ananda berangkat, !" jawab Wikala.
Keesokan paginya segera Wikala berangkat kerumah ki demang guna menemui ki demang sekaligus berpamitan pada Tantri.
Sesampainya di rumah ki demang, ia di sambut langsung oleh ki demang.
Segera Wikala membicarakan keperluannya, yg akan pergi dan sementara waktu tidak dapat melatih para pemuda.
" Yah kalau begitu,aki tidak dapat berkata apa-apa, semoga angger dapat menunaikan tugasnya dengan baik, dan secepatnya kembali,!" tutur ki demang.
" Baiklah ki demang, semoga tugas ku cepat selesai dan dapat cepat pulang,!" ucap Wikala.
Tantri yg sedari tadi menguping pembicaraan kedua orang tsb, nampak raut wajahnya suram, terlihat bulir-bulir airnata menetes di pipinya .
Saat Wikala akan beranjak pulang, Tantri pun mengikuti dari belakang, seraya berkata kepada ki demang,
" Romo, aku akan ke rumah Larasati,!" kata nya pada ki demang.
" Silahkan ndhuk, cepat pulang, ya,!" sahut ki demang .
Sepanjang perjalanan pulang Wikala ditemani Tantri , mereka mengambil jalan memutar melalui persawahan .
Sambil berjalan berkata lah Wikala,
"Tri, tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, sekarang kita sudah dewasa, rasanya baru saja kemarin kita bermain di Lumpur sawah bersama ,!" kata Wikala.
" Benar Kang , tapi baru saja bertemu kembali, kakang sudah mau pergi lagi,!" seru Tantri.
" Tapi kali ini kakang tidak akan lama perginya,!" jawab Wikala.
" Wahh kasihan, para pemuda desa ndak ada lagi yg melatih nya,!" ucap Tantri.
" Yang kasihan,para pemuda ataauu, ada yg lain yg sedih kutinggalkan, !" ucap Wikala bernada menyindir.
Wajah Tantri bersemu kemerahan.
" Tantri, wajah mu makin cantik kalau lagi grogi, !' ledek Wikala seraya menghentikan jalannya.
Tantri kelihatan menunduk . Di dalam hatinya seakan tidak rela melepaskan kepergian Wikala.
" Percaya lah, aku tidak akan lama, paling-paling 6 purnama aku sudah kembali,!" ujar Wikala.
Air mata Tantri menetes di sudut matanya, kemudian ia berkata lirih,
" Kuharapkan kakang cepat kembali, ada orang yg akan setia menantimu,!" kata Tantri pelan.
" Tentu, tentu aku akan pulang secepatnya, !" sahut Wikala.
Setelah mereka berjalan kembali , tidak berapa lama sampailah mereka di rumah Wikala.
Sore harinya Wikala dan Larasati mengantarkan Tantri pulang.
Keesokan paginya , Wikala pun berangkat ke bukit kanca nuwu , sebuah bukit di daerah gunung Argo.Di sebelah utara desa Thanda.
Dalam perjalanan nya ke bukit kanca nuwu, Wikala sebenarnya ingin singgah ke desa anon guna melihat keadaan Hantu Kali Mayit, apakah benar-benar sudah tobat, tapi perjalanan kesana cukup jauh dan memutar.
Ketika sore menjelang , Wikala segera mencari tempat beristrahat di pinggir hutan.
Sambil menyalakan api ia mencari santap malam , dengan berburu ,tidak terlalu lama ,ia sudah kembali membawa.
seekor menjangan.
Menjangan itu kemudian di panggangnya. Malam itu ia cepat tertidur karena perutnya sudah kekenyangan, walaupun begitu Wikala tidak meninggalkan kewaspadaan nya.ia tidur di sebuah cabang pohon yg cukup besar.
Pagi harinya Wikala melanjutkan prjalanannya , saat matahari sudah tepat diatas kepala ia pun telah di kaki bukit kanca nuwu.
Perjalanan yg seharusnya di tempuh dua hari berkuda oleh Wikala dicapai hanya satu hari ber jalan kaki .
Sebelum melanjutkan mendaki bukit , Wikala mencari sendang guna membersihkan tubuhnya.
Setelah mandi Wikala beristrahat sejenak di bawah pohon rindang ,namun baru saja merebahkan tubuhnya, telinga Wikala yg tajam mendengar ada suara denting senjata yg beradu.
Segera Wikala melompat dengan ilmu peringan tubuh nya mendekati tempat tersebut .
