Rian yang baru tiba di mansion orang tuanya langsung melangkah masuk ke kamar dan pergi ke kamar mandi. Di sana dia membiarkan tubuhnya diguyur air dari shower.
(Apakah itu kamu? Suaranya sangat mirip. Aku harus berusaha menemukanmu) batin Rian mengenang kembali kejadian di super market tadi.
Cukup lama Rian berada di dalam kamar mandi, pikirannya berkelana ke mana-mana bahkan kembali ke masa dimana awal mula dia mengagumi seorang anak remaja yang mengenakan seragam sekolah.
Hampir satu jam ia keluar dengan sudah berpakaian rapih walaupun santai.
"Kamu sudah mandi?" tanya isterinya
"Iya aku gerah" ucap Rian
Pria itu melangkah menuju sofa yang ada di kamar itu dan duduk di sana sementara isterinya yang tadi duduk di tempat tidur memilih bangun dan menyusul sang suami dan duduk di sampingnya.
"Apa yang mengganggu pikiranmu? kamu kelihatan gelisah sejak tadi kita berada di super market. Memangnya apa yang kamu lihat di sana?" tanya Bela
"Maaf, tadi aku sepertinya melihat mantan isteriku" ucap Rian
"Hah? kenapa kamu tidak mengejarnya? bukankah itu baik?" ucap Bela
"Aku tidak ingin orang merendahkanmu di banyak orang karena aku memilih mengejar wanita lain dan meninggalkan kamu" ucap Rian mengutarakan isi hatinya
"Kenapa kamu berpikir demikian? bukannya kita sudah sepakat? kamu sudah membiarkan dia pergi dan kamu akan mencarinya ke mana lagi? bukankah tadi suatu keajaiban buat kamu untuk bertemu dengannya?" tanya Bela beruntun
"Tapi kemungkinan aku salah orang karena aku kurang yakin jika itu dia" ucap Rian lagi.
"Aku akan segera kembali, agar kamu fokus mencarinya" ucap Bela
"Iya" jawab Rian singkat.
Sepasang suami isteri itu akhirnya melangkah keluar untuk makan siang bersama maminya Rian yang sudah menunggu di meja makan.
Mereka bertiga akhirnya makan dengan tenang karena papinya Rian berada di kantor sementara Rian hari ini belum masuk.
"Semoga kalian cepat memberikan mami cucu yang lucu ya" ucap maminya Rian dengan senyum mengembang, sementara yang ditanya jadi salah tingkah baik Rian maupun Bela.
"Jangan malu-malu, namanya berumah tangga itu untuk saling melengkapi, saling mendukung dan mempunyai keturunan bukan saling menindas" kelas mami memberi nasehat.
Rian langsung terheyak dengan ucapan maminya barusan, dia menyadari akan perbuatannya yang sudah kelewatan pada Cristin.
"Iya mami" jawab bela mewakili karena ia tahu apa yang ada dipikiran suaminya saat ini.
"Mami harap kamu selalu bahagia ya? Rian anak mami satu-satunya dan mami tidak mau dia kecewa karena mami yakin kamu yang terbaik buat dia" ucap mami pada Bela dan wanita itu hanya mengangguk.
"Mi, Bela akan kembali ke Paris beberapa hari lagi untuk melanjutkan kariernya dan semalam Rian sudah mengiyakan. Tidak apa-apakan mi" ucap Rian memohon
"Hah? kenapa bisa begitu? kamu kan sudah menikah jadi Bela jangan lanjut lagi kariernya" ucap mami yang kecewa dengan keputusan anak dan menantunya
"Tapi Rian tidak mau terlalu mengekang Bela mi, biarkan dia bahagia dengan kariernya, jika dia sudah hamil aku akan melarangnya" ucap Rian
"Bagaimana dia mau hamil kalau kamu saja membiarkannya jauh darimu?" ucap mami
Melihat wajah Bela yang mulai berubah merah, Rian menghentikan perdebatan dengan maminya dan menuntuk Bela kembali masuk kamar mereka.
Mami hanya melihat dari tempat ia duduk sekarang yakni meja makan.
"Apa yang kamu sembunyikan dari papi dan mami Rian? Jika kalian tidak saling mencintai kenapa kamu tidak jujur saja biar kamu tidak saling mengecewakan seperti ini?" gumam mami yang sudah tidak melihat putera dan menantunya lagi.
