"Pagi mbak Fitri, sudah siap - siap mbak sepagi ini? Emang pertemuannya jam berapa nanti mbak?" lira bertanya pada safitri yang sudah parking baju - bajunya dalam koper.
"Iya, pertemuanku nanti dimulai jam 8 dan sekarang harus siap - siap menunggu di lobby, untuk kamu nanti bos akan menghubungi mu sendiri. Kamu sudah menyimpan nomor bos yang aku kasik kemaren kan?" safitri bertanya sambil terus paking.
"Sudah mbak, kemaren sudah langsung ku simpan." lira menjawab langsung dengan membantu safitri paking baju - bajunya.
"Baiklah, aku pergi dulu ya. Koperku ku taruh sini, biar nanti bisa langsung angkat." safitri langsung keluar tepat pukul 7.15
"Hem tiduran lagi ah, nanti bangun siang aja. Pasti acaranya bos siang atau sore." lira pin kembali lanjut tidur lagi.
Di dalam kamar liyon pertemuannya dengan tuan lean untuk kesepakatan dan tanda tangan pun berjalan dengan lancar.
"Sekretaris Fitri berikan kunci kamar mu pada Farid biar dia membantu kamu ngambil barang - barang mu, nanti langsung balik bareng Farid." perintah liyon pada safitri, dan farid langsung menuju kamar yang dikatakan oleh safitri.
Klik
"Sudah selesai mbak? Eh asisten Farid." triak lira bertanya dari dalam kamar.
"Ah, sekretaris Lira, saya mau mengambil barang sekretaris Fitri karna hanis ini kami akan langsung balik kantor." ucap farid pada lira dengan sopan.
"Ah, hahaha baik - baik barangnya sudah di koper itu semua tinggal bawah aja." lira menunjukkan koper yang sudah diap dipojokan kamar.
"Baik, saya akan langsung bawah kalo gitu." farid menggeret koper safitri.
"Asisten Farid kalo boleh saya tau acara bos yang butuh pengawalan saya jam berapa ya? Agar saya bisa siap - siap dan tak membuat bos menunggu." lira bertanya karna dia benar - benar tak tau apa pun saat dibawah kemari.
"Oj, itu... Aku juga kurang tau, mungkin siang ini setelah selesai pertemuan." jawab farid yang juga merasa bingung dan tak tau, karna setau dia setelah ini tak. ada lagi acara.
"Baiklah, kalo begitu saya siap - siap saja sekarang." lira menjawab dengan senyuman dan merasa aneh.
"Baik, aku pamit." farid langsung keluar dari kamar lira dan langsung menuju kamar liyon.
"Baiklah Liyon terima kasih dan semoga kerja sama kita akan berjalan dan suksek." ucap lean dan berjabat tangan dengan liyon, serta terlihat bahagia.
"OK tentu saja harus sukses." balas liyon tak kalah senang.
"Tak usah mengantar, dan jangan lupa aku akan datang ketempatmu kamu harus menjamu aku saat itu, dan bukan sebagai mitra bisnis tapi sebagai teman OK." lean berkata dengan berjalan sama asistennya dan diantar sama asisten serta sekretaris liyon.
"Ini kunci kamar kakak, kira - lira sedang apa kakak sekarang?" liyon menatap kunci yang tadi diberikan oleh farid padanya.
"Sekarang baru pukul 12 siang, kakak pasti masih dikamarnya kan? Sebaiknya aku kesana." liyon mengambil keputusan dan melangkah kearah lamar lira.
Klik
Sraaaz sraazz
"Hem, sepertinya kakak sedang mandi ya. Akan aku tunggu di sini." liyon berucap sambil duduk menunggu lira di sofa depan tempat tidur.
"Lalalaaa... Hoooo ho siapa kah." lira bersenandung dengan sangat senang dan tak sadar kalo tingkahnya diperhatikan oleh liyon.
"Duh pakek baju apa ya?" lira membongkar kopernya dan terus bersenandung
Sreeet bluk
handuk yang dikenakan lira untuk membelit tubuhnua jatuh kelantai saat dia berdiri dari posisi jongkoknya.
Glek
Liyon menelan salifanya saat mendapati pemandangan yang indah tubuh lira dari belakang.
"Ya Ampun pakek jatuh lagi." lira menunduk hendak mengambil handuknya namun tangan liyon sudah dengan cepat meraih tubuh lira dan membantinya ditempat tidur.
"Aah.! Kamu?" lira terkejud melihat liyon ada didalam kamarnya.
"Apa kakak sengaja ingin menggodaku?" liyon menatap lira dan mengunci tubuh lira.
"Kamu masuk dari ma... Ehm." kalimat lira terputus karna liyon telah meraup bibir lira.
Liyon telah menguasai lira dan mempermainkan tubuh lira, leher lira tak luput dari sapuan bibir liyon. Dan permainan panas antara liyon dan lira pun berlangsung lebih dari 3 jam.
Liyon tak pernah memberi kesempatan pada lira untuk menguasai dirinya sendiri, tiap kali lira mau menghentikan permainan mereka liyon langsung menguasai seluruhnya dan membuat lira dikuasai has-ratnya lagi lagi dan lagi.
"Hem, selamat tidur sayang. Kamu pasti capek banget ya? Tapi aku harus memberi tau kamu siapa diriku, siap - siap ya." ucap liyon berbisik pada lira dan langsung mengenakan bajunya, kemudian keluar dari kamar lira dan kembali kekamarnya sendiri.
Brrrt
"Ugh." lira terusik dengan suara panggilan telponnya yang terus bergetar.
"Siapa yang telpon, Bos? Ya Ampun." lira langsung bangun dari tidurnya dan menjawab telponnya.