Dilihatnya beberapa orang sedang bertarung di dekat sebuah jurang, beberapa orang yg berseragam prajurit m elawan empat orang .
Sedangkan satu orang lawan prajurit itu memakai pakaian ala seorang resi.dengan tongkat berkepala ular.
Sementara para prajurit itu sedang mengawal sebuah kereta yg indah .
Lawan sang Resi itu adalah seorang perwira yg menjadi kepala rombongan.
Wikala melihat bahwa perwira itu terdesak oleh sang Resi yg bertubuh kurus kerempeng.
Sekilas Wikala menatap kearah kereta yg sedang di kawal itu, tampak olehnya seraut wajah cantik nan ayu di balik tirai yg disingkapkan angin,.
" Hahhh, tumegung singha wara , serahkan putri ratna parangkawuni kepadaku,!" teriak orang tua itu.
" Kau lucu, Mpu Thula , takkan kubiarkan raden ayu lepas, walaupun nyawaku taruhannya,!" jawab perwira prajurit yg bernama tumenggung singha wara.
" Berarti kau mencari mampus, terima ini,!" bentak Mpu Thula
sesaat tangannya segera mengarah ke tubuh tumenggung singha wara.
Serangkum angin pukulan yg kuat menerpa tumenggung singha wara, nampak tubuh sang tumenggung terpental beberapa tombak kebelakang
Setelah jatuh tumenggung singha wara memuntahkan darah segar.
Tetapi sang tumenggung segera bangkit walaupun sempoyongan.
" Hehh, kuperingatkan untuk terakhir kalinya, serahkan putri ratna parangkawuni atau nyawamu melayang, !" kata Mpu Thula.
" Sampai mati pun ,takkan kuserah kan tuan putri kepada Resi cabul sepertimu,!" ucap tumenggung singha wara.
" Bereskan cecunguk itu semuanya, kecuali putri ratna parangkawuni,!" perintah nya kepada para muridnya yg tiga orang .
Kemudian ia mendekati tumenggung singha wara , Mpu Thula mengangkat tangannya untuk menyerang sang tumenggung.
Kembali angin. serangan yg kuat menderu menyerang sang tumenggung, namun sebelum angin pukulan itu menerpa, nampak sebuah cahaya merah memapasi nya, hingga tidak mengenai tubuh sang tumenggung, selamatlah nyawa nya.
" Hahhh,ada cecurut yg ingin unjuk gigi di hadapan ku,!" kata Mpu Thula berang.
" Keluar lah, sebelum hutan ini kubakar semua, !" katanya lagi.
Sebelum habis ucapan nya, tiba- tiba melesat lah sesosok bayangan yg langsung mendekati Mpu Thula.
" inikah manusia yg bosan hidup itu, !" teriaknya kepada Wikala.
" Tidak ada manusia yg bosan hidup kecuali telah hilang kewarasannya,!" berkata Wikala.
" Heh, apa untungmu menganggu urusanku, kalau, tidak bosan hidup namanya,!" bentak Mpu Thula marah.
" Untung ku tidak ada, akan tetapi kesewenang wenangan, harus dihentikan,!" ucap Wikala mantap.
" Sebutkan nama dan tempat tinggalmu , biar aku mudah mengantarkan mayatmu karena kau suka menggangu urusan orang lain , !" kata Mpu Thula.
" Namaku Wikala dan berasal dari Daha,!" ucap Wikala.
" Dan masalah menggangu urusan orang lain, sebenarnya aku atau Mpu yg menggangu urusan orang, ?" tanya Wikala lagi.
" Banyak bicara kau, bocah , nih kau terima ajian tapak wisa, !" seru Mpu Thula .
Wikala bersiaga menghadapi ajian tapak wisa, ini dirapalkan mantera ajian Kalacakra miliknya,
Kedua ajian itu beradu , tampak kembang api berpijaran , disertai terjatuhnya Wikala.
Memang tenaga dalam Wikala masih di bawah Mpu Thula.
Wikala segera mengeluarkan kerisnya, keris Kalamujeng, begitu di genggamnya keris itu nampak berwarna merah membara.
Tahu kalah tenaga dalam, Wikala menyerang Mpu Thula dengan sabetan kerisnya.
Beberapa kali keris nya mampu menembusi pertahanan sang Mpu, puncak nya keris Kalamujeng dapat memotong putus lengan sebelah kiri Mpu Thula, anehnya begitu lengan itu jatuh ketanah secara ajaib dapat dengan cepat bertaut kembali itulah ajian pancasona Mpu Thula yg sangat nggegrisi, suatu ajian yg berasal dari ilmu aliran hitam.
" Ha,ha,ha, keluarkan seluruh kemampuan mu bocah, sampai tua pun kau tidak dapat mengalahkan aku, !" sesumbar Mpu Thula dengan angkuhnya.
" Hemhp, apa yg harus kulakukan untuk memenangkan pertarungan ini, !" pikir Wikala dalam hati.
Kali ini ditrapkan ajian Kalacakra tingkat akhir dari yg di miliknya.
Sementara para prajurit sekarang dapat mendesak murid- murid mpu Thula karena sudah di bantu oleh tumenggung singha wara.
Hingga suatu ketika,
" aakkhhh, !" teriak salah seorang muridnya yg terbacok pundaknya oleh prajurit.
Melihat gelagat yg tidak menguntungkan ini Mpu Thula pun memperhebat serangan nya, hingga membuat Wikala harus pontang panting menghindari serangan tsb ,
Suatu saat ketika Wikala agak berada dekat dengan kereta , angin pukulan Mpu sampai menyingkapkan tirai kereta.
Hingga dengan jelas Wikala melihat seorang putri yg cantik jelita.
Pandangan mata Wikala beradu pandang dengan si tuan putri yg memiliki mata nan indah, namun ini hanya sekejap,karena serangan beruntun memaksa Wikala dalam bertahan .
Saat- saat terdesak , Wikala tidak mempunyai pilihan lain , ia memang harus mengadu nyawa dengan Mpu Thula.
Yg ada dipikiran Wikala bagaimana menembusi ajian pancasona itu.
Entah sudah berapa kali ajian tapak wisa menghantam Wikala, dasar murid Mpu Barada ini memilki daya tahan tubuh yg sangat baik saja lah sehingga membuatnya mampu, bertahan.
Namun setiap permulaan pasti ada akhirnya,
Merasa tidak ada jalan lain saat sudah terdesak ke bibir jurang Wikala diambang putus asa, dengan segenap tenaga yg tersisa, ia melesat memburu Mpu Thula yg tengah menantinya dengan ajian tapak wisa nya, segera keris Kalamujeng nya menusuk tepat kearah Mpu yg sakti
" Bleeseekkk,!" bunyi suara keris Kalamujeng menikam jantung Mpu Thula.
Begitu keris Kalamujeng di tarik Mpu Thula menutup lobang bekas tusukan itu dengan tangan nya seketika luka bekas tusukan itu tertutup, dan Mpu Thula pun memberikan pukulan pamungkasnya kearah Wikala .
Tak ayal lagi tubuh Wikala ,terlempar masuk ke dalam jurang bukit kanca nuwu.
Akan tetapi kesalahan Mpu Thula adalah ketika dengan cepat menutup luka didadanya itu, rupanya warangan keris Kalamujeng tertinggal di dalam dan mulai menggerotinya.
Ia pun terduduk lemas.
Dilihatnya pun muridnya terdesak hebat oleh para prajurit, di panggilnya murid- muridnya itu dengan suitan nyaring, merupakan sebuah isyarat.
Selanjutnya keempat orang itu pergi melesat meninggalkan tempat itu.
" Aneh,!" kata tumenggung singha wara
" Benar, ki, benar- benar aneh , si orangtua itu yg menang tetapi kenapa mereka yg pergi,!" ucap salah seorang prajurit.
" Siapa sebenarnya dewa penolong kita itu paman , ?" tanya putri ratna parangkawuni kepada tumenggung singha wara.
" Entah lah anakmas kudengar ia menyebut namanya Wikala dan berasal dari Daha, !" jawab tumenggung singha wara.
" Bagaimana keadaan nya paman, ?" tanya tuan putri lagi.
" Paman tidak tahu , ia terlempar kedalam jurang, entah hidup ,entah mati,!" ucap tumenggung singha wara
" Kasihan, kita tidak dapat mengucapkan terimakasih, mari paman kita lanjutkan perjalanan, ramanda pasti telah lama menunggu, !" ujar tuan putri lagi.
" Baiklah ,mari kita lanjutkan perjalanan,!" kata tumenggung singha wara.
Kemudian kereta itu berangkat dengan dikawal para prajurit yg masih menyimpan sejuta tanya di hati mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Agus Aguskurnia
asik
2022-03-31
1
Wira Yoga
Mulai menarik 👍
2022-03-30
1
Arun Bae
knp di tgl pergi stlh menolong
2022-03-29
1