*****
"Pa, kemana lagi kita harus mencari Cristin pa" ucap mama Debora
"Papa juga sudah berusaha ma, tapi puteri kita seperti ditelan bumi. Ini semua salah papa yang sudah bertindak kasar padanya, tidak sepantasnya papa mengucapkan kata-kata yang menyinggungnya" sesal papa
"Hi pa, ma" Ucap Alindi yang baru pulang dari kantor.
"Eh sayang, sudah pulang?" ucap mama Debora saat melihat Puteri sulungnya yang baru saja tiba.
"Pa, gimana pertunanganku dengan Rangga?" tanya Alindi yang kini sudah duduk disamping kedua orang tuanya.
"Nak, sebaiknya kamu cari pacar lain saja,, Rangga bahkan masih berusaha membantu kita mencari adikmu" ucap papa
"Pa, kenapa dari dulu papa dan mama hanya mengutamakan perasaan Cristin? aku juga ingin bahagia pa, papa bahkan sudah dengarkan apa kata Rangga pada Cristin malam itu" ucap Alindi dengan suara nyaring
"Bukan begitu nak, tapi papa sudah beberapa kali berbicara dengan orang tua Rangga tapi kata mereka bahwa sampai sekarang Rangga tidak buka mulut lagi soal hubungan kamu" ucap papa
"Omong kosong. Pasti papa dan mama yang menekannya agar dia bisa membantu kalian mencari anak pungut itu kan? Siapa anak kandung papa dan mama sampai lebih mengutamakan anak pungut itu?" ucap Alindi sinis
"Cukup Alindi, selama ini mama berusaha untuk lebih menyayangi kamu dari pada Cristin, mama sudah mengerti perasaan kamu tapi apa yang kamu lakukan untuknya?" ucap mama marah pada puteri sulungnya.
"Mama hanya bilang menyayangiku tapi mama tidak pernah bertindak untuk membahagiakan aku" ucap Alindi yang tidak kalah keras
"Oh jadi mama harus bertindak untuk membantu kamu merampas Rangga dari adik kamu, iya?" ucap mama yang sudah semakin emosi.
"Aku tidak memiliki adik" teriak Alindi
"Cukup Alindi, jangan buat mama kamu sakit lagi" ucap papa Rahadi lembut.
"Nak kamu istirahat dulu" ucap papa Rahadi lagi yang tidak mau jika nanti salah berucap lagi seperti puteri bungsunya. Dia memilih menuntun isterinya masuk ke kamar mereka.
"Mama jangan masukan ucapan Alindi ke hati ya" ucap papa
"Bagaimanapun Cristin puteriku pa, aku sudah kehilangan dia, jika bukan karena dia, aku tidak mungkin akan bertemu lagi dangan papa dan Alindi" ucap mama sedih mengingat hidupnya hampir berakhir waktu itu.
"Jangan diingat lagi ma, papa akan berusaha sampai bertemu puteri bungsu kita" ucap papa menenangkan.
Akhirnya mama Debora tertidur dan papa memperbaiki selimutnya lalu keluar menuju kamar puteri sulungnya.
Tok tok tok
"Nak, buka pintunya" ucap papa dari luar
Alindi dengan malas membuka pintu dan membiarkan papanya masuk.
"Jika papa hanya mau minta Alindi untuk melepaskan Rangga maka jangan harap" ucap Alindi tegas
"Papa tidak meminta itu, tapi pikirkan baik-baik jangan sampai suatu saat kamu menyesal" ucap papa.
"Penyesalan terbesar dalam hidupku adalah melepaskan Rangga" tegas Alindi lagi.
"Dari kecil dia selalu dipuji banyak orang, karena pintar, karena baik, karena cantik, semua ada pada dia dan aku? bahkan dia bisa dengan gampangnya merampas hati pria yang aku incar. Jadi saatnya aku merampas kembali apa yang menjadi milikku" ucap Alindi berapi-api.
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Isabela Devi
Cristian suatu saat ga akan nerima rian kembali
2024-01-16
0
Sri Fauziahanwar
pantesan jahat sma cristin ternyata bukan ortu kandung hemmmm...baguslah tuh cristin pergi jauh gak usah balik2 lagi
2023-01-16
1
Kar Genjreng
Mungkin anak mama debora... meninggal dan mengambil putri Alex cristin itu kembaran nya meninggal ya Thor he mmm..
2022-08-07
0