"Halo ya bos? Ma - maaf saya harus menemani bos sekarang?" tanya lira langsung.
"Hem, temani aku makan malam karna sebentar lagi sudah waktunya makan malam." jawab suara dari telpon disebrang telpon lira.
"Ba - baik bos, saya harus kemana?" tanya lira lagi karna dia tak tau seperti apa wajah bosnya.
"Kau tak pernah melihat ku, datang ke kamar 3011 tepat pukul 8 malam. Tut" liyon mematikan sambungan telponnya.
"Eh, sudah dimatikan." lira menatap layar telponnya yang sudah mati.
"Ah. Tubuhku sakit semua, bocah itu benar - benar menghajar ku begitu lama." lira memegang punggungnya yang terasa kaku dan salit.
"Ini sudah jam 7 aku harus cepat siap - siap, karna aku tak mau membuat bos menunggu." lira bangkit dan langsung membersihkan tubuhnya.
Lira berganti baju dengan setelah celana dan kaos didalamnya, lalu di lapisi dengan baju tipis berbntuk gaun parang. Lira mengikat rambutnya sebagian keatas dan sebaian digerai.
Tepat pukul 8 malam lira sudah berdiri didepan pintu kamar bosnya yang tak lain adalah liyon.
Tok tok tok
Lira mengetuk pintu kamar liyon dan menunggu bosnya membuka pintu.
Liyon yang melihat lira dari lubang kecil tersenyum karna lira tampil cantik dengan rambut yang diikat sebagian.
Ceklek
"Selamat mal... Aaah.! Ehgm" lira yang langsung ditarik belum sempat melawan sudah mendapat kuncian dibibirnya.
Liyon menatap lira tertegun karna lira tampil dengan tampilan dan gaya **** seperti wanita pada umumnya.
"Kamu sangat cantik begini." puji liyon pada lira.
"Kenapa kamu di sini hah.!?" lira berteriak pada liyon dengan marah.
"Jangan marah dulu, ayo makan dulu." liyon tersenyum dan menarik tangan lira.
"Apa? Makan? Kamu..." lira terkejud dan mulai sadar kalo ajakan makan adalah ajakan dari bosnya, dan sekarang yang berdiri didepannya serta mengajaknya makan adalah liyon.
"Kakak benar - benar telmi ya, tidak kah kakak sadar, bagaimana aku bisa masuk kamar kakak jika aku tak punya kuasa dan memegang kunci kamar kakak." liyon menjawab dengan menekan tubuh lira agar duduk dikurasi.
"Bo - bos?" sebut lira dengan nada suara kecil namun tetap bisa didengar jelas. oleh liyon.
"Makan dulu, kakak belum makan siang tadi." ucap liyon duduk didepan lira.
Lira tertunduk tak bergerak, dia merasa serbah salah dengan semua situasi yang dialaminya saat ini. Dia merasa hatinya saat ini sedang campur aduk tak karuan, karna orang yang dia kenal dan menghbiskan malam pertama serta dibayar sebagai pacar sewaan olehnya adalah bosnyan sendiri.
"Kenapa hanya diam dan menatap makanannya, apa tak sesuai dengan selera sekretaris Lira?" ucap liyon yang menyebutnya dengan nama sekretaris lira menyadarkan lamunan lira.
"Ma - maaf." lira langsung menyantap hidangan yang ada dihadapannya, namun dia tak bisa merasakan rasa makanan itu enak apa tidak dan dia juga tak tau kemana makanan itu masuk karna dia tak bisa merasakan apa pun.
"Sa - saya akan kembali ke kamar saya sekarang." ucap liyon dengan kata formal pada liyon.
"Tunggu dulu. Tolong jangan bicara for -"
Brak
"Mal. Haaah, dia pasti marah banget sama aku." gumam liyon yang melihat lira langsung pergi tanpa mendengarkan kata - kata liyon.
Didalam kamarnya lira mengumpat liyon dan merasa bodoh sendiri, karna selama ini telah dipermainkan oleh liyon.
"Kenapa dia tak bilang, dan kenapa dia merahasiakannya dariku. Padahal dia punya banyak kesempatan untuk menjelaskan siapa dirinya padaku."
"Dan malam itu juga dia punya waktu untuk menjelaskan, tapi tak digunakan untuk memberi tau aku. Kenapa? Apa begitu menyenangkan bagi dia mempermainkan aku?"
"Dasar bos kejam, tak berperasaan."
"Begok kamu lira, begok begok.!"
"Dasar dungu, kenapa tak mencarik tau tentang bosmu padahal kamu juga punya banyak wakti untuk mencarik tau tentang dia, tapi kamu malah dengan santai hanya bekerja tanpa tau siapa bos-mu sendiri."
Lira merasa kesal dan marah - marah sendiri, karna dia tak tau harus bersikap dan menghadapi bosnya seperti apa saat di kantor nantinya.
Tok tok tok
"Lira, lira?" liyon mengetok dan manggil nama lira berkali - kali dari luar kamar lira, namun tak ada jawaban sama sekali.
Ceklek
"Lir?" panggil liyon lagi saat dia membuka pintu kamar lira.
"Eh, tidur rupanya. Pantas tak menyahut saat ku panggil - panggil." liyon bergumam dan tersenyum menatap lira yang sudah pulas dalam tidurnya.
Liyon pun dengan perlahan naik ke ranjang lira dan tidur disebelah lira. Menatap wajah polos lira yang tertidur dengan lelap.
"Selamat malam sayangku dan selamat istirahat. Cup" liyon mengecup kening lira dan memeluk tubuh lira, lalu dia juga ikut terlelap disamping lira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments